Bab 7

2293 Kata
Kevan menghela napas panjang saat melihat Laura dan Rizkan yang entah bagaimana bisa berada di tempat yang sama dengannya. Ia lalu merangkul bahu Namira dengan gayanya yang dibuat sesantai mungkin walaupun di dalam hati ia merasa begitu cemburu saat melihat sepasang kekasih itu. Dan hal tersebut sontak membuat Namira terkejut. Namun, gadis itu tetap membiarkan Kevan merangkulnya seperti itu. “Hai! Ngapain di sini?” tanya Kevan kemudian, berusaha untuk terlihat santai. Rizkan mengikuti gaya Kevan dengan merangkul pundak Laura. Ia lalu menunjukkan senyumnya sebelum menjawab pertanyaan Kevan barusan. “Gue mau nyuci mobil. Sekalian mau cari sarapan. Lo sendiri?” Kevan terdiam sejenak saat melihat gaya bicara Rizkan kepadanya yang terlihat tak seperti biasanya. Entah hanya perasaannya saja atau memang benar kalau adik sepupunya itu tampak berbeda. Pria itu seperti sedang membangun tembok di antara mereka. Namun, secepat mungkin ia menyingkirkan pemikiran tersebut. Ia berpikir bahwa Rizkan mungkin sedang dalam mood yang buruk. “Sama. Gue juga mau nyuci mobil sekalian cari sarapan,” jawabnya kemudian. “Wih! Pas banget. Gimana kalo kita sarapan bareng aja? Lumayan kan sarapan bareng cowok ganteng kayak Kak Rizkan. Dijamin kenyang,” celetuk Namira seraya menatap Rizkan dengan alis yang ia naik turunkan sembari melirik sinis ke arah Laura. Ia hanya ingin memanas-manasi sepupunya itu. Rizkan terkekeh pelan untuk menanggapi perkataan Namira barusan. Berbeda dengan Laura yang terlihat santai, seolah perkataan Namira tak berpengaruh apa pun baginya yang malah membuat gadis itu kesal sendiri. Sementara Kevan, pria itu mengumpat dalam hati karena ajakan Namira. Sungguh, yang paling dihindarinya selama ini adalah berada dalam satu ruangan yang sama dengan Laura dan Rizkan. Sialan. Dan tadi, kata sapaan apa yang digunakan Namira saat memanggil Rizkan? Kak? Menyebalkan sekali. Gadis itu bahkan tak pernah sekalipun memanggilnya dengan sebutan kakak. Padahal, umur Rizkan dua tahun di bawahnya. “Gimana, Sayang? Kamu mau sarapan bareng mereka, kan?” tanya Rizkan seraya meletakkan helain rambut Laura di belakang telinga wanita itu. Laura menatap Rizkan dengan senyum manisnya. “Mau, dong. Sekali-sekali sarapan bareng sepupu-sepupu kita.” “Ayo,” ajak Rizkan kemudian seraya berjalan bergandengan dengan Laura. “Asyik!” pekik Namira sembari melepas rangkulan Kevan begitu saja dan segera mengambil posisi berjalan di samping Rizkan.   Kevan menghela napas panjang lantas menyusul ketiganya yang sudah berjalan terlebih dahulu. Sungguh, melihat Laura dan Rizkan menunjukkan kemesraan mereka di hadapannya benar-benar membuat hatinya terluka. Dan Namira, padahal ia mengharapkan gadis itu berada di sisinya, tetapi dia malah bergabung bersama sepasang kekasih itu. Benar-benar menyebalkan. Sesampainya di kafe yang berada di samping bengkel Elsa, Namira segera mengambil duduk di samping Rizkan sebelum Laura duduk di tempat itu terlebih dahulu. Dan Namira memberikan cengiran lebarnya kepada Laura saat melihat mimik wajah wanita itu yang mulai terlihat agak kesal. Kevan yang datang terakhir tak punya pilihan lain dan terpaksa harus mengambil duduk di samping Laura, berhadapan dengan Namira yang wajahnya terlihat paling ceria sendiri di antara mereka bertiga. “Kita kayak lagi double date, ya? Aku pasangannya Kak Rizkan. Kevan pasangannya Laura,” ucap Namira dengan asal setelah mereka semua memesan makanan. Namira yang sebelumnya cekikikan sendiri langsung menghentikannya begitu saja lantas memasang raut bingungnya saat melihat ekspresi ketiga orang yang sedang bersamanya tampak begitu tegang. Dan ia yakin hal itu disebabkan oleh perkataannya barusan. Sepertinya ia salah bicara. “Maaf, aku cuma bercanda,” ucap Namira yang merasa begitu bersalah. Maksud hati ingin membuat Laura kesal dengannya, ia malah membuat suasana di antara mereka berubah menjadi begitu tegang dan tak nyaman. Sepertinya ia salah strategi. “Namira,” panggil Rizkan yang membuat semua mata memandang ke arahnya. “Ya?” sahut Namira dengan canggung. Sial, ia yang memulai, ia juga yang kena batunya. Seharusnya ia tak perlu sok akrab dengan Rizkan tadi. “Menurut kamu, Laura sama Kevan cocok, nggak?” Pertanyaan Rizkan barusan berhasil membuat Kevan dan Laura sama-sama terkejut. Pasalnya, ini pertama kalinya Rizkan mengeluarkan pertanyaan ambigu seperti itu. Namira tampak berpikir sejenak seraya menatap Kevan dan Laura secara bergantian. “Enggak, sih. Kevan terlalu ganteng untuk Laura. Nggak cocok. Sebenarnya, Kak Rizkan juga nggak cocok untuk Laura. Kalo Kevan terlalu ganteng untuk Laura, Kak Rizkan terlalu baik untuk Laura,” jawabnya dengan santai, seolah sedang menyuarakan apa yang hatinya ingin katakan selama ini. Ia hanya kasihan dengan Rizkan yang harus mendapatkan wanita licik seperti kakak sepupunya itu. “Terlalu baik?” tanya Rizkan yang sepertinya tertarik untuk terus mendengar jawaban-jawaban Namira. “Yap. Selama ini, aku pikir orang baik berjodoh sama orang baik juga, tapi ternyata enggak juga,” jawab Namira seraya menatap Laura dengan sudut bibirnya yang tertarik ke atas, seakan-akan sedang mengejek wanita itu.   Wajah Laura tampak memerah setelah mendengar semua jawaban Namira. Gadis itu berhasil menyulut amarahnya. Apalagi saat melihat Rizkan untuk pertama kalinya ingin mendengar tentang dirinya dari orang lain. “Kamu salah, Namira. Laura yang terlalu baik untuk aku,” sahut Rizkan seraya menggenggam tangan Laura yang ada di atas meja. Namun, perkataannya barusan tidak terdengar seperti sebuah pujian, melainkan sebuah sindiran. “Terlalu baik sampai Kakak nggak bisa ngeliat keburukannya sedikit pun,” Namira kembali bersuara, dan ia semakin bersemangat untuk menyahuti segala ucapan Rizkan. Ia hanya ingin pria itu sadar bahwa Laura tidak sebaik yang dia kira. Rizkan hanya menanggapi perkataan Namira dengan tawa pelan yang keluar dari mulutnya sebelum mengalihkan pandang ke arah Kevan lantas melayangkan sebuah pertanyaan kepada pria itu. “Menurut lo gimana, Bang? Gue sama Laura cocok, kan?” Kevan sedikit terkejut saat mendengar pertanyaan Rizkan. Pria itu tidak pernah lagi menanyakan hal seperti itu kepadanya setelah pertama kali dia membawa Laura untuk dikenalkan kepada keluarga. Kevan berdeham pelan. “Cocok,” jawabnya dengan singkat. Laura tiba-tiba saja bangkit dari duduknya yang membuat mereka semua langsung menatapnya dengan bingung. “Kita pindah ke tempat lain aja,” pintanya kepada Rizkan. Ia merasa terpojokkan saat ini. Dan semua itu akibat perkataan kurang ajar Namira. Rizkan menganggukkan kepalanya dan menuruti permintaan Laura untuk pindah tempat lantas berpamitan dengan Namira dan Kevan. “Kamu kenapa ngomong seperti itu, Namira? Perkataan-perkataan kamu barusan bisa aja ngebuat mereka jadi salah paham dan hubungan mereka berakhir,” tegur Kevan setelah Laura dan Rizkan tak lagi tampak di matanya. Namira menaikkan sebelah alisnya saat menatap Kevan. Dan ia merasa sedikit tersinggung dengan teguran pria itu. “Kenapa? Seharusnya kamu seneng dong kalo aku mau ngebuat hubungan mereka hancur. Bukannya selama ini kamu suka sama Laura?” Kevan melebarkan matanya dan membuka mulutnya setelah mendengar perkataan Namira yang membuatnya begitu terkejut. “Kamu—” “Ya, dua hari yang lalu aku liat apa yang kamu lakuin sama Laura. Kalian ciuman di depan apartemen Laura, bukan?” Sejujurnya, Namira memang sudah mengetahui tentang hal itu, tepatnya dua hari yang lalu, seperti yang ia katakan tadi. Ia benar-benar terkejut melihat Kevan dan Laura melakukan hal yang tak seharusnya mereka lakukan. Ia bahkan tak percaya bahwa Kevan yang ia kenal begitu polos ternyata selama ini menjalin hubungan dengan kekasih sepupunya sendiri.   Awalnya, ia tak begitu peduli dengan apa yang mereka lakukan karena itu bukan urusannya. Namun, setelah ia memikirkannya lagi, entah kenapa ia merasa tak tenang setiap kali adegan ciuman antara Kevan dan Laura terus berputar-putar di benaknya. Ia juga ikut merasa bersalah. Dan sebuah kebetulan yang terjadi hari ini—bertemu dengan Laura dan Rizkan membuatnya semakin merasa bersalah karena telah mengambil sikap cuek atas kelakuan Kevan dan Laura yang sudah kelewatan. Itulah yang membuatnya ingin sekali menyadarkan Rizkan. Selain itu, ia juga tidak ingin nama baik keluarganya tercoreng akibat sikap buruk Laura yang takutnya akan terbongkar kalau masalah ini tidak segera diselesaikan. Terakhir, yang paling menyebalkan dari semuanya, sikap Kevan yang tak merasa berdosa sama sekali setelah mengkhianati saudaranya sendiri. Apalagi saat Kevan dengan sok bijaknya menegur dirinya. Padahal, ia tahu pria itu juga menginginkan hal yang sama dengannya. Munafik sekali. “Aku nggak akan ikut campur sama urusan kalian dan aku akan bersikap kayak biasanya, pura-pura nggak tahu. Tapi setidaknya, gunain akal sehat kamu dan selesaikan masalah ini, Kev. Kamu cuma punya dua pilihan; rebut Laura dari Rizkan dan akhiri hubungan kotor kalian atau hentikan semuanya,” ucap Namira saat Kevan tak juga membuka suaranya. Ia lalu bangkit berdiri lantas meninggalkan Kevan begitu saja tanpa menyantap sedikit pun makanan yang sudah tersaji di hadapannya. Ia sangat kesal dan sudah tak memiliki selera apa pun saat ini. Dan ia juga tidak ingin ambil pusing dengan perselingkuhan Kevan dan Laura. Mereka yang memulai, mereka juga yang harus menyelesaikannya. Keputusan ada di tangan mereka masing-masing.   ••••   “Kamu yang masuk ya, Nami? Mami nggak tahu yang mana apartemennya Laura.” Namira menatap ibunya dengan mata yang melebar. “Nggak mau. Mami aja,” tolaknya langsung. “Namira Azani,” ucap sang ibu yang terdengar seperti sedang memperingatinya. Namira berdecak kesal saat mendengar ibunya memanggilnya dengan nama lengkapnya yang membuatnya mengurungkan niatnya untuk menyampaikan protesnya. Sungguh, ia malas sekali bertemu dengan si nenek lampir yang biasa dipanggil Laura itu. Namun, ia lebih malas dikutuk jadi batu karena tak menuruti perintah sang ibu. Alhasil, Namira dengan sangat terpaksa menuruti perintah sang ibu yang harus membuatnya bertemu dengan Laura. Lagi pula, wanita yang satu itu malas sekali. Seharusnya dia sendiri yang mengambil kebaya yang akan digunakan di acara pertunangannya nanti. Bukan malah menyuruh ibunya yang mengantarnya. Wanita itu sok sibuk sekali. Namira dengan malas melangkah menuju unit apartemen Laura. Ia pernah beberapa kali mampir ke sini, tetapi tentu saja bukan atas kemauannya sendiri. Adiknya yang biasanya selalu meminta bantuan kepada Laura untuk mengerjakan tugas kampusnya, terkadang selalu menjebaknya sehingga ia mau tak mau harus ikut masuk ke dalam apartemen wanita itu. Adiknya bilang, dia hanya ingin membuat mereka akur layaknya saudara pada umumnya. Tetapi jangan harap ia mau melakukan itu. Sampai kapan pun, Laura adalah musuh nomor satunya. Namira baru saja keluar dari lift dan siap berjalan menuju tempat tinggal Laura, tetapi langkahnya langsung tertahan begitu saja saat melihat pemandangan yang membuatnya begitu terkejut—Laura tengah berciuman dengan seorang pria yang ia yakini bukan merupakan Rizkan, tetapi wajah pria itu tampak tak asing di matanya, terlihat seperti Kevan. Awalnya, ia tak terlalu yakin bahwa pria yang sedang berciuman dengan Laura adalah Kevan, mungkin mereka hanya mirip. Namun, setelah ia menajamkan penglihatannya, ia yakin bahwa pria itu memang benar-benar Kevan. Pada akhirnya, Namira memutuskan untuk kembali—tidak jadi memberikan kebaya tersebut kepada Laura. Kejadian barusan membuatnya mual. Bukan mual karena mereka yang sedang berciuman, tetapi mual karena ia tahu betul siapa Kevan dan Laura. Dan beruntung karena bukan ibunnya yang datang ke sini. Kalau sampai ibunya tahu, entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Dan melihat Kevan berciuman dengan Laura, membuatnya bersyukur karena keputusannya untuk menolak pria itu sudah benar. Kevan tidak sebaik yang ia kira. Dan apa yang mereka lakukan juga bukan urusannya. Siapa pun mereka dan apa pun wajah asli mereka, itu benar-benar bukan urusannya.   ••••   Namira mengusap wajahnya dengan frustasi saat kejadian dua hari yang lalu kembali berputar di otaknya. Ia yang awalnya tak terlalu peduli dengan hal tersebut, kini malah memikirkannya dengan begitu keras. Sungguh, ia benar-benar kasihan dengan Rizkan. Ia tahu pria itu sangat mencintai Laura. Entah apa jadinya kalau dia mengetahui yang sebenarnya. “Lo mau gue beliin makanan, nggak?” tanya Elsa seraya menyerahkan segelas s**u cokelat hangat kepada Namira. Namira langsung menerimanya lantas menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Elsa sebelumnya. Ia benar-benar sudah kehilangan selera makannya. Saat ini, yang dirasakannya hanyalah sebuah kemarahan yang ia tunjukkan kepada Kevan. Namira benar-benar merasa lucu dengan dirinya sendiri. Ia marah ketika Kevan selingkuh dengan Laura yang membuat Rizkan menjadi orang yang paling tersakiti di sini. Padahal, ia juga sering melakukan hal yang sama dengan apa yang Kevan lakukan—menjalin hubungan dengan milik orang lain yang sudah pasti akan membuat pasangan orang tersebut terluka. “Santai aja. Semuanya pasti baik-baik aja,” hibur Elsa yang belum beranjak dari sisi Namira.   Namira memberikan senyumnya kepada Elsa. Ini yang paling ia suka dari sahabatnya. Elsa tak pernah berusaha untuk mengorek tentang apa yang membuatnya galau seperti ini. Gadis itu hanya akan memberikan semangat dan menunggu sampai dirinya siap untuk mencurahkan segala isi hatinya. “Gue mau bantu-bantu dulu. Lo nggak apa-apa, kan gue tinggal bentar?” Namira hanya menganggukkan kepalanya yang membuat Elsa menepuk pelan pundaknya sebelum pergi meninggalkannya seorang diri. Setelah ini, apa yang harus dilakukannya? Di satu sisi, ia ingin berpura-pura tidak tahu dengan perselingkuhan Kevan dan Laura, tetapi ia jadi ikut merasa bersalah karena tanpa sadar, ia malah ikut membantu untuk menutupi hubungan kotor mereka. Namun, di sisi lain, ia juga ingin membongkar semuanya kepada Rizkan, tetapi ia sadar bahwa ia juga yang nantinya akan ikut menanggung malunya. Ia jadi merasa serba salah. Namira menghela napas berat lantas meneguk s**u hangat yang tadi diberikan oleh Elsa. Setelahnya, ia mengambil ponselnya yang sengaja ia matikan sejak kemarin malam untuk menghindari panggilan dari sang ibu. Ia hanya memegang ponselnya selama beberapa saat untuk menunggu notifikasi yang masuk sampai habis. Ia kemudian membuka satu per satu pesan yang masuk ke dalam ponselnya yang kebanyakan berasal dari ibunya yang isinya pesan-pesan marah bercampur gemas karena ulahnya. Ia tersenyum sendiri membayangkan semarah apa ibunya saat tahu bahwa dirinya kabur dan belum pulang sampai saat ini. Namun, senyum Namira luntur begitu saja saat ia membuka aplikasi chat-nya dan menemukan sebuah pesan yang berasal dari Kevan sekitar lima menit yang lalu—itu artinya saat ia baru saja meninggalkan pria itu seorang diri.   Kevandra: Saya pulang, Namira. Mobil saya kamu bawa aja. Nanti saya yang ambil ke rumah kamu. Maaf untuk semuanya. Saya akan pikirkan lagi apa yang kamu bilang tadi dan saya akan memilih salah satunya.   Untuk yang kesekian kalinya, Namira kembali menghela napas panjang. Setelah membaca pesan yang baru saja dikirim oleh Kevan, ia merasa sedikit lega. Setidaknya pria itu masih mau memikirkan semuanya. Dan semoga saja pria itu segera sadar bahwa apa yang dilakukannya akan menyakiti banyak pihak, terutama sepupunya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN