Satu Bulan Berlalu

1060 Kata
Mobil terus melaju. Mereka sampai di kampus Alea. Gavin melirik ke samping, nampak istrinya tersenyum kala sampai di universitas. "Makasih, ya," ucap Alea singkat kemudian keluar dari mobil. Ia berjalan menuju ke fakultasnya. Sementara itu, Gavin harus melanjutkan perjalanan ke kantornya. Meskipun harus mengantar jemput Alea ke kampus, entah mengapa hatinya lebih tenang dan hidupnya lebih teratur. *** Hampir sebulan mereka menikah, tapi ibu tiri Gavin belum juga pulang dari liburannya. Alea mulai ragu apa benar yang suaminya itu katakan soal ibu tiri. Kini, ia mulai pasrah menjalani hidupnya. Asal bisa kuliah, tak apalah menjalani pernikahan. "Hai, Lea, dari mana aja baru muncul? Kok, lesu?" tanya Tias dengan cepat. "Nanya itu satu-satu dong," jawab Alea singkat. Ia sedang bosan dengan rutinitasnya sebagai seorang istri. Terlebih hanya istri pajangan, padahal baru sebulan. Belum lagi ditambah drama kaburnya tempo hari. "Ada masalah sama suami kamu?" tanya Dinda menebak masalah yang sedang dihadapi temannya itu. Biasanya orang yang sudah menikah masalahnya tak jauh dari seputar pasangan, rumah tangga, dan kemelut kehidupan berumah tangga lainnya. "Biasa aja, sih. Lagi enggak mood aja," jawab Alea sambil membenamkan kepalanya di tangan. Beberapa saat kemudian dosen pun datang memberi materi di kelas tersebut. Alea memerhatikan dengan seksama, meskipun terlihat lesu. Seusai memberi tugas, dosen tersebut kembali keluar dari ruangan tersebut. "Lea, ke kantin yuk," ajak Tias yang cacing di perutnya sudah minta jatah. "Oke," jawab Alea singkat sambil bangkit dari duduknya. "Kalau pernikahan bikin jadi enggak mood gini, kok aku jadi takut buat nikah ya, hehe," ujar Dinda dengan bercanda saat mereka dalam perjalanan menuju ke kantin. "Benarkah? Ah, kalau suaminya kaya sama baik seperti Gavin suami Alea sih, aku mau mau aja," sahut Tuas yang tak setuju dengan ungkapan Dinda. Sesampainya di kantin, mereka lalu membeli makanan yang hendak dimakan siang itu. Setelah makanan berada di tangan, mereka memilih meja yang tak jauh dari sana. Meskipun letaknya ada di tengah-tengah. Mereka memulai menikmati makanan mereka. Alea membeli satu porsi mie ayam lengkap dengan teh manisnya. "Boleh gabung?" tanya seseorang yang berdiri di samping Alea. "Boleh, gabung aja," jawab Alea dengan datar. Sejak tahu kalau Fia adalah teman masa kecil Gavin, ia jadi tak begitu respect dengannya. Terlebih suaminya melarangnya. Fia duduk di depan Alea, satu bangku dengan Tias dengan senyuman di bibirnya. "Lea, apa kabar dengan Gavin?" tanya Fia berbasa-basi. "Baik, kok dia," jawab Alea malas. "Syukurlah, kalau begitu," ucap Fia, seolah ada rasa lega di dadanya. "Aturan kalau nanya kabar yang ada di depan dulu," celetuk Tias dengan santainya, menyindir Fia. Selesai makan, Alea mengajak kedua temannya untuk ke kelas. Suasananya jadi tak nyaman karena kedatangan Fia. Mereka meninggalkan Fia sendiri tanpa pamit. Alea tak nyaman jika dekat dengan Fia selalu menanyakan Gavin dan menceritakan masa lalu mereka. Walaupun diakhiri dengan kata. "Kamu jangan baper, ini cuma masa lalu, kok," pungkas Fia, setiap kali bercerita. Akhirnya, Gavin meminta Alea untuk menjauhinya. Sesampainya di kelas, mereka duduk di bangku masing-masing, masih ada pelajaran yang mesti diikuti hari itu. Setelah semua pelajaran kuliah selesai, Alea segera pulang. Ia membawa tas yang biasa dikenakannya. Tas selendang berwarna pink itu adalah pemberian Gavin. Awalnya, ia tak ingin memakainya, akan tetapi tas lamanya telah jebol dan tak dapat digunakan lagi. Seperti biasa, Gavin telah sampai di parkiran. Ia selalu terlihat gagah dan tampan. Hanya saja belum bisa meluluhkan hati Alea. Tanpa bicara sepatah katapun, mereka langsung masuk ke dalam mobil. Gavin melajukan mobilnya ke arah jalan pulang. Jalanan nampak macet karena memang jam pulang kerja. Namun, itulah yang jadi makanan mereka sehari-hari. Sesampainya di rumah, Alea dan Gavin turun dari mobil. Mereka melangkah menuju ke teras untuk memasuki rumah. Gavin mengedarkan pandangan ke halaman yang luas itu. Tak ada apapun di sana, termasuk mobil pribadi berwarna merah milik ibu tirinya. "Kamu cari apa?" tanya Alea penasaran. Melihat Gavin yang celingak-celinguk seperti mencari sesuatu. "Ah, tidak, ayo masuk." Gavin tak ingin bilang kalau dirinya sedang mencari mobil ibu tirinya. Sudah hampir sebulan tak kunjung muncul. Mereka memasuki rumah dengan wajah letih. Langsung berjalan menuju ke kamar. Sore hari Alea duduk di balkon kamar Gavin yang langsung menuju ke halaman depan rumah. Menjadi tempat favoritnya di kala sore sambil mengerjakan tugas atau hanya sekedar menikmati pemandangan. Tiba-tiba saja sebuah mobil memasuki halaman. Pak Rusdi satpam rumah itu langsung membukanya. Tanpa memberitahu siapa yang datang pada Gavin seperti biasanya. Alea terus memerhatikan mobil berplat D tersebut. Setelah mobil terparkir rapi, ada seorang sopir yang turun lebih dahulu membukakan pintu. Baru setelah itu, keluarlah tiga orang dewasa lainnya dengan satu ibu paruh baya. Mereka melenggang santai memasuki rumah. Alea pun masuk ke kamar untuk menanyakan pada Gavin tentang siapa mereka. Ia duduk di samping sofa yang sedang di duduki Gavin. Ia masih sibuk dengan pekerjaan dan laptopnya. "Ada tamu, siapa mereka?" tanya Alea pada suaminya itu. "Siapa? Kamu yang melihatnya," jawab Gavin dengan santai. "Aku juga tak tahu. Tiga orang dewasa, satu pria, dua wanita yang satunya paruh baya," jawab Alea menceritakan orang-orang yang dilihatnya tadi. "Hem, sepertinya mereka datang," ujar Gavin dengan tersenyum miring. Ia mengenali tamu yang datang itu. "Siapa mereka?" tanya Alea lagi penasaran. "Ibu tiri dan anaknya," jawab Gavin singkat. Membahas soal keluarganya membuatnya malas. "Oh, ya? Bisa kita bertemu mereka?" tanya Alea yang penasaran dengan sosok ibu tiri suaminya. "Nanti juga bertemu, untuk apa buru-buru? Mereka tak perlu disambut," jawab Gavin dengan santainya. "Baiklah, kalau begitu," jawab Alea pasrah. Alea lalu menutup pintu dan gorden di kamar itu. Hari sudah sangat sore menjelang malam. Sebentar lagi waktunya makan malam. Ia jadi terbiasa dengan rutinitas di rumah itu. Pukul setengah delapan malam, pintu kamar diketuk. Biasanya Bi Ijah yang akan datang ke kamar itu untuk mengajak makan malam. Alea bangkit dari duduknya dan segera membukakan pintu. Benar saja yang datang ternyata asisten rumah tangganya itu. "Non, segera makan malam. Oh ya, sekalian Non Alea dan Den Gavin dipanggil oleh Nyonya Herni," ucap Bi Ijah ketika pintu kamar itu dibuka. "Baik, Bi," sahut Alea singkat. "Kalau begitu, Bibi ke belakang dulu ya Non," pamit Bi Ijah yang kemudian melangkahkan kaki menuruni tangga yang tak jauh dari kamar itu. Alea kemudian kembali ke sofa yang ditempati Gavin untuk memberi tahu hal tadi. "Bi Ijah suruh kita ke bawah untuk makan malam. Katanya sekalian ibu tiri kamu ingin bertemu," ungkap Alea menceritakan apa yang tadi dikatakan Bi Ijah. "Hem, ayok," ucap Gavin singkat sambil berjalan menuju ke luar kamar. Alea mengikuti dari belakang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN