Geundis tahu walau dirinya takut sekalipun mau tak mau dia tetap harus menjalankan kewajibannya piket malam. Karena itu, begitu jam delapan malam tiba, Geundis berjalan sendirian menuju ruang perawat. Dia harus mengisi kehadirannya di alat untuk absen agar Suster Mona tak mengira dirinya bolos malam ini. Setibanya di ruang khusus perawat, Geundis melihat ruangan itu begitu sepi. Tak ada satu orang pun di sana. “Duh, pada ke mana, ya? Apa semua perawat lagi keliling memeriksa ruang inap pasien, ya?” gumam Geundis, bertanya pada dirinya sendiri. Ruangan itu tampak mencekam meskipun Geundis tak melihat ada penampakan hantu di sana, Geundis pun kini memberanikan diri masuk ke dalam. Dia sudah tahu di mana alat untuk absen itu diletakkan karena sebelumnya saat menggantikan Suster Viona be

