Satu jam lagi. Hanya satu jam lagi, nasibku akan ditentukan. Entah aku akan terus mendekam di balik jeruji besi atau aku berkesempatan lolos dari jeruji besi yang sudah kurasakan beberapa bulan terakhir ini. Aku tahu sekalipun aku tidak dipenjara, aku tetap akan dirawat di rumah sakit jiwa milik Dokter Heru, itupun dengan pengawasan ketat para petugas polisi. Tapi itu masih jauh lebih baik daripada mendekam seumur hidup di penjara. Aku menghela nafas panjang. Perlahan, kulirik Rama yang masih duduk di tempatnya. Dari wajahnya, aku tahu dia sama cemasnya denganku. Dan entah kenapa, aku menjadi lebih tenang saat melihatnya. Paling tidak, aku tahu ada satu orang di dunia ini yang benar-benar mempedulikanku. “Kirana.” Reflek aku menoleh ke belakangku sebelum para sipir

