Bab 3

1330 Kata
Kevan memarkirkan mobilnya di antara mobil lainnya yang sudah terparkir di halaman rumah yang dikunjunginya malam ini. Ia mematikan mesin mobilnya dan memutuskan untuk berdiam diri sejenak. Perasaannya terasa campur aduk saat ini. Ia benar-benar tak rela wanita yang dicintainya akan resmi menyandang status sebagai tunangan dari sepupunya sendiri. Sembari menghela napas panjang, Kevan melangkah keluar dari dalam mobil lantas berjalan masuk ke dalam rumah yang kini sudah dipenuhi oleh keluarganya dan keluarga dari pihak perempuan. Sejujurnya ia tak ingin datang ke sini, tetapi Rizkan merupakan sepupu yang paling dekat dengannya. Selain itu, ia juga tidak ingin Rizkan mencium tentang kedekatannya dengan Laura yang terbilang tidak wajar. Ya, Laura merupakan kekasih dari sepupunya sendiri. Wanita yang hanya terpaut satu tahun di bawahnya itu berhasil mencuri hatinya sejak Rizkan pertama kali mengenalkannya pada keluarga—sekitar empat tahun yang lalu. Dan itu merupakan pertama kalinya ia jatuh cinta pada lawan jenis. Laura merupakan cinta pertamanya, tetapi sialnya wanita itu sudah memiliki Rizkan sebagai kekasihnya. Dan entah bagaimana bisa, beberapa bulan setelah Rizkan mengenalkan wanita itu sebagai kekasihnya, ia mulai sering berkomunukasi via telepon dengan Laura, tentu saja tanpa sepengetahuan Rizkan. Dan sejak itu pula, hubungannya dengan Laura sudah seperti sepasang kekasih. Lagi-lagi, hal tersebut tentu tidak diketahui oleh Rizkan. Kevan tentu saja merasa bersalah atas apa yang ia lakukan selama beberapa tahun ini. Apalagi Rizkan merupakan sepupu terdekatnya. Namun, cinta telah membutakan hatinya. Ditambah lagi dengan Laura yang yang memang bersedia masuk ke dalam permainan terlarang yang dibuatnya. Ia sadar bahwa dirinya dan Laura sama-sama tidak waras. “Bang Ke!” Satu panggilan itu membuat Kevan segera memutar pandangannya ke sumber suara sebelum mendecak pelan mengingat panggilan yang diberikan kepadanya tadi. “Gue pikir lo nggak dateng,” ucap Rizkan dengan cengiran lebarnya seraya berjalan menghampiri Kevan. “Setelah denger panggilan lo tadi, gue jadi pingin pulang,” sahut Kevan dengan wajah kesalnya. “Halah ngambek. Kayak anak perawan aja lo,” Rizkan mencolek dagu Kevan seraya menaikturunkan alisnya. Kevan berdecak pelan dengan ekspresi luar biasa kesal yang terpasang di wajahnya walaupun jauh di dalam lubuk hatinya, ia begitu merasa bersalah kepada sepupunya ini. Sungguh, ia tak berani membayangkan akan jadi seperti apa hubungannya dengan Rizkan nantinya jika pria itu mengetahui tentang hubungannya dengan Laura. Dan sialnya, ia juga tidak berani memutus hubungannya dengan Laura. Ia terlalu mencintai wanita itu.   “Lo kenapa di sini? Acaranya belum mulai?” tanya Kevan seraya melirik ke ruang tengah yang kini dipenuhi oleh beberapa orang keluarganya dan beberapa orang yang tak dikenalinya. Dan saat itupula pandangannya beradu dengan Laura yang malam ini terlihat begitu cantik dengan balutan kebaya dengan model tertutup berwarna putih yang membalut tubuhnya dengan indah. Jujur, ia suka melihat Laura dengan pakaian dengan model seperti itu, tetapi tentu saja ia lebih suka melihat wanita itu tanpa sehelai benang pun. Kevan memaki dirinya sendiri saat pikirannya mulai berkelana tak tahu arah. “Cantik ya calon bini gue?” Satu pertanyaan itu membuat Kevan segera mengalihkan pandangannya dari Laura lantas kembali menatap Rizkan. “Semoga lo cepet nyusul ya,” ucap Rizkan seraya menepuk pelan pundak Kevan lantas berlalu begitu saja yang membuat Kevan mengernyit bingung. Kevan mengangkat kedua bahunya dan memilih untuk mengabaikan perkataan Rizkan barusan sebelum mengambil duduk di salah satu kursi yang masih kosong yang ada di ruang depan—bergabung bersama beberapa keluarganya yang memilih untuk duduk di sini. Ia malas bergabung dengan orang-orang yang berada di ruang tengah. Apalagi saat harus menyaksikan langsung momen di mana Rizkan dan Laura akan resmi bertunangan. Kevan mengalihkan perhatiannya dari pamannya yang saat itu tengah bercerita ketika mendengar suara kegaduhan yang terjadi di sekitarnya. Ia lalu menemukan adiknya yang tengah membantu seorang wanita membereskan gelas yang pecah. Ia kemudian berdecak pelan saat yakin bahwa adiknya lah yang baru saja membuat kekacauan tersebut. Kevin—adiknya itu memang selalu membuat keributan di mana pun dia berada. “Maaf banget ya, Mbak,” ucap Kevin yang terlihat tidak enak hati pada seorang wanita yang ditabraknya tanpa sengaja. “Besok-besok pake kacamata ya, Dek, biar kamu selalu berada di jalan yang lurus dan benar.” Suara perempuan yang ditabrak oleh Kevin yang terdengar di telinga Kevan membuat pria itu terkesiap. Bagaimana tidak, suara gadis itu sangat mirip dengan suara Namira. Apalagi saat ia mendengar nada kesal dalam suaranya, sangat Namira sekali. Dan benar saja, saat gadis yang tadi ditabrak oleh Kevin bangkit berdiri, ia melihat Namira. Gadis itu tidak terlihat seperti biasanya. Dia mengenakan gamis berwarna biru dengan selendang yang menaungi kepalanya secara asal. Kevan tersenyum di dalam hatinya. Untuk yang kesekian kalinya, ia kembali bertemu dengan Namira tanpa disengaja. Kevan melambaikan tangannya ke arah Namira dengan senyum lebarnya saat mata mereka beradu pandang. Ia terkekeh geli ketika mendapati Namira membelalakkan matanya saat melihat dirinya sebelum berderap pergi dengan langkah yang cepat—seolah-olah berusaha untuk menghindarinya. Ia yakin gadis itu sangat terkejut dengan keberadaannya di sini. Dan ia yakin jika kekesalan gadis itu naik beberapa tingkat setelah melihat dirinya. “Siapa, Bang?” tanya Kevin yang sudah mengambil duduk di samping Kevan. “Lain kali kalo jalan lihat-lihat, Vin. Lo malu-maluin keluarga aja bisanya,” tegur Kevan yang tak memedulikan pertanyaan Kevin barusan. Kevin hanya berdecak pelan sebelum mengambil ponselnya dan memilih untuk memainkan benda tersebut daripada ikut mengobrol bersama yang lainnya. Sementara Kevan, pria itu memilih untuk keluar saat acara pertunangan tersebut dimulai. Sungguh, ia benar-benar tak sanggup melihat Laura terikat dengan Rizkan walaupun mereka masih berstatus sebagai tunangan. Hal itu menegaskan bahwa Laura benar-benar milik Rizkan. Seharusnya hal itu membuatnya menyerah, tetapi sungguh, rasanya sulit melepas Laura setelah sekian tahun mereka menjalin hubungan secara diam-diam. Senyum Kevan mengembang lebar saat melihat Namira yang saat itu tengah membagikan minuman dan makanan ringan pada tamu yang memilih untuk tidak masuk ke dalam rumah. Ia lalu berjalan menghampiri gadis itu sesudah memastikan bahwa tak ada keluarganya yang melihat keberadaannya saat ini. Pasalnya, kalau sampai salah satu keluarganya tahu ia sedang mencoba untuk mendekati seorang perempuan, ia yakin dirinya akan menjadi bulan-bulanan mereka. “Namira,” panggil Kevan yang berhasil mengejutkan Namira. “Astaghfirullah,” Namira mengelus pelan dadanya saking terkejutnya dengan panggilan Kevan barusan. “Maaf. Saya nggak bermaksud buat kamu kaget,” Kevan meringis pelan seraya mengusap leher belakangnya. Namira mendesah pelan sebelum bergegas untuk pergi dari hadapan Kevan. Sungguh, bertemu dengan Kevan merupakan kesialan. Entah apa salahnya sampai harus bertemu dengan pria itu di sini. Padahal, selama dua hari ini hidupnya terasa tenang karena Kevan tak lagi datang menemuinya. “Tunggu,” ucap Kevan seraya memegang lengan Namira saat gadis itu bersiap untuk melangkah meninggalkannya. Namira sontak menarik lengannya sehingga membuat pegangan Kevan terlepas. “Maaf, bukan mahram,” ucapnya kemudian seraya menutup kembali kepalanya dengan selendang yang tadinya jatuh di sekitar lehernya. Kevan terkekeh pelan. Sikap Namira yang seperti ini selalu berhasil membuat perutnya tergelitik. “Saya kangen sama kamu. Udah dua hari kita nggak ketemu,” katanya kemudian, berterus terang. “Oh,” Hanya itu balasan yang keluar dari mulut Namira. Ia benar-benar malas menghadapi pria yang satu ini.   Kevan kembali terkekeh. Namira benar-benar membuatnya gemas. “Kamu mau apa? Aku sibuk, nggak ada waktu buat basa-basi nggak jelas.” “Saya cuma penasaran kenapa kamu bisa ada di sini.” “Kepo,” ketus Namira seraya berbalik dan bersiap untuk meninggalkan Kevan. Untuk kedua kalinya, Kevan kembali menahan kepergian Namira dengan memegang lengan gadis itu. Ia lalu membalikkan tubuh Namira sehingga membuat mereka saling berhadap-hadapan. Dan sejurus kemudian, tangan Kevan bergerak ke atas untuk merapikan letak selendang gadis itu. “Kamu cantik dengan pakaian seperti ini. Saya jadi nggak sabar untuk nikahin kamu,” ucapnya kemudian dengan senyum manis yang bertengger di bibirnya. Namira tak bisa berkata apa-apa lagi setelah menerima perlakuan dan perkataan Kevan barusan. Ia lalu berdeham pelan sebelum berbalik dan melangkah dengan cepat agar Kevan tak kembali menahan dirinya. Kevan lagi-lagi terkekeh pelan saat melihat Namira yang terlihat begitu terburu-buru untuk meninggalkannya. Satu hal yang baru disadarinya, bertemu dengan gadis itu membuat pikirannya teralihkan dari pertunangan tersebut. Setidaknya untuk saat ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN