Tap ... Tap ... Tap ... Geundis bisa mendengarnya dengan jelas sekarang, suara langkah kaki yang memang mendekat ke arah ruangan di mana dirinya dan Cindy berada. “Aku takut, Sus. Aku takut dia akan membunuhku,” ucap Cindy diiringi suara isak tangisnya. “Sssttt, tenang, ya. Pasti semuanya baik-baik saja. Dia tidak akan datang ke sini karena kamu tidak sendirian. Ada Suster di sini. Suster akan menemani kamu.” “Benar, ya. Suster jangan tinggalkan aku sendiri.” Geundis pun mengangguk-anggukan kepala seraya memeluk erat tubuh anak perempuan yang kini gemetaran dalam dekapannya, pertanda anak itu tak main-main, dia memang sedang luar biasa ketakutan. Suasana dalam ruangan masih gelap, hanya diterangi cahaya dari aplikasi senter di ponsel Geundis. Namun, seolah Dewi Fortuna meninggalk

