Namira memutar pandangannya ke sekeliling kafe yang dikunjunginya sore ini. Kakinya lantas melangkah menghampiri subjek yang sudah dicarinya sejak tadi yang menjadi alasan utamanya untuk datang ke tempat ini. Ia langsung mengambil duduk di hadapan sang subjek yang tak lain tak bukan adalah Kevan yang sepertinya sudah menunggunya sedari tadi.
“Apa kabar?” tanya Kevan setelah melihat Namira nyaman pada posisi duduknya.
“Langsung aja. Kenapa kamu ngajak aku ketemuan setelah satu minggu lebih kamu ngilang?” Namira balik bertanya, sekaligus menunjukkan kepada Kevan bahwa ia tak ingin basa-basi.
Kevan menerbitkan senyum di bibirnya. “Kamu marah karena saya nggak pernah nemuin kamu lagi?” godanya kemudian.
Namira memutar kedua bola matanya. “Aku memang marah, tapi bukan karena kamu nggak pernah nemuin aku lagi. Aku marah sejak ngeliat kamu nggak merasa berdosa sama sekali atas perbuatan kamu itu. Kamu munafik, Kev.”
Kevan tampak menghela napas panjang seraya menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dengan mata yang tetap mengarah lurus ke arah Namira. “Saya memang munafik sekali, Namira. Dan saya sadar kalau selama ini saya selalu melakukan perbuatan yang salah. Perkataan kamu satu minggu yang lalu ngebuat saya sadar. Selama ini, cuma kamu satu-satunya orang yang tahu tentang hubungan saya dengan Laura, tapi kamu nggak ngelakuin apa pun ke saya. Kamu cuma ngasih saya dua pilihan yang ngebuat saya terus mikirin itu selama satu minggu ini.”
Namira sedikit terkejut saat mendengar pengakuan Kevan barusan. Kata-kata yang ia ucapkan kepada pria itu sekitar satu minggu yang lalu ternyata berhasil memengaruhinya. Ia pikir, Kevan tak lagi menemuinya karena pria itu lebih memilih untuk merebut Laura sehingga membuat Kevan memutuskan segala hubungannya dengan Namira. Namun, pria itu ternyata sedang memikirkan semua kata-katanya.
“Dan apa pilihan kamu?” tanya Namira yang terlihat penasaran.
“Saya memilih untuk merebut Laura dari Rizkan.”
Namira langsung membelalakkan matanya setelah mendengar jawaban Kevan barusan. Sebenarnya, apa pun pilihannya, ia tidak peduli. Namun, entah kenapa pilihan Kevan sedikit membuatnya kecewa. Pria itu tidak memikirkan hubungan antara Rizkan dan Laura yang sudah berjalan hampir empat tahun walaupun sejujurnya ia tidak ingin Kevan ataupun Rizkan menjadi milik Laura. Mereka sama-sama terlalu baik untuk wanita itu.
Kevan terkekeh pelan seraya menegakkan posisi duduknya. “Kenapa kaget?”
Namira langsung menormalkan raut wajahnya seraya mengedikkan kedua bahunya.
“Saya memang memilih itu, Namira, tapi itu sebelum saya memikirkan semuanya. Setelah satu minggu saya merenung, saya akhirnya sadar bahwa saya harus mengakhiri semuanya,” Kevan tersenyum di akhir kalimatnya.
Lagi-lagi, Namira dibuat terkejut oleh Kevan. Namun, kali ini ia langsung merasakan kelegaan yang memenuhi relung hatinya. Dan senyumnya seketika mengembang di bibirnya.
“Tetapi saya butuh kamu, Namira.”
Dan senyum Namira pun langsung hilang begitu saja setelah mendengar perkataan Kevan yang katanya membutuhkan dirinya. Ia benar-benar tidak mengerti apa maksudnya.
“Saya butuh orang lain yang bisa membantu saya untuk benar-benar mengakhiri semuanya. Saya takut goyah kalau saya nggak punya orang yang akan selalu mengingatkan saya. Dan saya butuh kamu, Namira,” jelas Kevan panjang lebar.
“Kenapa harus aku?” tanya Namira yang belum pulih dari rasa bingungnya.
“Karena kamu yang ngebuat saya sadar, Namira. Menikahlah dengan saya.”
Namira melebarkan matanya dengan mulutnya yang setengah terbuka. Ia lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. Ada apa sebenarnya dengan pria ini? Ia benar-benar tak mengerti dengan jalan pikirannya.
“Waktu itu, kamu pernah nanya ke saya apa alasan saya ngajak kamu menikah. Dulu, saya ngajak kamu menikah hanya untuk membuktikan kepada Laura bahwa saya bisa lepas darinya. Tapi sekarang, saya ngajak kamu menikah karena saya benar-benar ingin mengakhiri apa yang telah saya mulai. Dan saya percaya sama kamu, Namira,” aku Kevan.
Untuk yang kesekian kalinya, ekspresi terkejut kembali terpasang di wajah Namira. Namun, kali ini disertai dengan kemarahan. Jadi, alasan Kevan mengajaknya menikah hanya karena hal konyol seperti itu. Sekali lagi, ia bersyukur karena memilih untuk menolak pria itu. Kalau waktu itu ia langsung menerimanya, ia yakin dirinya akan ikut terjebak dalam permainan t***l antara Kevan dan Laura.
Walaupun alasan Kevan yang ingin menikah dengannya sudah berubah saat ini, tetapi ia tetap tidak akan mau menerimanya. Alasannya benar-benar tak bisa diterima oleh akal sehatnya. Kevan pikir setelah menikah dengannya, pria itu bisa membuat masalahnya selesai? Bukannya selesai, tetapi malah menambah masalah baru.
“Sampai kapan pun, aku nggak akan pernah mau nikah sama kamu, Kevan. Selesaikan masalah kamu sendiri, jangan bawa-bawa aku,” ucap Namira dengan wajah datarnya seraya bergegas meninggalkan Kevan.
Sepeninggal Namira, Kevan langsung mengusap wajahnya dengan kasar. Ia memang sudah memilih, tetapi ia tak tahu apa yang harus dilakukannya setelah ini. Ia tak pernah mengalami hal yang seperti ini sebelumnya. Ia sadar bahwa keputusannya kali ini sudah benar. Namun, ia tak yakin apakah ia bisa mengakhiri semuanya atau malah membuat semuanya semakin rumit. Kevan benar-benar membutuhkan seseorang saat ini. Dan orang itu adalah Namira, karena hanya gadis itulah yang tahu tentang segala kebusukannya.
••••
Namira mengerutkan keningnya dengan bingung saat melihat beberapa mobil yang terparkir di pekarangan rumahnya. Dengan penasaran, ia segera memarkirkan mobilnya lantas segera masuk ke dalam rumah untuk melihat siapa yang bertamu ke rumahnya. Pasalnya, ayah dan ibunya tak bilang apa-apa kalau ada yang ingin bertamu ke rumahnya sampai seramai ini.
“Ini dia orangnya!”
Namira dibuat terkejut saat mendengar suara teriakan yang begitu kuat saat ia baru saja masuk. Dan setelahnya, ia merasakan rasa sakit yang luar biasa di kulit kepalanya karena rambutnya dijambak dengan kuat. Ia tak tahu apa yang terjadi karena saat ini ia sedang dalam posisi menunduk untuk menghindari jambakan tersebut. Dan sakit yang menjalar di kepalanya tak bisa membuatnya berpikir dengan jernih.
“Udah, Mbak, udah. Kita bisa bicarain ini baik-baik,” Nando—adik Namira berusaha untuk melindungi kakaknya.
Setelah Namira tak lagi diserang, ia segera mendongak untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Dan tubuhnya terasa lemas luar biasa saat melihat beberapa orang wanita yang ia kenal—wanita yang merupakan istri dari pria yang menjalin hubungan dengannya tengah berkumpul di rumahnya dan menatap dirinya dengan amarah yang terpancar jelas di mata mereka masing-masing.
“Gara-gara kamu, suami saya jatuhin talak ke saya!”
“Suami saya nelantarin saya dan anak saya hanya karena kamu!”
Dan masih banyak lagi teriakan kemarahan yang dilemparkan kepada Namira, tetapi ia hanya diam tanpa memberi perlawanan sama sekali. Seolah tak merasa bersalah atas tuduhan-tuduhan yang dilayangkan kepadanya, Namira kini malah memasang senyum miring di bibirnya meski kelihatan samar.
Namira nyaris jatuh kalau saja Nando tidak menahannya setelah ia mendapat satu tamparan keras dari ayahnya setelah wanita-wanita yang tadi memaki-maki dirinya sudah pergi. Hal itu pula yang menyadarkan Namira bahwa kini dirinya tak sendirian. Bukan hanya Nando saja, tetapi kedua orang tuanya pun ada bersamanya saat ini. Kenyataan itu menyadarkan Namira dalam sekejap, membuat senyum culas di bibirnya bertransformasi menjadi raut cemas.
“Apa yang kamu lakukan, hah?! Apa pernah Papi sama Mami ngajarin kamu hal memalukan seperti yang kamu lakukan itu?! Apa pernah Papi sama Mami nyontohin hal buruk itu ke kamu?!” teriak sang ayah yang tak bisa menyembunyikan kemarahannya.
Namira awalnya hanya bisa membisu, tetapi lama-kelamaan tangisnya mulai pecah dan menjadi isakan kuat seiring dengan kepalanya yang bergerak menggeleng beberapa kali. Namira tak menyesal telah menghancurkan hubungan orang lain karena memang itulah tujuannya, tetapi akan berbeda hasilnya bila kedua orang tuanya menyaksikan secara langsung kebejatannya dan dipermalukan di depan banyak orang.
“Kamu udah berhasil buat malu keluarga kita, Nami. Papi nggak percaya kamu ngelakuin hal t***l seperti itu. Selama ini, Papi sama Mami ngasih kepercayaan lebih ke kamu dibandingkan ke adik kamu, karena kami yakin, seburuk apa pun kelakuan kamu, kamu nggak akan pernah ngelakuin hal bodoh seperti itu. Tetapi sekarang? Papi bener-bener kecewa sama kamu.”
Isak tangis Namira semakin kencang setelah ayahnya mengungkapkan betapa kecewanya dia terhadap anak perempuannya ini sehingga membuat Namira semakin merasa bersalah.
“Sekarang, pikirkan bagaimana caranya kamu ngembalikan nama baik keluarga kita, Namira. Jangan ngomong sama Mami sampe kamu tahu gimana caranya. Itu hukuman untuk kamu,” tambah sang mami yang terlihat begitu kecewa dengan perbuatan Namira.
Tubuh Namira merosot ke lantai saat kakinya sudah tak sanggup lagi menahan bobot tubuhnya. Isak tangisnya masih terdengar di sekeliling ruangan, dan semakin bertambah kencang saat kedua orang tuanya meninggalkannya.
Dan sekarang, apa yang harus dilakukannya? Bagaimana caranya ia membayar semua perbuatannya? Meminta maaf? Namira tidak sudi meminta maaf meski ia tahu dendam yang ia bayarkan kepada orang-orang itu berada di jalan yang tidak baik. Lantas apa? Namira paling tidak bisa melihat kedua orang tuanya kecewa.
“Udah, Kak. Nanti kita ngomong sama Mami Papi lagi. Mereka cuma lagi emosi aja,” ucap Nando seraya mengusap punggung Namira, berusaha untuk menenangkannya.
Namira menganggukkan kepalanya lantas menumpahkan semua isak tangisnya di pelukan Nando. Setelah puas menumpahkan segala perasaan yang bercampur aduk di dalam dadanya, ia segera bangkit berdiri dan beranjak menuju kamarnya.
Namira langsung mengambil ponselnya setelah otaknya sudah bisa diajak bekerja sama dengannya. Dan ia sudah tahu apa yang harus dilakukannya setelah ini.
Namira Azani: Aku mau menikah sama kamu, Kevan.