Modal Tani

1048 Kata
Gavin yang baru saja turun dari mobil, lalu berjalan menuju ke depan rumah. Arka yang melihat kedatangan Gavin langsung menghampirinya dan menyalaminya. Mereka terlihat begitu akrab. "Sehat, Bro?" tanya Arka kepada adik iparnya itu. "Sehat, gimana keluarga di sini?" tanya Gavin dengan sumringah. Ia tak menunjukkan sedang memiliki masalah apapun. "Alhamdulillah, di sini juga semuanya sehat,' jawab Arka yang lalu tersenyum. Mereka kemudian menuju ke pintu utama rumah. Arka langsung membukanya dan mempersilakan Gavin untuk masuk. Mereka lalu duduk di sofa yang ada di ruangan tengah tersebut. Alea telah pergi ke kamarnya saat tadi Gavin berjalan menuju ke pintu. Ia takut kalau sampai ketahuan mengintip. Bu Ani dan juga Pak Asep segera menghampiri Gavin yang baru saja tiba di rumah itu. Mereka bersalam-salaman, kemudian saling menanyakan kabar. "Alea ada, Bu?" tanya Gavin kepada ibu mertuanya tersebut. "Ada, di kamarnya, sebentar ibu panggilkan dulu ya," ucap Bu Ani sambil berlalu dari tempat duduknya. Sementara itu, Alina masih sibuk di dapur menyiapkan untuk makan malam keluarga mereka. Tadinya Alea juga membantu, tapi ketika Gavin datang kabur entah ke mana. Ia juga tak menyangka juga kalau Gavin datang hari itu. Padahal mereka hanya memasak masakan sederhana ala kampung. Beberapa saat kemudian, Bu Ani keluar dengan Alea. Mereka menuju ke sofa yang ditempati oleh keluarga lainnya. Alea menampakan wajah datar, seolah tak ingin bertemu Gavin. Padahal dalam hatinya berjingkrak-jingkrak karena ingin segera pergi dari rumah itu. Mereka lalu duduk di sofa yang sama. "Sebelumnya kami minta maaf karena Alea berani kabur dari rumah Abang," ucap Pak Asep membuka percakapan di antara mereka. "Tak apa, mungkin kemarin Alea memang sedang marah kepada saya. Tapi, semoga untuk kali ini ia mau ikut lagi ke Bandung bersama saya. Itupun jika Bapak dan Ibu," tutur Gavin menyahuti ucapan Pak Asep dengan tenang. "Lea, kamu sekarang sudah menjadi milik Bang Gavin, tanggung jawabnya, dan juga istrinya. Jadi Bapak lebih ridho jika kamu ikut lagi bersama suamimu daripada tinggal di sini, kecuali jika Gavin juga mengizinkan kamu tinggal di sini dan ditemani olehnya," tutur Pak Asep yang memberi keputusan terhadap Alea putrinya sendiri. "Kalau kalian memaksa, baiklah aku akan ikut kepada Gavin lagi," ujar Alea seolah dirinya dipaksa. Padahal tak ada yang memaksa sama sekali agar Alea ikut bersama Gavin. Hanya saja ia sendiri juga memang sudah tidak betah berada di rumah itu. Ingin kuliah juga, untung saja Gavin cepat tanggap sehingga ia tak perlu lama-lama di rumah tersebut. "Kalau gitu, besok pagi kita pulang ke Bandung," ucap Gavin sambil menatap lekat wajah istrinya itu. "Ba—baaiklah kalau begitu," pungkas Alea. Beberapa saat kemudian, terdengar azan magrib berkumandang dari masjid kecil yang tak jauh dari rumah Pak Asep. Pak Asep lalu mengajak anak dan menantu lelakinya untuk berjamaah di masjid. "Ayo, kita laksanakan salat di masjid biar para wanita di rumah saja," ajak Pak Asep dengan semringah kepada anak dan menantunya. Kesehatannya juga sudah jauh membaik dari sebelumnya. Bahkan sekarang ia sudah sanggup beraktivitas kembali di ladang seperti biasanya. Gavin dan Arka mengikuti menuju ke masjid kecil yang tidak jauh dari rumah mereka. Entah sudah berapa lama Gavin meninggalkan masjid dan tidak pernah menginjakkan kakinya di sana. Rasanya baru kali ini ia salat berjamaah lagi di masjid. Selesai salat berjamaah, Pak Asep mendekati Gavin. "Bapak tahu, kalau Alea itu memiliki watak yang keras. Tapi, tolong bimbing dia dengan agama. Bapak percaya kamu pasti bisa membimbing anak bapak menjadi lebih baik lagi," tutur Pak Asep memberi nasehat kepada Gavin yang memang sekarang menjadi kepala rumah tangga untuk Alea. "Insya Allah, Pak," jawab Gavin singkat. Pesan tersebut begitu mengena di hati Gavin. Apalagi permintaan Pak Asep yang ingin anaknya dijaga dengan agama. Padahal dirinya sendiri telah lama meninggalkan hal itu. Tapi, demi menjalankan perintah itu, ia ingin mencoba sedikit demi sedikit menapaki dan mempelajari jalan agama. Kemudian mereka pun pulang ke rumah dengan berjalan kaki. Di rumah makanan telah siap untuk makan malam. Tiga wanita pun telah ada di sana, menunggu para pria datang dari masjid. Bu Ani, Alea, dan Alina telah selesai menyiapkan semuanya saat terdengar Pak Asep memasuki rumah dengan diikuti oleh Gavin dan Arka. Bu Ani pun langsung memanggilnya. "Pak, kita makan malam dulu sekarang, yuk," ajak Bu Ani kepada keluarganya tersebut. Mereka langsung berkumpul di ruang makan. Sudah ada nasi dengan lauk sederhana di sana. Antara lain kangkung, tempe, dan juga sambal untuk makan malam hari itu. "Nak Gavin, maaf ya makanannya seadanya. Ibu juga tidak tahu kalau Nak Gavin akan datang ke sini, jadi seadanya saja tadi masak untuk keluarga," ujar Bu Ani yang merasa tidak enak kepada menantunya tersebut. "Tidak apa-apa, Bu. Ini juga sudah lebih dari cukup," sahut Gavin. Mereka kemudian menikmati makan malam tersebut. Meskipun dengan lauk seadanya, tapi terasa nikmat dengan kebersamaan yang disuguhkan dalam rumah tersebut. Alina terus saja mencuri-curi pandang terhadap Gavin. Ia begitu mengagumi ketampanan kakak iparnya tersebut, ditambah lagi Gavin begitu kaya raya. 'Seandainya aku ada di posisi Kak Alea, pasti akan bahagia memiliki suami yang baik dan pengertian plus kaya raya seperti Bang Gavin,' gumam Alina dalam hati. Tentu saja ia tak berani mengungkapkan isi hatinya tersebut. Ia penasaran juga dengan siapa jodohnya nanti, semoga tidak kalah dengan Gavin. Selesai makan malam, seperti biasa Bu Ani dan Alina telah memiliki pekerjaan sampingan untuk menambah pundi-pundi rupiah mereka. "Masih bikin yang gini, Bu?" tanya Gavin basa-basi. Ia masih duduk di sofa tersebut, berada tak jauh di samping ibu mertuanya tersebut. "Ya ... beginilah Bang. Tambah-tambah aja lumayan buat modal tani. Uang yang kemarin Alhamdulillah bisa nutupin semua hutang-hutang Ibu, makasih banyak ya," jawab Bu Ani dengan sumringah. Baginya berat menjalani hidup bukanlah apa-apa. Tapi, jika dibarengi dengan hutang itu baru sangat menyusahkan. "Memangnya untuk modal tani butuh berapa, Bu?" tanya Gavin penasaran, karena dirinya memang tidak bergelut di dunia pertanian seperti yang dilakukan oleh keluarga Alea. "Lumayanlah, kalau sebatas tanah ibu aja paling lima belas juta buat tiga bulan. Habis itu panen, syukur-syukur kalau lagi mahal harganya," jawab Bu Ani menjelaskan modal bertani di kampung tersebut. Memang modalnya cukup besar, tapi hasilnya juga cukup besar. Jika kebetulan harganya sedang mahal, tapi jika harganya sedang murah maka balik modal saja untung. Paling menyulitkan adalah ketika untung tidak ada, modal juga habis. "Wah, lumayan juga ya ternyata modal tani," ucap Gavin. Ia tak menyangka kalau orang-orang desa tersebut harus menyediakan uang modal sebesar itu untuk bisa bercocok tanam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN