Bab 5

1519 Kata
Kevan sudah menunggu kehadiran Laura hampir satu jam lamanya. Ia sengaja memilih untuk berdiam diri di dalam mobil saat menunggu wanita itu. Ia hanya ingin mengantisipasi kalau saja Rizkan yang nantinya akan mengantar Laura ke sini. Ia tersenyum miris saat sadar bahwa selama ini hubungannya dengan Laura selalu seperti ini—bersembunyi dari semua orang. Dan yang lebih parahnya lagi, sampai kapan pun, tidak ada jalan baginya untuk bisa bersama Laura. Kevan langsung menegakkan tubuhnya saat melihat mobil Rizkan berhenti di depan gedung apartemen tempat Laura tinggal. Ia menahan napasnya sejenak saat melihat Rizkan mengecup kening wanita yang dicintainya itu. Rasanya sangat menyakitkan. Selama ini, hanya rasa sakit yang selalu didapatnya. Namun, bodohnya Kevan, ia tidak pernah menyudahi semuanya walaupun sakit yang diterimanya sudah begitu banyak. Setelah memastikan bahwa Rizkan sudah benar-benar pergi, Kevan segera melajukan mobilnya lantas masuk ke halaman parkir apartemen tersebut sebelum menyusul Laura yang sudah lebih dulu berjalan menuju unitnya. Senyum Kevan terbit di bibirnya saat melihat Laura yang ternyata menunggunya di depan pintu apartemen. Ia langsung membawa wanita itu ke dalam pelukannya lantas menghidu aroma Laura yang sangat disukainya. Inilah yang membuatnya enggan menyudahi semuanya walaupun ia harus merasakan sakit setiap detiknya—Laura selalu menerimanya. “Agresif banget,” goda Laura seraya melepas pelukannya dengan Kevan lantas membuka pintu apartemennya dan mempersilakan pria itu untuk masuk. “Aku cemburu saat melihat Rizkan mencium kamu tadi,” ujar Kevan seraya mengambil duduk di sofa yang terdapat di depan televisi. Laura terkekeh pelan seraya melepas jaket yang tadi digunakannya sebelum menjatuhkan tubuhnya di atas pangkuan Kevan dengan kedua lengannya yang melingkari leher pria itu sehingga membuat jarak di antara mereka sangatlah tipis. “Apa yang kamu cemburukan, Kev? Kamu bahkan sudah mendapat tubuhku lebih dari yang Rizkan terima. Kamu tahu sendiri kalau selama ini Rizkan mengira aku masih perawan sehingga membuatnya begitu menjagaku.” “Tapi aku tidak pernah mendapatkan hatimu,” sahut Kevan dengan senyum getir yang menghiasi bibirnya. Laura mengusap wajah Kevan dengan lembut. “Kamu sudah mendapatkan tubuhku, Kev. Apa itu kurang? Kamu tahu, hanya Rizkan yang ada di hatiku, hanya dia.” Kevan mengambil tangan Laura yang berkelana di sekitar wajahnya lantas menggenggamnya dengan lembut. “Sampai kapan, Laura? Aku tidak tahan lagi kalau terus seperti ini. Aku memang selalu mendapatkan tubuhmu, tetapi bukan itu yang sebenarnya aku inginkan,” ucapnya seraya menatap Laura dengan tatapan sendunya.   Laura tampak menghela napas panjang. “Kamu tahu sendiri kalau aku sangat mencintai Rizkan, Kev. Dan sejak awal kita juga sudah sepakat bahwa hubungan ini hanya sebatas pertemanan.” Kevan memejamkan matanya sejenak saat kembali merasakan perih yang menyerang hatinya akibat penolakan Laura untuk yang kesekian kalinya. Sejak awal, ia memang sudah tahu kalau sampai kapan pun ia tidak akan pernah berhasil merebut hati Laura. Dan sejak awal, hubungan yang terjalin di antara mereka hanya untuk memuaskan nafsu mereka saja. Ia sadar itu. Namun, sekali lagi ia katakan bahwa cinta telah membutakan hatinya. Asalkan bisa bersama dengan Laura, ia akan merasa begitu bahagia, seperti itulah yang ada di pikirannya selama ini. Kalau dipikir-pikir, posisi Kevan di sini hanya sebagai tameng agar Rizkan dan keluarganya tak tahu seperti apa tabiat asli Laura. Sejak awal, ia sudah tahu kalau wanita itu sudah tidak perawan lagi. Dan demi melampiaskan nafsunya, Laura sengaja mendekatkan diri dengan Kevan karena ia tidak ingin melampiaskan nafsunya bersama Rizkan. Dan bodohnya Kevan, ia tetap menuruti semua keinginan Laura walaupun ia tahu bahwa wanita itu hanya memanfaatkan dirinya saja. “Ayolah, Kev, jangan memikirkan hal itu lagi. Malam ini aku ingin bersenang-senang,” ucap Laura seraya membuka kancing kemeja Kevan. Kevan langsung menahan tangan Laura saat satu kancing kemejanya sudah terlepas. Ia lalu bergegas bangkit dari duduknya yang langsung membuat Laura segera bangun dari pangkuannya. Wanita itu tampak mengernyit bingung saat Kevan menolaknya. “Aku tidak tahan lagi, Laura. Beri aku kepastian,” ucap Kevan dengan raut wajahnya yang berubah datar. Sungguh, setelah Laura resmi menjadi tunangan Rizkan, ia ingin kejelasan dari hubungan ini. Ia tidak bisa terus terjebak dalam hubungan yang tidak jelas seperti ini. Untuk kali ini, ia akan mengambil sikap tegas. Laura melipat kedua tangannya di depan dadanya. Tatapan bingung yang tadinya terpasang di wajahnya sudah berganti dengan raut yang menunjukkan keseriusan. “Kalau begitu, cari saja perempuan lain. Aku sudah pernah meminta kamu untuk cari perempuan lain, bukan? Dan sampai sekarang, aku tidak juga tahu siapa perempuan itu. Sudahlah, Kev, aku tahu kamu tidak bisa lepas dariku. Jadi, jangan bersikap seperti ini.” Kevan mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya. Perkataan Laura barusan benar-benar melukai harga dirinya. Sebelumnya, ia juga pernah terlibat pertengkaran yang persis seperti ini dengan Laura. Itulah sebabnya ia mengajak Namira untuk menikah dengannya secara spontan waktu itu. Pikirannya benar-benar kalut. Ia hanya ingin membuktikan kepada Laura bahwa ia bisa lepas dari wanita itu. Namun, untuk lepas dari Laura tidaklah mudah. Walaupun nantinya ia bisa membuktikan hal tersebut, ia yakin bahwa dirinya akan kembali pada wanita itu.   “Tidak lama lagi kamu akan menerima undangan pernikahanku, Laura. Ingat itu,” ucap Kevan dengan sungguh-sungguh. “Aku akan dengan senang hati menunggu undangan itu,” sahut Laura dengan senyum angkuhnya. Kevan langsung berderap pergi meninggalkan Laura. Darahnya mendidih di dalam sana karena amarah yang sejak tadi sudah merasuki dirinya. Dan amarahnya langsung meledak begitu ia berada di dalam mobil. Kepalan tangannya yang begitu kuat langsung menghantam setir mobil berulang kali diiringi dengan teriakan kencang yang keluar dari mulutnya. Setelah puas menyalurkan segala emosinya, Kevan segera melajukan mobilnya menuju jalan raya dengan kecepatan tinggi. Ia butuh minum saat ini. Dan kelab adalah tujuannya. Mabuk bisa membuatnya melupakan segala masalahnya. Setelah tiba di tempat tujuan, Kevan segera mencari tempat parkir. Namun, ia langsung menghentikan mobilnya saat melihat seorang perempuan yang tak asing di matanya tengah berjalan dengan seorang pria yang tampak sedang memapah tubuh perempuan tersebut. Dan ia langsung membelalakkan matanya saat sadar bahwa perempuan itu adalah Namira. Kevan langsung turun dari mobilnya dan segera menghampiri Namira yang sedang berjalan bersama seorang pria asing. Ia yakin gadis itu sedang dalam kondisi mabuk. Dan ia langsung berpikiran bahwa pria asing itu merupakan orang jahat yang sedang menjebak Namira. Apalagi ia tahu bahwa gadis itu sendirian di sini. Seharusnya ia menemani Namira saja tadi. “Permisi,” panggil Kevan yang membuat pria asing tersebut menghentikan langkahnya lantas menoleh ke arah Kevan. “Gadis yang bersama Anda adalah teman saya. Anda ingin membawanya ke mana?” tanyanya langsung. “Teman? Saya tidak pernah tahu kalau Namira memiliki teman seperti Anda.” Kevan sedikit terkejut saat mendengar pria itu tahu siapa nama Namira. Itu artinya mereka sempat berkenalan tadi. “Saya temannya. Biar saya saja yang membawanya pulang.” “Kevan,” gerutu Namira setengah sadar yang membuat pria yang bersamanya menoleh ke arahnya dengan bingung. “Biarin gue pulang sama dia, Jay ... calon suami,” lanjutnya seraya terkekeh pelan. Sepertinya gadis itu sudah sangat mabuk. “Oh! Anda Kevandra? Elsa pernah cerita tentang Anda ke saya. Tolong, jaga dia ya,” ucap pria tersebut seraya menyerahkan Namira kepada Kevan. Kevan langsung memapah tubuh Namira yang sudah tak terkendali lagi. Ia lalu mengucapkan terima kasih kepada pria itu yang ia yakini merupakan teman Namira. Ternyata ia salah. Pria itu tidak berniat jahat. Ia benar-benar panik tadi. Kevan langsung mengambil duduk di balik kemudi setelah bersusah payah memapah tubuh Namira menuju mobilnya. Ia lalu memasangkan sabuk pengaman di tubuh gadis itu sebelum bergegas pergi. Tujuannya adalah membawa Namira ke apartemennya malam ini. Rasanya tidak mungkin jika ia membawa gadis itu pulang ke rumahnya. Ia tahu orang tau Namira tak pernah tahu bahwa anak gadis mereka sering keuar masuk kelab. Ia akan memikirkan alasan yang akan diberikannya kepada orang tua Namira besok saja. Kevan sudah bersiap untuk melajukan mobilnya, tetapi hal tersebut harus tertunda karena tiba-tiba saja Namira memuntahkan isi perutnya sehingga mengenai paha sebelah kiri Kevan. Pria itu lalu menoleh ke arah Namira yang kini sudah menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi. “Pusing,” lirih Namira. Kevan menghela napas panjang seraya mengambil tisu lantas membersihkan sisa muntahan yang menempel di sekitar bibir gadis itu. “Kamu memang aneh. Ini masih jam sebelas, tapi kamu udah mabuk,” ucapnya kemudian seraya mengelap mulut Namira. “Pusing,” Namira kembali bersuara. Kevan membuang tisu tersebut setelah selesai membersihkan mulut Namira. Ia lalu mengusap pelan kening gadis itu sebelum menjalankan mobilnya menuju apartemennya. Sesampainya di apartemennya, Kevan segera menggendong tubuh Namira yang sudah tak sadarkan diri menuju unitnya. Ia lalu merebahkan tubuh gadis itu di ranjangnya sebelum menutupinya dengan selimut. Untungnya saja pakaian Namira tidak terkena muntahannya. Gadis itu memang pintar sekali karena dia memuntahkan isi perutnya ke samping sehingga mengenai sebagian tubuh Kevan. Setelah selesai mengurus Namira, Kevan melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya yang terkena muntahan Namira. Setelahnya, ia bersiap untuk tidur. Ia mengambil selimut yang ada di dalam lemarinya lantas mengambil bantal yang tidak dipakai oleh Namira sebelum merebahkan dirinya di atas sofa kamarnya. Apartemennya hanya memiliki satu kamar tidur karena kamar yang satunya lagi sudah ia sulap menjadi tempat penyimpanan barang. Tidak mungkin ia tidur seranjang dengan Namira, itu sangat tidak sopan. Jadi, ia akan tidur di sofa malam ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN