“Ibu tidak tahu ada masalah apa dengan rumah tangga kalian. Beberapa hari ini Arum selalu datang ke Panti kalau siang hari. Mungkin saja saat Nak Arga sedang bekerja. Dia mengaku tak izin dulu, membuat Ibu selalu menegurnya. Ibu tahu itu bukanlah sifatnya, bahkan sebelumnya Arum tak pernah ke sini tanpa mengabari Nak Arga dulu. Dia pernah bilang izin suami adalah Ridha Allah. Namun, terus terang ibu sempat khawatir melihat tingkahnya yang tak biasa. Gurat wajahnya menyiratkan akan kesedihan, berkali-kali dia selalu melamun bahkan saat kami sedang mengobrol.”
Benarkah yang dikatakan Bu Rina? Sebenarnya masalah apa yang sedang dihadapi Arum istriku? Setahuku kami tak ada masalah apa pun. Bahkan jika bersamaku ia tak pernah menunjukkan gelagat yang mencurigakan. Tetap menjadi Arum yang seperti biasanya.
Apa aku saja yang kurang peka padanya?
Teringat beberapa hari sebelum aku ke Bandung, dia selalu memberikan perhatian seperti biasa. Tak ada hal yang mencurigakan darinya, bahkan aku ingat Arum semakin memperlakukanku dengan baik melebihi hari biasa. Saat itu kupikir, dia hanya ingin melakukan baktinya sebagai istri.
Namun, ada yang berubah dari istriku itu ketika suatu malam ia memakai dres di atas lutut, menggerai rambutnya yang tercium wangi, serta berdandan dengan memakai riasan yang menurutku cukup tebal seperti Erika. Itu bukan kebiasaan istriku, Arum.
Saat itu aku merasa heran ketika melihatnya, tak seperti biasa ia berdandan berlebihan. Selama ini wajah Arum cukup hanya dipoles dengan riasan yang sangat sederhana. Akan tetapi, tak mengurangi kecantikannya. Namun, tiba-tiba saja malam itu penampilan istriku berubah, hingga malam itu pula aku menegur Arum.
“Sayang, kenapa kamu berpenampilan seperti ini?” tanyaku yang merasa terkejut melihat perubahan darinya.
“Memangnya kenapa, Mas? Apa Mas enggak suka melihatnya? Kukira ... Mas Arga menyukai wanita yang penampilannya seperti ini,” gumamnya dengan suara lirih.
“Bukan seperti itu. Mas hanya enggak suka kamu berpenampilan berlebihan begini. Jadilah dirimu sendiri, Sayang. Mas suka kamu yang seperti sebelumnya.” Ia hanya tersenyum kecil. Entah kenapa setelah itu Arum lebih pendiam dari sebelumnya. Dia tak seceria biasanya hanya diam membisu, bahkan saat percintaan kami pun Arum bergeming dengan pasrah.
Mungkinkah dia kecewa saat itu? Kenapa aku baru sadar sekarang? Apa iya dia marah gara-gara hal kecil semacam itu?
Yang kukatakan benar, bukan? Bahwa memang Arum lebih cocok berpenampilan sederhana. Sesuai dengan kepribadiannya. Aku lebih suka istriku yang seperti itu.
‘Kalau benar Arum marah karena perkataanku, aku harus meminta maaf padanya. Aku menyesal sudah membuatnya sakit hati. Maafkan Mas, Sayang.’
Namun, masalahnya bagaimana aku bisa meminta maaf. Di mana ia sekarang? Bahkan, kabarnya pun aku tak tahu.
“Ya sudah, Bu. Saya pamit dulu kalau begitu. Saya mohon, ibu kasih tahu saya, kalau ada kabar tentang Arum,” ujarku pamit.
“Tentu, Nak, Arga.”
Karena tak mendapatkan berita apa pun, aku berpamitan setelah menyerahkan uang di dalam amplop yang sengaja kusiapkan untuk anak-anak panti. Itulah kebiasaan rutin kami, terutama Arum lah yang sering mengingatkan kegiatan amal satu ini. Katanya, siapa tahu dengan do’a dari anak panti yang sudah seperti adiknya itu, membuat kami cepat-cepat dikaruniai keturunan. Sudah dua tahun pernikahan, tapi istriku belum ada tanda-tanda hamil juga.
Meski berkali-kali kami mengecek kondisi kesuburan dan hasilnya baik-baik saja, Arum tetap saja merasa kecewa karena belum juga hamil. Sejujurnya, aku pun sama inginnya dengan dia, tetapi aku tak mau mempersalahkan hal ini di hadapan istriku. Yang pasti kalau sudah saatnya kami juga akan dikaruniai keturunan seperti pasangan yang lain.
Saat hendak menuju tempat parkir, salah seorang anak menghampiri. Masih kuingat, dia Ivan anak Panti ini yang berumur delapan tahun. Aku tahu karena bocah ini sangat dekat dengan Arum. Dia berlari tergopoh-gopoh lalu mendekat dan menyerahkan sesuatu di tangannya. Selembar kertas yang dilipat, saat kubuka dahiku mengernyit melihat isinya. Apa maksudnya tulisan ini?
“Kak, dua hari yang lalu saat Kak Arum ke sini. Dia menjatuhkan kertas ini. Aku tadi mendengar perkataan Kakak dengan Bu Rina. Kumohon, temukan cepat-cepat Kak Arum, Kak,” mohonnya. Dia terlihat berbicara dengan mata yang berkaca-kaca. Begitu berartinya istriku untuk semua orang.
“Iya, Dek. Kakak akan mencari Kak Arum sampai ketemu,” ucapku sambil menyejajarkan tubuh kami. Kuusap rambutnya dengan sayang. Lalu pergi dengan berjuta pertanyaan dalam benak.
Apa maksud kata-kata Arum? Kubuka kembali suratnya. Meneliti siapa tahu ada petunjuk yang lebih lanjut. Namun, aku tak menemukan apa pun.
Haruskah kusewa detektif untuk mencarinya?
Jujur aku sangat mengkhawatirkan istriku. Saat dalam perjalanan untuk kembali ke rumah, suara dering ponselku terdengar. Tercantum nama Erika di sana. Ada apa istri mudaku menghubungi?
“Halo, Ga. Ini Ibu, Erika terjatuh di kamar mandi. Dia pendarahan. Saat ini kami sedang menunggunya yang sedang ditangani dokter. Kamu bisa ke sini, ‘kan?” tanya Ibu mertuaku terdengar lirih. Beliaulah orang tua kandung Erika.
Apa ini? Masalah apa lagi yang terjadi dalam hidupku? Bahkan keberadaan Arum saja belum kutemukan, sekarang ada masalah lagi dengan istri mudaku. Bagaimana ini? Haruskah kutemui Erika di Bandung dan mengabaikan keberadaan Arum?
“Halo, Ga. Halo ....” Panggilan ibu Mertuaku membuyarkan segala lamunan.
“Ah iya, Bu. Baik aku akan ke Bandung sekarang.”
Setelah berpamitan, panggilan telepon terputus. Aku masih bimbang dengan apa yang harus kulakukan. Kalau ke Bandung sekarang, bagaimana cara mencari keberadaan Arum? Mungkin saja dia akan kembali ke rumah saat aku sedang di luar kota.
Kuhubungi temanku yang bekerja sebagai detektif. Meminta kami bertemu sekarang juga, sebelum aku pergi ke Bandung. Aku akan menyuruh Ibnu mencari keberadaan Arum istriku.
“Halo, Nu. Ini gue Arga. Lo masih kerja jadi detektif, ‘kan?” tanyaku dengan tak sabar.
“Iya, masih. Memangnya apa yang mau Lo selidiki, Ga? Lo lagi ada masalah?” tebak temanku itu tepat.
“Gue mau Lo cari Arum,” jelasku. Membuatnya terdengar terkejut.
“Apa! Maksud Lo Arum istri Lo? Memangnya ke mana dia?” Ibnu sepertinya tak percaya dengan apa yang dia dengar.
“Jangan bercanda, Ga.” Masih tetap terdengar ragu. Membuatku menghela napas berat.
“Iya bener, Nu. Arum istri gue. Dia pergi entah ke mana. Gue khawatir sama keadaannya. Apalagi dia yatim piatu. Gue enggak tahu harus nyari dia ke mana lagi. Di panti asuhan juga Arum enggak ada.” Benar, sesulit ini mencari Istriku yang hilang.
“Oke ... oke. Gue akan bantu Lo mencarinya. Apalagi dia pernah membantu menyelesaikan masalah rumah tangga Gue dulu. Dia berjasa banget buat Gue dan May. Kalau bukan bantuannya, mungkin kami sekarang sudah bercerai,” ucap Ibnu.
Arum dulu memang pernah menjadi penyelamat rumah tangga Ibnu dan May Istrinya. Saat temanku itu datang ke rumah dan cerita tentang kondisi rumah tangganya yang hampir hancur karena May selalu salah paham dan cemburu pada Ibnu.
Waktu itu katanya ada teman lama yang memakai jasa Ibnu untuk menyelidiki suaminya. Yang membuat istri May ini berburuk sangka karena memang orang itu Mantan kekasih Ibnu. Sehingga May berpikir kalau temanku itu berselingkuh, pengakuan hanya sebagai klien yang Ibnu katakan, istrinya kira hanya akal-akalan temanku itu saja.
Namun, dengan bantuan Arum yang membujuk istri temanku itu dengan bicara dari hati ke hati, membuat May sedikit percaya dengan memberikan syarat kepada Ibnu untuk membatalkan kerja sama dengan mantannya, serta meminta lebih mengerti dengan kondisi sang istri yang sedang hamil tua. Sekarang rumah tangga Ibnu kembali harmonis. Apalagi mereka sudah dikaruniai keturunan. Membuat kebahagiaan itu menjadi sempurna berkali-kali lipat.
Setelah bicara panjang lebar mengenai hilangnya Arum, percakapan kami berakhir. Karena temanku sedang di luar kota untuk saat ini, kami tidak jadi bertemu. Aku dah Ibnu hanya saling memberikan informasi lewat ponsel.
Kumatikan telepon dan memanggil Mang Mansur untuk menghadap, lalu memintanya mengantarkanku ke Bandung.
Terpaksa kali ini kuajak beliau sebab diriku tak mungkin berkendara jauh sendiri. Tubuhku sudah lelah dan kurang beristirahat. Mungkin, aku harus bersiap-siap pernikahan keduaku dengan Erika akan diketahui sopirku itu. Tak apalah. Dia tak mungkin juga berkata macam-macam kepada orang-orang termasuk Arum.
“Maaf, Den. Bukannya Neng Arum sedang menghilang, tapi kenapa malah ke Bandung? Memangnya pekerjaan Den Arga enggak bisa ditunda?” tanyanya heran.
“Sekarang Mamang antarkan aku dulu. Nanti juga akan tahu masalahnya,” tegasku. Saat ini aku malas menjelaskan apa pun. Badan dan jiwaku sedang lelah memikirkan keberadaan Arum dan keadaan Erika istri mudaku.
Di dalam mobil aku terus memandangi foto Arum di layar ponsel. Potret yang menampilkan sosok wanita sedang memegang tanganku sambil menoleh dan tersenyum ke belakang. Terlihat sangat manis sekali.
Foto di mana dulu kami berbulan madu di puncak. Awalnya telah kupersiapkan honeymoon ke Paris. Namun, istriku itu menolak. Dia bilang sayang uangnya, jangan dihamburkan. Apalagi saat itu Mama menyuruh Papa menghentikan jatah bulananku. Sehingga, segala fasilitas mewah yang biasa kupakai dicabut begitu saja.
Beliau tak ingin Arum hidup dari uang yang mereka diberikan. Padahal aku pun berhak, sebab selain profesiku sebagai dokter, pun sambil sesekali mengelola usaha Papa. Meski tak seperti kebanyakan pekerja kantoran lain.
Karena permintaan Mama itu keuanganku sempat tak stabil. Makanya, saat kami berbulan madu, Arum menyuruhku untuk berhemat dan memilih pergi ke puncak yang katanya lebih sejuk.
Dia memang wanita yang pengertian. Bahkan tak mengeluh saat kami memulai semuanya dari awal. Untunglah berkat kesabaran, doanya serta dedikasiku sebagai dokter membuatku bisa mendapatkan karir yang bagus. Meski kesabaran istriku itu, kuhadiahkan pengkhianatan untuknya.
Ah ... kenapa baru sekarang terbersit rasa penyesalan menikahi Erika. Aku salah telah menuruti nafsuku. Akan tetapi nasi telah menjadi bubur, tak mungkin pula kutinggalkan istri mudaku itu. Bagaimanapun dia sudah sah menjadi tanggung jawabku. Kami saling mencintai. Aku pun merasa tak lengkap bila hidup tanpanya. Selama beberapa bulan ini, Erika lah yang sudah membuatku hidupku b*******h kembali. Dia berbeda dari Arum istriku, lebih memuaskan segalanya.