“Bangsal itu angker.”
Geundis mengerjapkan matanya berulang kali begitu mendengar Viona berbisik sembari melayangkan tatapan serius.
“Angker? Angker bagaimana maksudnya?”
Viona berdecak, “Tentu saja karena bangsal itu berhantu.”
“Iya, aku tahu. Maksudnya kenapa bisa dikatakan angker? Apa karena hantunya sering menampakan diri?”
Dan begitu mendapati Viona mengangguk-anggukan kepala seketika Geundis meneguk salivanya.
“Jadi di bangsal itu sering muncul penampakan hantu pria mengenakan scrub.”
“Scrub? Hantu itu jangan-jangan arwah dokter bedah yang mati penasaran di rumah sakit ini dulu?” celetuk Geundis begitu mendengar penampakan sang hantu selalu mengenakan pakaian khas dokter jika ingin mengoperasi pasien.
Viona mengangkat kedua bahu tanda dia pun tak tahu menahu, “Nggak tahu deh. Bisa jadi sih.”
“Emangnya ada dokter bedah di rumah sakit ini yang meninggal secara nggak wajar?”
Viona terlihat sedang berpikir, mengingat-ingat adakah sosok dokter yang baru saja ditanyakan Geundis. Beberapa menit terdiam, sang perawat pun akhirnya merespon dengan gelengan kepala, “Setahu saya sih nggak ada. Saya udah kerja di rumah sakit ini hampir tiga tahun tapi nggak ada kabar seorang dokter yang mati mengenaskan. Tapi nggak tahu juga kalau sebelum saya kerja di sini.”
Kini gantian Geundis yang terdiam, entah kenapa keberadaan hantu ini sungguh mengganggu pikirannya. Dia semakin yakin rumah sakit ini memang angker, tidak hanya di bangsal anak-anak itu saja tapi memang keseluruhan rumah sakit ini dihuni banyak arwah gentayangan.
“Suster Viona pernah melihat penampakan hantu itu?”
Geundis yakin melihat Viona baru saja bergidik seolah membayangkan dirinya melihat penampakan hantu merupakan sesuatu yang paling tidak dia harapkan.
“Nggak. Untungnya saya belum pernah melihat penampakan hantu itu dan saya berharap tidak akan pernah melihat penampakannya. Tapi ada beberapa suster dan dokter yang pernah melihatnya. Hantu itu sering meneror anak-anak yang dirawat di bangsal itu.”
Geundis terbelalak mendengarnya, sosok hantu yang selalu meneror pasien anak-anak, dia mulai merasa ngeri sekarang.
“Meneror dengan cara apa? Apa hantu itu sering menampakan diri di depan anak-anak?”
Viona kembali mengangguk-anggukan kepala pertanda tebakan Geundis tepat adanya. “Iya. Tapi bukan hanya menampakan diri, dia juga terkadang mengganggu pasien anak-anak dengan menjahili mereka. Bahkan ada satu pasien yang nyaris celaka karena ulah hantu itu.”
“Memangnya apa yang dilakukan hantu itu pada pasien anak yang Suster maksud barusan?”
Viona menghela napas panjang, “Jadi anak itu ketakutan melihat penampakan hantu dan dia nekat mau lompat dari beranda lantai tiga. Untung saja ada suster yang datang tepat waktu ke ruang rawatnya karena mendengar suara teriakan anak itu.”
Geundis refleks membekap mulut dengan telapak tangannya sendiri karena mendengar cerita yang cukup menyeramkan itu.
“Gara-gara kejadian itu rumah sakit gempar. Orangtua pasien juga marah-marah dan hampir mau menuntut rumah sakit ini.”
“Benarkah? Terus akhirnya gimana?” tanya Geundis mulai penasaran.
“Untungnya Bu Rima cepat bertindak. Dia menawarkan perdamaian dengan memberikan biaya pengobatan gratis pada pasien anak itu selama sebulan penuh. Akhirnya orangtua pasien menerima penawaran itu dan masalah berhasil diselesaikan secara damai.”
“Terus pasien anak itu masih dirawat di rumah sakit ini sekarang?”
“Masih,” jawab Viona. “Kejadiannya masih baru kok, sekitar satu minggu yang lalu. Semenjak insiden itu penjagaan untuk pasien anak-anak semakin diperketat makanya itu Suster Geundis, nanti malam mungkin Suster harus sering-sering mengecek ruang rawat semua pasien di bangsal anak-anak itu, terutama ruangan pasien anak kecil barusan.”
Geundis kembali tertegun, mendengar cerita menyeramkan ini dia jadi ragu untuk menggantikan tugas Viona yang kebagian piket malam ini.
“Suster Geundis, kok diem? Jangan-jangan Suster berubah pikiran ya?”
Geundis mengulum senyum melihat raut wajah Viona yang menyiratkan kekhawatiran yang berlebihan. Geundis tahu dirinya sudah tak bisa mundur lagi karena dia sudah memberikan harapan pada Viona untuk bisa bersenang-senang dengan pacarnya malam ini. Geundis tak sampai hati membuat perawat baik, ramah dan menyenangkan itu untuk kembali merasakan kekecewaan setelah sempat dia buat merasa lega karena ada yang menggantikannya berjaga nanti malam.
Rasa takut Geundis berhasil dikalahkan oleh keinginannya membantu Viona dan ketidaktegaannya membuat perawat itu kecewa.
“Saya akan tetap menggantikan Suster piket malam ini kok. Suster Viona tenang saja.”
Seketika Viona mengembuskan napas lega karena sempat berpikir Geundis mengurungkan niat untuk menggantikannya piket malam ini.
“Makasih ya, Suster Viona udah ngasih tahu saya keseraman bangsal itu.”
Viona menyengir lebar, “Iya, sama-sama, Sus. Saya ngasih tahu bukan bermaksud menakut-nakuti. Tapi saya harus memberitahu Suster konsekuensi berjaga di bangsal itu agar Suster Geundis juga lebih berhati-hati saat berjaga.”
Geundis tahu niat baik Viona menceritakan kengerian bangsal itu. Lagi pula setelah mengetahui kejadian ini Geundis justru berpikir nanti malam dirinya tidak akan lengah. Dia harus sering memeriksa kondisi semua pasien anak-anak yang dirawat di bangsal itu.
“Karena Suster Geundis bersedia menggantikan saya piket, kita harus melaporkan ini pada Suster Kepala. Setelah selesai makan, kita ke ruangannya ya.”
Geundis mengangguk setuju, “Boleh. Selesai makan kita langsung ke sana.”
Geundis ikut senang saat melihat wajah Viona berbinar senang dan tiada henti mengucapkan terima kasih disertai senyum padanya.
Walau tak dipungkiri Geundis merasa takut tapi baginya menggantikan tugas Viona selain bisa membantu sang perawat, dia juga bisa merasakan menjadi seorang perawat yang sesungguhnya bukan pengurus jenazah seperti tugas yang dia dapatkan di rumah sakit itu.
***
Seperti kesepakatan mereka, begitu selesai menghabiskan makanan masing-masing selagi jam istirahat masih tersisa, kedua perawat itu pun pergi menuju ruangan suster kepala yang bernama Suster Mona.
Begitu tiba di ruangannya, mereka mendapati Suster Mona tengah duduk manis di kursi sembari tangannya sibuk menari di atas keyboard komputer yang diletakan di atas meja, mungkin sedang mengerjakan sesuatu.
Viona mengetuk pintu yang dalam kondisi terbuka tersebut, membuat sang suster kepala mendongak dan menatap ke arah mereka.
“Maaf mengganggu, Suster Mona. Boleh kami masuk?” tanya Viona sopan karena walau bagaimana pun wanita di dalam ruangan merupakan atasannya.
Suster Mona mempersilakan kedua perawat itu untuk masuk ke ruangannya dengan anggukan kepala.
Setelah saling berpandangan sejenak, Geundis dan Viona dengan serempak melangkah masuk ke dalam ruangan.
“Ada apa kalian ke sini?” tanya Suster Mona sembari menatap secara bergantian Viona dan Geundis setelah kedua perawat itu kini berdiri tepat di depan mejanya.
“Begini, Sus. Nanti malam giliran saya yang kebagian piket malam. Tapi karena saya ada urusan mendadak, saya meminta Suster Geundis untuk menggantikan saya dan beliau bersedia. Kami datang ke sini untuk memberikan laporan.” Viona menjelaskan dengan singkat alasan mereka datang ke ruangan tersebut.
Kini tatapan Suster Mona tertuju pada Geundis membuat gadis itu berdiri gelisah karena merasa risih ditatap setajam itu oleh sang Suster Kepala.
“Suster Geundis ini masih sangat baru di sini. Baru dua hari masuk kerja dan ditempatkan di bagian mengurus jenazah. Jika ingin mencari pengganti seharusnya minta tukar jadwal piket dengan suster lain saja,” sahut Suster Mona setelah cukup lama terdiam sambil menatap Geundis seolah lupa cara berkedip.
Viona menghela napas panjang dan terlihat jelas sangat kecewa mendengar jawaban dari Suster Mona. “Sudah, Sus. Saya sudah meminta tukar jadwal dengan beberapa perawat, tapi tidak ada satu pun yang bisa menggantikan saya malam ini. Hanya Suster Geundis yang bersedia.”
“Iya, tapi …”
“Saya tidak keberatan menggantikan tugas Suster Viona, Sus,” sela Geundis cepat karena sudah bisa menduga apa yang akan dikatakan Suster Mona. Tidak lain penolakan untuk menyetujui permintaan Viona.
“Tapi kamu masih baru loh di sini.”
“Iya, Sus. Justru karena saya masih baru saya ingin belajar beradaptasi dengan lingkungan rumah sakit ini. Selain itu, saya juga ingin menjalankan tugas sesuai profesi saya sebagai seorang perawat yang memang sudah semestinya merawat dan melayani pasien yang sedang sakit bukannya mengurus jenazah di kamar mayat.”
Suster Mona terenyak mendengar jawaban Geundis yang begitu menggebu-gebu dan terdengar sarat dengan protes karena tak terima dirinya ditempatkan di ruang mayat untuk mengurus jenazah.
Suster Mona pun berdeham, “Baiklah jika Suster Geundis bersedia, saya mengizinkan.” Tatapan sang Suster Kepala kini tertuju pada Viona yang sedang tersenyum lebar karena lega akhirnya mendapatkan izin. “Di bangsal mana nanti malam kamu harusnya berjaga?” tanyanya tentu ditujukan pada Viona.
“Bangsal Stroberi untuk anak-anak, Sus.”
Geundis yakin baru saja melihat Suster Mona terbelalak kaget begitu mendengar jawaban Viona. “Kamu sudah menceritakan keadaan di bangsal itu kan pada Suster Geundis?”
Dengan tegas Viona mengangguk, “Sudah, Sus. Sudah saya jelaskan semuanya.”
Suster Mona mengembuskan napas pelan, dilihat dari sudut mana pun terlihat sebenarnya dia enggan menyetujui pertukaran jadwal ini. Tapi karena Geundis yang ngotot ingin menggantikan Viona, dia jadi tak bisa melakukan penolakan lagi. Mau tak mau akhirnya dia harus memberikan izin.
“Suster Geundis, saya instruksikan sekali lagi ya. Bangsal anak-anak itu diistimewakan. Alasannya tentu Suster Viona sudah menjelaskan. Karena itu saya mohon kerja samanya, nanti malam Suster jangan sampai lengah. Harus sering mengecek semua ruang rawat pasien ya. Cek setiap satu jam sekali.”
Geundis mengangguk patuh, “Baik, Sus. Saya mengerti. Saya akan sering memeriksa ruang rawat semua pasien di bangsal itu.”
Suster Mona mengangguk tanpa ekspresi sebelum dia kembali melayangkan tatapan pada Viona. “Suster Viona, sebelumnya ajak Suster Geundis berkeliling dulu di bangsal itu agar tahu nanti malam bertugas berjaga dimana.”
“Baik, Sus. Saya akan memandu Suster Geundis mengelilingi bangsalnya sekarang. Terima kasih sudah memberikan izin, Sus. Kami mohon undur diri dulu.”
Tanpa kata dan hanya memberikan anggukan pelan, Suster Mona mengizinkan kedua perawat itu untuk meninggalkan ruangannya.
Di luar ruangan Suster Kepala, Viona langsung memekik girang karena nanti malam dia benar-benar bisa menemani kekasihnya merayakan ulang tahun dan semua itu berkat kebaikan Geundis.
“Suster Geundis, sekali lagi terima kasih ya sudah mau menggantikan saya berjaga nanti malam,” ucapnya sembari memegang kedua tangan Geundis.
Geundis mengulum senyum, ikut bisa merasakan rasa senang dan lega yang sedang dirasakan Viona. “Sama-sama, Sus. Senang bisa membantu.”
“Kalau nanti Suster Geundis membutuhkan bantuan saya, jangan sungkan untuk mengatakannya ya. Saya juga akan berusaha membantu Suster Geundis.”
“Iya, Sus. Terima kasih,” jawab Geundis.
“Ya udah, mari saya temani berkeliling ke bangsal anak-anak. Tapi sebelumnya saya ke toilet dulu sebentar ya. Suster Geundis mau ke toilet juga?”
Geundis menggelengkan kepala, “Nggak. Saya tunggu di sini saja.”
“OK. Saya nggak akan lama kok.”
Viona pun melesat pergi menuju toilet, meninggalkan Geundis sendirian di koridor sepi karena tak terlihat satu orang pun yang berlalu lalang. Geundis mendudukan dirinya di salah satu kursi yang diletakan di tempat itu, dia lalu teringat pada Aarav yang tak dia ketahui keberadaannya. Penasaran ingin mengetahui dimana tunangannya itu berada, Geundis pun merogoh ponsel dari seragam perawat yang dia kenakan lalu tanpa ragu menghubungi pria itu.
Dering pertama sampai ketiga, panggilannya tak diangkat oleh sang tunangan. Namun di dering keempat, akhirnya suara pria itu terdengar mengalun dari seberang sana.
Suara lenguhan khas orang baru bangun tidur terdengar membuat Geundis berpikir tunangannya itu benar-benar sedang ada di apartemen.
“Iya, Sayang. Ada apa menelepon?” tanya Aarav.
Sebenarnya Geundis kesal bukan main pada pria itu, ingin memarahinya karena Aarav begitu tega memberinya pekerjaan sebagai pengurus jenazah, Geundis mengurungkan niat itu karena berpikir masalah ini harus dibicarakan saat mereka bertatap muka secara langsung, bukan di telepon.
“Kamu lagi dimana?”
Sehingga itulah yang dilakukan Geundis sekarang, memastikan keberadaan tunangannya yang baru dia ketahui menjadi idola di rumah sakit itu.
“Di apartemen. Aku baru sampai sekitar satu jam yang lalu. Aku capek sekali karena dua hari ini lembur terus di rumah sakit, banyak operasi.”
Geundis sudah menduga inilah alasan Aarav tak pulang ke apartemen selama dua hari ini, pasti karena pria itu sibuk lembur di rumah sakit.
“Iya, saking sibuknya kamu sampe lupa kan mengabari aku?” Sindir Geundis karena selama dua hari ini pria itu benar-benar tak menghubunginya.
“Maaf, Sayang. Aku nyaris tidak memegang ponsel selama dua hari ini. Lagian kamu juga tidak menghubungi aku kok.”
“Karena aku tahu kamu sibuk, aku tidak ingin mengganggu.”
“Itu kenapa aku cinta banget sama kamu, kamu pengertian.”
Seketika Geundis merasa pipinya panas karena mendengar ungkapan cinta dari sang tunangan.
“Kamu sekarang lagi istirahat?” tanya Aarav karena Geundis yang tiba-tiba diam membisu, dia tak tahu Geundis sedang berusaha menormalkan detak jantungnya yang mendadak tak karuan karena ucapannya tadi.
“I-Iya, aku sedang istirahat.”
“Hah, aku nggak sabar menunggu kamu pulang ke apartemen. Kangen banget rasanya dua hari nggak ketemu sama kamu.”
Jika boleh jujur, itu juga yang sedang dirasakan Geundis, dia merindukan tunangannya meski rasa kesal juga mendominasi.
“Aku juga kangen sama kamu. Tapi malam ini kayaknya kita nggak bisa ketemu deh.”
“Loh kenapa?” Tersirat nada terkejut dari suara Aarav.
“Aku harus menggantikan Suster Viona piket malam. Jadi malam ini aku nggak akan pulang ke apartemen.”
Suara Aarav tak terdengar menyahuti membuat Geundis sempat khawatir pria itu tak mengizinkannya menggantikan Viona piket nanti malam.
“Aarav, kamu nggak marah, kan?” tanya Geundis mendesak tunangannya agar kembali bersuara.
“Oh, gitu ya. Ya udah mau gimana lagi kalau kamu ada piket malam. Kamu hati-hati ya, jangan telat makan.”
Geundis pun mengulas senyum, lega tentu saja karena Aarav ternyata tidak keberatan. “OK, kamu juga jangan telat makan. Ya udah, dilanjut deh istirahatnya. Aku mau keliling rumah sakit dulu ditemani Suster Viona.”
“OK, Sayang. I love you.”
Sambungan telepon terputus bahkan sebelum Geundis sempat membalas pernyataan cinta dari tunangannya itu. Gadis itu mengulum senyum sembari memeluk ponselnya di d**a karena senang akhirnya bisa berkomunikasi lagi dengan Aarav.
“Eheem, ada apa nih ampe senyum-senyum sendiri?”
Geundis tersentak karena mendengar sebuah suara yang tiba-tiba terdengar dari arah samping. Tentu saja itu suara Viona yang baru saja kembali.
Geundis dengan cepat menggelengkan kepala, “Nggak kok. Oh, udah selesai ke toiletnya, Sus?” Sahut Geundis, cepat-cepat mengalihkan topik pembicaraan karena tak ingin Viona bertanya lebih jauh.
“Sudah selesai kok. Ya udah, mari kita berkeliling di bangsal pasien anak-anak.”
Geundis langsung berdiri dari duduknya, dia lalu mengikuti langkah Viona yang berjalan beriringan dengannya. Meski raut wajah Geundis tampak tenang sebenarnya gadis itu sedang menahan rasa takut karena mengingat dirinya akan segera mengelilingi bangsal yang katanya angker dan sering muncul penampakan hantu pria mengenakan scrub operasi.