Tubuh Velia yang lemah di bawa oleh beberapa hewan menuju pondok peri Fernia yang berada tak jauh dari tempatnya pingsan. Kebetulan letak bunga patah hati memang berada di halaman rumah peri penjaga taman.
"Peri, tolong kami." Bit berteriak-teriak memanggil Fernia.
Fernia membuka pintu dengan keheranan karena melihat beberapa hewan sedang membawa seorang manusia yang jarinya terus mengeluarkan darah hingga membuat jejak darah di tanah.
Pintu rumah Fernia dibuka lebar-lebar agar mereka bisa masuk. Dia kemudian menyuruh untuk membaringkan gadis itu di tempat tidur kamar perawatan empat.
Sehari ini sudah ada empat manusia yang terluka karena masuk ke taman Merah. Mereka yang masuk untuk mencari obat malah terkena racun dari tanaman lain karena kurang hati-hati.
"Apa yang terjadi? Apa dia tertusuk duri bunga patah hati?" tanya Fernia.
"Iya, Peri," jawab Rob.
"Apa yang sudah dia pikirkan sampai mencari bunga patah hati? Apa kalian sudah memberitahu tentang resiko untuk mendapatkan bunga itu?" tanya Fernia yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Rob.
"Apa dia tahu dampak yang ditimbulkan saat memakan sari bunga itu?" tanya Fernia lagi yang dijawab dengan anggukan Bit.
"Ya ampun, gadis ini sungguh nekat." Fernia langsung bergerak mencari daun, bunga serta akar yang diperlukan untuk membuat penawar dari racun duri patah hati.
Dia mengambil toples-toples dan membaca keterangan yang tertulis di dinding toples untuk mengambil beberapa biji buah yang berwarna ungu, akar bunga gembira, daun putus asa yang sudah dikeringkan dan yang terakhir mengambil bunga tersenyum yang masih kuncup.
Rob diberi tugas untuk menyalakan perapian agar Velia tetap hangat sedangkan Bit bertugas merebus air dalam kuali kecil sampai mendidih sebelum bahan ramuan dimasukkan dalam air untuk direbus. Fernia menghaluskan bahan-bahan ramuan lalu memasukkannya ke dalam air mendidih.
Bit terkantuk-kantuk ketika menjaga ramuan hingga airnya menyusut sampai separuh. Bau-bau yang tajam membuat Rob dan Bit terbatuk-batuk hingga terpaksa membuka jendela agar udara segar bisa masuk untuk menggantikan bau menyengat.
Bit kemudian mengganti perban yang sudah basah oleh darah. Kalau tidak segera diobati, gadis itu bisa mati kehabisan darah.
"Tolong segera sadar," pinta Bit.
"Angkat kuali itu dan bawa ke dekat ranjang!" perintah Fernia yang sudah menanti di sisi ranjang.
Bit memindahkan isi kuali obat ke dalam mangkuk lalu membawanya ke Fernia. Fernia kemudian mencelupkan jari Velia dalam mangkuk obat yang masih panas.
"Gadis ini tidak merasa kepanasan padahal air obat ini mendidih. Apa dia masih bisa tertolong?" tanya Bit dengan cemas. Dia saja merasa kepanasan saat membagi ramuan itu dalam beberapa mangkuk.
“Semoga saja dia masih tertolong,” ujar Fernia sambil mengusap tato Velia sambil membaca mantra untuk memanggil peri pelindungnya.
Yelzi muncul dan memberi hormat pada Fernia, kondisinya tidak begitu baik karena majikannya terluka. Sayap Yelzi menutup, pendar kekuningannya hilang dan tampak pucat. Yelzi bahkan tidak bisa terbang lebih lama lagi. Tubuhnya merosot hingga mendarat di punggung Rob yang lembut.
Bit membantunya turun dari punggung Rob kemudian membantunya duduk bersandar pada bantal agar bisa minum obat. Yelzi tersedak hingga terbatuk-batuk karena merasakan cairan panas yang mengalir ke tenggorokan terasa menggelitik.
Perlahan-lahan sayap Yelzi mulai mengembang, yang tadinya transparan secara berlahan menampakkan warna kuning yang semakin cerah dan berpendar.
"Terima kasih atas bantuannya," ujar Yelzi sambil memberi hormat.
"Bagaimana kondisi Velia?" Yelzi melirik pada Velia yang masih terlihat pucat.
"Dia sudah membaik. Perdarahannya sudah hampir berhenti. Siapa sebenarnya majikanmu ini? Dia mengerti bahasa hewan, tidak kesakitan saat kepanasan, dan apa tujuannya mencari bunga patah hati?” tanya Fernia karena penasaran.
“Namanya adalah Velia yang memiliki kemampuan berkomunikasi dengan hewan, elemen utamanya adalah api. Dia mencari bunga patah hati karena itu adalah salah satu bahan ramuan Hearteak yang sedang dicarinya,” kata Yelzi.
“Pantas saja dia dapat berkomunikasi dengan Rob dan Bit. Aku sempat mengira kalau kemampuan Rob dan Bit bertambah hingga bisa menggunakan bahasa manusia untuk mengobrol.” Fernia terkekeh sambil mengangguk-anggukkan kepala.
“Tapi untuk apa dia mencari bahan ramuan Hearteak? Bukankah ramuan itu sudah lama tidak terdengar? Bagaimana dia bisa terlibat dengan ramuan kuno yang bahkan aku pun hanya mendengar namanya saja.” Fernia semakin penasaran.
“Ini karena pemuda yang dicintainya terkena Lupois sehingga dia memerlukan ramuan pematah Hearteak agar pemuda itu terbebas dari jerat cinta pemberi Lupois.” Yelzi memandang Velia dengan rasa kasihan.
“Sungguh aku tidak menyangka kalau akan mendengar lagi tentang ramuan kuno, ramuan itu sudah cukup lama hilang. Hanya keluarga terpilih saja yang mengetahui isi dari ramuannya.” Fernia merasa kagum.
“Sahabatnya adalah salah satu keluarga terpilih dari kelompok penyembuh. Generasinya menyimpan buku ramuan kuno yang menjelaskan segala macam ramuan. Ini membuatnya bisa mengetahui isi dari ramuan Hearteak dan melakukan perjalanan untuk mendapatkan semua bahannya." Yelzi menjelaskan panjang lebar.
Fernia semakin bersemangat mengetahui tentang Velia sehingga meminta Yelzi untuk bercerita lebih banyak lagi tentang gadis itu. Semalam suntuk Yelzi dan Fernia berbicara tetapi Velia belum juga sadar. Bit tetap setia menjaga gadis itu dan mengusap keringat yang muncul di dahinya.
Menjelang pagi saat semua orang akhirnya tertidur, Velia bergerak gelisah dalam tidurnya. Dia bahkan merancau tidak jelas, kadang-kadang berteriak kesakitan. Tubuhnya sudah penuh dengan keringat. Tanpa sadar tangannya bergerak-gerak hingga menyentuh Bit membuat kelinci itu terbangun.
“Velia, Velia, apa yang terjadi? Bangun Velia, bangunlah.” Bit menangis karena panik saat melihat kondisi Velia.
"Peri Fernia! Peri! Tolonglah Velia!" teriak Bit ketakutan membuat Fernia dan Yelzi terbang mendekati mereka.
"Masukkan ini ke dalam mulutnya." Fernia menyerahkan sendok agar ketika kejang-kejang, Velia tidak menggigit lidahnya sendiri hingga putus.
Benar saja apa yang dikatakan oleh Fernia karena tak lama kemudian Velia kejang-kejang hingga ranjang bergetar dan harus dipegang oleh Bit agar tidak jatuh dari ranjang.
Sementara itu Fernia terbang keluar rumah untuk mencari umbi dari bunga ungu. "Jangan mengikutiku! Tetap jaga Velia karena ini berbahaya untuk yang belum mengenal dengan baik daerah taman. Apalagi kamu masih dalam masa pemulihan.
Yelzi menahan diri untuk membantu dan memutar tubuh untuk kembali ke dalam agar dapat menemani Velia.
Fernia terbang dengan kecepatan penuh, menyusup ke bawah daun-daun yang lebar menuju ke bagian gelap dari taman Merah, tempat bahan-bahan paling berbahaya bisa ditemukan.
Dia terbang di tempat untuk memindai daerah sekitar untuk mencari bunga ungu yang berbau semanis madu.
Hidung Fernia menghidu aroma itu ketika angin berhembus. Dia langsung menungkik tajam menuju bagian bawah pohon yang tingginya mencapai tinggi orang dewasa.
"Semerbak baumu. Semanis aromanya. Semerah darah. Sembuhkan luka." Fernia mengucap mantra agar tanah terbuka dsn memunculkan umbi yang besarnya sekepalan tangan.
Setelah mendapatkannya, dia bergegas terbang kembali ke rumah karena umbi ini harus digunakan dalam kondisi segar dan hanya bertahan dalam waktu satu jam setelah dicabut dari tanah.
Fernia meluncur masuk ke kamar hingga nyaris terbenam di bulu-buku Rob kalau tidak mengerem tepat waktu. Dia kemudian terbang tepat di atas wajah Velia lalu memeras umbi sekuat tenaga.
Tetes demi tetes air berwarna ungu keluar dari umbi menetes ke dahi kemudian terlihat cahaya yang menyebar hingga keseluruh wajahnya.
Mereka semua menunggu dengan cemas karena hingga tetes terakhir belum terlihat perubahan yang berarti. Kejang-kejangnya malah semakin parah hingga membuat Yelzi menangis.