Mereka menuruni tangga menuju ke ruang makan. Melewati ruang tengah jantung Alea berdetak semakin kencang seolah ia akan bertemu dengan orang penting atau menyeramkan. Entah mengapa dalam bayangannya ibu tiri itu bagaikan nenek sihir yang ada di komik.
Sesampainya di ruang makan, ternyata tiga kursi di sana sudah terisi. Dua wanita dan satu lelaki.
"Oh, jadi ini istrimu itu," celetuk Herni dengan wajah menyebalkan, seperti tokoh antagonis di sinetron.
"Kenalkan namanya Alea, istri sahku," ucap Gavin dengan tegas. Seolah menunjukan taringnya di rumah itu.
"Dapat dari mana? Kok, kayak ayam kampus," celetuk Helen dengan mata mendelik.
Mereka tak suka jika Gavin punya istri sah. Itu berarti harta warisan bisa langsung jatuh ke tangannya.
Gavin lalu duduk di kursi tunggal tempat biasanya ia makan. Sementara Alea duduk di sebelahnya. Suasana terasa tak nyaman. Padahal biasanya mereka menikmati makan malam dengan tenang.
"Heh, Alea, kamu masih sekolah ya, kok mau sih nikah sama laki berumur kayak Gavin. Jangan-jangan cuma mengincar harta ya," celetuk Helen dengan tajamnya. Mulutnya begitu luwes melontarkan kata-kata sindiran tersebut.
Alea yang merasa tak enak dengan sindiran itu, menatap Helen dengan tajam. Meskipun ia menikah karena Gavin yang membayar semua hutang-hutang orang tuanya. Tetapi, tak sedikitpun Alea berharap atas harta itu. Bahkan ia masih sanggup kerja jika saja tak menikah dengan Gavin.
"Apa maksudmu bicara begitu?!" Nada suara Alea meninggi karena kesal pada orang di hadapannya itu.
"Ya ... zaman sekarang kan, banyak yang ngelakuin apa aja demi harta," jawab Helen dengan santainya.
"Hei, Helen atau helm sekalipun aku tak peduli siapa namamu. Asal kau tahu aku masih bisa berusaha cari duit sendiri tanpa harus menikah dengan Gavin, mengerti!" Alea membentak dengan mata nyalang menatap wanita yang ada di hadapannya. Selisih satu kursi.
"Hei, jangan kurang ajar ya. Namamu Helena bukan helm. Dasar orang kampung!" bentak Helen tak kalah sengit.
"Bilang kurang ajar sama orang tapi perilakunya tidak terpelajar," sahut Alea dengan malas.
Alea yang sudah malas berdebat dengan Helen, bangkit dari duduknya. Ia tahu kalau orang seperti Helen pasti tak akan mau kalah dan akhirnya jadi debat kusir.
"Mau ke mana kamu? Enggak sopan ada ibu mertua di meja makan malah mau pergi," tanya Herni dengan mata yang mendelik.
"Saya sudah selesai makan. Selamat menikmati makanan dengan anakmu yang menyebalkan itu!" sahut Alea dengan penuh penekanan.
Ia lalu berjalan menuju ke kamarnya. Gavin mengikutinya dari belakang.
"Pengantin baru nih ... ngamar terus ...!" teriak Helen yang diikuti tawa renyah dengan ibunya.
Sesampainya di kamar Alea membanting pintu dengan keras. Ia tak yakin bisa sabar menghadapi orang seperti itu.
Lemari es kecil di kamar itu menjadi tujuan Alea yang pertama. Ia mengambil minuman dingin bersoda dan langsung menenggaknya. Berharap bisa mendinginkan hatinya yang sedang panas.
"Kok, ada ya orang mulutnya kayak gitu," gerutu Alea dengan kesal.
Gavin menyusul dan ikut duduk di samping Alea. Wajahnya datar, tak menunjukan amarah ataupun kekesalan pada Alea.
"Sebaiknya tahanlah emosimu ketika menghadapi orang-orang seperti itu," ucap Gabun memberi nasehat pada Alea. Namun, sepertinya itu bukan saat yang tepat.
"Aku pergi dan menghindar ini sudah cukup sabar. Lagian aku sampai enggak habis pikir kok, ada orang yang mulutnya lemes banget kayak gitu!" bentak Alea yang belum terima diperlakukan seperti tadi oleh ibu tiri dan adik tiri suaminya.
"Begitulah, aku pikir kamu bisa bermain cantik menghadapi mereka," sahut Gavin dengan santai.
Alea mendengkus kesal. Ia kembali meneguk minuman kaleng dingin yang tadi dibukanya.
"Sebaiknya wanita jangan terlalu banyak minum minuman bersoda," ucap Gavin santai saat melihat Alea menenggak minumannya.
"Ah, banyak aturan!" Alea yang sedang kesal jadi marah. Semua ucapan Gavin tadi seolah bentuk protes di telinganya.
Ia pergi ke balkon dan kembali duduk di kursi yang ada di sana.
Gavin hanya menatap istrinya yang duduk di luar kamar. Ia jadi sanksi Alea bisa menjalankan tugasnya untuk membantu mendapat harta warisan.
'Ah, teganya ibu dan bapak menjadikanku umpan untuk ular seperti mereka!' gerutu Alea dalam hati.
Ia akhirnya menyalahkan orang tuanya yang telah menikahkannya secara mendadak. Persiapan satu minggu untuk sebuah keputusan seumur hidup, tentu saja kurang. Membuat Alea seolah terjebak dengan keadaan itu.
Tak terasa satu bulir bening menetes dari netranya. Baru kali ini ia rasanya begitu lemah. Rupanya air mata itu terus menganak sungai. Membuat Alea harus berkali-kali menyusut dari pipi mulusnya.
Gavin rasanya tak tahan melihat Alea menangis. Ia jadi merasa seperti orang paling kejam di muka bumi. Baru saja ia bangkit untuk menemui Alea. Terdengar ponsel istrinya itu berdering nyaring.
Penasaran dengan siapa yang menelepon, Gavin pun berdiri di belakang jendela untuk menguping. Ia yakin Alea tak akan selingkuh, tetapi ia lebih takut kalau istrinya itu nekad.
Alea menatap layar ponselnya sekilas. Nomor Alina yang meneleponnya. Sebenarnya ia malas untuk mengangkat telepon itu di saat seperti itu. Tapi, ia takut ada hal penting yang akan mereka sampaikan. Ia akhirnya menggeser tombol hijau itu untuk menghubungkan telepon.
"Halo, ada apa, Lin?" tanya Alea setelah panggilan terhubung.
'Ibu mau bicara, Kak. Aku kasih ponselnya ke ibu ya,' jawab Alina, kemudian ponsel tersebut berpindah tangan.
'Assalamualaikum, Nak.'
Terdengar ucapan salam dari orang yang telah melahirkan Alea ke dunia tersebut. Suaranya menggambarkan kepanikan. Namun, membuat Alea sesak seketika. Entah mengapa ia yang tadi kesal pada ibunya sendiri, tiba-tiba merindukannya.
"Waalaikumsalam, Bu. Ada apa?" tanya Alea sebiasa mungkin agar tak terdengar menangis dan cengeng.
Sudah cukup saat itu ia kabur dan berkeluh kesah pada ibunya.
'Kamu enggak kenapa-napa, Nak? Ibu khawatir sama kamu,' tanya Bu Ani dengan nada panik. Ia seperti bisa merasakan apa yang sedang terjadi pada anaknya.
"Enggak kok, Bu. Aku enggak kenapa-napa," jawab Alea sambil menahan sesak di dadanya.
Ia sendiri heran, padahal tadi dia yang menggerutu kesal kepada ibunya yang menikahkannya dengan terburu-buru. Tapi, sebagai seorang anak ia juga tak ingin menyakiti hati ibunya. Sungguh hal itu menjadi perdebatan batin di hatinya.
"Syukurlah, kalau kamu tidak apa-apa. Semoga Gavin selalu baik sama kamu ya, Nak," sahut Bu Ani dari seberang telepon.
Ia sedikit lega mendengar suara anaknya yang bilang kalau dirinya tak kenapa-napa. Walaupun tetap saja hati seorang ibu tak dapat dibohongi, ia tahu kalau Alea sedang merasakan kesedihan.
'Kalau kamu lagi sedih salat ya, Nak,' pesan Bu Ani kepada putrinya tersebut.
"Iya, Bu, nanti aku bakal salat kok," ucap Alea menenangkan ibunya. Dia merasa sudah terlalu banyak salah kepada wanita yang telah melahirkannya tersebut.
"Kalau begitu, aku salat dulu ya, Bu. Kebetulan belum salat isa juga," pamit Alea kepada ibunya.
Ia tak ingin mendengar lebih lama lagi suara ibunya. Dirinya sedang tidak baik-baik saja dan dia tak ingin menunjukkan hal tersebut kepada orang yang telah melahirkannya itu.
'Iya, silakan, assalamualaikum,' pungkas Bu Ani seraya mengucapkan salam. Tak lama kemudian sambungan telepon pun ditutup.
Alea menyimpan ponselnya di saku bajunya. Malam yang dingin itu terasa tak ada apa-apanya di saat hati sedang panas. Tidak seperti biasanya yang udaranya terasa dingin menusuk kulit.
Dia langsung menuju ke kamar mandi untuk melaksanakan titah ibunya. Sementara itu, Gavin telah berada di sofa dan sibuk dengan laptopnya seperti biasa. Ia seolah tak memerhatikan Alea, padahal dalam hati, ia juga merasa bersalah atas apa yang terjadi kepada Alea.
'Apa aku harus melepaskannya, ya?' gumam Gavin dalam hati.
Dia jadi ragu dengan keputusannya menikahi Alea.
Bagaimana pun ia tak ingin menyakiti anak orang lain. Lagipula Alea juga belum kehilangan keperawanannya. Jadi, rasanya sah-sah saja jika seandainya dirinya melepasnya.