Geundis meneguk ludah berulangkali dengan tatapannya yang tertuju pada Davin lalu gantian pada jenazah yang terbujur kaku di brankar. Kata-kata Davin tadi masih terngiang di kepalanya, dan memandikan jenazah yang hantunya saja tadi menampakan diri di depannya, tentu saja Geundis tak berani. Mana ada orang yang berani? Begitu pikir Geundis. “Dav, kamu serius nyuruh aku mandiin jenazah itu?” “Ya iyalah serius. Kan emang ini tugas kamu,” sahut Davin, ketus seperti biasa. “Tapi aku nggak berani, Dav. Tadi kan aku udah cerita sama kamu, di depan ruang autopsi dia menampakan diri di depan aku. Kamu kayaknya gak percaya banget ya sama aku?” Davin mengangkat kedua bahu acuh tak acuh. “Dengar ya, kamu bisa lihat hantu atau tidak itu bukan urusan aku. Kerjaan kamu ya memang begini dan jenazah

