Prolog
Aku menatap nanar pada pria yang sekarang sedang berdiri tegak di hadapanku. Senyum lebarnya yang memuakkan membuatku mual. Mata culasnya membuatku ingin memberontak dan menghajarnya hingga pria bertubuh agak tambun itu merintih minta ampun. Tapi benda yang ada di tangannya yang berhasil menyalakan api amarah dalam dadaku.
Tanpa berkedip, aku menatap sabuk hitam panjang dengan les emas di tengahnya itu. Benda panjang terkutuk yang tergenggam erat di tangan pria itu semakin membuat kemarahanku membuncah. Tanpa aba-aba, pria dengan tatapan bernafsu dan seringai jahat itu mendadak mengayunkan sabuknya ke tubuh polosku. Saat sabuk itu hampir mengenai tubuhku entah untuk kesekian kalinya, aku merampas sabuk itu dari tangan pria itu.
Pria itu tampak terkejut dengan kekuatan yang muncul tiba-tiba dari diriku. Tapi aku tidak memberinya waktu untuk pulih dari keterkejutannya. Dengan sekuat tenaga, aku mengayunkan sabuk laknat itu ke wajah pria itu. Erangan kesakitan langsung berkumandang di seluruh ruangan. Aku menyeringai puas. Ini saatnya melakukan pembalasan. Mata dibalas dengan mata. Tentu saja, harus ditambah dengan bunganya!
Tanpa ampun, aku kembali menyabetkan sabuk itu ke pemiliknya. Kali ini ke bagian perut buncit milik pria separuh baya itu. Seperti harapanku, pria itu mengerang keras. Suara kesakitannya terdengar menggelegar di ruangan berukuran 7 x 8 meter itu. Aku menyeringai puas. Semakin keras erangan kesakitan yang keluar dari mulut pria itu, semakin bersemangat aku mempertemukan kulit sabuk dengan kulit tubuh pria itu. Rasanya begitu…. Menyenangkan!
Pria itu mulai tampak ketakutan. Terseok-seok, pria itu mencoba menjauhiku sambil mengucapkan sumpah serapah. Sayangnya, pria itu mengambil keputusan yang salah. Aku kembali menyeringai puas. Tatapan tajamku mengarah lekat pada pria b******k yang punya kelainan itu. Dengan santai, aku mulai berjalan mendekati pria itu. Semakin dia menjauh, aku menjadi semakin bersemangat melanjutkan permainan ini.
Ah, tunggu…. Perlahan aku melirik sabuk yang kini berada di tanganku. Sabuk ini terbukti mampu melukai kulitku maupun kulit pria itu, tapi entah kenapa menurutku sabuk termasuk salah satu alat permainan yang paling tidak seru. Sepertinya aku perlu mencari alat lain yang bisa membuat permainan ini lebih memacu adrenalin. Tapi alat apa yang bisa kugunakan untuk membuat permainan ini semakin menantang?
Aku memandang berkeliling. Pria itu pun melakukan hal yang sama. Sementara pria itu mencoba mencari sesuatu yang bisa digunakannya untuk melawanku, mataku menatap jeli setiap benda yang berpotensi bisa kugunakan untuk menghukum pria itu.
Dan bingo… Aku menemukan apa yang kucari. Dengan senyum penuh kemenangan, aku berlari cepat menuju meja satu-satunya di kamar hotel bintang lima itu. Kuraih pisau yang tergeletak manis di samping buah-buahan segar yang tertata rapi. Saat pisau itu tergenggam erat di tanganku, aku tahu permainan ini akan berakhir dengan kemenangan di pihakku.
“Kamu mau apa?” teriak pria itu kasar saat melihatku berjalan mendekatinya sambil membawa pisau di tanganku.
“Menurut kamu, aku mau apa?” balasku sambil menyeringai.
Sekalipun pria itu berusaha tampak berani, aku bisa melihat sorot ketakutan dari matanya. Aku mendekatinya perlahan, mencoba menikmati ketakutannya.
“Jangan mendekat!” teriak pria itu sambil mengacungkan lampu hias yang ada di samping tempat tidur berukuran king size itu.
Aku menyeringai mencemooh. Lampu hias? Yang benar saja! Apa pria itu pikir dia bisa menghentikanku dengan lampu hias? Dengan santai, aku kembali mendekati pria itu. Saat jarak kami hanya tersisa kurang dari satu meter, pria itu melempar lampu hiasnya tepat ke arahku. Tapi untunglah, reflekku lebih cepat daripada pria itu. Lampu itu melewati wajahku dengan jarak kurang dari sepuluh centi. Kini giliranku!
Dengan bersemangat, aku menerjang pria itu. Kuhujamkan pisau buah di tanganku tanpa ampun pada bagian tubuh manapun yang bisa kuraih. Saat lampu hias itu menimbulkan bunyi memekakkan telinga ketika beradu dengan lantai, saat itu pula darah menyembur mengenai tubuhku. Aku melihat hasil karyaku dengan puas. Pria itu meringkuk kesakitan sambil memegangi luka lebar yang tercetak di d**a hingga perutnya.
“Kau tahu, ini jauh lebih menyenangkan daripada bermain dengan sabuk kamu!” sahutku sambil mengangkat pisauku yang masih meneteskan darah.
“Tolong jangan lakukan ini lagi. Aku minta maaf, aku sungguh minta maaf, tapi tolong jangan lakukan ini lagi,” rintih pria itu sambil kesakitan.
Aku tertawa sadis.
Maaf? Apa dipikir semua masalah bisa selesai hanya dengan satu kata sederhana itu? Bagi sebagian kecil orang, mungkin bisa. Tapi bagiku, jelas tidak bisa!
“Sayangnya, aku bukan Tuhan. Kecuali kamu bisa menghilangkan goresan-goresan sabuk yang telah kau torehkan di tubuhku sekarang juga, permintaan maafmu tidak berguna!” kataku sebelum mendekati pria itu tiba-tiba dan menusukkan pisauku ke perut pria itu.
Sialnya, pria itu ternyata tidak selemah yang aku pikir. Aku sempat terhuyung sesaat setelah aku menancapkan pisau itu. Ah, ternyata pria ini masih punya tenaga untuk mendorongku. Baiklah, kurasa permainan ini lebih seru.
Aku sengaja bergeming sambil menatap pria itu dengan senyumku. Aku ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh pria yang hampir merengang nyawa di tanganku itu. Dengan sisa-sisa tenaga yang dia punya, pria itu melangkahi ranjang dan mencoba meraih telepon yang ada di sisi ranjang. Saat itu baru aku bertindak. Dengan kecepatan maksimal, aku melangkahi ranjang dan segera menghilangkan jarak antara aku dan pria itu.
Sayang bagi pria itu, usianya ditambah dengan keadaannya sekarang bukan kombinasi yang baik untuk adu kecepatan denganku. Sebelum tangan pria itu sempat meraih telepon, aku kembali menusukkan pisauku ke tubuhnya. Kali ini di punggungnya.
Jerit kesakitan kembali terdengar di ruangan yang hanya dihuni olehku dan pria itu. Tapi kali ini, tidak kubiarkan jeritan ini mengganggu penghuni hotel yang lain. Dengan tanganku yang bebas, aku meraih bantal dan menangkupkannya ke wajah pria itu.
Tangan dan kaki pria itu meronta dan bergerak liar. Aku memegangi bantalku kuat-kuat sambil menusukkan pisauku berkali-kali, ke seluruh tubuhnya yang bisa kuraih. Semakin dia meronta, semakin cepat aku menusuk dan menyabetkan pisauku. Saat tubuh pria itu lunglai tak berdaya, baru kusingkirkan bantal yang dari tadi kutekan di wajah pria itu.
Pria itu meninggal! Matanya membelalak padaku.
Ah, tidak seru. Jadi hanya begini saja? Aku melempar pisauku ke lantai dan membuang nafas panjang. Fiuh, ternyata lelah juga bermain seperti ini. Sepertinya tidur cukup menyenangkan.
Aku beringsut ke samping pria itu. Dengan kedua kakiku, kutendang tubuh pria itu hingga tubuhnya jatuh di samping tempat tidur. Setelah tubuh itu jatuh, aku menggeliat sambil menguap. Tidak lebih dari tiga menit, aku sudah tertidur pulas di ranjang bernuansa putih yang kini didominasi warna merah itu.
***