The First
*Westmister's Mension - London
Elliot enggan untuk membuka matanya, ia ingin tetap tidur dan bertemu gadis yang selalu membuatnya nyaman di alam mimpinya tetapi suara alarm itu terus berbunyi akhirnya Elliot menggerakkan tangannya dan mematikan Alarm di atas meja nakasnya.
Elliot perlahan bangun dan merubah posisinya menjadi duduk, ia mengingat wajah manis yang selalu berada di mimpinya beberapa tahun terakhir.
"aku menginginkannya, Argh ini membuatku gila"
"kapankah aku bisa bertemu dengannya? "
Elliot terus membuat pertanyaan di kepalanya sambil melakukan kegiatan hariannya
*Banjarmasin-Indonesia
Diakhir bulan selalu saja menyiksa bagi Enisha, invoice yang menumpuk, rekan kerja yang tidak bisa diandalkan, kerja rodi yang tidak ada liburnya, bos yang selalu marah-marah kepada orang yang salah sasaran dan selalu Enisha yang menjadi karung goni bagi si pak bos Herman.
Lelah rasanya tapi demi hidup Enisha mati-matian menahan rasa lelahnya, menekan rasa stress dan tekanan dari kantor dengan mengalihkan perhatiannya dengan kegiatan positif.
Ia mengajukan resign 3 kali walaupun sudah 3 kali ditolak dan akhirnya kali ini diijinkan mundur karena Enisha sudah tidak tahan menjadi kambing hitam rekan kerjanya.
Riska, Kepala Devisi Keuangan mengerti kesulitan yang dialami Enisha tetapi menyayangkan kemampuan Enisha terbuang sia-sia. Riska menginginkan Enisha pindah ke kantor cabang bali bersama dirinya tetapi Enisha menolaknya karena ia tinggal bersama kakeknya, paman dan bibinya tinggal dirumah mereka sendiri tetapi rumah mereka disamping rumah kakeknya.
Enisha lebih memilih menjadi pelayan di rumah makan sang paman yang berada tepat didepan rumah kakeknya dari pada bekerja di perusahaan besar.
Enisha pernah dikucilkan oleh keluarga besarnya karena tidak bisa cuti sehari saja untuk menghadiri pernikahan sepupunya.
Enisha lebih memilih waktu bersama keluarganya dibanding gaji yang besar untuk kehidupannya.
Suatu hari Riska mengajak Enisha ke Yogjakarta untuk menemui presedir dan klien yang sangat penting
Riska menginginkan bantuan terakhir Enisha dan ia menyanggupinya
*Yogyakarta-Indonesia
"sudah lama tak bertemu dengan mu Nish, mohon bantuannya ya kali ini" presedir itu menyapa Enisha
"iya pak Ferdi, Enisha usahakan ya"
presedir muda tersebut memang akrab dengan Enisha karena pak Ferdi langsung yang menguji Enisha waktu awal kerja.
Pak Ferdi dan Bu Riska memang bertunangan jadi jelas habis rapat mereka pasti akan berkencan.
tidak lama mereka bercengkrama, klien yang di tunggu-tunggu akhirnya datang juga.
#Enisha POV
"hey Enni, apa kabar? OMG udah lama banget gak ketemu?"
klien itu ternyata teman baik ku waktu SMA yang merupakan pertukaran pelajar luar negeri waktu itu. Lidya sangat dekat dengan ku walau jarak memisahkan kami, tapi kami selalu berkabar lewat chatt wa.
Lidya Charlotte Wellington, wanita bule asal inggris ini sangat cantik menurutk apalagi ia langsing dan tinggi bikin aku iri saja
"ya baik Lid, aku yakin kamu juga baik Lidya" aku menjawab pertanyaan Lidya sambil tersenyum lebar.
"wah, wah kalian sudah kenal rupanya. Bagaimana kalau kita mulai saja rapatnya" Pak Ferdi menyela kami
"ok, habis rapat kita kencan yuk berdua" sikut Lidya kepadaku
aku hanya teratawa kecil terus mengangguk
"la saya gak di ajak nih ceritanya" pak Ferdi masih nimbrung
"ya gak lah pak, kan bapak ada acara sama bu Riska" jawab ku sambil membukakan pintu ruang rapat kami dan memulai rapat kami.
Setelah rapat selesai, aku dan Lidya pergi dinner di restoran korea. si Lidya ternyata lagi hamil anak ke dua jadi ngidam makan yang suki-sukian gitu.
aku cengo dong saat Lidya memesan banyak makanan dan soju, wait...
what!! soju? otakku mikir dong, ibu hamil boleh ya minum alkohol
"Lid, kamu serius nih minum soju? " aku mengeluarkan isi kepala ku yang menurutku tidak masuk akal.
"ya gak lah, yang minum itu kamu. aku pengennya kamu yang minum soju sha" Lidya memasang muka memelas, aku tidak tahan mak ya jadi ku iyakan saja.
"hayo dari pada ponakanmu ileran"
"ngada-ngada aja kamu Lid" jawab ku
Lidya mengeluarkan ponsel pintar nya selagi menunggu daging kami matang dan melakukan video call dengan putranya yang berumur 5 tahun dan mengarahkan kamera nya ke aku juga.
"Peter sayang, kenalin nih mama angkatnya Peter. Mama Enisha"
astaga ini si Lidya macem macem aja, aku di suruh jadi mama angkat. apa pula lagi?
Lidya mengisyaratkan untuk bercengkrama dengan putranya
"ooh, halo sayang. lagi ngapain? "
"lagi main mama Enisha, mama Enisha kapan ke sini main sama Peter" Ya Tuhan ini anak manis banget, cakep lagi ala-ala anak bule
"nanti ya Peter kalau Mama Enisha ada waktu " dan duitnya sambungku dalam hati. gak murah chuy tiket pp ke london sono.
"ya udah ya ma, nanti lagi ngomongnya. Peter mau main sama teman-temen dulu" Peter berdadah2 ria di balik ponsel nya dan mematikan panggilan ponsel nya .
"btw Lid, kamu kenapa memperkenalkan aku sebagai mama angkat ke Peter. gak salah kan ya" kali ini aku bertanya dengan serius ke Lidya sambil minum soju dan makan daging.
"ya rasanya bakal ada sesuatu yang terjadi nanti" tidak lama dari itu Lidya mengeluarkan ipad nya dan ada surat pernyataan tertulis di situ.
"aku sepenuhnya percaya dengan mu nish, kamu juga bukan tipe orang yang serakah" sebenarnya aku gak ngerti omongan si Lidya karena efek soju membuatku mengantuk.
"jadi ku mohon tanda tangani ini nish" mata ku sudah rada-rada kabur jadi aku cuman bisa berdoa agar yang ku tanda tangani itu bukan surat hutang.
ku dengar Lidya menelpon seseorang tidak lama datang 2 pria.
yang ku tau yang sebelah kanan itu suami Lidya dan sebelah kirinya aku tidak tau.
astaga duo pria ganteng nih ceritanya, pria yang di samping suaminya Lidya terus melihat ku lekat-lekat.
ahh aku malu, akhirnya karena terlalu malu ku telungkup kan wajahku ke meja dan akhirnya tertidur.
#End Ennisha POV
#Elliot POV
aku ke Indonesia karena memang ada pekerjaan bersama adik dan iparku.
saat pekerjaan ku dan Daniel sudah selesai, Daniel menelpon Lidya adikku yang sedang hamil anak ke dua.
Lidya minta dijemput karena tiba-tiba tidak enak badan dan teman makannya sedang mabuk.
ya Daniel dan aku dengan gerak cepat langsung aja ke restoran yang diberitahukan Lidya.
ketika masuk ke ruangan tempat Lidya dan temannya. aku tertegun melihat gadis yang selalu dimimpiku ada di alam nyata.
gadis di dalam mimpiku adalah gadis mungil standar orang asia, manis semakin dilihat semakin cantik , berkulit putih bersih berambut lurus hitam...pendek tapi yang ada di hadapanku ini berambut panjang bergelombang.
"kak.. " Lidya memecahkan lamunan ku.
"kak antarkan Ennisha pulang ke hotelnya ya nanti Lidya share lokasi ke kakak, ini kunci mobilku. aku ikut suamiku" setelah ngomong panjang si Lidya lari ke toilet karena ingin muntah diiringi oleh Daniel.
tidak lama kemudian Lidya mengirimiku lokasi hotel temannya itu.
aku meletakkan tangannya di leherku dan menggendongnya ala princess. semakin ku hirup aroma gadis itu, semakin kuinginkan gadis itu. kuletakkan ia dikursi disampingku. tangan gadis itu perlahan membuka kancing atas kemeja nya karena kepanasan tapi aku juga kepanasan melihat tingkah laku tidur nya di sampingku.
saking panasnya aku lupa membawa gadis itu ke hotelnya tapi aku membawanya ke kamar hotelku.
juniorku di bawah sana sudah tidak sabar untuk bangun dan beraksi tapi ku tahan. ku letakkan gadis itu di kasur dan aku mandi air dingin agar junior ku tertidur lagi.
saatku kembali dari kamar mandi , gadis itu sudah membuka semua kancing kemejanya. tidurnya begitu pulas dan sangat err menggoda. kudekati gadis itu kusentuh wajahnya dan ku peluk ia dengan erat, ia membuatku nyaman dan aku ikut terlelap tidur memeluknya. rasanya hatiku sangat tenang dan senang.
#End Elliot POV
Ennisha terbangun karena ingin HIV, hasrat ingin vipis tepat jam 2 malam. "astaga gak salah nih, kayanya aku mimpi deh" ia ngomong sendiri sambil memandangi wajah tampan bak ukiran patung yang sempurna itu. pria dewasa tampan dengan bulu mata lentik berambut coklat begelombang, hidung mancung, bibir sexy, rahang yang tegas dan dan d**a yang penuh roti sobek. Ya Tuhan pria itu tidak memakai baju atasan piyama nya dan memarken tubuh bagian atasnya yg berotot.
Terus Ennisha melihat keadaanya yang berantakan dan seluruh kancing kemejanya terbuka. Ennisha langsung saja panik bangun dari tempat tidur dan diam-diam ia mengambil blezer dan mencingkan kembali bajunya. sekiranya sudah terpakai semua, ia perlahan-lahan keluar dari kamar itu terus berlari keluar hotel dan memanggil taxi untuk di antar ke hotelnya. sesampainya di hotel ia langsung tertidur dikamarnya dan ketika ia bangun, Ennisha merasa semua kejadian malam tadi hanya mimpi di dalam mimpi jadi ia melupakan kejadian itu efek dari mabuknya.
Sedangkan Elliot, Elliot bangun dengan segar tapi mendapati dirinya sendirian dikamar itu agak membuat nya kecewa. karena jadwal pesawat nya pulang ke London jam 10, ia bersiap dan pergi menuju bandara.
eits apakah sampai aini saja kisah Elliot dan Ennisha atau akan berlanjut.