Makanan Sisa

1043 Kata
Alea mulai akrab dengan Bi Ijah. Ternyata asisten rumah tangga itu juga telah lama ikut di keluarga Gavin. Jadi, sepertinya ia tak perlu dikhawatirkan. Melihat usianya yang sudah renta dan sepertinya ia tak begitu akrab dengan juga gak begitu akrab dengan keluarga Gavin yang sekarang. Terlebih pada ibu tirinya. 'Sepertinya aku tetap harus waspada di rumah ini,' gumam Alea lagi dalam hati seolah meningkatkan kewaspadaannya yang tadi. Selesai makan, Alea lalu pamit untuk kembali ke kamarnya. "Terima kasih banyak, ya, Bi. Kalau begitu, saya pamit ke kamar saya dulu," pamit Alea kepada asisten rumah tangga di keluarga Gavin tersebut. "Iya, sama-sama, Non," pungkas Bi Ijah menutup obrolan mereka. Alea lalu berjalan menuju ke kamarnya. Melewati ruang tengah yang sangat besar, kemudian menaiki tangga untuk sampai ke kamar Gavin yang berada di lantai dua. Ia segera membuka pintunya. Rupanya Gavin tak ada di sana. 'Ke mana dia?' gumam Alea dalam bagi sambil mengitari kamar itu dengan pandangannya. Mencari sosok Gavin yang tadinya tidur di sofa. Tak menemukan Gavin di sana. Ia pun menutup pintu dan melangkah menuju tempat tidur kembali. Setelah itu, ia duduk di kasur. Masih tak ada tanda-tanda keberadaan Gavin. Alea yang mengantuk akhirnya membaringkan dirinya di sana. Beberapa saat kemudian, Gavin keluar dari kamar mandi. Ternyata tadi ia juga tak menemukan Alea di kamarnya. Tapi, sudah dapat menebak ke mana perginya. Jadi, ia tidak mencari-carinya dulu. Benar saja dugaannya, ketika selesai ia mendapati Alea di tempat tidurnya. Alea terbaring dan bibir tipisnya sedikit menganga. Bibir itu berwarna kemerahan dan begitu ranum kelihatannya. Pakaian tidur yang dikenakannya juga hanya berlengan pendek dan memperlihatkan leher jenjangnya. Terlihat menggemaskan dan gairah kelelakiannya tiba-tiba naik melihat pemandangan itu. Bukankah hal yang wajar bagi seorang suami. Gavin lalu ke kamar mandi lagi. "Ah, tidak!" ucapnya sambil menuntaskan hasratnya yang tadi naik seketika. Ia tidak boleh seperti itu, tapi bayangan Alea terus saja menari-nari di kepalanya. Gavin mengerang ketika selesai. Ia yang sudah menuntaskan keinginannya keluar dari kamar mandi dan langsung membaringkan dirinya di sofa. Ia sudah tidak ingat lagi dengan makan malam. Tidur adalah solusi bagi dirinya saat itu. Sekamar dengan wanita pasti bukan hal yang mudah bagi lelaki normal seperti Gavin. Jika saja istrinya Alina mungkin akan beda lagi ceritanya, tapi Alea tak bisa begitu saja ditaklukan. *** Pagi hari, Gavin terbangun lebih dulu. Ia ingat belum mandi semalam. Ia langsung kamar mandi dan mandi junub. Mendengar Gavin di kamar mandi Alea merasa heran. Biasanya ia bangun lebih dulu dari suaminya. Tetapi, pagi itu Gavin sudah di kamar mandi sebelum ia bangun. Tapi, Alea bukanlah gadis polos yang berumur belasan tahun. Umurnya sudah dua puluh tahun. 'Apa semalam ...." Alea menyentuh organ vitalnya, tapi ia tidak merasakan apapun semalam dan tak temukan Gavin di kamarnya. Ia jadi was-was sendiri, takut suaminya itu melakukannya ketika ia sedang tidak sadarkan diri. "Ah, tidak, tidak!" Alea bergumam pelan menyakinkan dirinya sendiri kalau semua itu tak mungkin terjadi diluar kendali dirinya. Meskipun hanya bisa berharap kalau Gavin tak benar-benar melakukannya. Beberapa menit kemudian, Gavin telah keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Rambutnya terlihat basah oleh air. Alea hanya menatapnya curiga, tapi bibirnya kelu untuk bertanya. Lelaki itu sebenarnya tahu dengan arti dari tatapan Alea. Tapi, ia memilih untuk tidak menjelaskannya. Percuma menjelaskan kepada gadis polos, sepertinya ia tak akan percaya kalau mereka tidak melakukannya. "Eh, kita enggak ngapa-ngapain kan, semalam?" tanya Alea akhirnya. Ia tak sabar untuk tidak menanyakan kepada Gavin. "Hem, memangnya kamu ngerasa aku apain?" tanya Gavin dengan dingin. Kini, ia telah berganti pakaian dengan pakaian kantor seperti biasanya. Kemudian, duduk di sofa untuk melihat pekerjaan yang telah dikerjakan semalam. Semuanya telah tersusun rapi. 'Semua pekerjaanku selalu beres jika Alea di sini,' gumam Gavin dalam hati. Ia sendiri heran, tapi memilih untuk menghiraukan semua benak yang bertanya-tanya dalam hatinya. Pagi hari, Alea dan Gavin telah bersiap dengan pakaian mereka hari itu. Alea mengenakan baju baru yang tempo hari di belikan suaminya. Ia tak ingin membuat kesalahan yang sama seperti waktu itu. Jadi, memaksakan diri memakai salah satu baju feminim tersebut. Gavin malah semakin terpana melihatnya. Ia harus akui kalau kecantikan Alea begitu alami. Padahal make up yang dikenakannya juga tak seberapa, hanya pelembab dan bedak tabur. "Ayo," ajak Gavin tanpa banyak bicara lagi. Alea mengikuti langkahnya dari belakang. Mereka menuju ke ruang makan untuk sarapan terlebih dahulu. Bi Ijah pasti telah memasak sarapan untuk hari itu. Benar saja, sesampainya di meja makan, sudah tersedia berbagai hidangan untuk Alea dan Gavin. Kadang Alea heran, karena mereka tidak menghabiskan semua makanannya. Lalu, ke mana makanan sisa pagi dan siang yang pastinya tersisa. "Makanan sisa dari sini memangnya dikemanakan, Bi?" tanya Alea penasaran. "Oh itu, biasanya Bibi kasihkan ke Mang Dudung yang ada di ujung jalan. Dia kan pelihara ayam banyak, nah, dia senang sekali kalau menerimanya. Dulu, yang menyuruhnya Nyonya mendiang ibunya Den Gavin," jawab Bi Ijah dengan santainya. "Oh, begitu ya," ujar Alea singkat. "Menangnya kenapa, Non?" tanya Bi Ijah heran. Baru kali ini ada yang bertanya padanya soal makanan sisa tersebut. Sebelumnya tak pernah ada yang mempertanyakannya sama sekali. Malah terkesan tak mau tahu. Selesai sarapan mereka kemudian bangkit dari duduknya dan langsung menuju mobil. Gavin jadi heran sendiri sebenarnya apa maksud pertanyaan Alea dengan mempertanyakan makanan tadi. Ia takut istrinya itu melakukan hal-hal yang tidak sewajarnya. Mereka duduk dalam mobil dengan Alea yang bersebelahan. Rasa penasaran Gavin membuatnya ingin bertanya apa maksudnya tadi. "Memangnya kenapa kamu mempertanyakan makanan sisa?" tanya Gavin penasaran, sekaligus takut terjadi sesuatu yang ajaib pada Alea. "Oh itu, tidak apa-apa. Hanya sayang saja kalau misalkan dibuang begitu saja. Bisa jadi, aku memelihara ayam di halaman samping rumahmu," jawab Alea dengan santainya. Samping halaman rumah Gavin memang sebuah lahan kosong. Hanya ditumbuhi rumput hijau yang diurus oleh tukang kebun. Dugaannya benar, pemikiran Alea tidak dapat ditebak olehnya. "Pkoknya jangan pernah lakukan itu," ujar Gavin dengan sedikit kesal. Alea terkekeh geli. Ia tahu pasti, Gavin tidak akan mengizinkannya. Padahal tadinya ia hanya bercanda. Asal nyahut saja, walaupun ia memang berpikir untuk mendaur ulang makanan tersebut. Mencari orang untuk memelihara ayam misalnya. Mobil terus melaju membelah jalanan di pagi hari. Terlihat jalanan begitu ramai di beberapa titik tapi masih lancar. Mereka tak banyak bicara lagi, sibuk dengan pikirannya masing-masing. 'Benar-bebar wanita yang ajaib,' gumam Gavin dalam hati mengingat pemikiran Alea tadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN