"Kenapa? Memangnya istrimu kabur karena masalah apa?" tanya Pak Darma penasaran.
Ia telah lama menjadi komisaris di keluarga ibunya Gavin. Sehingga sudah tahu dengan semua keluarga Gavin. Meskipun baru akrab dengan Gavin beberapa waktu lalu, ketika ia tahu kalau aset-aset milik kliennya dijual oleh istri muda Galih.
"Kami menikah hanya sebatas untuk mendapat warisan. Jadi, tidak ada cinta di antara kami. Makanya aku tidak percaya dengan ucapan orang yang bilang kalau menyakiti hati istri akan membuat hidup berantakan," jawab Gavin sambil menatap Pak Darma dengan lekat.
Ia sudah tak punya tempat bersandar lagi. Bahkan Gavin sudah sangat jarang bicara, jika bukan soal pekerjaan. Seakan tak ada basa-basi lagi dalam hidupnya.
"Oh begitu ya, cinta itu akan hadir seiring berjalannya waktu. Tinggal pasangannya punya komitmen untuk tetap bersama. Lagipula tak boleh mempermainkan yang namanya ikatan pernikahan," ujar Pak Darma dengan entengnya. Soolah dia adalah seorang guru cinta yang punya solusi bagi semua masalah percintaan.
Pak Darma melihat jam yang melingkar di tangannya. "Aku harus pergi dulu," pamitnya sambil melenggang pergi dari ruangan Gavin.
Padahal ia adalah komisaris, tapi yang tadi diobrolkannya tidak ada sama sekali bersangkutan dengan berkas-berkas aset dan kenotarisan. Aneh memang.
Gavin kembali menatap pekerjaannya yang sudah di depan mata. Tinggal beberapa berkas lagi untuk ditandatangani, setelah diperiksa hari ini. Kemudian, waktunya bebas. Meeting juga sudah selesai.
'Apa aku jemput Alea saja ya?' gumam Gavin dalam hati. Ia jadi bimbang mengingat kata-kata Lusi dan juga Pak Darma soal istri.
Gavin pun melanjutkan pekerjaannya, lalu setelah itu ia akan pikirkan lagi akan menjemput Alea atau tidak ke rumahnya. Meskipun ia sendiri merasa sepi tanpa kehadiran gadis menyebalkan itu di sisinya, tapi rasanya gengsi juga jika harus mengalah.
Satu jam berlalu, semua pekerjaan Gavin telah selesai lebih awal. Tinggal memikirkan apakah ia akan menjemput Alea atau tidak.
"Jemput, jangan, jemput, jangan," ucap Gavin pelan sambil menghitung jarinya. Seperti anak kecil yang sedang menghitung kancing ketika mencari jawaban soal ujian.
"Jemput. Apa harus dijemput aja ya?" Gavin ragu dengan keputusannya. Ia juga malas untuk bertemu dengan keluarga Alea yang pasti akan banyak bertanya. Ia juga malas jika sampai dihakimi oleh keluarganya telah menyakiti Alea.
Di sisi lain, jika dibiarkan Alea terus berada di sana, lalu siapa yang akan membantunya mengambil warisan di sini. Ia masih punya banyak tugas yang mesti diselesaikan dalam waktu dekat ini, sebelum ibu tirinya pulang. Sebenarnya Gavin juga tidak tahu kapan kepulangan Herni ke kota itu. Tapi, dia harus jaga-jaga karena bisa saja Herni datang tiba-tiba dan pekerjaannya belum beres.
Akhirnya Gavin memutuskan untuk menjemput Alea di kampungnya. Ia segera menuju ke mobilnya dan melajukannya menuju ke desa Cikajang di daerah Garut.
Kadang jika dipikir-pikir rasanya lucu juga, dirinya bisa sampai melakukan akad nikah dengan wanita desa seperti Alea. Meskipun tanpa adanya cinta di antara mereka, tapi setidaknya ikatan itu adalah ikatan yang suci. Gavin tak ingin menodainya ataupun mempermainkannya.
Mobil terus melaju membelah jalanan yang belum terlihat macet, karena memang belum masuk waktu makan siang. Gavin pun mempercepat laju mobilnya agar bisa segera sampai di tempat tujuan.
***
Sementara itu di rumahnya, Alea yang sudah mulai tenang sudah mau melakukan aktivitas seperti biasanya. Tidak hanya mengurung diri di kamar.
"Lea, ibu titip uang ini ke Pak Udin ya. Ini bayaran dia kemarin kerja di Ibu." Bu Ani menyodorkan beberapa lembar uang merah kepada Alea sebelum pergi ke ladang.
Uang itu untuk diberikan kepada salah satu pegawainya yang kemarin membantu untuk mencangkul tanahnya yang sedang kosong.
Pak Asep sudah tidak mampu melakukan pekerjaan itu. Sehingga mereka membayar orang yang biasa melakukannya dan disebut kerja borongan.
"Baik, Bu," ucap Alea singkat, ia sedang sibuk menyapu rumah.
Tinggal di rumah orang tuanya dan tidak memiliki pekerjaan membuat Alea malu sendiri. Sehingga ia mau mengerjakan semua pekerjaan rumah, apalagi ia sadar ikut makan dan numpang di sana. Ternyata tinggal di rumah orang tua sendiri meskipun sudah menikah rasanya berbeda dengan ketika belum menikah.
'Andai Gavin jemput, aku mending pulang aja deh. Kuliah lagi, rasanya enggak betah ada di sini,' gumam Alea dalam hati sambil meneruskan pekerjaannya yang sedang menyapu lantai.
Padahal di rumah Gavin ia tidak pernah melakukan apapun. Tugasnya hanya belajar dan kuliah, sudah ada asisten rumah tangga yang menghandle semua pekerjaan rumah.
Dari pagi sampai siang Alea hanya akan sendiri di rumah dengan kebosanan yang luar biasa. Sementara keluarganya yang lain memiliki kesibukan masing-masing. Orang tuanya pergi ke ladang, Alina sekolah, dan Arka sibuk dengan motor rusak di bengkel.
Sudah tak terhitung tetangga maupun saudara yang menanyakan kenapa Alea berada di sana dan kapan akan kembali ke Bandung. Mereka tahunya Alea masih kuliah dan harus menemani suaminya di sana.
Kedua rang tuanya sudah pergi ke ladang, Alea melihat halaman rumah yang begitu kotor. Akhirnya, ia berinisiatif untuk membersihkannya saat itu juga.
Alea segera mengambil sapu lidi dan bergegas membersihkan halaman. Baru saja beberapa menit ia membersihkan halaman, terdengar suara seseorang memanggilnya.
"Lea! Kok, belum balik lagi ke Bandung sih? Suamimu gimana? Jadi istri harus nurut sama suami, bukannya kamu juga kuliah atau udah berhenti ya?" cerocos Bu Yuni yang merupakan salah satu saudara dari ibunya.
"Belum aja, Bu. Masih kangen sama orang tua sendiri emangnya nggak boleh!" ujar Alea dengan ketus tanpa menoleh kepada wanita paruh baya tersebut.
Ia meneruskan aktivitas menyapunya. Hingga selesai setengahnya ia tak memedulikan lagi ocehan Bu Yuni yang merepet tiada henti.
"Ngapain sih, Bu Yuni? Pagi-pagi udah bikin rumah orang rusuh aja," tanya Mang Udin yang hendak pergi ke ladang orang.
"Apa sih, Din. Saya lagi nasehati si Alea loh, ini," jawab Bu Yuni tanpa merasa bersalah.
"Eh, Mang Udin, ini dari ibu bayaran yang kemaren borongan." Alea menyodorkan lembaran merah yang tadi diterimanya dari ibunya.
"Waduh, Alhamdulillah ... lancar nih ternyata bayarannya. Terima kasih banyak ya, Neng," ucap Mang Udin dengan begitu sumringah.
"Sama-sama, Mang. Makanya jangan suka gosip ya Mang, tar rezekinya ketutup.
"Heh, kamu nyindir saya!" teriak Bu Yuni yang tak terima jika itu sindiran untuknya.
"Enggak kok, kepedean banget," jawab Alea santai.
Kesal dengan tingkah Alea yang menurutnya menyebalkan, Bu Yuni pun pergi dari sana menuju ke rumahnya.
"Baru jadi orang Bandung sebentar aja udah sombong, si Lea!" gerutu Bu Yuni sambil melenggang pergi dengan tergesa.
Alea hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah orang yang tadi di hadapannya itu. Ia tak ingin menanggapi semua pertanyaan warga soal itu, namun dirinya juga memiliki hati yang lama-lama merasa bosan dan lelah jika terus diperlakukan seperti itu.
Selesai menyapu, Alea kemudian masuk ke dalam rumah. Selama berada di rumah orang tuanya ia bahkan tidak pernah ke warung sama sekali. Lebih baik menyuruh Alina untuk pergi ke warung daripada harus dia sendiri yang berangkat.
Alea lalu membersihkan dirinya, setelah selesai semua pekerjaan rumah. Padahal dulu ia paling anti mengerjakan pekerjaan rumah, tapi entah mengapa setelah menikah ketika tinggal di rumah ibunya ia merasa malu jika tidak melakukan pekerjaan rumah tersebut.
Padahal ibunya masih sama, tidak pernah menyuruh anak-anaknya untuk melakukan pekerjaan rumah. Paling dia minta tolong sekali kepada Alina.
Selesai membersihkan diri, Alea kemudian menuju kamarnya. Tak ada lagi yang mesti dikerjakan, ia lalu mengambil ponsel yang sejak pagi harus menganggur.
Ia juga tidak terlalu sering ngobrol dengan Arka. Mereka tidak begitu akrab, apalagi Arka yang saat itu kesal dengan sifat Alea yang keras kepala. Bahkan sampai kabur dari rumah suaminya.
Sore hari, semua keluarganya sudah berkumpul di rumah. Menjadi waktu senggang bagi mereka untuk sekedar melepas lelah, meskipun sambil mengerjakan sesuatu. Alina dan ibunya sibuk masak, Alea juga ikut membantu sambil melihat cara ibunya memasak dan menyajikan makanan.
"Kamu itu mestinya bisa masak, Lea, biar suami bisa dimasakin makanan kesukaannya sama kamu," ujar Bu Ani memberi nasehat kepada putrinya itu.
"Ngapain juga aku bisa masak, Bu, lagian kan di sana ada asisten rumah tangga yang bisa masakin Gavin tiap hari makanan kesukaannya," sahut Alea yang memang tidak ingin belajar memasak.
"Ya bedalah, antara masakan istri dan asisten rumah tangga. Setidaknya kalau kamu bisa masak, suami kamu bakalan makin cinta sama kamu," ujar Bu Ani kembali memberi nasihat kepada Alea.
Meskipun dalam hati ia harap-harap cemas dengan pernikahan Alea. Dia benar-benar takut kalau Alea menjadi janda di usia yang masih muda seperti itu.
Alea hanya terdiam. Dalam pikirannya pernikahan ini hanya sebatas kawin Kontrak, nanti jika semua urusannya selesai, maka dia juga akan selesai dengan Gavin.
Tiba-tiba terdengar deru mobil di halaman saat Alea asik melamun. Ia segera bangkit, penasaran dengan siapa yang datang. Ternyata benar dugaannya yang datang adalah mobil suaminya.
Alea tersenyum kembali, ia ingin segera kuliah dan ke rumah Gavin lagi. Tanpa harus merengek terlebih dahulu agar Gavin menjemputnya.
'Lelaki itu memang bisa diandalkan,' gumam Alea dalam hati. Matanya masih memerhatikan Gavin yang baru saja turun dari mobil.