PART 6

2510 Kata
Geundis tak berselera untuk makan, kejadian aneh yang dialaminya saat kapas yang menutupi mata jenazah tiba-tiba hilang lalu muncul lagi saat Davin datang, benar-benar membuatnya ketakutan. Geundis rasa-rasanya tak mampu bekerja sebagai pemandi jenazah karena itu dia memutuskan untuk membicarakan masalah ini dengan tunangannya, Aarav.  Geundis tak tahu dimana pria itu berada, tapi dia mencoba peruntungan dengan menelusuri area rumah sakit.  Rumah sakit tempat Geundis bekerja, Rumah Sakit Hartono merupakan rumah sakit swasta yang cukup luas dan besar. Alat-alat pengobatannya pun terbilang sudah lengkap dan modern. Rumah sakit ini juga cukup terkenal di kalangan masyarakat karena itu cukup banyak pasien yang berobat ke sana.  Sudah dua hari Geundis bekerja tapi dia belum pernah sempat berkeliling area rumah sakit seperti ini karenanya dia belum mengetahui tempat-tempat di sekitar rumah sakit dan waktu istirahat siang ini Geundis manfaatkan untuk berkeliling sembari mencari sosok Aarav alih-alih makan siang di kantin rumah sakit seperti yang disarankan Davin padanya.  Geundis tanpa sengaja melihat ke area antrian pasien yang akan berobat pada bagian dokter umum, begitu banyak orang yang sedang duduk di kursi tunggu sambil menunggu panggilan untuk berkonsultasi dengan penyakit yang mereka rasakan. Melihat pemandangan itu Geundis jadi berpikir seharusnya sebagai perawat, pasien-pasien itulah yang dia layani, bukannya orang mati seperti jenazah-jenazah yang belakangan ini dia mandikan bersama Davin. Geundis seketika merengut, dia memang harus mengajukan protes pada Aarav karena bisa-bisanya dia ditempatkan menjadi petugas pemandi jenazah tanpa memberitahukan dulu hal ini padanya.  Geundis pun melanjutkan langkahnya yang tertunda, saat melewati taman, dia melihat ada beberapa pasien sedang bersantai di sana ditemani pihak keluarga bahkan ada pula yang ditemani seorang perawat. Lagi, melihat pemandangan itu membuat Geundis semakin ingin berhenti menjadi petugas memandikan jenazah, layaknya pekerjaan seorang perawat, Geundis ingin melayani para pasien yang membutuhkan bantuannya itu seperti rekan-rekan perawat lain yang dia lihat sedang menemani pasien di taman tersebut.  Geundis tersenyum getir, menghela napas panjang sebelum kedua kakinya kembali melangkah.  Semakin berjalan menelusuri area rumah sakit, awalnya suasana cukup ramai karena Geundis selalu berpapasan dengan pasien, keluarga pasien yang menjenguk maupun petugas rumah sakit yang berlalu-lalang. Tapi kini suasana mulai sepi dan mencekam karena yang Geundis datangi itu area yang cukup sepi.  Geundis tahu itu bangsal tempat pasien rawat inap berada. Padahal di bangsal yang lain suasananya terasa ramai karena banyak keluarga pasien yang tengah menjenguk atau menemani pasien yang sedang dirawat. Tapi bangsal yang sedang didatangi Geundis itu terlihat begitu sepi, tak terlihat ada keluarga pasien yang berlalu-lalang, kondisi pintu bangsa pun tertutup semua, tak ada satu pun yang dalam kondisi terbuka.  Geundis melihat papan banner yang memberitahukan nama bangsal itu. Bangsal Anggrek … itulah nama bangsal yang terlihat sunyi, sepi serta mencekam tersebut.  Karena merasakan ketidaknyamanan berada di bangsal sepi itu lebih lama, Geundis berniat pergi. Dia ingin berbalik badan untuk putar arah namun langkahnya terhenti saat tanpa sengaja ekor matanya menatap sosok seorang perawat baru saja keluar dari salah satu bangsal. Perawat itu rupanya melihat Geundis juga karena kini tengah melempar senyum. Geundis balas melempar senyum tak kalah ramahnya.  Karena melihat sang perawat tengah berjalan menghampirinya, Geundis tetap diam di tempat, mengurungkan niatnya untuk pergi.  “Selamat siang, Suster,” sapa perawat itu. “Selamat siang juga.” “Saya baru melihat suster di sini? Apa suster ini baru bekerja di rumah sakit ini?”  Geundis menganggukan kepala tanpa ragu karena nyatanya dia memang masih baru di sana. Sejauh ini baru tiga orang yang dia kenal di rumah sakit, Aarav, Suster kepala dan pria menyebalkan itu, Davin. “Iya, saya masih baru, Sus. Baru dua hari saya di sini.”  Sang perawat ber-oh panjang sembari mengangguk-anggukan kepala, “Suster ditempatkan di bagian apa?”  Mendengar pertanyaan itu, Geundis seketika menundukan kepala. Entah kenapa dia jadi malu untuk menjawabnya.  “Suster,” panggil perawat itu karena Geundis tak kunjung menyahuti. “Hm, saya … ditempatkan di kamar jenazah.”  Sang perawat terbelalak sempurna mendengar jawaban Geundis. “T-Tunggu, jangan bilang suster ditempatkan sebagai pengurus jenazah di sana?”  Sepertinya perawat di hadapannya itu sudah cukup lama bekerja di rumah sakit ini karena dia sudah tahu persis tentang perawat yang dipekerjakan sebagai pengurus jenazah, kira-kira itulah yang ditangkap Geundis dari pembicaraan mereka.  “Iya, Sus. Benar. Saya ditugaskan bekerja sebagai pengurus jenazah,” jawab Geundis masih dengan kepala tertunduk karena malu. “Berarti Suster kenal yang namanya Ners Davin?”  Mendengar nama pria itu, Geundis langsung berdecak dalam hati, tentu saja dia mengenalnya karena sudah dua hari ini hanya pria itu yang Geundis temui. Selain itu telinga Geundis rasanya berdengung karena terus saja mendengar omelannya. Davin yang galak itu sebenarnya Geundis tak ingin membahasnya.  Namun karena ditanya seperti itu Geundis merasa tak memiliki pilihan selain menjawab, dia pun menganggukan kepala, “Iya, kenal. Dia yang mengajari saya mengurus jenazah selama dua hari ini.”  Geundis hanya mengernyitkan dahi heran saat melihat wajah perawat yang menanyakan Davin itu tiba-tiba berbinar-binar, jangan bilang dia menyukai Davin? Geundis mulai merasakan firasat buruk.  “Suster sendiri sedang apa di sini sendirian?” tanya perawat itu, Geundis mengembuskan napas lega karena tadinya berpikir dia akan membahas tentang pria menyebalkan itu lagi. “Saya sedang jalan-jalan aja, Sus. Karena dua hari ini belum sempat berkeliling. Saya ingin lebih mengenal tempat-tempat di rumah sakit ini,” jawab Geundis disertai senyum. Dan dia kembali teringat pada keanehan bangsal ini yang begitu sepi karena itu dia mencoba menanyakannya pada sang perawat. “Oh, iya. Sus, kenapa ya bangsal Anggrek ini sepi sekali? Padahal bangsal yang lain saya lihat ramai?”  “Oh, itu …”  Geundis menangkap raut ragu dan enggan dari sang perawat untuk melanjutkan ucapannya. Dan hal ini tentunya membuat Geundis semakin mencurigai sesuatu.  “Apa ada sesuatu di bangsal ini, Sus?” tanya Geundis. “Sesuatu? Seperti apa contohnya?” “Seperti angker mungkin. Banyak hantu di bangsal ini.”  Dan seketika perawat itu tertawa terbahak-bahak, menertawakan kecurigaan Geundis yang mungkin menurutnya terdengar lucu. Tangan perawat itu dikibas-kibaskan sebagai bentuk bantahan. “Nggak kok. Cuma ini bangsal khusus untuk pasien-pasien jompo. Karena itu sepi dan jarang dikunjungi keluarganya.”  Geundis ber-oh panjang disertai kekehan karena tak enak hati pikirannya sudah melanglang buana kemana-mana. Pikirannya selalu mengenai makhluk gaib semenjak dia beberapa kali mengalami kejadian aneh di ruang jenazah.  “Suster sudah makan belum?”  Geundis kali ini menggelengkan kepala karena dia memang belum memakan apa pun. Lagi-lagi semenjak ditempatkan di ruang jenazah untuk memandikan jenazah selera makan Geundis jadi menurun dratis. Dia selalu terbayang-bayang sosok beberapa jenazah yang tampilannya memang mengenaskan.  “Kalau begitu kita ke kantin saja yuk. Sekalian kita ngobrol-ngobrol sambil makan. Nanti kalau ada yang mau ditanyakan tentang rumah sakit ini, tanyakan aja. Saya akan menjawab semuanya.”  Perawat itu mengajak Geundis makan siang bersama dan entah kenapa Geundis merasa tertarik untuk menerimanya. Dia pikir bisa menanyakan banyak hal tentang rumah sakit ini pada perawat tersebut.  “Baik, Sus. Ayo ke kantin.”  Akhirnya Geundis justru melupakan tujuan awalnya untuk mencari keberadaan sang tunangan yang sudah dua hari ini tidak dia temui.    ***   Kondisi di dalam kantin cukup ramai karena bukan hanya staff rumah sakit yang sedang menyantap makanan tapi juga ada beberapa keluarga pasien atau pasien yang hanya berobat jalan, ikut singgah dan ikut makan di sana.  Geundis dan sang perawat yang baru dia ketahui bernama Suster Viona itu menempati salah satu meja. Geundis yang memilih memakan sup daging, sedangkan Suster Viona memilih menu makanan ringan seperti pempek.  “Suster Geundis,” panggil Viona yang membuat Geundis mengalihkan tatapannya dari sup daging di dalam mangkok yang sedang dia nikmati. Gadis itu pun mendongak dan memakukan tatapannya pada Viona yang baru saja memanggilnya. “Kenapa Suster Viona?” “Hm, saya penasaran deh. Suster kan ditugaskan sebagai pengurus jenazah bersama Ners Davin, jadi penasaran gimana sikap Ners Davin. Bukannya dia itu agak pendiam ya?”  Geundis memutar bola mata mendengar pertanyaan Viona, jadi inikah arti firsat buruk yang dia rasakan tadi begitu melihat wajah Viona berbinar-binar setelah mendengar dirinya ditempatkan bersama Davin?  Geundis menghela napas panjang sembari meletakan sendok yang sejak tadi dia pegang, “Bukan pendiam. Tapi dia sangat galak,” jawab Geundis apa adanya. Karena yang dia rasakan itu bukan Davin yang pendiam seperti yang dikatakan Viona melainkan sangat galak dan cerewet.  Viona terkekeh, “Galak? Masa sih? Tapi dia terkenal pendiam loh. Jarang bicara.”  Geundis mengingat-ingat awal pertemuannya dengan Davin, pria itu memang terlihat cool awalnya tapi setelah tahu sifat aslinya yang mudah emosi, Geundis menilai dia memang pria yang galak dan menyebalkan.  “Dia itu galak, Sus. Saya sering dimarahi sama dia. Melakukan kesalahan sedikit aja dia langsung marah-marah.”  Viona kembali tertawa, “Begitu ya. Waah, saya baru tahu deh. Saya pikir dia itu jarang bicara. Padahal dia itu cukup populer loh di rumah sakit ini, banyak suster yang tertarik sama dia. Tapi karena dia pendiam jadi nggak ada yang berani deketin. Lain ceritanya sama Dokter Aarav.”  Mendengar nama tunangannya disebut-sebut, Geundis seketika tersentak kaget.  “Suster Geundis mungkin belum tahu dokter Aarav ya?”  Geundis berdeham mendengar pertanyaan itu karena dia tentunya kenal betul siapa Aarav yang dimaksud Viona tidak lain merupakan tunangannya. Di satu sisi Geundis ingin menjawabnya dengan jujur, tapi di sisi lain dia ingin tahu apa yang ingin dikatakan Viona mengenai Aarav.  “Kenapa emangnya sama Dokter Aarav?” Dan akhirnya Geundis memilih menuntaskan rasa penasarannya. Dia ingin tahu apa yang ingin dikatakan Viona tentang tunangannya tersebut.  “Dokter Aarav itu yang paling populer di rumah sakit ini. Dia tampan banget. Udah gitu dia juga ramah orangnya. Pokoknya idola deh di rumah sakit ini, banyak suster yang ngejar-ngejar dia. Malah dokter juga banyak yang coba deketin dia.”  Di saat Viona sedang tertawa, Geundis justru mengernyit jengkel, tak suka mendengar tunangannya banyak diincar wanita lain.  “Oh, begitu. Memangnya Dokter Aarav belum punya kekasih atau tunangan mungkin?” tanya Geundis, sengaja memancing.  Viona langsung menghentikan tawa dan tertegun seolah sedang mengingat-ingat sesuatu. “Nggak tahu deh. Tapi kayaknya sih belum punya pacar soalnya setahu saya, dia masih single.”  Geundis mendengus dalam hati sekarang, sepertinya saat bertemu dengan Aarav nanti ada dua hal yang harus dia protes. Pertama karena Aarav tak memberitahunya bahwa dia ditempatkan di bagian mengurus jenazah. Kedua tentang ini, tentang Aarav yang tidak memberitahukan bahwa dirinya sudah memiliki tunangan. Geundis sedikit tersinggung di sini karena seperti tak dianggap oleh Aarav.  “Oh, gitu ya. Jadi penasaran pengen ketemu sama Dokter Aarav. Suster Viona tahu nggak sekarang Dokter Aarav ada dimana?” Bagi Geundis ini kesempatan untuk mencari tahu keberadaan tunangannya karena tadi dia tak menemukan pria itu meski sudah berkeliling rumah sakit.  “Setahu saya sih tadi pagi baru selesai operasi pasien. Tapi kayaknya nggak ada jadwal operasi lagi. Kalau di ruangannya nggak ada, berarti udah pulang.”  Geundis mengembuskan napas pelan karena sepertinya satu-satunya cara untuk menemui tunangannya itu dengan memastikannya lewat telepon. Padahal tadinya Geundis ingin memberikan kejutan dengan muncul secara tiba-tiba di hadapan Aarav.  “Suster Geundis tahu di sini ada lowongan untuk di bagian pengurus jenazah dari siapa?”  Ingin rasanya Geundis memberitahukan bahwa dia mendapat tawaran bekerja di rumah sakit ini dari pria yang baru saja disebut-sebut oleh Viona yaitu Dokter Aarav. Tapi dia juga belum mau membongkar identitas dirinya sebagai tunangan pria itu.  “Hm, dari kenalan,” jawab Geundis memilih berbohong. “Tapi sebenarnya saya gak tahu kalau ditempatin di bagian mengurus jenazah. Padahal saya pengennya jadi perawat biasa aja yang melayani pasien. Karena kan yang saya pelajari juga ilmu tentang keperawatan bukan cara mengurus jenazah.” Geundis berujar dengan mimik wajah yang luar biasa kecewa dengan pekerjaan yang dia dapatkan ini.  “Sudah membicarakan hal ini dengan Bu Rima?”  Kening Geundis mengernyit saat mendengar nama seseorang yang baru didengarnya itu. Kepalanya pun menggeleng, “Bu Rima? Siapa tuh, saya baru denger?”  “Pemilik rumah sakit ini, Sus.”  Geundis pun melongo karena baru mengetahui pemilik rumah sakit ini ternyata seorang wanita. “Nggak tahu saya, Sus. Baru tahu dari Suster Viona kalau pemilik rumah sakit ini seorang wanita.” “Bu Rima baik kok orangnya, ramah lagi. Coba aja dibicarakan dulu siapa tahu Suster Geundis bisa dipindahkan ke tempat lain kalau memang tidak bersedia ditempatkan di bagian mengurus jenazah.”  Seketika wajah Geundis berbinar senang karena berpikir dirinya masih memiliki harapan untuk dipindahtugaskan. Geundis berniat menanyakan hal lain tentang sang pemilik rumah sakit namun mulutnya yang sudah terbuka itu harus dikatupkan lagi karena melihat Viona tiba-tiba menerima panggilan telepon.  Selama Viona sedang berbicara dengan seseorang di telepon, Geundis memilih melanjutkan aktivitas makannya yang belum selesai.  “Haduuh, pusing banget deh.”  Kepala Geundis pun mendongak saat mendengar gerutuan dari Viona, “Kenapa memangnya, Sus?”  “Saya tuh pusing, Sus,” sahut Viona sembari meletakan dengan kasar ponselnya di atas meja setelah selesai bicara di telepon dengan seseorang yang menghubunginya.  “Memangnya pusing kenapa?”  Viona mengembuskan napas pelan berulang kali sebelum mulutnya terbuka untuk menjawab pertanyaan Geundis. “Jadi hari ini ulang tahun pacar saya. Dia mengajak saya makan malam bersama. Tapi saya nggak bisa datang karena malam ini bagian saya piket malam,” ucapnya sembari merengut sebal.  “Oh, Suster Viona kebagian piket malam?”  Viona mengangguk-anggukan kepala dengan lesu, “Iya. Padahal saya sudah meminta tukaran shift dengan beberapa teman, tapi mereka nggak ada yang bisa gantiin saya malam ini. Pacar saya barusan marah-marah di telepon karena memaksa supaya saya mau makan malam dengannya karena ini memang hari istimewa buat dia.”  Geundis pada dasarnya memang memiliki hati yang baik dan peduli pada sesama, terlebih karena Viona sudah berbaik hati mengajaknya makan siang bersama dan sejak tadi memberitahukan info-info yang belum Geundis ketahui. Gadis itu menjadi iba pada Viona dan berpikir tidak ada salahnya jika dia membantu toh dia juga ingin merasakan menjadi perawat sebenarnya yang melayani pasien alih-alih mengurusi jenazah.  “Kalau Suster Viona mau, saya bersedia kok menggantikan Suster piket malam ini.”  Wajah Viona yang lesu seketika langsung berseri-seri, “Hah, serius, Sus?”  Geundis mengangguk-anggukan kepala, “Iya. Kebetulan saya juga nggak ada acara apa-apa malam ini.”  Geundis tersentak saat Viona tiba-tiba menggenggam tangannya. “Makasih banyak Suster Geundis. Ya ampun, maaf saya jadi merepotkan.”  Geundis mengulas senyum tipis, “Nggak apa-apa kok, Sus. Sesama perawat harus saling bantu,” jawabnya tulus.  Senyuman lebar Viona tiba-tiba luntur dan dia juga melepaskan genggaman tangannya pada Geundis, hal itu tentu saja membuat Geundis terheran-heran.  “Tapi sebelumnya saya harus ngasih tahu sesuatu deh sama Suster Geundis.” Geundis mengerjapkan mata karena menyadari Viona tiba-tiba memasang raut serius. “Ngasih tahu apa, Sus?” “Jadi nanti malam itu saya kebagian piket di bangsal khusus untuk anak-anak.”  Geundis langsung sumringah karena dia memang sangat menyukai anak-anak, “Wah, bagus dong, Sus. Kebetulan saya suka sekali sama anak-anak.”  Namun alih-alih lega mendengar jawaban Geundis ini, Viona justru tersenyum getir, “Tapi ada sedikit masalah di bangsal itu.”  Geundis kini ikut-ikutan memasang raut serius, “Kenapa emangnya dengan bangsal anak-anak itu, Sus?”  Viona mencondongkan tubuh ke depan hingga melewati meja dan berbisik pelan, “Bangsal itu angker.” Dan seketika Geundis terbelalak, terkejut sekaligus langsung merasakan seluruh bulu kuduknya merinding mendengar ucapan Viona tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN