Aku melihat Kirana mulai masuk ke tempatku menunggu. Tanpa dikomando, wanita yang akhir-akhir ini memenuhi kepalaku itu duduk tepat di depanku. Aku reflek tersenyum saat melihat wanita yang sudah tidak kutemui selama hampir seminggu penuh itu. Mungkin aku sedikit merindukan wanita itu sehingga ada kebahagiaan aneh yang menyelip di hatiku saat bisa melihat Kirana kembali. “Hai, Kirana. Bagaimana kabarmu?” tanyaku basa basi. Kirana tersenyum tipis sebelum menjawab pertanyaanku. “Baik. Hanya agak tegang menghadapi sidang nanti,” jawabnya singkat. Aku mengangguk mengerti. Bukan hanya Kirana yang agak tegang menghadapi sidang, tapi aku juga. Bahkan mungkin aku lebih tegang dibandingkan dengan Kirana. Aku sungguh takut akan gagal membela Kirana dan akhirnya harus membuatnya

