Geundis terus berjalan menelusuri lorong, niatnya ingin langsung ke ruang khusus perawat karena dia akan menemui Suster Viona. Namun, di pertengahan jalan, dia merasa ingin buang air kecil terlebih dahulu. Selain itu, dia ingin membasuh wajah karena kejadian yang dialaminya hari ini terasa begitu menakutkan dan dia yakin wajahnya pasti sudah tak beraturan. Kusam dan mungkin pucat mengingat dia sempat pingsan karena terkurung di ruang jenazah dan terus diteror penampakan hantu. Suasana lorong begitu sepi, tak ada yang lewat, entah itu pegawai rumah sakit, pasien maupun keluarga pasien. “Rumah sakit ini emang serem banget deh,” gumam Geundis seraya bergidik ngeri. Bola matanya bergulir menatap sekeliling dan seketika bulu kuduknya meremang tatkala melihat ke ujung lorong yang cukup gelap

