Namira menghela napas panjang seraya mengambil duduk di kursi yang ada di bagian dapur rumah Laura—sepupunya. Ia lalu melirik ke belakang untuk memastikan bahwa Kevan tidak mengikutinya sampai ke sini. Dan ia langsung menghela napas lega saat tak melihat keberadaan Kevan di sekitarnya.
Rasanya benar-benar menjengkelkan saat harus melihat wajah pria itu lagi setelah dua hari ia merasa hidupnya aman dan damai tanpa kehadiran Kevan. Hidupnya menjadi tak tenang sejak kemunculan pria itu. Ia selalu merasa waswas jika ingin pergi ke luar, takut jika bertemu dengan pria itu. Dan sekarang, entah bagaimana bisa, takdir seolah selalu membuatnya kembali bertemu dengan Kevan. Lagi dan lagi.
Ia yakin pertemuannya kali ini tidak disengaja seperti beberapa waktu yang lalu—saat mereka bertemu di kafe. Dan entah karena alasan apa pria itu bisa berada di sini. Sejujurnya ia sedikit penasaran apa yang membuat Kevan bisa berada di tempat yang sama dengannya.
“Tumben ke sini.”
Satu suara yang masuk ke dalam indera pendengarannya membuat pikiran Namira tertarik dari alam bawah sadarnya. Ia lalu mengangkat kepalanya dan menemukan Laura yang tengah berdiri di hadapannya dengan wajah angkuh yang membuat Namira ingin sekali mengusapnya dengan pembersih toilet.
Sejujurnya, ia sangat tidak ingin ikut kedua orang tuanya pergi ke rumah kakak sepupunya yang sangat tidak akur dengannya ini. Sejak masih SMP dulu, Laura sudah menjadi musuh bebuyutannya. Alasannya sederhana, Namira dan Laura merupakan anak perempuan satu-satunya yang lahir di keluarga mereka. Yang membuat keduanya menjadi musuh seperti sekarang ini karena keluarga mereka selalu membanding-bandingkan keduanya.
Laura yang terlihat begitu manis dan baik di depan keluarga membuat Namira yang sikapnya tidak jauh dari kata nakal harus menerima segala perkataan sanak saudaranya yang selalu memintanya untuk mencontoh perbuatan Laura. Mereka tidak tahu saja seperti apa tabiat asli gadis yang berumur lima tahu di atasnya itu. Laura pandai sekali memasang topeng baik hatinya di depan keluarga. Untungnya Namira sudah tahu segala kebusukan wanita itu.
“Calon suami lo ganteng banget, ya? Boleh juga,” sahut Namira yang memilih untuk tak menanggapi perkataan Laura sebelumnya.
Laura tersenyum miring seraya membungkuk sedikit sehingga membuat wajahnya sejajar dengan wajah Namira. “Wah! Adik kecilku sudah bisa membedakan mana laki-laki tampan dan tidak rupanya.”
Namira menahan dirinya sekuat mungkin untuk tidak meludahi wajah Laura yang hanya berjarak beberapa centi saja dari wajahnya. Amarah sudah menguasai dirinya saat ini. Berhadapan dengan Laura selalu bisa membuatnya hilang kontrol. Dan untuk kali ini, ia tidak ingin terpancing oleh wanita itu. Ia sudah muak disebut sebagai anak kecil karena tidak bisa menahan emosinya.
“Lho, yang baru tunangan kok malah di sini?”
Laura langsung mengubah posisinya menjadi berdiri setelah mendengar suara salah satu tantenya yang baru saja masuk ke dapur. Wanita itu lalu menunjukkan senyum manisnya yang membuat Namira mendengkus sinis. Laura selalu pandai memainkan ekspresinya. Memuakkan sekali.
“Lho, ada Namira juga.”
Namira memberikan senyum lebarnya kepada tantenya yang saat itu ingin mengambil kue.
“Ganteng ya calonnya si Laura? Kamu harus contoh Kakak kamu ini, Nami. Udah karirnya bagus, anaknya baik, dapetnya juga laki-laki yang baik, ditambah ganteng lagi,” ucap sang tante kepada Namira.
“Ah, Tante bisa aja,” sahut Laura dengan wajah tersipu malu yang terlihat dibuat-buat.
Namira mendengkus sinis sebelum bangkit dari duduknya lantas pergi begitu saja dari hadapan Laura dan tantenya. Sungguh, ia benar-benar muak harus berhadapan dengan sepupunya itu. Wanita itu bermuka dua. Di hadapan semua orang dia selalu memasang wajah malaikatnya, padahal aslinya tidak lebih baik dari iblis. Dan Namira bersyukur karena ia memilih untuk menjadi dirinya sendiri. Dirinya yang apa adanya dengan sifat nakalnya. Persetan dengan keluarganya yang tak menyukainya. Lebih baik ia terlihat nakal saja daripada bersikap baik, tetapi aslinya buruk. Itu sangat memalukan.
“Heh! Anak gadis mau ke mana?”
Namira menghentikan langkahnya lantas menoleh ke belakang saat mendengar suara ibunya. “Pulang, Mi,” jawabnya kemudian.
“nak aja main pulang-pulang. Acaranya belum selesai. Bantuin Tante kamu buat minum sana.”
Namira mendesah pelan. “Iya, Mami sayang.”
“Awas kalo enggak,” ancam sang ibusebelum berbalik dan berderap pergi.
Sepeninggal ibunya, Namira menoleh ke kanan dan kiri untuk memastikan bahwa sang ibu tidak akan kembali ke sini atau paling tidak tetap berada di dalam. Setelah merasa aman, ia segera mengambil tasnya yang tadi ia letakkan di kursi yang ada di bagian samping rumah lantas pamit kepada saudaranya yang terlihat di matanya dan bergegas untuk pulang.
“Aman,” gumam Namira setelah ia berada di luar gerbang dengan napas yang tak beraturan karena baru saja berlari.
Ia tidak peduli jika ibunya akan marah setelah ini. Ia bukan anak kecil lagi yang biasanya selalu mendapat hukuman pengurangan uang jajan. Jadi, tak masalah jika ia pergi seperti ini. Lagipula, ia malas berada dalam satu ruangan dengan Laura.
“Kamu abis maling apa?”
Namira tersentak kaget setelah mendengar suara tersebut sehingga membuat selendangnya yang tadinya ingin dilepasnya jatuh begitu saja.
“Ya Allah, Kevandra. Bisa nggak, sih, kamu sekali aja nggak ngagetin aku?” pekik Namira yang sudah tak bisa menahan rasa kesalnya.
Kevan meringis pelan. “Saya pikir kamu denger suara langkah kaki saya.”
Namira berdecak pelan sebelum membungkuk untuk mengambil selendangnya yang jatuh di jalan. Ia lalu memberikan lirikan tajamnya kepada Kevan seraya berjalan meninggalkan pria itu.
Kevan memilih untuk mengikuti Namira, berjalan di belakang gadis itu. Sejujurnya, ia penasaran apa yang membuat Namira terburu-buru untuk meninggalkan rumah ini. Terlebih lagi, rasa penasaran akan kehadiran gadis itu di sini belum juga terjawab.
“Ya Allah, jauhkanlah hamba dari setan yang sedang berjalan di belakang hamba. Walaupun hamba jarang salat, tetapi untuk kali ini saja kabulkanlah doa hamba,” ucap Namira seraya menengadahkan kedua tangannya sambil terus melanjutkan langkahnya.
Kevan terkekeh geli. “Saya bukan setan, Namira. Memangnya ada setan yang mukanya kelewat tampan seperti saya?”
Namira menghentikan langkahnya lantas berbalik menghadap Kevan dan melemparkan tatapan jijiknya ke arah pria itu. Ia akui Kevan memang tampan, tetapi setelah mengatakan hal yang sangat percaya diri itu, kadar ketampanan pria itu menurun drastis. Itu bukan tampan lagi namanya, tetapi sok tampan.
“Apa? Saya memang tampan, kan?” tanya Kevan seraya memasang wajah polosnya.
Namira mengembuskan napas panjang untuk meredam rasa kesalnya.”"Kamu ngapain, sih, ngikutin aku? Kurang kerjaan banget.”
Kevan mengangkat kedua bahunya. “Saya cuma penasaran aja kenapa kamu bisa ada di sini. Dan saya tadi liat kamu lari-lari, kan saya jadi curiga. Kepala saya langsung berpikiran kalau kamu ke sini karena mau maling.”
Namira sudah ingin memaki Kevan karena pria itu dengan seenaknya mengatai dirinya sebagai maling. Namun, kemarahannya menguap saat ia teringat bahwa Kevan ke sini pasti dengan kendaraannya sendiri. Otaknya yang cerdas langsung bekerja sehingga membuat dirinya ingin memanfaatkan pria itu.
“Kamu ke sini naik apa?” tanyanya kemudian.
Kevan mengernyit bingung, tetapi tetap menjawab pertanyaan tersebut. “Mobil. Kenapa?”
“Sendirian?”
Kevan menganggukkan kepalanya dengan mimik wajah yang semakin menunjukkan kebingungan.
“Bagus. Kamu mau nganterin aku nggak?”
“Ke mana?”
“Udah, anterin aja dulu. Bisa nggak?”
“Okey. Tunggu bentar, saya ambil mobil sama pamitan dulu,” ucap Kevan seraya bergegas pergi dengan langkah kakinya yang terlihat lebar.
Namira bersorak dalam hati saat Kevan bersedia untuk memberinya tumpangan. Andai saja orang tuanya tidak memaksa dirinya untuk semobil dengan mereka karena takut kalau dirinya akan kabur, ia pasti tidak akan meminta bantuan Kevan. Sebenarnya ia bisa saja menggunakan taksi, tetapi ia tidak membawa uang banyak. Dan rasanya malas sekali kalau harus kembali pulang ke rumah.
Lagi pula, ia akan pergi bersama Kevan, orang yang sudah dikenal orang tuanya—walau masih dalam hitungan hari. Jadi, tak masalah jika malam ini ia mampir dulu ke kelab. Kalau nanti ditanya kenapa dia pulang sampai larut malam, tinggal jawab saja kalau ia jalan dengan Kevan. Dan mungkin setelah itu, orang tuanya tidak akan bersikap baik lagi kepada Kevan. Ah, otaknya cerdas sekali.
Namira langsung naik ke dalam mobil Kevan setelah pria itu kembali dengan mobilnya.
“Jadi, kita mau ke mana?” tanya Kevan seraya melajukan mobilnya keluar dari komplek perumahan ini.
Namira memakai sabuk pengaman sembari menjawab pertanyaan Kevan barusan. “Kelab.”
Mendengar jawaban Namira, Kevan sontak memutar pandang ke arah gadis itu dan menatapnya selama beberapa detik dengan kerutan bingung yang menghiasi keningnya sebelum kembali fokus pada jalanan. “Kamu mau ke kelab dengan pakaian seperti itu?” tanyanya kemudian.
“Enggak, dong. Aku bawa baju ganti,” Namira menunjukkan tasnya kepada Kevan dengan cengiran lebar yang bertengger di bibirnya.
Kevan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan senyum geli yang terbit di bibirnya. Ia benar-benar takjub dengan sifat Namira yang sangat jarang ditemuinya pada perempuan lainnya. Gadis itu bahkan sudah menyiapkan segalanya dengan baik. Ada-ada saja.
“Nanti berhenti di mall sebentar, ya? Aku mau numpang ganti baju.”
Kevan menganggukkan kepalanya. Setelahnya, terjadi keheningan selama beberapa saat sebelum akhirnya Kevan angkat suara.
“Namira, kenapa kamu bisa ada di rumah Laura tadi?”
“Laura Kakak sepupu aku.”
“Kakak sepupu kamu?” Kevan bertanya dengan raut wajahnya yang tampak begitu terkejut. Sungguh, ia benar-benar tak tahu kalau Namira bersaudara dengan Laura.
“Iya. Terus kamu, kenapa bisa ada di sana?” Namira balik bertanya.
“Rizkan adik sepupu saya.”
Sama seperti Kevan yang terkejut mendengar pengakuan Namira barusan, Namira pun juga melakukan hal yang sama. “Kamu serius?”
Kevan menganggukkan kepalanya. “Kebetulan banget, ya? Sepertinya itu pertanda kalau kita memang berjodoh,” ia menoleh ke arah Namira sembari menaik turunkan alisnya yang langsung mendapat cibiran dari gadis itu.
“Berhenti di sini aja, nggak usah parkir di dalem,” ucap Namira setelah mereka tiba di mall.
“Kenapa?” tanya Kevan dengan bingung, tetapi tetap memilih untuk menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
“Parkir di mall sekarang makin mahal. Nanti takutnya kamu jatuh miskin,” jawab Namira dengan wajah yang dibuat sehoror mungkin sebelum bergegas keluar.
Tawa Kevan sontak meledak setelah mendengar jawaban aneh Namira barusan. Gadis itu benar-benar menggemaskan.
Selang beberapa menit, Namira kembali dengan pakaian yang berbeda. Gamis yang melekat pada tubuh gadis itu sudah berganti dengan terusan selutut tanpa lengan. Pakaian yang terlihat seksi, begitu menurut Kevan.
“Apa liat-liat. Nafsu ya kamu liat aku pake baju kayak gini?” tanya Namira dengan mata yang menyipit curiga.
Kevan terkekeh pelan. Nafsu? Tentu saja tidak. Selama ini, hanya Laura lah yang berhasil memancing gairahnya.
Sepanjang perjalanan, Namira sibuk merias wajahnya dengan make up yang dibawanya. Kevan benar-benar takjub dengan persiapan gadis itu. Isi tasnya seperti kantung doraemon.
Jam sepuluh kurang sepuluh menit akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Namira kembali meneliti wajahnya dan bergegas turun setelah semuanya terasa sempurna.
“Mau saya temenin, nggak?” tanya Kevan.
“Nggak perlu. Kamu pulang aja. Makasih ya udah mau nganterin aku,” jawab Namira seraya melepas sabuk pengamannya lantas langsung turun begitu saja.
Kevan awalnya ingin ikut Namira, sekaligus untuk menghilangkan kegalauan yang melanda dirinya. Namun, satu pesan yang dikirim oleh Laura membuatnya langsung mengurungkan niatnya.
Laura: Selesai acara, aku langsung ke apartemen. Kamu bisa ke sana nggak? Aku kangen kamu.