Kevan mengalihkan perhatiannya dari layar ponselnya saat mendengar suara seseorang yang baru saja memanggil namanya. Ia lalu bangkit dari rebahannya lantas menoleh ke arah ranjangnya dan menemukan Namira yang saat itu baru bangun dari tidurnya. Gadis itu duduk di atas ranjang dengan matanya yang belum sepenuhnya terbuka, seperti sedang mengumpulkan nyawanya yang masih tertinggal di alam mimpi.
Kevan mematikan ponselnya sebelum bangkit berdiri lantas beranjak ke dapur untuk mengambil air putih dan obat yang akan ia berikan kepada Namira. Ia tahu kepala gadis itu masih pusing setelah dirinya mabuk berat kemarin malam.
“Minum ini,” suruh Kevan seraya meletakkan segelas air putih dan sebutir obat di atas nakas.
Namira yang masih belum sepenuhnya sadar, menatap Kevan dengan bingung. Pandangannya lalu berputar ke arah dua benda yang tadi dibawa Kevan dan ia langsung paham apa maksud dari pria itu. Ia kemudian mengusap wajahnya terlebih dahulu agar kesadarannya terkumpul dengan sempurna. Setelahnya, ia meringis pelan saat merasakan nyeri yang menjalar di bagian kepalanya.
Kevan menghela napas panjang saat melihat Namira yang terlihat begitu kesakitan. Ia lalu mengambil duduk di pinggir ranjang lantas mengusap kening gadis itu dengan lembut yang membuat Namira sedikit terkejut.
“Diminum dulu obatnya, supaya sakitnya cepet ilang,” ucap Kevan dengan tangannya yang sekarang sudah berganti memijat kening Namira.
Awalnya Namira sempat terbuai dengan perhatian yang Kevan berikan. Namun, secepat mungkin ia memilih untuk tak ambil pusing dengan sikap pria itu yang begitu lembut kepadanya. Ia yakin kalau itu hanya akal-akalan Kevan saja untuk membuatnya luluh dan mengatakan “ya” saat pria itu kembali meminta dirinya untuk menjadi istrinya.
“Aku nggak bisa minum obat, Kev,” Namira menanggapi perintah Kevan sebelumnya dengan jujur.
Kevan langsung menghentikan gerakannya lantas menatap Namira dengan alis yang bertaut. “Nggak bisa gimana? Kan tinggal diminum.”
Namira menyingkirkan tangan Kevan yang berada di keningnya saat rasa pusingnya sudah sedikit berkurang. “Itu obatnya bentuk tablet, aku nggak bisa. Kalo cair, aku bisa.”
“Kamu nggak bisa minum obat dalam bentuk tablet?”
Namira memutar kedua bola matanya. “Kan udah aku bilang tadi.”
Kevan menatap Namira dengan wajahnya yang tampak begitu terkejut sebelum tawanya meledak begitu saja. “Umur kamu sebenarnya berapa, Namira?” tanyanya di sela-sela tawanya.
Namira memasang wajah cemberutnya karena Kevan menertawakan dirinya hanya karena ia tidak bisa minum obat dalam bentuk tablet. Memangnya apa yang salah? Sejak dulu, ia memang tidak berani minum obat seperti itu karena takut tersangkut di tenggorokan.
“Aku gerus dulu obatnya. Kamu tunggu di sini,” ucap Kevan dengan sisa-sisa tawanya yang menempel di bibirnya sebelum berderap keluar dengan obat yang tadi ia bawa.
Selang beberapa menit, Kevan kembali dengan piring kecil yang di dalamnya terdapat obat yang sudah berubah menjadi serbuk. Ia lalu mengambil duduk di pinggir ranjang lantas meletakkan obat tersebut di sendok sebelum menuangkan sedikit air di dalamnya.
“Ayo, minum,” ucap Kevan seraya menyodorkan obat tersebut tepat di depan mulut Namira.
Namira menutup hidungnya karena aroma dari obat tersebut yang sangat tak disukainya lantas menggelengkan kepalanya. “Aku nggak mau minum obat. Kalo udah digituin, rasanya jadi makin pahit.”
Kevan menghela napas panjang. “Terus kamu maunya minum apa, Namira?” tanyanya dengan lelah.
“Biasanya aku selalu minum s**u kalo pusing karena mabuk,” jawab Namira.
“Kenapa nggak bilang dari tadi?” tanya Kevan dengan gemas seraya meletakkan sendok yang berisi obat tersebut ke piring. Sungguh, Namira benar-benar menguji kesabarannya.
“Kamu nggak nanya,” bela Namira.
Kevan kembali menghela napas panjang sebelum bangkit berdiri. “Kamu cuci muka dulu sana. Setelah itu, saya anter kamu pulang.”
“Susunya mana?” tanya Namira saat ia melihat Kevan yang sudah bersiap untuk pergi.
“Kamu kan udah punya s**u,” jawab Kevan dengan wajah sok polosnya.
Namira memberikan pelototan tajamnya kepada Kevan lantas mengambil bantal sebelum melemparkannya ke arah pria itu yang membuat Kevan tertawa dengan keras.
“Dasar, nggak sopan!” teriak Namira dengan kesal.
“Tapi memang bener, kan?” tanya Kevan di sela-sela tawanya.
Namira berdecak pelan. “Iya, sih, tapi kan belum bisa diproduksi.”
Kevan mengencangkan tawanya setelah mendengar jawaban Namira barusan. Ia lalu menggeleng-gelengkan kepalanya karena sikap gadis itu yang apa adanya dan cenderung tak tahu malu.
“Kamu cuci muka sana, setelah itu kita cari sarapan di luar sekalian nyari s**u untuk kamu. Dan sepertinya kamu udah nggak pusing lagi karena kamu udah bisa marah-marah,” kata Kevan dengan senyum gelinya yang membuat Namira mendecak kesal. Ia lantas meletakkan kembali bantal yang tadi dilempar Namira ke tempatnya semula.
“Kev,” panggil Namira sebelum Kevan benar-benar pergi.
“Hm?”
“Hari ini kamu kerja?”
“Kerja. Kenapa?”
“Ini kan hari libur nasional. Memangnya kamu nggak ikutan libur?”
“Hari libur saya cuma jumat, Namira. Hari ini saya ada siaran jam tiga sore sama jam setengah enam sore. Kenapa?”
“Aku nggak mau pulang,” jawab Namira dengan bibirnya yang melengkung ke bawah.
“Kenapa?” tanya Kevan dengan raut bingung yang menghiasi wajahnya.
“Mbak yang beres-beres rumah lagi pulang kampung.”
“Terus?”
“Kalo libur kayak gini, aku yang bakal gantiin si Mbak. Jadi babu,” jawab Namira dengan ekspresi nelangsanya.
Kevan terkekeh pelan. “Kamu udah dari kemarin malam nggak pulang. Apa nggak dicariin? Kamu juga belum ada ngasih kabar, kan?”
“Kalo soal itu aman. Elsa udah ngurus semuanya,” Namira berkata dengan cengiran lebarnya. Dan niatnya yang tadi malam ingin membuat orang tuanya tidak bersikap baik lagi kepada Kevan, hanya tinggal sebuah rencana karena pria itu sudah berbaik hati mengizinkannya menginap di sini dan tidak berbuat macam-macam kepadanya. Tadi malam ia ingat kalau Jay—teman dekat Elsa yang akan mengantarnya pulang dan menyuruhnya menginap di apartemennya.
Hal itu disebabkan karena Elsa sedang sibuk mempersiapkan touring motor yang akan dilakukan beberapa hari lagi. Elsa sengaja menyuruh Jay menjaganya. Biasanya ia selalu menginap di kos Elsa kalau mabuk seperti tadi malam. Dan kedatangan Kevan benar-benar disyukurinya karena sejujurnya, ia tidak ingin menginap di apartemen Jay. Ia merasa segan karena mereka tidak begitu dekat.
Kevan mengedikkan bahunya. “Ya, udah, terserah kamu.”
Namira bertepuk tangan riang. “Hari ini ajak aku jalan-jalan, ya? Kamu kan kerjanya masih nanti sore.”
“Kamu ngajak saya kencan?” goda Kevan seraya memainkan alisnya.
Ekspresi bahagia yang tadinya sempat menaungi wajah Namira, kini sudah berganti dengan raut sebal. “Nggak usah geer kamu.”
Kevan tertawa pelan. “Sana siap-siap. Saya tunggu di luar,” suruhnya kemudian seraya berderap pergi.
Namira segera mengikuti perintah Kevan untuk bersiap-siap. Dan rasa pusingnya juga sudah tidak terlalu terasa sehingga tidak merepotkan dirinya.
Namira hanya menghabiskan waktu selama beberapa menit saja untuk bersiap-siap. Ia hanya cuci muka dan gosok gigi. Percuma saja mandi, ia juga tidak membawa baju ganti. Orang-orang juga tidak akan tahu karena ia menutupinya dengan parfum dan make up.
“Ayo, Kev,” ajak Namira yang terlihat begitu semangat. Entahlah, ini pertama kalinya ia kembali jalan dengan pria lajang sejak beberapa tahun belakangan.
Kevan mematikan ponselnya lantas segera berjalan berdampingan bersama Namira menuju parkiran untuk mengambil mobilnya.
“Kev, aku wangi, nggak?” tanya Namira sebelum mereka masuk ke dalam mobil.
Kevan yang tadinya sudah ingin membuka pintu mobil langsung mengurungkan niatnya lantas menoleh ke arah Namira. “Wangi,” jawabnya dengan jujur.
Namira hanya tersenyum lebar sebelum berderap meninggalkan Kevan untuk masuk ke dalam mobil yang membuat pria itu geleng-geleng kepala.
“Ya ampun, bau banget! Mobil kamu kenapa jorok banget sih, Kev?” teriak Namira saat ia baru ingin masuk ke dalam mobil.
Kevan menjitak kepala Namira yang membuat gadis itu langsung melayangkan protesnya. “Itu muntahan kamu,” sahut Kevan dengan gemas.
“Masa, sih? Tadi malam aku muntah?” tanya Namira dengan wajah shock-nya.
Kevan memutar kedua bola matanya. “Menurut kamu? Udah, buruan masuk. Saya udah laper,” suruhnya kemudian.
Namira menutup hidungnya karena bau tak sedap akibat muntahannya itu. Sungguh, ia benar-benar malu saat ini. Dan ia tidak mengerti bagaimana bisa Kevan tahan dengan bau tersebut karena pria itu terlihat santai-santai saja.
“Kamu kenapa di belakang?’ tanya Kevan yang terdengar sedikit memekik saat melihat Namira malah duduk di bangku belakang.
“Nggak tahan, Kev, bau banget,” jawab Namira seraya menutup hidungnya lantas membuka jendela mobil.
Kevan menghela napas panjang dan mencoba untuk menenangkan dirinya agar ia tetap sabar saat menghadapi gadis yang benar-benar aneh ini.
“Kev, nanti mampir di bengkelnya Elsa aja. Di sana ada doorsmeer juga. Biasanya jam segini udah buka. Di samping bengkel mereka juga ada kafe. Sekaligus nunggu mobil kamu di cuci, kita sarapan di sana. Nanti aku yang bayar uang cuci mobilnya,” celoteh Namira yang merasa tak enak karena sudah membuat mobil Kevan kotor.
Kevan hanya bergumam pelan sembari mengikuti arahan dari Namira.
Mereka hanya menghabiskan waktu selama beberapa menit saja karena bengkel Elsa tak terlalu jauh dari apartemen Kevan.
“Wih! Ada pasangan Kera,” celetuk Elsa dengan heboh saat melihat Namira dan Kevan turun dari mobil.
Namira menghampiri Elsa dengan kerutan bingung yang menghiasi dahinya. “Kera?”
Elsa menganggukkan kepalanya. “Kevan dan Namira.”
“Sembarangan lo,” balas Namira dengan kesal.
Elsa hanya cekikikan saja. Ia lalu mendekat ke arah Namira lantas membisikkan sesuatu di telinga gadis itu. “Gimana tadi malem? Panjang atau pendek? Gemuk atau kurus?”
Namira langsung menjambak rambut Elsa setelah mendengar pertanyaan senonoh tersebut. Ia tahu apa maksudnya. Otak sahabatnya ini memang tidak pernah jauh dari hal-hal m***m seperti itu.
Namira menghentikan aksi jambak-menjambaknya saat Kevan sudah berada di sebelahnya. Pria itu sempat menyapa Elsa yang ditanggapi seadanya oleh gadis itu karena ia sedang kesakitan akibat jambakan Namira barusan.
“Gila lo! Sakit banget kepala gue. Kalo gue sampe ilang ingatan, gue tuntut lo,” ucap Elsa seraya mengusap kepalanya.
Namira hanya memutar kedua bola matanya tidak peduli lantas menggandeng tangan Kevan untuk pergi ke kafe yang terletak di samping bengkel ini. Namun, keduanya kompak menghentikan langkah mereka saat melihat Rizkan dan Laura yang juga berada di sini.