"Tidak, aku biasa saja mau ke Bandung. Lagipula kalau bukan karena orang tuaku, rasanya malas mau ke sana," ujar Alea yang duduk di samping Gavin. Ia menetralkan kembali wajahnya yang tadi sangat bahagia karena bisa keluar dari rumah orang tuanya.
Gavin tak lagi menyahuti ucapan Alea. Ia kembali fokus ke jalanan yang sedang dilalui mobilnya. Mereka akan menuju ke Bandung. Tempat di mana Gavin dibesarkan.
Alea kemudian memejamkan matanya. Sebenarnya malu ketika ketahuan Gavin kalau dirinya terlihat bahagia karena akan ke Bandung.
'Kenapa tadi aku enggak jawab aja karena kalau di Bandung bakal kuliah lagi, ya,' gumam Alea dalam hati. Ia merutuki perbuatannya sendiri yang tak masuk akal tadi.
Jelas-jelas ia kelihatan senang oleh Gavin tapi masih mengelak kalau tidak kenapa-kenapa.
Gavin melirik ke samping. Ia tahu kalau Alea tidak tidur dan hanya memejamkan matanya. Ia menahan tawa saat sesekali wajah Alea merengut.
'Pasti dia malu karena ketahuan senang tadi,' gumam Gavin dalam hati. Ia seolah sudah bisa menebak apa yang terjadi dengan Alea. Tanpa bertanya terlebih dahulu.
'Wanita memang aneh, marah-marah sejadinya lalu tak lama ketawa lagi.' Gavin terus saja bermonolog dengan hatinya sambil terus menyetir.
Dua jam perjalanan mereka baru sampai di Kota Garut. Belum perjalanan berikutnya menuju ke Kota Kembang. Memang cukup melelahkan. Gavin sendiri heran mengapa ia kekeh ingin menikah dengan Alea waktu itu. Tentu saja karena saat itu ia hanya berpikir bagaimana caranya dapat buku nikah.
Ia tak berpikir sejauh ini, kalau pernikahan itu bukan main-main. Terikat secara agama dan negara. Walaupun menurut Gavin pernikahan mereka tidak begitu mewah. Tapi, tetap saja menjadi momen berharga baginya. Meskipun hingga saat itu ia belum bisa mencicipi kegadisan Alea.
Sebagai lelaki normal kadang hasratnya juga memuncak dengan kehadiran seorang gadis di sampingnya. Tapi, mau bagaimana lagi ia yang membuat perjanjian itu.
Gavin terus saja sibuk dengan pikirannya sendiri. Tepat tengah hari, mereka sampai di halaman rumah yang luas dan tertata. Di depannya ada rumah mewah yang kokoh.
"Lea, Lea, bangun!" ucap Gavin sambil menepuk-nepuk pipi Alea. Ia sedang tak ingin menggendongnya. Apalagi karena kemarin istrinya itu kabur dari rumah. Hatinya seolah kembali tertutup untuk Alea.
Alea yang pipinya ditepuk-tepuk cukup keras pun terbangun. Ia menatap keadaan sekitar, ternyata ia sudah berada di Bandung, tempatnya di depan rumah Gavin. Ia tahu persis tempat itu.
"Akhirnya ...," ucap Alea dengan sumringah. Ia spontan turun dari mobil tanpa melihat keluar. Akhirnya ia menubruk Gavin dan kepalanya berada tepat di d**a Gavin yang sedang berdiri.
Tubrukan itu memang tak keras, tetapi cukup membuat mereka terdiam sejenak. Tatapan mata mereka saling beradu dan terkunci sejenak.
"Ngapain sih, berdiri di situ!" hardik Alea sambil meneruskan langkahnya menuju ke rumah.
Ia lupa kalau di rumah itu, bahkan dirinya sekamar dengan Gavin. Sehingga akan terus bertemu.
'Ah, bisa enggak sih tanpa bertemu Gavin beberapa hari lagi. Biar tenang hidupku,' gumam Alea dalam hati. Ia ingin menikmati hari-harinya tanpa Gavin.
Alea masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamar Gavin. Di belakangnya Gavin mengikutki.
Alea coba membuka pintu kamar, tapi ternyata dikunci. Ah, benar-benar rasanya seperti hanya numpang.
Gavin lalu membuka kamar tersebut dengan kunci yang ada di sakunya. Ia lalu masuk terlebih dahulu tanpa bicara apapun pada Alea.
"Uh, dasar lelaki menyebalkan," gerutu Alea pelan sambil mengikuti Gavin untuk masuk.
Sesampainya di kamar, Gavin langsung membaringkan diri di tempat tidur. Rasa lelah karena setengah hari full menyetir membuatnya mudah tertidur.
Diam-diam Alea memerhatikan Gavin yang akhir-akhir ini mudah tertidur. Padahal waktu awal menikah, ia jarang tertidur.
'Kayaknya aku pernah tahu deh, penyebabnya. Apa karena stres ya,' gumam Alea dalam hati.
Ia kemudian membuka ponselnya dan mencari tahu di internet. Ia duduk di sofa yang ada di depan televisi.
"Tuh, kan," ucap Alea pelan karena ternyata dugaannya benar.
'Terus dia stres karena apa? Karena aku kabur gitu?' gumam Alea lagi. Ia kemudian tersenyum sendiri, mengingat kalau Gavin ternyata diam-diam mencemaskannya.
'Jangan baper, Lea, jangan! Ingat, pernikahan ini hanya sementara,' gerutu Alea dalam hati. Ia tak ingin terbawa perasaan dengan sikap perhatian Gavin. Ia harus fokus kepada cita-cita yang sudah disusunnya sedemikian rupa.
Alea lalu kembali menyimpan ponselnya. Ia mencari keberadaan laptopnya. Ia sama sekali tak mengantuk karena tidur sepanjang perjalanan dari desa ke kota.
Alea bangkit dan mencari laptopnya kesana-kemari.
"Di mana sih, dia simpan laptopku?" gumam Alea pelan. Sambil mencari laptop miliknya.
"Astaga!" ucap Alea yang melihat laptopnya di dalam bufet televisi yang berpintu kaca.
Ia segera mengambilnya dan menyalakannya. Masih tetap sama, nyetrum dan eror. Pulang ke rumah selama dua hari membuatnya masih punya waktu untuk mengerjakan tugas dari Pak Alfi, dosen tampan di kampusnya.
'Ya ampun, kok ada sih laki-laki tampan, cerdas pula sampai jadi dosen di usia muda,' gumam Alea dalam hati.
Jari-jarinya menari-nari dengan cepat di atas papan keyboard. Ia begitu bersemangat mengerjakan tugas kampus sambil membayangkan orang yang memberinya tugas.
Waktu sudah lewat tengah hari. Perutnya terasa keroncongan. Rasa lapar mendera. Ia melirik ke belakang, Gavin masih pulas dalam tidurnya.
"Terus aku gimana dong?" gumam Alea yang sudah keroncongan.
"Enggak akan bisa mikir kalau lapar banget kayak gini," ucap Alea lagi.
Ia akhirnya memutuskan untuk turun ke lantai bawah. Mencari Bi Ijah untuk dimintai tolong. Rasanya baru kali itu Alea menyusuri rumah itu sendiri. Biasanya selalu ditemani Gavin ke manapun.
Ia memasuki ruang makan. Ternyata makanan untuk makan siang sudah terhidang di sana.
"Segera makan, Non. Mumpung masih anget, sayang kalau dingin," titah Bi Ijah dengan ramah layaknya seorang ibu menyuruh anaknya makan.
"Waduh, beneran ini, Bi?" tanya Alea seolah tak percaya.
"Emang Bibi masak buat siapa lagi. Pasti Den Gavin tidur kan, makanya enggak ngajakin Non makan siang," tebak Bi Ijah yang sepertinya tahu dengan semua kebiasaan Gavin.
"Ini beneran enggak apa-apa aku makan sendiri?" tanya Alea memastikan seolah tak percaya kalau makanan itu memang disediakan untuknya dan Gavin.
"Memangnya buat siapa lagi, Non? Sudah, cepat makan saja," titah Bi Ijah menegaskan.
"Bibi malah senang kalau masakan Bibi habis dimakan," ucap Bi Ijah lagi.
"Ya sudah, Bibi temenin aku di sini ya, hehe," pinta Alea. Ia belum berani makan sendiri di rumah itu.
"Baiklah, Non," ucap Bi Ijah sambil duduk di kursi meja makan yang kosong.
"Bibi ikut makan yuk, masa aku makan sendiri," ajak Alea ramah. Tak enak rasanya ia makan sendiri.
"Bibi sudah duluan, Non. Tadi habis masak langsung. Lagian Non Alea sama Den Gavin juga ditungguin enggak datang-datang," sahut Bi Ijah yang sudah makan terlebih dahulu.
Alea menganggukkan kepala. Ia lalu menyendok nasi ke piringnya. Ditambah dengan aneka lauk yang sudah disediakan di meja makan. Kemudian makan dengan lahap.
Bi Ijah hari itu memasak cumi pedas manis dan beberapa lauk lainnya. Ia pandai dalam mengelola semua bahan makanan.
"Bibi hebat banget bisa masak ini itu dan rasanya enak banget," puji Alea di sela-sela makannya.
Padahal Bi Ijah kelihatannya sudah sepuh. Tapi, rasa masakannya boleh diadu dengan makanan kota dan restoran. Alea sampai terkesan dengan setiap makanan yang disajikannya. Sayang, ia tak suka berada di dapur dan memasak. Andai saja Alina yang ada di posisinya, pasti akan agresif sekali untuk belajar memasak.
"Jangan salah, Non, yang jago masak itu Nyonya dulu. Ibunya Den Gavin. Masakannya enak sekali, punya restoran juga, malah restorannya sampai sekarang masih jalan, loh," tutur Bi Ijah menjelaskan ibu Gavin sekaligus bernostalgia.
Ia bisa awet bekerja di rumah itu, di antaranya kerena ibu Gavin yang begitu baik.
"Wah, sayang ya, sekarang sudah meninggal, seandainya masih ada mungkin aku bisa mengenalnya lebih jauh," tutur Alea sambil tersenyum.