Bab 5. Trauma

1148 Kata
Aku tak menjawab semuanya, membuat Mang Mansur urung kembali berbicara. Bukan aku marah padanya atau pun tersinggung. Namun, bingung harus menjawab apa. Yang dikatakan sopirku memang benar. Arum sangat membenci pengkhianatan. Saat dia kecil ibunya ditinggalkan Ayah kandungnya demi perempuan lain. Bahkan sampai meninggal. Karena Arum hidup sebatang kara tak ada saudara, dengan terpaksa warga menitipkannya ke Panti Asuhan sampai dia beranjak dewasa. Tiba-tiba saja aku merasa gelisah. Haruskah aku jujur pada istriku kalau aku sudah menikah kembali? Apa reaksinya mendengar itu semua? Tidak! Dia pasti mengerti. Aku bukan ayahnya yang tega meninggalkan ibunya demi wanita lain. Dia tetap prioritasku. Sampai kini tetap yang paling kucintai. Wajar saja bagi seorang laki-laki memiliki istri lebih dari satu. Apalagi mencintai dua wanita. Lamunanku kembali buyar ketika suara ponsel terdengar berdering. Terlihat nama Ibnu di layar. Segera kuangkat siapa tahu ada informasi penting tentang Arum. “Halo, Nu. Apa ada informasi penting tentang Arum sampai kamu meneleponku sekarang?” cecarku tak sabar. “Sabar dulu, Ga. Gue sampe kaget langsung Lo tanya-tanya begitu. Bukannya tanya salam,” jawabnya sambil berusaha bercanda. “Ah, sorry, Nu. Gue memang enggak sabar banget pengen cepet-cepet menemukan Arum. Gue khawatir sama dia.” “Iya, Gue paham. Sebenarnya ada yang ingin gue sampaikan sama elo, Ga. Tadi pas Gue pulang terus ceritain masalah Arum yang hilang ke May. Dia bilang sempat ngelihat Arum keluar dari toko perhiasan dekat stasiun. Katanya dia enggak membawa tas atau apa pun. Apa mungkin kejadiannya setelah dia kecopetan. Lo kan bilang ada seorang wanita yang menyimpan dompetnya. Yang kecelakaan dari kereta itu.” Aku terkejut dengan yang dikatakan Ibnu. Apa Arum berniat menjual perhiasannya? Untuk apa istriku melakukan itu? Lalu kenapa sampai sekarang dia tak juga pulang? Di mana kamu, Sayang? Di dalam kepalaku terus berputar-putar seribu pertanyaan. Namun, aku bersyukur Arum baik-baik saja. Meskipun aku masih tak tahu keberadaannya sekarang di mana. Apa sebenarnya yang membuat dia pergi meninggalkanku? Tega sekali kamu, Sayang. Apa salahku? Bukankah selama ini aku sudah berusaha menjadi suami yang baik untukmu? Adakah yang membuatmu menyerah dalam pernikahan kita? Aku tersentak ketika suara Ibnu terdengar berteriak memanggil. “Ga ...!” “Ga ...! Woy ... Lo lagi apa? Lo ngelamun!” tanya Ibnu di telepon. Aku memang tak bereaksi apa pun setelah temanku itu mengatakan informasi tentang Arum. Diri ini terlalu sibuk dengan pikiran sendiri sampai-sampai lupa kalau masih dalam panggilan yang sama dengan Ibnu. “Sorry, Nu. Terus May lihat Arum ke mana? Maksudnya apa dia membuntuti atau menyapa istri gue, misalnya.” “Katanya dia mau susul tapi keburu pergi. Lagi pula mereka di tempat yang berseberangan. Apalagi jalanan lagi ramai banget mobil yang lalu lalang. Saat istri gue mau nyusul, Arum sudah enggak ada,” papar Ibnu menjelaskan. Aku mendesah frustasi, bagaimana lagi aku harus mencari keberadaan istriku. Teringat dengan perhiasan, mungkin aku bisa bertanya kepada pemilik toko, siapa tahu mereka masih mengingat wajah Arum. Jadi, aku bisa tahu ke mana perginya istriku itu. “Nu, apa Lo sudah tanya ke toko perhiasan itu?” “Belum. Rencananya besok Gue ke sana. Sambil tanya-tanya sekitar stasiun siapa tahu ada pedagang atau petugas bahkan orang yang ingat wajah Arum.” “Oke, Gue serahin semuanya sama Lo. Kebetulan Gue enggak bisa bantu . Ini lagi di Bandung, ada keperluan mendesak. Mungkin besok baru balik ke Jakarta lagi,” ucapku. Setelah obrolan kami berakhir. Kusuruh Pak Mansur yang sejak tadi tak bersuara agar melajukan mobil yang kami tumpangi, mencari tempat makan karena perutku sudah minta di isi. Meski banyak sekali masalah yang menimpaku dua hari belakangan ini. Aku tetap harus makan, yang paling penting menjaga kesehatan agar tak sakit. Apalagi, kurasa akan sangat sulit mencari keberadaan Arum. Entahlah, perasaanku yakin seperti itu. Namun, aku berharap semoga saja itu salah, istriku lekas ditemukan. Mobil melaju membelah jalanan kota Bandung malam ini. Kupejamkan mata apalagi tubuh ini terasa lelah dan mengantuk. Tiba-tiba, bayangan Arum melintas begitu saja. Senyum, sikap manja, serta perhatiannya padaku kembali terbayang dalam ingatan seperti kaset DVD yang sedang diputar. “Mas rindu kamu, Sayang,” gumamku pelan. Bahkan sangat pelan. Mungkin hanya aku yang dapat mendengarnya. Tak pernah aku merindukan istriku itu saat sedang di mana pun. Apalagi ketika sedang bersama Erika. Seolah-olah istri mudaku itu selalu membiusku dengan segala pesonanya. Bahkan, membuatku seakan tak mengingat sekitar. Yang selalu kuinginkan hanya lah memadu kasih terus menerus bersama istri mudaku tersebut. Namun sekarang, Arum lah yang selalu kulamunkan dalam setiap menit yang kujalani. Mengapa baru sekarang aku sadar kalau diriku begitu takut kehilangannya? Itu pun setelah dia pergi entah ke mana. ‘Memang benar, kamu tak akan pernah merasa orang yang kau sayang berharga. Setelah dia pergi, barulah merasa kehilangan’ Mengingat istriku itu, tiba-tiba rasa penyesalan menguar begitu saja. Jika mengingat kembali isi goresan pena Arum di kertas yang kudapat dari bocah bernama Ivan itu, kurasa Arum memang begitu kecewa padaku. Di dalam kertas tersebut tertulis kalau semua laki-laki yang berada di sampingnya, pandai mempermainkan perasaan seorang istri. Dunia ini hanya diisi oleh para pria pembohong. Tunggu! Apa maksudnya? Apa itu untukku? Apa mungkin ...? Tidak! Tidak mungkin dia tahu rahasiaku tentang Erika. Aku sudah menutup rapat segalanya. Bahkan orang tuaku pun tak tahu putranya ini telah menikah lagi. Jadi, itu mustahil sekali terjadi. Aku tersentak ketika mengingat itu, sampai membuat Pak Mansur yang sedang mengendarai mobil di jok depan, memandang ke arahku. “Den Arga tidak apa-apa?” tanyanya cemas. Aku menggeleng, “ Tidak, Pak. Aku hanya kelelahan. Barusan hanya bermimpi buruk,” ucapku memberi alasan. Tidak mungkin juga kalau aku jujur, jika sedang membayangkan reaksi Arum kalau tahu suaminya ini sudah mendua hati. Malam hari lalu lintas kota Bandung tak begitu ramai. Sehingga, aku bisa menikmati pemandangan malam dari kaca jendela di sebelahku. Hawa kota Bandung sejuk, tak seperti kota Jakarta. Aku seketika mengingat keinginan Arum. Dia bercita-cita memiliki rumah di kota ini, lebih tepatnya di daerah Ciwidey. Katanya, dia bermimpi tinggal di kota yang udaranya masih segar dan Bandung menjadi salah satu pilihannya. Aku memang berniat membuatkan istriku itu villa. Bisa kami gunakan sewaktu-waktu jika sedang berlibur. Mungkin pula jika sudah jadi nanti. Dengan mudah kuajak Erika juga setiap jatah bersama kami. Namun, yang terjadi sekarang, aku bahkan tak tahu di mana dan bagaimana kondisi istriku sebenarnya. Tak lama mobil sampai di sebuah restoran. Dari luar tempat ini terlihat unik dengan ciri khas pedesaan. Aku turun bersama Mang Mansur. Kami masuk beriringan, dan mencari tempat duduk yang paling nyaman. Sebenarnya sopirku itu merasa sungkan saat kusuruh dia duduk denganku di meja yang sama. Namun, karena kupaksa akhirnya dia menurut juga. Kupandangi setiap sudut restoran ini. Jika dilihat-lihat konsepnya cukup unik. Membuat para pengunjung yang datang lumayan betah untuk singgah berlama-lama di sini. Tak lama pelayan datang. Kami memilih menu yang diinginkan, lalu mengecek beberapa kali ponsel milikku. Barangkali Arum ada menelepon atau pun mengirim pesan. Namun, tak ada satu pun kabar darinya. ‘Apa kamu enggak kangen Mas, Sayang?’
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN