Perjalanan Pulang ke Bandung

1533 Kata
Malam semakin larut. Setelah selesai mengerjakan sekitar lima ratus complong, mereka kemudian menuju ke kamar untuk tidur. Alina ikut ke kamar orang tuanya, sementara Alea dibiarkan satu kamar dengan Gavin. Sementara Arka biasa tidur di mana saja. Alea dan Gavin masuk ke kamar mereka. Alea langsung berbaring di sebelah dinding yang terbuat dari anyaman bambu itu. Sementara itu, Gavin masih duduk di tempat tidur yang sama. Ia belum membaringkan dirinya, tetapi rasa kantuk juga sudah mulai menghinggapi kedua netranya. "Lain kali tidak perlu buat drama kabur lagi, aku akan dengan mudah menemukanmu," ujar Gavin kepada istrinya itu. Alea hanya mendengkus kesal. Ia tak suka dengan cara Gavin bicara, seolah ia sangat berkuasa atas diri Alea. "Tak perlu sok berkuasa seperti itu, aku juga bisa menentukan jalan hidup sendiri. Hanya saja untuk saat ini terjebak dengan hidupmu, tapi jika semua masalahmu telah selesai, maka aku bebas untuk menentukan jalan hidup," tutur Alea tanpa memandang kearah Gavin. "Begitu ya, kita lihat saja kedepannya seperti apa. Tidak ada yang tahu kan, takdir akan membawa kita ke mana. Termasuk aku yang menjadi suamimu dan kamu menjadi istriku dalam ikatan pernikahan," sahut Gavin dengan dingin. "Ah, sudahlah," ucap Alea singkat, kemudian mencoba memejamkan matanya untuk terlelap. Tetapi, ternyata tidak mudah. Entah mengapa rasa kantuknya tak kunjung datang. Gavin yang kelelahan sehabis menyetir jarak jauh membaringkan diri di samping Alea. Tak lama kemudian terdengar dengkuran halus dari dirinya. Alea yang juga kelelahan dengan pekerjaan rumah akhirnya ikut tertidur. Baru kali itu rasanya mereka tidur dengan begitu dekat, karena keduanya kelelahan dan langsung tertidur. "A ...!" teriak Alea ketika mendapati tangan Gavin melingkar di pinggangnya. Ia mengingat-ngingat kejadian semalam, apa yang dilakukan Gavin padanya. Tapi, seingatnya mereka langsung tertidur tanpa melakukan apapun. "Apaan? Pagi-pagi udah berisik aja," tanya Gavin yang terbangun karena teriakan Alea. "Kamu enggak ngapa-ngapain aku kan?" tanya Alea dengan polosnya. Gavin menahan tawa mendengar pertanyaan Alea tersebut. "Emangnya aku ngapain kamu?" tanya Gavin sambil menahan tawa. Alea ternyata memang benar-benar polos, dibalik sifat tomboy dan juga menyebalkannya. Ia begitu polos dan tidak tahu dengan hal-hal soal hubungan suami istri, sampai-sampai hanya karena tangan Gavin melingkar di pinggangnya, dikira kalau mereka telah melakukannya. "Eng—enggak, maksudku ...." Alea gugup dan bingung hendak bicara apa lagi. Sementara pikirannya terus mengingat apa yang mereka lakukan semalam. Tapi, tetap saja ia tidak mengingat apapun. Seingatnya Gavin tidur lebih dulu kemudian ia juga tertidur. Malu dengan pertanyaannya tadi, Alea lalu bangkit dan menuju ke kamar mandi. "Kamu tadi kenapa menjerit, Nak?" tanya Bu Ani yang sudah berada di dapur. Ia khawatir kepada putrinya yang tiba-tiba menjerit di dini hari seperti itu. Alea kebingungan menjawabnya, tidak mungkin dia bilang kalau Gavin merangkulkan tangan di pinggangnya. Apalagi mereka telah menikah selama lebih dari satu minggu. Pastilah untuk pernikahan yang normal itu adalah hal yang biasa terjadi. Berbeda dengan pernikahan yang ia dan suaminya jalani. "Enggak, Bu. Tadi aku nemu kecoa di kaki," jawab Alea dengan sedikit gugup. "Oh begitu ya, kok bisa ya? Padahal Alina selalu membersihkan kamar itu tiap hari," ujar Bu Ani yang heran dengan alasan tak masuk akal Alea. "Ya ... mungkin kebetulan saja, Bu," pungkas Alea yang langsung menuju ke kamar mandi. Ia sengaja menghindari pertanyaan lebih lanjut dari ibunya. Selesai dari kamar mandi, Alea langsung menuju ke kamarnya. Ia melaksanakan salat subuh di kamarnya. Gavin yang melihat istrinya menegakkan kewajibannya sebagai muslimah langsung bangkit dan menuju ke kamar mandi juga. Sepertinya ayah mertua dan juga kakak iparnya telah pergi lebih dulu ke masjid. Tetapi, ia melihat jam masih menunjukkan pukul lima dini hari, akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke masjid yang tidak jauh dari rumah itu. Udara dingin khas pedesaan terasa menusuk kulit, tapi hatinya begitu tenang berada di sana. Tidak seperti ketika berada di kota, rasanya penuh dengan masalah. Apalagi dia memiliki ibu tiri yang menyebalkan, meskipun Alea belum kenal ibu tirinya. Gavin memasuki masjid, rupanya ada beberapa orang yang sedang membaca ayat suci Al-Quran di sana. Sementara salat subuh berjamaah telah selesai dilaksanakan. Ia akhirnya salat sendiri, meskipun yang lainnya setelah selesai. Eambil mengingat-ingat beberapa bacaan salat yang ia lupa. Selesai salat, Gavin pun kembali ke rumahnya. Ayah mertua dan kakak iparnya juga telah kembali. Bu Ani menyediakan pisang goreng dengan teh panas untuk mereka. "Nak Gavin, Arka, Pak ini dimakan dulu." Bu Ani menyodorkan sepiring penuh pisang goreng di meja. Beserta dengan baki berisi teh panas yang dibawa oleh Alina. Sementara Alea sedang dapur. Ia tengah memotong-motong sayuran untuk dimasak hari itu. Keluarga itu memang terbiasa masak di dini hari. Sehingga bisa dibawa untuk bekal ke ladang. Alea yang baru saja selesai motong-motong sayuran keluar dari dapur untuk menanyakan pekerjaan selanjutnya. "Lea," panggil Gavin kepada istrinya itu. Alea menatap Gavin dengan penuh tanya. "Bisa ke sini sebentar," titah Gavin meminta istrinya untuk lebih mendekatinya. Tidak enak bicara dengan suara keras di rumah itu. Alea menurut, ia tak ingin membuat masalah lagi dengan Gavin. Apalagi ia ingin segera pergi ke Bandung dan mengisi hari-harinya dengan kuliah. Meskipun resikonya ia harus tinggal bersama Gavin yang menurutnya menyebalkan. "Ada apa?" tanya Alea setelah berada di dekat Gavin. Alina menatap kejadian itu dengan cemburu. Hatinya terbakar melihat Alea dekat dengan Gavin. Meskipun di sisi lain Alina berusaha menenangkan hatinya, karena Gavin memang bukan miliknya. Dia adalah kakak iparnya yang telah menikah dengan Alea, kakak kandungnya sendiri. "Kita pulang sekarang, cepat bereskan barang-barangmu," ucap Gavin dengan suara pelan. "Baiklah," jawab Alea, ia lalu bangkit dari posisi jongkoknya dan langsung menuju kamar. Ia membereskan bajunya yang tidak seberapa. Ia hanya membawa satu tas ketika pergi dari rumah Gavin. "Sudah selesai," lapor Alea setelah selesai membereskan baju-bajunya. Gavin mengangguk. Ia sebenarnya ingin pergi saat itu juga. "Jangan dulu pulang! Sarapan dulu, isi dulu perut, supaya kalian enggak sakit dan masuk angin nanti di jalan," tutur Bu Ani yang sudah mengetahui maksud Gavin ingin segera pergi dari rumah itu. "Baik, Bu," ujar Gavin singkat sekedar menghargai ibu mertuanya tersebut. Meskipun sebenarnya ia ketar-ketir karena banyak pekerjaan yang menunggunya di kantor. Alea kemudian meneruskan masaknya agar bisa lebih cepat selesai. Kemudian, sarapan dan mereka bisa pergi dari rumah tersebut. Bu Ani dan Alina juga bisa segera beraktivitas di luar. Setengah jam kemudian, semua masakan telah beres dikerjakan oleh Alina dan Alea. Sementara Bu Ani menyiapkan peralatan untuk ke ladang dan juga barang-barang yang hendak dibawa untuk hari itu. Ia akan mengobat tanamannya dengan obat-obatan kimia yang dibeli dari toko obat. "Yuk, kita makan dulu!" teriak Bu Ani mengajak semua anggota keluarganya untuk berkumpul di dapur dan memakan makanan yang telah disediakan. Mereka makan dengan begitu lahap, termasuk Gavin yang sudah mulai terbiasa dengan makanan sederhana tersebut. Tapi, ia merasa senang karena suasana kekeluargaan yang kental di rumah itu. Meskipun sebenarnya ia risih dengan pandangan Alina yang seringkali curi-curi pandang kepadanya. Dia memang menyukai sifat Alina yang pendiam dan penurut. Tapi, melihat sikap Alina yang seperti menaruh hati padanya, sementara Gavin sendiri merupakan suami dari kakaknya, membuatnya tidak nyaman. Ia ingin segera pergi dari sana, tidak enak dengan Alina. Apalagi jika Gavin dekat dengan istrinya, Alina pasti terlihat cemburu. Dugaan-dugaan Gavin itu sudah sering terjadi. Juga ia tes kebenarannya. 'Sepertinya aku harus lebih berhati-hati dengan Alina,' gumam Gavin dalam hati. Salah-salah maka akan terjadi perpecahan antara adik-kakak tersebut. Selesai sarapan, Gavin dan Alea sudah bersiap untuk pulang ke Bandung. Mereka pamit kepada orangtua dan juga kakak dan adik Alea. "Bu, aku pulang dulu ya. Doain supaya bisa sabar menghadapi ujian hidup dari Allah yang sekarang," ucap Alea kepada kedua orangtuanya, seolah kehidupannya bersama Gavin begitu mengerikan. "Kamu harus sabar menghadapi semua ujian yang harus kamu lalui, ya," ucap Bu Ani dengan berderai air mata. Tetap saja sulit baginya untuk melepaskan anak keduanya tersebut. Hatinya begitu lembut dan takut Alea kenapa-napa, tapi ia juga tak bisa menahan Alea di rumahnya. Kini, anak keduanya itu telah menjadi milik orang lain, menjadi istri dari seorang lelaki yang mereka pilih untuk menjadi suaminya. Gavin mengikuti hal yang sama, ia berpamitan dan menyalami tangan keluarga Alea. Setelah itu ia dan Alea masuk ke dalam mobil Seperti biasa Gavin menyetir mobil. Kemudian, mobil pun melaju membelah jalanan desa tersebut. Terlihat orang-orang yang berjalan untuk pergi bekerja di ladang mereka. Alea sengaja membuka kaca mobil di sebelahnya. Memperlihatkan kepada orang-orang yang kemarin bertanya kapan pulang ke Bandung. Dia juga ingin memperlihatkan kalau dirinya dijemput oleh suaminya dan tidak akan menjadi janda dalam waktu dekat. Gavin menjalankan mobil dengan kecepatan rendah, karena banyak orang juga yang berlalu lalang di jalanan desa tersebut. "Alea, mau pulang?!" teriak Bu Yuni seolah sok akrab dengan Alea. "Iya, Bu, pamit dulu ya," jawab Alea dengan suara sedikit keras dan ramah. Padahal biasanya ia paling malas berhubungan dengan Bu Yuni itu. Gavin terus melajukan mobilnya. Lagipula tak ada orang desa tersebut yang dikenalnya, kecuali Pak Asep dan istrinya. Sehingga tidak ada yang menyapanya sama sekali, berbeda dengan kepada Alea yang sudah beberapa kali ada orang yang menyapanya. "Waduh, ternyata pulang lagi ya," ujar salah seorang warga yang melihat Alea dalam mobil. "Iya Bu, pamit ya," ujar Alea lagi setiap ada orang yang menyapanya. Keluar dari jalanan desa, mereka memasuki ke jalanan yang lebih besar tapi masih berada di desa tersebut. "Kamu sepertinya senang sekali akan pulang ke Bandung," ungkap Gavin yang melihat Alea sejak tadi terlihat begitu sumringah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN