Bab 4. Obat Penenang

1537 Kata
Setelah beberapa jam perjalanan, kami sampai di Bandung. Kuminta Mang Mansur membawaku ke Rumah Sakit Santosa. Dari ekspresi wajahnya beliau terlihat heran. Namun, tetap tak menanyakan apa pun. “Mang, tunggu di sini, ya. Kalau Mamang lapar bisa cari makan di sekitar sini. Aku ke dalam dulu. Ada seseorang yang membutuhkan keberadaanku sekarang,” titahku memintanya menunggu. “Baik, Den. Nanti kalau saya tidak di mobil, hubungi saja nomor Mamang,” jawabnya. Aku mengangguk dan berlalu meninggalkan Mang Mansur di mobil. Gegas masuk ke Rumah Sakit serta mencari ruang perawatan di mana Erika berada. Sebelumnya mertuaku sudah memberikan alamat Rumah Sakit serta informasi di kamar berapa istriku di rawat. Setelah sampai di depan kamar, kuketuk pintu serta masuk dengan langkah tergesa. Terlihat Erika terbaring lemah di atas ranjang, pun mertua duduk di sofa ruangan ini juga. Istri mudaku itu memang di rawat di ruangan VIP yang memiliki fasilitas lengkap dibanding kamar yang lain. Sehingga membuat nyaman orang yang menunggunya. “Akhirnya datang juga, Nak Arga,” sahut Mama mertua yang langsung berdiri menyambut kedatanganku. Aku mencium tangannya dengan takzim lalu beralih kepada Bapak Erika yang sedari tadi hanya menatapku sekilas. “Erika kenapa, Bu? Apa yang terjadi padanya?” tanyaku. “Erika pendarahan, Ga!” jelas Ibu mertua. Aku penasaran bagaimana mungkin Erika sampai pendarahan padahal semalam saat kutinggalkan dia masih sehat seperti biasa. “Bagaimana mungkin kamu tak ada bersamanya. Padahal bukannya tiga hari ini harusnya jatah temumu dengan anakku?” cecar Bapak Erika. “Maaf, Pak. Aku enggak tahu akan terjadi sesuatu dengan Erika. Apalagi sekarang ada hal penting yang membuatku terpaksa menunda jatahku bersamanya, Pak. Arum istri pertamaku hilang.” Mereka berdua terkejut. Namun, bapak Erika menatapku tajam sambil berkata, “ Itu masalahmu. Bukankah dari awal kau sudah bilang kalau bisa adil. Katanya putriku itu segalanya untukmu. Apalagi Erika bilang istri tuamu itu membosankan makanya kau menikah lagi,” sinisnya. Mataku terbelalak mendengar semuanya. Bagaimana mungkin Erika mengatakan hal yang menyakitkan seperti itu. Sampai-sampai dia mengatakan sesuatu yang tak pantas tentang Arum kepada orang tuanya. Kuakui itu memang alasanku menikahi Erika, tetapi tak sepenuhnya. Yang pasti aku tak bisa menampik pesona Erika yang terlihat lebih menantang untukku. Aku tak menanggapi ucapan orang tua Erika. Biarlah mereka bicara apa pun sesukanya. Kutinggalkan ayah dan ibu mertua yang masih memberikan ceramah, lalu berlalu mencari keberadaan dokter dan menanyakan kondisi Erika. “Istri anda mengalami keguguran, Pak. Dia terlalu banyak meminum obat penenang sehingga membuat kandungannya tak bisa bertahan,” paparnya membuatku seketika melotot tak percaya. “Apa? Istri saya keguguran ...?” Aku tak bisa menyembunyikan rasa syokku. Bagaimana mungkin Erika keguguran? Kabar ini membuatku terkulai lemah di kursi ruangan dokter tempatku berada dengan tatapan kosong. Kabar apa ini? Setelah sekian lama aku menunggu hadirnya buah hati. Lalu, apa ini? Ketika baru saja kudapatkan Tuhan langsung mengambilnya seketika. Lalu untuk apa Erika meminum obat penenang? Kenapa aku baru tahu kalau dia mengonsumsi obat semacam itu? Dengan langkah gontai aku kembali ke kamar rawat Erika. Namun, saat hendak membuka pintu kudengar samar-samar suara percakapan istri mudaku dengan orang tuanya. “Syukurlah, Bu. Anakku enggak lahir ke dunia. Kalau tidak semuanya akan kacau,” ucap salah seorang yang kukenali itu suara istriku. “Sttt, jangan berisik. Bisa saja suamimu itu datang dan mendengar semuanya,” sahut wanita lain dan itu suara ibu mertua. Apa maksud obrolan mereka? Memangnya apa yang disembunyikan Erika dan orang tuanya dariku? Haruskah kutanyakan pada mereka yang sebenarnya sekarang? ** Kubuka pintu dengan cepat. Terlihat orang di dalam ruangan itu terkejut ketika melihatku, membuat diri ini semakin curiga pada mereka. Gelagat orang-orang di dalam ruangan ini sangat mencurigakan. “Mas Arga ...!” Erika melotot ke arahku. Dia mungkin terkejut dengan kedatanganku yang tiba-tiba. “Apa maksud obrolan kalian barusan? Hal apa yang kamu sembunyikan selama ini?” cecarku kepada Erika. “Nak Arga salah paham. Kami tidak menyembunyikan apa pun. Tadi Erika hanya bilang kalau dia sedih sekali sudah keguguran,” orang tua Erika mencoba menjelaskan. Namun, aku tak bisa percaya begitu saja dengan apa yang mereka katakan. “Jelas-jelas tadi kudengar Erika bersyukur kalau dia sudah kehilangan bayi yang sedang di kandungnya. Apa sebenarnya yang kalian sembunyikan!” tekanku. Kulirik Mama Erika yang terlihat gugup, bahkan keringat dingin mengucur di dahinya. Kupandangi kembali Erika, dia tersenyum kaku. “Mas sini aku mau bicara. Ma, sebaiknya Mama dan Bapak keluar dulu. Aku mau bicara dengan Mas Arga sebentar.” Dia menyuruhku mendekat dan meminta orang tuanya keluar. Mama dan Bapak Erika mengangguk dan pergi ke luar ruangan serta menutup rapat pintunya. “Jadi, apa yang akan kamu jelaskan padaku sekarang?” tegasku dengan suara dingin. “Sayang ... itu bukan apa-apa kok. Tadi ... aku hanya menghibur diri sendiri. Mas tahu ‘kan, selama menjadi istrimu aku hanya mendapatkan jatah bersamamu sebentar. Aku frustasi, Mas. Tiap malam kesepian. Apalagi aku kecewa saat Mas Arga pergi begitu saja ketika baru memulai percintaan kita. Mas baru aja sampai harus kembali ke Jakarta gara-gara Mbak Arum yang hilang. Sampai-sampai aku minum obat penenang terus keguguran. Aku enggak tahu saat itu sedang hamil, Mas.” Suara Erika terdengar bergetar dan mulai terisak,” Mungkin memang lebih baik ... aku tak hamil. Palingan juga anak kita akan kesepian jauh dari Papanya seperti keadaanku sekarang ini.” Aku yang sejak tadi emosi seketika itu pula langsung mereda. Sejenak berpikir, apa yang dikatakan Erika benar juga. Membuatku merasa bersalah karena selama ini tak adil kepadanya. Kupeluk erat tubuhnya yang berguncang karena menangis,” Maafkan aku, Sayang. Ini semua salah, Mas. Bersabarlah sebentar lagi. Setelah Arum ditemukan dan kembali ke rumah. Kamu akan Mas ajak ke Jakarta dan memberitahu hubungan kita padanya. Untuk masalah anak. Meskipun Mas tahu kamu sedih, kita bisa membuatnya lagi nanti. Mungkin Tuhan menyuruh kita untuk lebih lama pacarannya, bukan?” ucapku sambil menggodanya. Kuangkat dagu istri mudaku itu sambil memandang wajahnya cukup lama. Dia tersenyum dengan muka memerah. Kemudian menenggelamkan kembali kepalanya di dadaku. Aku memang sedih kehilangan calon bayiku, tetapi tak ingin menunjukkan kekecewaan ini padanya. Itu bisa membuat Erika tertekan dan merasa bersalah. Membuat istri senang itu memang sudah seharusnya, bukan? Bagaimana pun ini semua tak lepas dari kesalahanku juga. Aku belum bisa berbuat adil. “Terus Mas besok tetap ke Jakarta?” tanyanya sambil melerai pelukan di tubuhku. Kami saling memandang cukup lama. Kubelai pipinya dengan lembut sambil mencium pucuk hidungnya. “Iya, Sayang. Besok Mas mau ke Jakarta lagi. Kamu kan tahu, izin libur Mas enggak lama. Apalagi Arum belum juga ditemukan.” “Lagi-lagi karena Mbak Arum.” Dia cemberut membuatku gemas melihatnya. Tak sabar kusergap bibirnya yang terlihat menggoda di mataku. Dia membalasnya membuat kami saling bertukar napas cukup lama. Kalau saja bukan karena dia baru keguguran, sudah kubawa dia ke peraduan kami. Untungnya otak ini masih waras dan ingat kalau kami masih di Rumah Sakit. Lagi pula dia dalam masa pemulihan. “Kamu sabar, ya, Sayang. Nanti Mas akan luangkan waktu untuk menemuimu. Kamu harus sembuh dan pulih dulu. Nanti kita ketemu lagi. Kalau perlu kita liburan ke mana saja yang kamu mau,” rayuku agar dia tak merajuk dan merasa senang ketika kutinggalkan pulang nanti. “Beneran? Aku mau liburan ke Bali, Mas,” ujarnya dengan wajah berbinar. Aku mengangguk menyanggupi keinginannya. “Apa pun untuk membuatmu senang.” “Aku mencintaimu, Mas.” “Aku juga.” Dia memelukku erat sambil tersenyum senang. Untuk sesaat aku melupakan hilangnya istri pertamaku, Arum. Jika sudah bersama Erika diri ini memang selalu hilang kendali. Tak sadar waktu atau pun masalah lain. Seketika teringat akan Mang Mansur yang sedang menungguku di tempat parkir. Aku pamit kepada Erika dengan alasan akan mencari makan. Kebetulan memang dari siang perutku belum terisi apa pun, sekalian menemui Mang Mansur. Tak lupa kutelepon ibnu untuk membuat janji agar kami bisa membuat janji untuk bertemu. Membahas tentang hilangnya Arum. Sungguh tak sabar untuk segera bertemu lagi dengan istriku itu. Kutemui Mang Mansur yang kulihat sedang tertidur di dalam mobil. Mungkin merasa jenuh akibat terlalu lama menunggu. Dia terkejut saat Kuketuk kaca mobil dari luar. Gegas aku membuka kunci pintu mobil belakang lalu masuk ke dalamnya. “Maaf, Den. Mamang ketiduran.” “Enggak apa-apa, Mang. Nanti saya mau menginap di Rumah Sakit. Kemungkinan pulang besok. Jadi Mang Mansur cari tempat menginap di sekitar sini. Bisa cari hotel atau apa,” ucapku menjelaskan. “Lho, memangnya siapa yang sakit, Den? Sampai-sampai Den Arga menginap segala?” tanyanya terlihat terkejut sekaligus heran dengan ucapanku barusan. Aku menggaruk tengkukku yang tak gatal, bingung juga harus mengatakan apa padanya. Bagaimanapun Mang Mansur ini tak tahu aku sudah menikah lagi. Yang dia tahu aku suami yang baik dan setia pada Arum. Haruskah aku jujur padanya sekarang? Toh tak mungkin dia berani membuka rahasia ini pada siapa pun. “Anu ... sebenarnya yang sakit itu ... istri keduaku, Mang.” “Astagfirullah, apa maksud Den Arga? Maksudnya Den Arga punya istri dua? Jadi, Neng Arum aden khianati?” tanyanya terlihat keceplosan sebab langsung menutup mulutnya. Aku tersenyum samar memang benar yang dikatakan Mang Mansur. Sebagai suami diri ini memang sudah berkhianat pada Arum. “Maaf, Den. Apa Neng Arum akan rela kalau tahu Den Arga memadunya? Bukankah dia sangat anti dengan pengkhianatan?” tanya sopirku dengan hati-hati. Mungkin takut aku tersinggung dengan pertanyaannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN