44. Air Mata Zahara

1576 Kata

Malam itu perasaan Herman tidak enak. Ia terlihat gelisah, seperti ada yang mengganggu pikirannya. Ia berusaha memejamkan matanya, tapi tak bisa. Beberapa kali Ia membolak balikkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri, namun tidak juga membuatnya terlelap. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Di luar hujan sudah mulai reda, hanya menyisakan titik-titik gerimis. Herman keluar dari kamarnya. Ia menyalakan televisi untuk menemani malamnya sebelum kantuk menyerang. “Lho Bapak belum tidur?” Tanya bi Inah yang baru saja membersihkan lantai dapur yang basah karena atap rumah yang bocor setelah hujan tadi. “Bapak kan baru sembuh jadi harus banyak istirahat.” Lanjut bi Inah. Walaupun usia bi Inah jauh lebih tua dari Herman, namun bi Inah lebih terlihat energik. Bi Inah pun sudah terb

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN