Aku menggeleng menyangkal ucapan istriku ini. Karena sudah meminum obatnya Erika bilang mengantuk. Jadi, dia ingin istirahat sebentar.
Aku mengiyakan, lagi pula ini sudah malam. Badanku pun sama lelahnya, baik badanku atau pikiran sama-sama butuh istirahat. Sejak kemarin aku kurang tidur. Apalagi terus terang aku tak pernah tidur nyenyak setelah Arum menghilang. Dalam mimpi pun istriku itu selalu terbayang-bayang terus menerus.
Kurebahkan badanku di kasur bersama Erika. Kemudian, dia memintaku tidur sambil memeluknya. Sungguh manja sikap Erika ini jika sedang bersamaku.
Sampai, karena kelelahan tak sadar diri ini terlelap sambil mendekap istriku.
?????
Kulihat tubuh Arum dari kejauhan, dia berjalan tanpa menoleh ke belakangku. Apa istriku itu melihat keberadaan suaminya ini?
Aku tersenyum dan merasa lega, akhirnya Arum bisa aku temukan juga. Aku bergegas menyusul istriku itu, lalu mendekapnya dari belakang, hingga membuat Arum menegang seketika. Namun, tak ada reaksi apa pun darinya.
“Sayang, Mas kangen sama kamu. Ke mana saja? Kenapa enggak pulang?” Aku tak melepaskannya sedikit pun.
Kembali memeluk tubuh Arum dengan begitu erat, seakan takut dia pergi lagi meninggalkanku.
Kupandangi wajahnya yang terlihat sendu, dengan mata yang sembab masih terdapat bekas air mata.
“Kenapa kamu menangis, Sayang?” tanyaku mengorek perasaannya.
Namun, dia membisu tak menjawab segala pertanyaan dariku. Setetes air mata jatuh di pipi putihnya, lalu kuusap dengan tanganku sendiri.
Namun, saat hendak mendekapnya kembali, reaksi Arum membuatku terperangah sekaligus kehilangan. Dia malah mundur beberapa langkah dariku.
“Kenapa, Sayang?”
Akan tetapi, Arum tetap diam membisu. Dia perlahan mundur dan tiba-tiba saja menghilang entah kemana.
Detik itu juga aku mulai panik dan segera mencari keberadaannya kembali.
Aku berlari ke sana ke mari mencoba menyusulnya, tetapi istriku tetap tak ada.
Sampai, kupanggil dia sekencang mungkin, masih tak ada sahutan.
“Arum ...!”
“Sayang. Di mana kamu? Jangan pergi!”
Aku berteriak dengan sekeras mungkin, hingga tiba-tiba tersentak sambil terbangun dari tidurku.
Ternyata semua ini hanya mimpi, Arum menghilang persis dengan yang ada di mimpi burukku barusan. Keringat sebesar biji jagung mengucur dengan deras dari pelipisku. Sekali lagi, aku harus menerima kenyataan kalau Arum memang tak ada di sisiku.
Kulirik Erika di sebelahku, dia masih nyenyak dalam tidurnya. Aku hanya bisa menghela napas, bersyukur istri mudaku itu tidak tahu kalau aku sempat memimpikan Arum.
Kalau tidak, dia akan marah tak jelas. Apalagi, segala sesuatu yang berhubungan dengan istri pertamaku itu selalu membuat Erika cemburu.
Tunggu!
Apa sebenarnya arti dari mimpi burukku itu? Kenapa Arum menangis? Apa ini ada hubungannya dengan alasan dia pergi.
Untuk beberapa saat aku melupakan istriku yang masih hilang, tetapi rasa khawatir kembali memenuhi rongga d**a ini. Kemudian, aku mengingat kembali apa yang dikatakan Herlan tadi.
Sebenarnya, kenapa Arum bisa pergi ke Bandung, tetapi tak mengabariku atau sekedar meminta izin? Lantas, apa yang di lakukan dia di kota ini?
Apa Arum berniat menyusulku? Tapi untuk apa?
Tiba-tiba saja aku mulai berpikir, bagaimana kalau istriku itu membuntutiku saat suaminya ini menemui Erika di rumahnya. Inikah alasan dibalik menghilangnya Arum?
Aku benar-benar begitu sakit bagai ada yang menancapkan sebilah pedang tepat ke jantungku. Dadaku sesak mengingat kemungkinan yang sebenarnya terjadi.
Tanganku terkepal di atas pangkuan, aku merutuki diri yang teramat bodoh.
Kenapa selama ini aku tak sadar kalau Arum sudah tahu tentang pernikahanku dengan Erika? Pantas saja, akhir-akhir ini Arum berubah menjadi pendiam. Aku saja yang tak peka akan perubahan darinya.
Aku bergegas mengambil ponsel serta tak sadar masuk ke aplikasi berwarna hijau. Membuka kontak yang kuberi nama “My Wife”. Namun, kejutan kembali datang, mataku terbelalak tak percaya dengan apa yang kulihat di benda pipih ini.
Kuambil ponselku tak sadar masuk ke aplikasi berwarna hijau. Membuka kontak yang kuberi nama “My Wife”. Mataku terbelalak tak percaya apa yang kulihat di benda pipih ini.
Apa yang kulihat? Pesan yang kukirim beberapa waktu yang lalu kepada Arum sudah centang biru. Namun, aku benar-benar kecewa saat istriku itu tak menghubungi atau pun sekedar membalasnya.
Tiba-tiba saja, hati ini terasa begitu sakit saat tahu Arum telah menyimpan amarahnya untukku. Lantas, setelah ini, mungkinkah dia akan meninggalkanku sekarang?
Aku tak rela. Sungguh! Bagaimana aku bisa hidup tanpanya?
Aku lekas bangun dari tidurku, lalu masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka. Kupandangi wajahku sendiri di depan cermin wastafel, sambil merutuki sikap bodohku selama ini.
Apa yang telah kulakukan? Arum sudah pergi sekarang. Seharusnya sebagai suami, diriku patutnya jujur dari awal tentang hubunganku dengan Erika.
Namun, apa dia akan setuju?
Arum begitu membenci perselingkuhan apalagi sampai dimadu, dia takkan sudi. Traumanya itu membuatku mau tak mau menyembunyikan hubungan sekaligus pernikahanku dengan Erika. Namun, aku tak mengira dengan keputusanku itu, Arum bisa mengambil langkah seperti ini.
Haruskah aku menyesal dengan apa yang telah kulakukan? Bisakah kuputar kembali segalanya seperti semula? Kurasa, penyesalan ini terasa sia-sia saja.
“Aku harus menghubungi Arum. Kami mesti bicara sekarang. Akan kujelaskan semuanya dan meminta untuk kembali lagi ke sisiku,” gumamku sambil mengambil ponsel di ranjang lalu masuk kembali ke kamar mandi.
Kutelepon nomor ponsel Arum, Alhamdulillah aktif. Akan tetapi, istriku tak kunjung mengangkatnya, hingga membuatku hampir frustasi.
“Kenapa teleponku enggak diangkat juga, Sayang? Aku mohon angkatlah!” Aku mondar-mandir di dalam kamar mandi dengan gelisah. Tak sabar sekali untuk segera bicara dengan Arum, istriku.
Namun, harapan tinggallah semu, dia sudah tak sudi menerima panggilan dariku lagi. Bahkan, beberapa panggilan dari suaminya ini selalu saja dia abaikan. Aku bersimpuh di kamar mandi, menyesal atas kesalahan yang telah kulakukan.
“Bagaimana caraku agar kamu mau kembali lagi? Ke mana kamu sekarang, Sayang?” Dengan kasar kujambak rambutku sendiri, berharap bisa meredakan segala kekhawatiran yang sedang kurasakan.
Tak kusadari mata ini sudah berkaca-kaca. Sungguh membayangkan hidupku tanpa Arum membuatku harus merasakan sesak yang luar biasa.
Tidak!
Aku tak boleh menyerah, mungkin istriku itu hanya marah sementara. Dia pasti kembali dan aku akan membujuknya agak bisa menerima Erika.
“Mas. Kamu di mana?”
Suara panggilan Erika membuat lamunanku tersentak. Lalu, dengan terpaksa aku lekas menemuinya. Setelah mencuci muka kembali, kuhampiri dia.
“Ada apa, Sayang?” tanyaku. Siapa tahu dia merasa haus atau membutuhkan sesuatu.
“Mas kok lama di kamar mandi?” tanya Erika menyelidik. Apa mungkin dia mendengar aku sedang menelepon Arum?
Semoga saja tidak.
“Mas habis cuci muka, Sayang.” Aku mencoba menjelaskan.
Semoga saja Erika tak curiga.