1. Best Boyfriend
Karin’s POV
Waktu istirahat adalah waktu yang sangat ditunggu sama semua murid. Ada yang makan siang, main bareng teman, atau kegiatan lain yang lebih menyenangkan daripada duduk di kelas dan dengari guru ngoceh. True?
Kayak gue yang lagi makan mie ayam di kantin. Bedanya, hari ini gue makan ditemanin sama pacar gue. Biasanya sih gue makan bareng Oca, soalnya Elvan selalu sibuk sama urusan OSIS-nya sampai makan bareng gue pun gak bisa. Tapi tumben banget hari ini dia bilang mau makan siang bareng gue. Oh iya, sedikit info aja gue sama Elvan udah pacaran kurang lebih tiga bulanan. Jadi, masih hangat-hangatnya gitu. Mungkin gue aja kali yang nganggep gitu soalnya dia kayak biasa aja.
“Yank, kamu gak makan?” tanya gue sama dia yang sibuk main handphone-nya.
“Enggak.” Jawaban yang super singkat kayak biasanya. Terus kenapa lo mau makan siang bareng gue, Bambank?!!!
Setelah menghela napas kasar, gue lanjutin lagi makan mie ayam yang sempat tertunda. Sedikit malas untuk ngomong sama Elvan.
Beberapa menit kemudian, mie ayam gue udah habis. Sumpah, makan siang yang gak berkesan sama sekali. Kalau tahu kayak gini mendingan gue makan siang bareng Oca aja.
“Yank, kamu gak makan? Nanti sakit loh,” ucap gue lagi sambil megang tangannya yang masih mainin handphone-nya.
Dia natap gue dingin. “Aku bilang enggak,” ucapnya datar.
Gue jadi ngerasa pacaran sama es batu. Dingin banget sih. Akhirnya gue pun cuma bisa menyeruput es teh manis gue yang belum habis sambil mainan handphone. Walaupun cuma geser-geser menu mood gue benar-benar anjlok.
Tiba-tiba ada cewek yang datengin meja gue sama Elvan dari mukanya sih kayaknya dia masih seangkatan sama gue. “Permisi, Kak Elvan, maaf mengganggu—” Iya, lo emang ganggu. “Saya mau minta waktunya sebentar, ini proposal yang kemaren Kakak suruh saya bikin.” Sambungnya.
Elvan langsung menaruh handphone-nya di atas meja. Wait, wait, Elvan naruh handphone-nya di atas meja? What?! Gue aja yang jadi pacarnya dari tadi dikacangin sama dia yang sibuk mainin barang s****n itu! Tapi sekarang dia malah .... Fix mood gue benar-benar anjlok seanjlok-anjloknya.
Elvan baca proposal tersebut terus senyum ke cewek itu dan dibalas juga. Masih gue lihatin belum gue sleding nih orang. Sedetik kemudian, raut wajah Elvan berubah jadi dingin.
“Kamu pikir proposal kamu bagus? Apa-apaan ini?! Kalau kayak gini kepala sekolah pasti gak setuju sama event yang bakalan kita buat! Kamu ngerti gak bikin proposal?!”
Nada suara Elvan yang tinggi membuat satu kantin menjadikan kita bahan tontonan. Senyuman cewek itu langsung hilang. Enggak cuma sampai di situ, Elvan juga ngebuang proposal yang tadi dia pegang langsung ke muka cewek itu.
Jahat gak sih kalau gue senang?
Cewek itu dengan cepat ngambil proposal tadi dan langsung pergi dari kantin. Sebelum cewek itu benar-benar menghilang dari pandangan gue, gue bisa ngelihat bahunya naik turun. Jadi, ngerasa bersalah nih gue.
“Elvan kamu bisa gak sih negur dia baik-baik? Kasihan dia sampai nangis gitu.”
Elvan natap gue dalam, “Udah ah! Gak usah bahas dia. Kalau kamu lagi sama aku jangan bahas orang lain, cukup ngobrol tentang kita aja.”
Kenapa cowok bernama Elvan Natanael yang menjabat sebagai Ketua OSIS SMA 5 bisa memporak-porandakan hati gue? Tadi aja dia bikin mood gue anjlok, sekarang dia juga yang jadi moodbooster gue.
“Gombal mulu, Mas?” Gue natap dia pura-pura sinis.
“Sama pacar sendiri ya gak pa-pa,” jawabnya sambil kembali fokus ke handphone-nya lagi.
Gue boleh gak sih jadi pengurus OSIS aja biar bisa diperhatiin gitu sama si Elvan. Nyesel gue gak ikut seleksi OSIS waktu itu. Ya seperti yang lo tahu, gue cuma lanjutin makan mie ayam sampai habis.
Setelah gue ngabisin orange juice yang gue pesen—sengaja bilangnya orange juice biar kelihatan berkelas dikit, padahal cuma minum sirup rasa jeruk—tiba-tiba Elvan berdiri terus gandeng tangan gue sampai di depan kelas. Dia ngelepas genggaman tangan kita dan nyium puncak kepala gue.
“Belajar yang rajin aku gak mau punya istri yang bodoh,” ucapnya sebelum pergi ke kelasnya, kelas 12 IPS-2.
Gue bingung harus senang atau marah sama kata-kata Elvan barusan. Tapi bomatlah, toh yang dia bilang benar juga. Cowok mana yang mau punya istri bodoh? Karena itu, gue hari ini belajarnya lebih serius. Elvan memang the best boyfriend!k
Karin’s POV end
Setelah sampai di kelas, Elvan langsung duduk di bangkunya dan langsung membaca catatan geografis, karena hari ini dia akan ulangan. Sekalipun Elvan ketua OSIS dan sibuknya minta ampun, tapi dalam bidang akademik tidak ada yang bisa meragukannya. Elvan terlalu pintar. Ia bisa saja masuk jurusan IPA secara kekasih Karin tersebut memiliki IQ 147. Namun, Elvan lebih tertarik dalam hal bisnis. Ia sangat ingin mendirikan perusahaannya sendiri, makanya saat dirinya ditawarkan menjadi kandidat Ketua OSIS, dengan senang hati Elvan mengiyakan.
Saat tengah menghafal beberapa materi yang menurutnya penting, tiba-tiba Mawar duduk di depan Elvan sambil menampilkan senyumannya yang terkesan dibuat-buat. “Elvan gimana nih event yang mau kita buat? Kapan kita mau rapat?”
Elvan menatap Mawar sekilas sebelum kembali fokus kepada catatannya. “Nanti,” jawabnya super singkat.
“Ya, nanti itu kapan?”
“Pulang sekolah.” Tepat setelah Elvan menjawab, bel masuk berbunyi.
Mawar hanya bisa berdecak sebal. Elvan selalu menjawab pertanyaannya dengan singkat. Padahal Mawar juga ingin bisa dekat dengan Elvan. Kalau bisa, hingga menggeser posisi Karin. Mawar segera berdiri dan pergi menuju kelasnya tanpa mengucapkan apa pun lagi.
Gue bakalan ngebuat lo suka sama gue Van, batin Mawar.