PART 52

2519 Kata

Geundis tak tahu sudah berapa lama dia tertidur di ruang pasien yang letaknya di dekat ruang autopsi seperti yang disarankan Davin, hanya saja dia terbangun karena tiba-tiba telinganya mendengar suara tangisan.  Kedua mata Geundis yang sejak tadi terpejam, kini mengerjap-erjap sebelum akhirnya terbuka dengan sempurna. “S-suara apa itu? Kayak suara orang yang lagi nangis?” gumam Geundis, bertanya pada dirinya sendiri karena di ruangan itu hanya ada dirinya seorang.  Geundis pun bangun dari posisi berbaring, dia hendak mengambil ponselnya yang diletakkan di dekat bantal untuk melihat waktu saat ini, dia terheran-heran karena tak menemukan ponselnya di mana pun.  “Loh, padahal tadi jelas-jelas HP aku taro dekat bantal kok, tapi kenapa jadi gak ada, ya?” Geundis benar-benar kebingungan kare

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN