Gavin lari tunggang langgang menuju mobilnya. Kemudian, langsung melajukannya menuju ke arah kantor.
Parahnya, jalanan begitu macet hari itu. Sehingga membuat Gavin semakin lama menuju ke kantor. Padahal hari itu ada meeting penting di kantornya bersama klien yang loyal pada perusahaannya.
"Kenapa bisa macet total gini, sih," gerutu Gavin yang hanya bisa menggerutu di dalam mobilnya.
Padahal semalam Gavin telah menyiapkan semua materi untuk rapat hari itu dengan baik dan apik. Tapi, ternyata ia telat karena keteledorannya sendiri. Lupa memasang alarm dan telat bangun.
Padahal hari itu ia tidak perlu mengantar Alea ke kampus. Seharusnya waktunya jadi bisa lebih efisien untuk lebih cepat sampai ke kantor. Tapi, kenyataannya tidak begitu. Hanya dengan telat bangun membuat semuanya jadi berantakan.
Ponselnya berdering kencang. Ia melihat layarnya untuk tahu siapa yang menelponnya. Ternyata Lusi yang merupakan asistennya yang menelepon.
Ia langsung mengangkat panggilan tersebut.
"Halo, ada apa?" tanya Gavin dengan cepat setelah panggilan terhubung.
"Kamu masih di mana? Ini rapat udah mau mulai!" Lusi balik bertanya dengan nada sedikit membentak. Ia kesal pada Gavin yang sampai rapat penting mau mulai belum juga datang. Padahal rapat itu menentukan perkembangan bisnis mereka ke depannya.
"Iya, iya bentar. Ini kena macet di jalan," jawab Gavin dengan nada suara kesal yang jelas. Ia lalu mematikan telepon tersebut secara sepihak.
"Ah, kenapa hari ini begitu kacau!" gerutu Gavin saking kesalnya.
Setelah berkutat dengan kemacetan, ia pun akhirnya bisa melaju dengan lancar untuk sampai di kantornya.
Suasana kantor sudah sepi, karena memang sudah lewat jam masuk kerja. Ia langsung menuju ke ruangan meeting dimana rapat berlangsung.
Saat masuk, terlihat wajah masam dari Pak Alex yang merupakan kliennya hari itu. Tidak seperti biasanya yang selalu menyambut Gavin dengan sumringah.
"Pak Gavin, ini sudah hampir setengah jam berlalu dan anda baru tiba di kantor ini. Padahal Anda sendiri yang membuat janji jam segini," ucap Pak Alex dengan nada suara datar yang tak mengenakkan.
"Maafkan saya, Pak, tadi saya terjebak macet," ucap Gavin dengan sedikit gugup.
"Masalahnya satu jam lagi saya memiliki janji dengan perusahaan lain untuk meeting hari ini. Jadi, saya minta Anda menjabarkan untuk poin-poin pentingnya saja. Kalau masih tidak bisa, mungkin kami akan mencari perusahaan lain yang lebih profesional dalam bekerja," tutur Pak Alex yang mengancam dengan suara datar dan pelan. Tapi, bagaikan sambaran petir di telinga Gavin yang mendengarnya.
Padahal ia bukan orang baru di dunia bisnis tersebut. Banyak yang sudah percaya padanya, tapi entah mengapa tiba-tiba kekacauan hari itu terjadi saat memiliki agenda rapat dengan klien penting. Seandainya sedang hari biasa mungkin tidak akan begitu masalah.
Lusi hanya terduduk di kursinya sambil menunduk. Ia juga tak tahu harus berbuat apa. Sejak tadi ia terus saja menyabarkan kliennya tersebut untuk menunggu Gavin.
Rupanya Gavin baru datang setelah setengah jam menunggu dari waktu ketentuan perjanjian bertemu.
"Baiklah, kalau begitu saya akan menjabarkan poin-poin pentingnya agar Bapak bisa melanjutkan aktivitas hari ini," ujar Gavin memulai meeting hari itu.
Ia kemudian menjelaskan poin-poin yang akan diusung dalam bisnis proyeknya kali ini.
"Sebenarnya poin-poin yang kamu jabarkan ini sangat bagus. Saya akui, hanya saja jujur saya tidak suka dengan keterlambatanmu dan benar-benar menjadi nilai minus yang sangat fatal," tutur Pak Alex setelah Gavin menjelaskan usulannya.
Jantung Gavin dan juga Lusi berdebar lebih kencang dari biasanya. Mereka takut kalau perusahaan tersebut membatalkan kerjasama dengan perusahaan mereka.
"Saya beri kamu satu kesempatan lagi saat ini, tapi jika saya kembali kecewa dengan keterlambatan kamu, semuanya akan saya tarik dari sini," ucap Pak Alex mengakhiri pembicaraannya.
"Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk bisa menjaga kepercayaan dari Bapak. Sebelumnya terima kasih karena memberi saya kesempatan kedua," pungkas Gavin menutup obrolan hari itu.
"Baiklah, kalau begitu sesuai dengan yang tadi saya bicarakan saya mesti lanjut untuk ke tempat lainnya," ujar Pak Alex sambil berdiri dari kursinya.
Ia lalu menyalami Gavin dan Lusi, kemudian melenggang pergi disusul oleh sekretarisnya juga.
Lusi menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Lega sekali rasanya setelah meeting tadi selesai, seakan ujian paling berat di sekolah.
"Dari mana aja, sih tadi?!" tanya Lucy dengan kesal.
"Tadi itu aku bangun kesiangan, terus kena macet. Sampai cuma sarapan roti di mobil coba," ucap Gavin.
Ia masih tak habis pikir, kenapa dirinya bisa kesiangan dan mengalami hari yang s**l itu.
"Kamu kan udah nikah ya, banyak nyakitin hati istri kali," tuduh Lusi dengan seenaknya.
"Apaan sih? Enggak ada hubungannya juga kali," sahut Gavin yang tidak setuju dengan ungkapan Lusi. Apalagi pernikahan yang dijalaninya hanyalah pernikahan untuk mendapatkan warisan. Sama sekali tak ada cinta di antara dirinya dan juga Alea.
"Sudahlah, aku mau ke ruangan dulu ya," pamit Lusi sambil bangkit dari duduknya dan melenggang pergi ke ruangannya yang masih berada di lantai empat.
Gavin pun juga menuju ruangannya yang ada di lantai empat tersebut. Ia memasuki ruangannya dan mendudukkan bobotnya di kursi kerja yang biasa ditempatinya sehari-hari. Ia mengingat-ingat apa yang terjadi beberapa hari kemarin.
Ia jadi kepikiran dengan omongan Lusi yang mengatakan bisa jadi karena terlalu banyak menyakiti hati istri. Memangnya pepatah itu berlaku juga untuk pernikahan yang seperti dirinya. Pernikahan tanpa cinta yang disebabkan untuk merebut harta warisan.
Tiba-tiba pintu ruangannya diketuk dari luar, Gavin mengenali suaranya. Sepertinya Pak Darma, padahal hari kemarin dia baru saja ke kantor Gavin.
"Masuk!" ucap Gavin dari dalam dengan setengah berteriak.
Pak Darma pun masuk ke dalam ruangan Gavin.
"Bagaimana sudah dijemput istrimu?" tanya Pak Darma tanpa basa-basi terlebih dahulu.
"Belum, Pak, ini saya masih sibuk dengan kerjaan. Tadi ada meeting penting, hampir saja terlambat," ungkap Gavin sambil sedikit bercerita tentang hari kacaunya yang tadi dilalui.
Pak Darma tertawa pelan. Ia mentertawakan Gavin yang menurutnya lucu.
"Kamu tahu apa yang kurang dalam hidupmu?" tanya Pak Darma memastikan.
Gavin menggelengkan kepalanya, ia tak mengerti dengan alur pembicaraan orang tua di hadapannya. Menurutnya Pak Darma termasuk orang tua nyentrik di usianya yang sudah memasuki setengah abad lebih. Ia masih bisa diandalkan untuk soal pekerjaan mengurus berkas-berkas sebagai notaris.
"Apa?" tanya Gavin yang tidak mengerti sekaligus penasaran.
"Tentu saja menyayangi istrimu, kalian itu disatukan dengan ikatan pernikahan. Jadi, tidak bisa begitu saja langsung bubar," ujar Pak Darma dengan sangat yakin.
Ia teringat ucapan Lusi tadi.
Gavin jadi curiga, jangan-jangan Pak darma tahu persoalan tentang rumah tangganya dari Lusi. Tapi, jika dipikir lagi mana mungkin. Lagipula Lusi juga tidak tahu kalau istrinya sedang kabur saat itu.
"Sudahlah tak perlu pikirkan, aku tahu dari mana. Aku juga berumah tangga dan sudah makan asam garam kehidupan rumah tangga. Jadi, menurut saja dengan apa yang kuucapkan," ucap Pak Darma seolah tahu dengan jalan pikiran Gavin.
"Aku hanya ingin bertanya jadi kapan kau akan menjemput istrimu?" tanya Pak Darma lagi dengan wajah serius, seolah Alea begitu penting baginya.
"Entahlah, mungkin hari ini atau lusa," jawab Gavin dengan malas.
Ia sendiri belum mau menjemput Alea dari rumahnya. Lagipula rasanya malu bertemu dengan keluarga Alea dan pastinya ditanyain banyak hal tentang kaburnya Alea.
"Sebenarnya aku malas menjemputnya," ujar Gavin yang akhirnya jujur kepada komisarisnya itu tentang dirinya.
Siapa tahu Pak Darma yang kadang menyebalkan itu, bisa membantunya.