Sarapan Ricuh

1307 Kata
Setelah selesai salat, Alea hanya meringkuk di sajadahnya. Seolah tak ingin bangun dari tempat itu. Mungkin berharap agar mukena dan sajadah yang digunakannya itu dapat memeluk dikala hatinya terluka. Sudah tak tahan lagi melihatnya, Gavin mendekati Alea dan membelai pucuk kepalanya yang tertutup oleh mukena. Alea mendongak. Tak biasanya Gavin bersikap seperti itu kepadanya. Bahkan baru kali itu. "Kalau kamu memang merasa tidak kuat dan ingin mundur, aku akan mengizinkan," ujar Gavin dengan suara tertahan. Kata-kata itu akhirnya lolos dari mulutnya, padahal sebenarnya hatinya juga perih ketika mengatakan hal tersebut. "Maksud kamu kita bercerai?" tanya Alea seakan tak percaya dengan pendengarannya tadi. "Iya, begitulah. Aku juga tak ingin menyakiti anak orang lain. Lagipula kamu juga belum kehilangan keperawananmu, tak ada yang dirugikan di sini. Untuk hutang tak perlu kau pikirkan," tutur Gavin yang menjelaskan aturan main jika mereka bercerai. Penjelasan tawaran Gavin mungkin cukup menarik baginya. Ia bisa mendapatkan hidup lamanya. Kuliah sambil bekerja dan menjalani kehidupannya dengan normal. Meskipun itu juga belum tentu baik untuk keluarganya. Ia harus memikirkannya lebih matang terlebih dahulu. "Biar aku pikirkan lagi," ucap Alea sembari bangkit dari tempatnya salat tadi. Kemudian melepas mukenanya dan melihatnya dengan rapi. Setelah itu berbaring di tempat tidur tanpa memedulikan Gavin lagi. Alea sudah tidak bisa berpikir untuk dirinya sendiri. Andai semua ini tidak dimulai, tentu tak perlu diakhiri. Namun, jika harus diakhiri juga harus memikirkan siapa saja yang akan tersakiti. Orang tua mana yang mau pernikahan anaknya berakhir. Tapi, anak mana yang mau pernikahannya tidak sehat seperti itu. Semua itu menari-nari dalam pikiran Alea, membuatnya begitu tertekan. Hingga bulir bening mengalir dari sudut matanya. Air mata itu seperti ingin berlarut dalam perasaan sedihnya. Ia pun mengusap air matanya dan memejamkan mata. Gavin tak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia juga tak ingin mengganggu waktu istirahat Alea. Ia lalu kembali ke sofa yang tadi didudukinya. Laptop di meja itu masih menyala, seperti menandakan bahwa pemiliknya adalah orang yang begitu rajin bekerja. Gavin kembali menatap layar gawai di hadapannya. Ketika ia memulai untuk mengerjakan kembali pekerjaannya, entah mengapa pikirannya kacau. Hingga tak bisa diajak berkonsentrasi dengan yang tadi dia lakukan. 'Kenapa jadi gini sih, pikiranku,' gerutu dalam hati. ia kesal pada dirinya sendiri yang tidak bisa diajak kompromi. Matanya sudah tak bisa dipaksakan. Akhirnya Gavin pun berbaring di sofa tersebut. Mencari ide untuk sementara. Ia tidak berniat untuk langsung saat itu tapi tiba-tiba rasa kantuk menghinggapinya. Hingga akhirnya keduanya menutup mdan terdengar dengkuran halus dari bibirnya. Sementara itu, Alea belum bisa tertidur. Ia hanya memejamkan matanya, tapi pikirannya masih sibuk mengelana dengan kehidupannya yang begitu menyakitkan saat itu. Tiba-tiba hasrat ingin buang air kecil datang kepadanya. Ia lalu bangkit dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi. Saat melewati sofa, ia melihat Gavin yang meringkuk seperti kedinginan. 'Kenapa enggak pakai selimut sih, tahu dingin,' gumam Claretta dalam hati. Ia kemudian berbalik arah dan mengambilkan selimut untuk suaminya itu. Hem, bagaimanapun keadaannya saat ini Gavin masih suaminya. 'Sebenarnya apa arti suami itu,' gumam Alea dalam hati. Ia bahkan salah tak mengerti dengan kata suami yang diucapkan oleh mereka. Alea menyelimuti Gavin dengan selimut yang baru saja di bawanya. Wajah pria itu begitu tampan dan manis di kala tidur. Ia tersenyum tipis melihatnya. Sayang, mereka bertemu dalam waktu yang tidak tepat. "Alea," gumam Gavin pelan. Matanya masih terpejam, ia juga tidak bangun sama sekali. Alea masih menatapnya tajam, ia jadi penasaran apa yang dipikirkan oleh Gavin kepadanya saat itu. "Apa yang kamu pikirkan tentangku? Aku mau tahu," tanya Alea pelan matanya masih menatap lelaki yang ada di hadapannya itu. Melanjutkan pernikahan, hatinya masih beku untuk Gavin. Tapi, entah mengapa rasanya untuk berpisah pun begitu sulit baginya. Banyak hal yang mesti ia pertimbangkan, terutama soal keluarga. Semakin dewasa ia tidak bisa hanya memikirkan dirinya sendiri. Ada orang-orang yang berada di belakangnya. Alea lalu meneruskan langkahnya untuk ke kamar mandi. Baru setelah itu kembali ke tempat tidur dan terlelap. Pagi menyapa, bias sinar matahari memasuki sela-sela jendela. Menerangi setiap sudut ruangan dalam rumah itu. Alea telah membuka gorden sejak tadi dini hari. Ia juga telah siap dengan pakaiannya untuk pergi ke kampus. Gavin menatap gadis itu dengan terpesona. Kelihatannya Alea belajar tentang bagaimana menggunakan pakaian. Tidak terlalu tomboy seperti saat pertama bertemu, meskipun yang dikenakannya yang masih baju yang dibelikan Gavin saat itu. "Apa bajumu masih kurang? Kalau kurang kita beli lagi saja," tanya Gavin kepada istrinya itu. "Kurang? Ini sudah lebih dari cukup, bahkan kamu membelikannya hampir satu toko untukku," sahut Alea tanpa senyum. Tapi, Gavin juga tak mungkin terus ditinggalkan. Ia memang sengaja mengenakan pakaian kekayaan yang diberikan Gavin. Penasaran saja dengan reaksi ibu tiri dan juga adik tirinya yang sekarang sudah berada di rumah. Gavin juga telah siap dengan pakaian ke kantornya. Jas yang melekat di tubuhnya membuat ketampanan pria tersebut semakin paripurna. Mereka lalu keluar dari kamar dengan beriringan, dilanjut dengan menuruni tangga untuk menuju ke ruang makan. Sesampainya di ruang makan, ternyata belum ada siapapun di sana. "Sepertinya hari ini, bisa makan dengan tenang ya, Non, Bi." ujar bijah sambil menuangkan air kedalam gelas yang berada di samping Alea dan Gavin "Ke mana memangnya, Bi?" tanya Alea penasaran. "Enggak tahu, Non, sepertinya sih belum bangun," jawab Bi Ijah yang memang belum lihat Herni dan juga anaknya sejak dini hari tadi. "Waduh, enak banget kayaknya," ucap Alea dengan nada bercanda. Bi Ijah terkekeh geli mendengarnya. Tanpa disadari di belakang Alea telah berada sosok yang begitu menyeramkan yaitu orang yang mereka bicarakan. "Enak ya, pagi-pagi ngomongin orang," ujar Helen dengan nada suara yang begitu menyebalkan. "Ternyatda ibu dan juga adik iparku. Saya tidak bermaksud membicarakan kalian, tadinya mau ngajakin sarapan bersama, make up," ujar Alea tak sadar kalau dengan nada suara ditekan. Meskipun di kamar, ia mengeluh dengan hidupnya. Tetapi, ketika berada di hadapan musuhnya dan juga di luar kamar ia tak ingin menunjukkan kelemahannya. "Dasar kurang ajar!" sahut Helen sambil duduk di meja makan tersebut. Herni, ibunya hari itu, sepertinya lebih pendiam. Tapi, wajahnya terlihat sedang memikirkan sesuatu yang berat. Mungkin masalah harta atau cara untuk meningkatkan emosi Alea. "Lihat saja nanti, kami akan menang," celetuk Herni secara tiba-tiba. Bahkan sepertinya tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba ia bicara seperti itu. "Memang apa yang sedang kau perebutkan?" tanya Alea menguji kesabaran Herni. "Jangan pura-pura bodoh, aku tahu pasti, Gavin menikah denganmu hanya untuk mendapatkan harta warisannya, kan?" ucap Herni sambil menatap dengan tajam. Ia sepertinya bisa menebak apa yang dipikirkan Gavin ketika menikahi Alea. Sayang, tak ada yang tahu dengan isi hati manusia. Gavin tidak pernah berniat untuk mempermainkan pernikahan tersebut. Ia mencari tempat ternyaman yang bisa dijadikan sandaran di saat seperti itu. Walaupun pada akhirnya sepertinya ia salah memilih. "Oh ya, Lea memangnya ibumu tidak marah ya kamu menikah masih kecil seperti ini? Masih kuliah atau jangan-jangan dijual," celetuk Helen dengan begitu santainya. Bibirnya begitu lemes seolah tak pernah mendapat pelajaran tata krama. Alea naik pitam, seketika ia bangkit dari duduknya. Beberapa saat kemudian, ia telah berada di belakang helm. Menjambak rambut lurus yang terlihat sudah di smoothing itu tanpa ampun. "Terserah kalau kamu mau hina aku, lecehkan aku, tapi jangan pernah bawa-bawa orang tuaku. Terutama ibuku, mengerti?" ujar Alea dengan tegas sembari terus menarik rambut Helen ke belakang. Herni mencoba melepaskan cekalan tangan Alea dari rambut anaknya. Tapi, begitu sulit. Tentu saja karena Alea adalah lulusan beladiri sabuk hitam. Hanya dengan cara ini dirinya yang hanya ibu-ibu biasa yang bahkan olahraga pun hampir tidak pernah. "Dengar, aku tak akan mengampuni anakmu sebelum dia cium kakiku," ujar Alea pelan tapi dengan penuh penekanan. "Gavin, lihat kelakuan istri kamu! Aku benar-benar tak habis pikir dapat dari mana kau orang seperti ini!" teriak Herni dengan begitu lantangnya. Herni kalap karena melihat putrinya dijambak, tapi anehnya suami Helen itu tak melakukan apapun untuk mencegah istrinya yang sedang disakiti. Ia terlihat cuek dan tidak peduli. "Tolongin ini istri kamu juga!" bentak Herni pada orang yang mengaku sebagai suami anaknya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN