"Kakak ngomong apa sih, kok makin kelewatan. Mana mungkin lah ibu sama bapak enggak peduli dengan kakak," ujar Alea dengan nada suara yang sedikit keras. Meskipun tidak sampai berteriak, tapi cukup menandakan kalau dirinya yang pendiam itu marah.
Alea sebenarnya bukan tipe anak yang ingin bermusuhan dengan saudara sendiri. Ia akhirnya terdiam dan kembali meringkuk walaupun sebenarnya perutnya juga mulai melilit karena kelaparan. Bukan dari siang tidak makan, melainkan dari pagi sejak berangkat dari rumah.
"Ayolah, Kak, tinggal makan apa susahnya sih," ajak Alina dengan suara yang kembali pelan.
Alea yang memang merasa lapar akhirnya mengiyakan keinginan adiknya. Ia pun mengikuti langkah Alina menuju ke dapur, di sana orangtua dan kakak pertamanya tengah berkumpul untuk makan malam.
"Ayo, makan dulu, Nak ibu sudah buatkan sambal kesukaan kamu," ucap Bu Ani dengan senyum tersungging di bibirnya. Seolah tidak ada masalah apa-apa yang mendera keluarga mereka. Ia menuruti ucapan Alina untuk membiarkan Alea tenang dulu di rumah itu.
Alea dan Alina duduk di sisi karpet yang kosong. Tanpa banyak bicara, mereka pun mulai makan malam setelah berdoa terlebih dahulu.
Tak banyak menu yang disajikan di rumah itu. Masih seperti biasanya, hanya ada kangkung yang didapat dari ladang, tempe goreng dari warung, dan juga sambal yang cabainya juga dari ladang. Tapi, dengan suasana kebersamaan terasa begitu nikmat.
Alea juga makan dengan lahap, seperti orang yang tidak diberi makan satu minggu. Padahal di rumah Gavin ia selalu diberi makanan enak dan mewah. Tapi, entah mengapa rasanya biasa saja. Sementara di rumahnya sendiri, hanya makan dengan makanan sederhana tapi rasanya sungguh luar biasa nikmat.
Selesai makan malam seperti biasa masih ada pekerjaan yang menanti untuk keluarga itu, yaitu membuat complong , alias daun yang di bulat-bulatkan untuk benih tanaman nantinya.
"Alea ikut duduk di sini yuk," ajak Bu Ani kepada putrinya itu ketika terlihat Alea sudah akan berjalan ke kamarnya.
Merasa tak enak dengan sikap ibunya yang kembali baik, Alea pun menurut. Ia duduk agak jauh dari ibunya, sedangkan Alina berada tepat di sebelah Bu Ani. Mereka dengan serius membuat complong yang dipesan para juragan.
"Kita mesti buat beberapa ini, Bu?" tanya Alina, karena pesanan baru masuk tadi siang.
"Pesanan haji Adin dulu, tiga ribu complong," jawab Bu Ani yang memang sudah spesialis membuat complong di kampung tersebut. Sehingga banyak yang memesan kepadanya.
Tidak besar upah yang ia dapatkan dari bekerja seperti itu, dari satu complong ia dapat seratus rupiah. Jumlah tiga ribu complong itu bisa dikerjakan selama enam hari. Jadi, total satu hari mereka bisa mengerjakan lima ratus butir complong.
"Alea gimana kuliah kamu, Nak? Apa benar-benar diteruskan?" tanya Bu Ani penasaran, karena kuliah adalah salah satu hal yang paling dibanggakan oleh Alea.
"Diteruskan, kok," jawab Alea pelan. Seolah malas untuk bicara dengan ibunya sendiri.
Padahal bukan itu yang sedang ia rasakan, tapi kebimbangan dalam hatinya. Ia tak betah berada di rumah Gavin, tapi entah mengapa di rumah ibunya sendiri juga sekarang terasa berbeda.
Belum lagi soal kuliah yang ia tinggalkan begitu saja. Padahal baru kemarin masuk lagi.
"Lalu—"
Tiba-tiba Alina menyikut tangan ibunya. Ia mengingatkan untuk jangan dulu membahas masalah yang sedang dialami oleh Alea. Karena pasti akan membuatnya tak nyaman dan bisa jadi kabur dari rumah mereka juga entah ke mana.
"Lalu apa, Bu?" tanya Alea penasaran karena ibunya tak melanjutkan ucapannya.
"Enggak apa-apa. Ibu juga lupa mau ngomong apa," jawab Bu Ani yang bingung hendak bicara apa lagi.
Pukul setengah sepuluh malam, mereka telah usai menyelesaikan sebagian dari pesanan complong tersebut.
"Sudah malam, kita tidur saja dulu yuk," ajak Bu Ani kepada anak-anaknya dan juga suaminya.
Biasanya Arka tidur paling terakhir, ia masih sibuk mengoprek motor yang dititipkan kepadanya. Kali ini bengkelnya sudah cukup ramai, meskipun tidak banyak. Tapi, ada satu atau dua orang yang memperbaiki motornya di bengkel.
Bahkan sebagian dari mereka adalah anak-anak racing yang ingin merubah spek motor menjadi motor balap. Agar punya tenaga lebih dan juga suara berisik. Banyak juga motor para tukang ojek yang ada di daerah tersebut, biasanya di daerah perkebunan desa seperti itu motor-motor tukang ojek akan diubah menjadi lebih kuat tenaganya. Agar bisa mengangkut banyak barang ketika mengojek barang. Biasanya yang diangkut antara lain adalah pupuk atau hasil panen.
Alina dan Alea masuk ke kamarnya, begitupun dengan Bu Ani dan suaminya. Sementara Arka masih sibuk dalam bengkelnya yang sudah tutup.
Alea langsung meringkuk di sisi tempat tidur dinding bambu tersebut dan Alina di sebelahnya. Kasur itu tidak begitu besar, hanya saja buat untuk berdua.
"Kakak enggak mau cerita sama aku gitu?" tanya Alina tanpa menyinggung soal masalah Alea.
"Apa yang mau diceritain," ucap Alea dengan datar. Ia rasa tak ada yang bisa mengerti dirinya saat ini, karena memang begitu kenyataannya.
Ia merasa terjebak dengan takdir atau dijebak oleh keluarganya sendiri.
***
Sementara itu di kota, malam juga semakin larut. Gavin belum juga mengantuk, ia masih sibuk dengan pekerjaannya di hadapan gawai, entah sampai kapan. Tak ada lagi yang ribut untuk tidur duluan atau kelaparan karena ingin makan malam.
Gavin sesekali melirik ke arah samping, biasanya Alea duduk di sana. Ia merasa belum mencintai istrinya itu, tetapi beberapa hari bersamanya memberi warna tersendiri dalam hidup Gavin.
Sebenarnya ia pasrah kalau seandainya Alea tidak ingin kembali lagi ke rumahnya. Tapi, Pak Darma mendesak agar ia segera membawa Alea kembali dan menjelaskan semua tugasnya.
Gavin sebenarnya belum ingin menjelaskan semua tugas kepada Alea. Ia merasa dengan menikahinya saja seolah sudah menjebak Alea dalam kehidupan yang tidak dimengertinya.
Ia juga bingung karena ibu tirinya entah kapan akan pulang. Ia tidak mendapat kabar dari siapapun, untuk bertanya kepada ibu tirinya rasanya ia tidak ingin.
'Kapan kiranya si Heni akan pulang,' gumam Gavin dalam hati. Ia jadi serba salah dalam posisi itu.
Dalam pikirannya terus saja bergantian tentang istrinya yang kabur dan juga ibu tirinya yang tak kunjung pulang dari liburan. Saking banyaknya uang yang ia terima dari hasil menikahi Gilang yang merupakan ayah Gavin.
'Kenapa lelaki itu mudah mencintai, meskipun mama telah meninggal. Apa tidak ada sedikit saja rasa yang tertinggal dari hati papa untuk mama?' gumam Gavin dalam hati. Sampai saat itu, ia belum bisa menerima kalau ayahnya menikah lagi di saat ibunya baru meninggal dua minggu. Makamnya pun masih basah, tapi Galih telah mengadakan akad nikah keduanya.
Sayangnya ibu tirinya juga sangat menyebalkan, bagaikan langit dan bumi dengan ibu kandungnya.
'Apa besok aku jemput Alea saja ya?' gumam Gavin dalam hati. Berbagai pertanyaan muncul dalam hatinya, banyak jawaban yang tak bisa ia berikan.
Untuk Alea, karena ia sendiri malas untuk mencari gadis lain menjadi istrinya. Apalagi Alea adalah gadis yang istimewa di mata ayahnya.
Tengah malam telah lewat, Gavin memutuskan untuk tertidur malam itu. Ia tidur di kasurnya yang kemarin-kemarin biasa ditempati oleh Alea. Ada wangi shampo aroma buah khas perempuan menempel di sana. Entah mengapa ia jadi terbayang sosok Alea, ia sebenarnya cantik hanya saja sedikit tomboy dan tingkahnya juga menyebalkan.
Mengingat tingkah Alea yanb menyebalkan, ia tiba-tiba teringat Alina yang sifatnya sungguh penurut dan juga manis.
Semua bayangan itu menjadi slide dipikiran Gavin. Seolah video yang sengaja di tayangkan di otaknya.
'Ah, sudahlah lebih baik aku segera tidur!' gumam Gavin dalam hati.
Sementara itu, makanan di meja makan masih tetap utuh. Tidak ada yang menyuruh untuk makan malam atau ribut kelaparan karena belum makan malam. Karena memang biasanya Gavin minta untuk tidak perlu diingatkan soal makan, ia sudah malas untuk makan teratur, tidak ada gunanya juga baginya.
Pagi hari, Gavin bangun kesiangan. Biasanya ada Alea yang sudah ribut ke kamar mandi dan bersiap untuk kuliah. Hari ini tidurnya begitu nyenyak, sampai-sampai bangun kesiangan.
'Ternyata susah ya, kalau tidak ada orang yang membangunkan,' gerutu Gavin dalam hati, sambil bersiap untuk pergi ke kantor dengan cepat cepat.
Ia berjalan menuju ke ruang makan dengan tergesa. Seolah sedang diburu oleh waktu.
Ia hanya mengambil dua lembar roti dan mengolesnya dengan selai cokelat, tanpa duduk di kursi makan terlebih dahulu.
"Den, makan dulu," titah Bi Ijah kepada Gavin.
"Sudah kesiangan, Bi," ujar Gavin sambil menyuapkan rotinya ke mulut dan berjalan keluar. Entah mengapa hari ini terasa begitu kacau baginya.