Kevan meregangkan tubuhnya setelah selesai melakukan siaran selama satu jam. Ia lalu melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam sebelum pamit kepada para kru dan rekan seprofesinya untuk pulang terlebih dahulu.
Kepalanya terasa pusing setelah melakukan obrolan berat bersama tamu yang hadir di acara yang dibawakannya malam ini. Masalah yang terjadi baru-baru ini benar-benar menggemparkan satu Indonesia. Dan sebagai seorang news anchor, ia dituntut untuk tahu lebih banyak mengenai masalah tersebut dan harus menyampaikannya secara netral—tidak memihak siapa pun. Dan kecerdasannya benar-benar diuji saat ia harus melakukan obrolan dengan orang-orang penting yang hadir di acaranya. Melelahkan sekali.
Kevan melepaskan jasnya dan melemparkan begitu saja benda tersebut di bangku penumpang setelah ia berada di dalam mobil. Ia lalu mengambil ponselnya, mengecek notifikasi yang masuk ke dalam ponselnya seraya melonggarkan dasinya yang membuatnya gerah sedari tadi.
Sudut-sudut bibirnya tertarik ke atas saat melihat satu pesan balasan yang dikirim oleh Namira sekitar satu jam yang lalu. Gadis yang satu itu benar-benar sedang menguji kesabarannya. Bagaimana tidak, pesan yang ia kirimkan selalu mendapat jawaban yang begitu singkat dari Namira. Gadis itu membuatnya gemas.
Senyum di bibir Kevan luntur seketika saat membaca satu pesan dari seseorang yang begitu penting baginya. Ia lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya seraya menyalakan mesin mobilnya sebelum melaju menuju tempat yang menjadi tujuannya saat ini. Hanya butuh waktu sekitar tiga puluh menit untuk sampai di tempat yang menjadi tujuannya—sebuah apartemen milik seseorang. Setelah memarkirkan mobilnya, ia segera melangkah keluar lantas berjalan memasuki apartemen tersebut dan mencari unit yang menjadi tujuan kedatangannya saat ini.
Kevan memencet bel dengan tidak sabar setelah ia sampai. Sungguh, rasanya ia benar-benar tidak tenang setelah mendapat pesan tersebut.
Ia tampak mengembuskan napas lega saat seseorang membukakan pintu untuknya. Tampak seorang wanita cantik tengah berdiri di hadapannya dengan gaun tidur berbahan tipis yang membuat Kevan bisa melihat semua lekuk tubuhnya. Namun, bukan itu yang menarik perhatiannya, melainkan mata wanita itu yang tampak sembab, seperti habis menangis.
“Hai,” sapa sang wanita setelah terjadi keheningan selama beberapa detik.
Kevan tidak memedulikan sapaan tersebut. Ia malah mendorongnya dengan lembut seraya menahan punggung wanita itu dengan telapak tangannya lantas menutup pintu dengan kakinya sebelum menyentuhkan bibirnya pada bibir wanita itu dan menciumnya dengan ganas.
Hanya bunyi cecapan antara bibir mereka saja yang terdengar di ruangan tersebut. Dan ciuman keduanya semakin liar ketika Kevan mendorong wanita itu sehingga membuat punggungnya menempel pada dinding yang membuat posisi mereka terlihat semakin intim.
“Laura,” lirih Kevan setelah menyudahi ciuman tersebut. Ia menatap wanita yang bernama Laura tersebut dengan lekat seraya mengusap bibir wanita itu yang basah akibat kegiatan mereka barusan.
“Aku membutuhkan kamu, Kev,” desah Laura seraya membelai d**a bidang Kevan.
Kevan mengerti apa maksud perkataan Laura barusan. Tanpa menunggu waktu lagi, ia kembali melumat bibir wanita itu sebelum menggendongnya lantas membawanya berjalan menuju kamar tidur untuk melakukan apa yang biasanya dilakukan oleh orang dewasa pada umumnya.
••••
Kevan mengumpat dalam hati saat mendapat telepon dari salah satu kru yang memintanya untuk melakukan siaran pagi ini, menggantikan temannya yang tidak bisa hadir karena sedang berhalangan. Ia benar-benar benci ketika diminta untuk melakukan siaran secara tiba-tiba seperti ini.
Persiapan untuk melakukan siaran tidak mudah. Ia harus membaca dan memahami terlebih dahulu berita apa yang akan dibawakannya nanti. Demi Tuhan ia baru tidur selama beberapa jam saja karena tadi malam ia terlalu banyak menghabiskan waktu bersama Laura. Dan pagi ini ia harus langsung melakukan siaran.
Sejujurnya, ia bisa saja menolak hal tersebut, tetapi ia tidak sampai hati, takut merusak acara yang sudah memiliki rating yang cukup tinggi itu. Lagi pula, ia sudah mendedikasikan dirinya sepenuhnya untuk stasiun televisi yang telah berhasil melambungkan namanya sebagai seorang news anchor sehingga membuatnya bisa sesukses ini.
Kevan melakukan persiapan secara kilat karena tidak punya banyak waktu. Ia membaca naskah berita yang akan dibawakannya pagi ini sembari membiarkan seorang perias melakukan apa pun terhadap wajahnya agar enak dipandang saat dirinya muncul di layar TV nantinya. Untungnya pagi ini ia hanya melakukan siaran selama setengah jam. Hanya membawakan berita kecil yang terjadi kemarin malam. Dan ia merasa begitu lega setelah selesai melakukan siaran dengan sempurna tanpa kesalahan apa pun. Setelahnya, ia pamit pulang. Ia ingin mencari sarapan. Perutnya terasa lapar karena belum terisi apa pun sejak tadi malam. Ia melirik jam tangannya terlebih dahulu yang kini baru menunjukkan pukul tujuh pagi sebelum memutuskan untuk sarapan di mana ia pagi ini.
Kevan segera memarkirkan mobilnya di antara mobil lainnya yang kini sudah memenuhi tempat parkir yang ada di kafe yang menjadi tujuannya untuk mengisi perutnya pagi ini. Ia berharap semoga masih ada meja yang tersisa di dalam sana karena jam-jam seperti ini adalah jamnya orang melakukan sarapan. Ia benar-benar sangat lapar. Rasanya ia sudah tidak sanggup lagi jika harus mencari tempat makan lainnya.
Kevan benar-benar bersyukur saat menemukan meja yang masih kosong. Ia lantas segera mengambil duduk di sana sebelum memesan.
“Saya menyukai kamu, Namira.”
Satu suara yang berasal dari meja yang ada di belakangnya berhasil membuat perhatian Kevan teralihkan dari buku menu yang sedang dibacanya saat ini. Entah kenapa, setiap mendengar nama Namira, ia jadi teringat dengan gadis yang ingin dinikahinya itu.
Mengangkat kedua bahunya, Kevan memilih untuk kembali fokus pada menu yang akan dipesannya pagi ini.
“Maaf, Pak, saya bener-bener nggak bisa menjalin hubungan dengan Bapak.”
Lagi, suara yang berasal dari meja yang ada di belakangnya berhasil menarik perhatiannya. Apalagi saat mendengar suara seorang perempuan yang sangat ia kenali. Suara itu terdengar seperti suara Namira.
“Kasih saya satu alasan kenapa kamu nolak saya.”
Sembari fokus pada suara yang berasal dari belakangnya, ia menyebutkan pesanannya pada pelayan yang sedang berdiri di sisi meja. Setelahnya, ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dan memasang telinganya baik-baik untuk mencuri dengar pembicaraan kedua orang tersebut yang ia yakini salah satunya merupakan Namira. Ia sudah hafal dengan suara gadis yang satu itu.
“Saya sudah tobat, Pak.”
Satu jawaban yang keluar dari mulut Namira berhasil membuat Kevan tersenyum geli. Ia yakin pria yang ingin menjalin hubungan dengan Namira itu merupakan pria beristri.
“Saya nggak percaya. Kemarin saya lihat kamu jalan sama Pak Jerry yang bahkan udah punya dua orang anak.”
“Kemarin saya lagi khilaf, Pak.”
Kali ini Kevan tak bisa menahan kekehannya setelah mendengar jawaban jujur Namira barusan. Ia terlihat seperti orang tidak waras saat ini karena tertawa seorang diri.
“Pokoknya saya tetap mau kamu menjalin hubungan dengan saya.”
Kevan melirik ke belakang saat terjadi keheningan selama beberapa saat. Dan ia hanya mendapati Namira saja di sana. Pria yang bersama gadis itu sudah pergi entah ke mana. Ia kemudian memutar posisi duduknya menjadi menyamping sebelum membuka suaranya. “Sepertinya saingan saya buat dapetin kamu banyak.”
Ucapan Kevan barusan berhasil membuat Namira terkejut. Gadis itu segera memutar tubuhnya ke belakang dan langsung membelalakkan matanya saat melihat Kevan yang tengah tersenyum lebar ke arahnya.
“Kamu!” pekik Namira yang tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.
“Halo, Namira,” sapa Kevan dengan senyum yang masih bertengger di bibirnya.
••••
Namira menatap Kevan dengan wajah cemberutnya yang menandakan betapa kesalnya dirinya setelah bertemu dengan pria yang paling ingin dihindarinya ini. Ia benar-benar tak menyangka akan bertemu dengan Kevan di sini. Yang lebih menyebalkannya lagi, pria itu meminta dirinya untuk menungguinya selagi pria itu menyantap sarapannya.
Namira melihat jam tangannya yang baru menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Masih ada waktu sekitar setengah jam lagi sebelum jam masuk kantor. Sejujurnya, ia ingin sekali pergi sekarang juga dengan alasan takut terlambat. Namun, Kevan tahu kantor tempatnya bekerja ada di depan kafe ini sehingga ia tidak bisa menggunakan alasan tersebut karena hanya dengan jalan beberapa menit saja, ia akan langsung sampai.
Bertemu dengan Kevan menambah daftar kesialannya hari ini. Demi Tuhan, ini masih pagi, tetapi ia sudah mendapatkan dua kesialan sekaligus. Yang pertama tentu saja saat bosnya menyuruhnya untuk datang lebih awal. Ia pikir ada rapat pagi ini, tetapi rupanya bosnya itu hanya ingin berbicara empat mata dengannya dan melontarkan ajakan untuk menjalin hubungan dengannya.
Sungguh, dua tahun ia bekerja sebagai sekretaris dari seorang pria bernama Kanaka, baru kali ini ia merasa tidak nyaman. Bosnya itu biasanya selalu bersikap dingin dan tak acuh terhadap siapa pun. Namun, semenjak dirinya menikah sekitar empat bulan yang lalu bersama seorang wanita yang kemarin menampar wajahnya dengan seenaknya, pria itu mulai berubah. Dan sialnya, perubahannya itu melibatkan dirinya. Selama empat bulan ini, Namira sadar bahwa Kanaka sering sekali menatapnya secara diam-diam. Awalnya ia tak terlalu memedulikan hal tersebut. Namun, sejak beberapa waktu yang lalu, pria itu dengan terang-terangan mengatakan bahwa dia mencintainya.
Walaupun Kanaka merupakan tipenya, tetapi ia tetap tidak ingin menjalin hubungan dengannya. Kanaka jelas tidak masuk ke dalam daftar pria yang ingin ia patahkan hatinya ataupun ia rusak rumah tangganya. Namira semata-mata menjadi perusak hubungan orang bukan untuk bersenang-senang walaupun alasan yang ia lontarkan pada sahabat dekatnya selama ini adalah hal tersebut. Ada misi yang harus ia selesaikan. Dendam yang bersarang di hatinyalah yang membuat Namira mengesampingkan belas kasihnya pada orang-orang yang menjadi sasarannya. Lagi pula, merusak hubungan orang-orang yang ada dalam daftarnya sangatlah gampang. Pria-pria itu sama saja dengan seseorang di masa lalunya yang begitu mudah tergoda dengan rayuan seorang wanita.
Satu tepukan pelan yang mendarat di bahu Namira membuat gadis itu tersadar dari lamunannya. Ia lalu menoleh ke samping dan menemukan Elsa—sahabatnya sejak zaman SMA. Ia tidak heran melihat kedatangan Elsa karena ia memang sengaja meminta gadis itu untuk menemuinya di sini saat Kanaka mulai memaksanya. Hanya Elsa lah satu-satunya orang yang bisa mengusir segala jenis pria yang mulai memaksa dirinya. Namun, sayangnya dia datang terlalu lama karena sang target sudah lebih dulu pergi. Tetapi itu tak masalah karena masih ada satu lagi pria yang ingin disingkirkannya saat ini.
“Siapa?” bisik Elsa saat ia sudah mengambil duduk di samping Namira.
“Kevan,” jawab Namira yang juga ikut berbisik.
“Bos lo udah ganti?”
Namira sudah ingin menjawab pertanyaan Elsa barusan, tetapi suara deheman yang berasal dari Kevan membuatnya mengurungkan niatnya. Ia lalu memutar arah pandangnya kepada Kevan yang kini tengah menatap mereka berdua dengan sebelah alis yang terangkat ke atas.
“Kamu Elsa?” tanya Kevan yang membuat Namira mengernyit bingung. Sepertinya ia belum mengenalkan sahabatnya ini kepada pria itu. Lalu, bagaimana dia bisa tahu?
Sama seperti Namira, Elsa pun mengernyit bingung saat mendapat pertanyaan tersebut. Namun, saat ia meneliti wajah pria itu, ia akhirnya sadar bahwa Kevan adalah pria yang beberapa waktu lalu mengiriminya pesan ke salah satu media sosialnya untuk menanyakan seperti apa sosok Namira. Pantas saja ia merasa wajah pria itu tidak asing.
“Lo yang waktu itu w******p gue karena pingin nanya-nanya soal Nami, kan?” tanya Elsa yang tampak begitu bersemangat.
Kevan meminum kopinya terlebih dahulu sebelum menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Elsa sebelumnya dengan senyum yang bertengger di bibirnya.
“Tunggu-tunggu ... kalian—” Namira kebingungan sendiri merangkai kalimat yang akan ia lontarkan.
“Ini cowok yang waktu itu lo tabrak, kan? Yang ngajak lo nikah juga?” tanya Elsa kepada Namira yang langsung dibalas dengan anggukkan kepala oleh gadis itu. “Jadi, dia pingin tahu banyak tentang lo. Terus nggak tahu gimana, dia dapet nomor w******p gue yang akhirnya ngebuat dia nyari tau tentang lo,” jelasnya kemudian dengan santai.
“Terus lo kasih tahu?” tanya Namira dengan matanya yang menyipit curiga.
“Ya iyalah. Baru kali ini ada cowok yang belum punya istri yang deketin elo. Gue jadi semangat. Kali aja bisa buat lo tobat beneran nantinya.”
“Gue emang udah tobat,” sahut Namira dengan kesal.
“Apanya yang udah tobat? Lo kalo diajak jalan sama cowok beristri masih ayo-ayo aja.”
“Sembarangan. Buktinya tadi gue nyuruh lo ke sini buat ngusir bos gue yang ngebet banget ngajak gue pacaran sama dia.”
“Basi banget. Gue tahu lo nolak bos lo itu karena kemarin muka lo ditabok sama istrinya. Lo kan nggak mau berhubungan sama suami orang yang istrinya udah tahu tentang hubungan kalian. Gue tahu lo banget, Nami,” ucap Elsa panjang lebar sebelum meminum minuman milik Namira dengan santai.
Namira memasang wajah kesalnya setelah mendengar kalimat blak-blakan Elsa. Ia dibuat mati kutu oleh sahabatnya sendiri. Menyebalkan sekali. Namun, ia berharap apa yang Elsa katakan barusan membuat Kevan berpikir ulang untuk menjadikan dirinya sebagai istrinya.
“Ngerebut suami orang itu nggak baik, Namira,” Kevan membuka suaranya setelah ia hanya menjadi pendengar antara Namira dan Elsa.
“Bukan urusan kamu,” balas Namira dengan ketus.
Kevan terkekeh pelan. “Kalo kamu mau tobat beneran, saya bisa bantu,” tawarnya kemudian.
“Nah! Setuju banget. Udah, buruan kawinin aja si Namira ini,” celetuk Elsa yang membuat Kevan kembali tertawa. Berbeda dengan Namira yang langsung melemparkan pelototan tajamnya kepada Elsa.
“Kamu tahu banyak tentang Namira, ya?” tanya Kevan kepada Elsa yang sedang sibuk menyantap sarapan milik Namira yang belum tersentuh sama sekali.
Elsa mengangguk dengan semangat seraya menelan makanan yang memenuhi mulutnya. “Banget. Lo tahu nggak, Namira pernah diajakin naik haji sama Mami Papinya karena mereka udah capek ngurusin anak ceweknya yang bandelnya nggak keruan. Kali aja pas nanti ngejalanin ibadah di sana, dia bisa dapet hidayah dan berubah. Tapi si Nami malah kabur dari rumah yang akhirnya ngebuat orang tuanya nggak jadi daftarin dia. b**o banget, kan?”
Lagi-lagi Kevan tak bisa menahan tawanya setelah mendengar perkataan Elsa. Ia bisa membayangkan sefrustasi apa orang tua Namira sampai ingin mengajak anaknya untuk naik haji. Sementara Namira, gadis itu semakin menekuk wajahnya dengan kesal. Ia sangat mengenal Elsa. Sahabatnya itu memang selalu berbicara ceplas-ceplos bahkan di depan orang yang baru dikenalnya sekalipun. Apalagi saat membicarakan kejelekannya. Elsa adalah ahlinya. Namun, sekali lagi ia berharap apa yang dikatakan Elsa bisa membuat Kevan berhenti mengejarnya.
“Satu lagi yang lo harus tahu, si Nami dulunya pernah masuk pesantren pas SMP, tapi dia kabur pas tengah malem. Maminya bilang, dia nggak kuat tinggal di sana karena harus selalu pake kerudung,” Elsa kembali berceletuk yang berhasil membuat Namira semakin dongkol.
“Terus?” tanya Kevan yang tampak bersemangat mendengarkan cerita tentang Namira.
“Ya udah, akhirnya Tante sama Om mindahin dia ke SMP biasa. Untungnya si Nami lumayan pinter, jadinya nggak terlalu ngecewain orang tuanya.”
Kevan tersenyum geli, tak menyangka bahwa gadis yang ingin dinikahinya ini luar biasa nakal. Namun, hal itu tidak menjadi masalah untuknya.
“Apalagi yang kamu tahu tentang Namira?” Kevan kembali bertanya, belum puas mendengar semua hal tentang Namira.
“Si Nami ini, dia jarang banget salat, tapi sering ke kelab. Disuruh minum air zamzam, tapi malah lebih milih minum alkohol. Kurang b**o apa coba calon istri lo ini?” Elsa berdecak pelan di akhir kalimatnya, bermaksud untuk mendramatisir keadaan.
“Gaya lo. Emangnya lo sering salat?” tanya Namira kepada Elsa.
“Iyalah. Walaupun gue salat cuma magrib sama subuh doang, seenggaknya tiap hari. Nggak kayak lo, sebulan bisa diitung berapa kali lo salat.”
Namira memutar kedua bola matanya. “Sama aja kali. Udah ah, gue pergi dulu,” ia bangkit dari duduknya sebelum beranjak pergi meninggalkan Kevan dan Elsa begitu saja.
Kevan yang melihat kepergiaan Namira secara tiba-tiba langsung bersiap untuk menyusul gadis itu, tetapi sebelumnya ia meninggalkan beberapa lembar uang seratus ribuan dan meminta Elsa untuk membayar semua makanan yang ada di meja ini yang untungnya langsung disetujui oleh gadis itu.
“Namira,” panggil Kevan setelah ia berada di luar kafe. Ia lalu memegang lengan Namira yang membuat gadis itu menghentikan langkahnya lantas memutar tubuhnya dengan malas.
“Apa?”
Kevan menyunggingkan senyum kecil di bibirnya sebelum memutus jarak di antara mereka lantas mendaratkan sebelah tangannya di rambut Namira. “Hati-hati,” ucapnya seraya mengusap rambut Namira dengan lembut sebelum berlalu dari hadapan gadis itu.
Tubuh Namira membeku di tempat setelah mendapat perlakuan manis yang begitu tiba-tiba dari Kevan yang sialnya membuat detak jantungnya berdentum cepat di dalam sana. Entah karena terkejut atas perlakuan Kevan yang sangat tiba-tiba itu atau entah karena hal lainnya yang tak ia mengerti. Entahlah.