Alea hanya berdiam diri di kamarnya, rasa lapar yang tadi mendera perut mendadak hilang. Ia juga tak tahu harus ke mana lagi setelah itu. Rumah orang tuanya sudah tidak nyaman baginya. Begitupun dengan rumah suaminya, ia tidak betah berada di sana.
Sementara itu di dapur, Bu Ani begitu panik dengan keadaan tersebut.
"Bagaimana ini Pak, Arka?" tanya Bu Ani kepada suami dan anak sulungnya.
Ia takut terjadi hal-hal yang buruk kepada putrinya itu. Sampai bisa kabur dari rumah suaminya. Sebagai seorang ibu ia tetap tak rela anaknya disakiti.
"Sudahlah Bu, kita kan tahu sifat Nishfa gimana. Palingan ada masalah sedikit, dia kabur," ujar Arka dengan santainya.
Memang mereka telah mengenal Alea sejak kecil, sehingga tahu wataknya dari dulu. Mereka bisa menilai sebenarnya siapa yang salah dalam permasalahan Alea.
Arka kemudian makan siang, ikut dengan ibu dan ayahnya. Selesai makan siang, ia kembali ke bengkel. Sementara Bu Ani dan Pak Asep keluar rumah untuk membuat tali bambu yang akan digunakan di ladang.
Sedang asik membuat tali dari bambu, tiba-tiba Alina yang baru pulang sekolah tiba di rumah lewat pintu belakang. Ia lebih senang melewati jalan ladang daripada jalan besar, jika melewati jalan besar maka akan semakin jauh untuk sampai ke sekolahnya. Apalagi dirinya ke sekolah dengan berjalan kaki.
Ia duduk di bangku panjang yang ada di belakang rumah terlebih dahulu. Melepaskan lelah karena seharian belajar di sekolah. Otak dan tubuhnya terasa gerah. Mandi dengan air dingin khas pegunungan seperti di rumahnya pasti akan sangat menyejukkan.
Penasaran melihat ibunya yang murung sejak kedatangannya. Ia pun bertanya.
"Ibu kenapa?" tanya Alina sambil menatap lekat ibunya. Meminta jawaban dari wanita yang telah melahirkannya itu.
Tak biasanya ibunya bersikap seperti itu, jika bukan karena masalah besar. Memang Bu Ani pandai menyembunyikan perasaan jika yang dihadapinya hanyalah masalah kecil. Sehingga ia pun menyembunyikan soal utang dari anak-anaknya, walaupun akhirnya semuanya terbongkar dan menjadi awal mula Alea menikah dengan Gavin.
Bu Ani menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Begitu berat mengatakannya kepada Alina, karena memang ia merasa kalau itu adalah masalah besar.
"Kakakmu, Lin. Dia kabur dari rumah suaminya," ujar Bu Ani dengan lesu, nampak jelas gurat kesedihan di wajahnya.
"Loh, kok bisa sampai kabur? Memangnya ada masalah apa?" tanya Alina dengan membulatkan mata karena kaget.
"Ibu juga belum tahu masalah pastinya apa. Hanya saja katanya ia bertengkar dengan suaminya dan tidak betah berada di sana," jawab Bu Ani dengan suara pelan. Takut terdengar oleh Alea dan juga memang menggambarkan hatinya yang tengah sedih.
"Ya udahlah, Bu. Biar Kak Lea mendinginkan pikirannya dulu. Mungkin memang belum waktunya dibicarakan, Kak Alea pasti bakalan marah dan makin kesel sama kita kalau terus didesak," tutur Alina yang memberi pendapatnya.
"Iya, kamu bener, Lin," pungkas Bu Ani.
"Kalau begitu aku masuk dulu ya, Bu," pamit Alina yang langsung masuk ke dalam rumahnya.
Ia lalu menuju kamar untuk berganti bajuz benar saja kakaknya itu tengah meringkuk di tempat tidurnya.
"Kak," panggil Alina pelan. Ia juga tidak kaget karena sudah tahu dari ibunya tentang kepulangan Alea.
Alea tak menjawab panggilan adiknya, tapi dia juga tidak sedang tidur. Alina lalu duduk di tempat tidur setelah mengganti bajunya.
"Kak, apa kabar?" tanya Alina berbasa-basi agar kakaknya tidak terlalu shock dengan amarah kedua orang tua dan kakaknya.
Alina tahu, pasti kedua orang tua dan kakaknya telah lebih dulu memarahi Alea sehingga keadaannya jadi tak nyaman seperti itu. Juga jadi semakin runyam.
"Aku tahu kok, kakak tidak tidur," ucap Alina.
Alea mengembuskan napas kasar, kesal dengan semua orang rumah itu. Padahal ia baru saja bertemu Alina dan bicara dengannya.
"Emangnya Kakak dan Bang Gavinada apa, sih? Kenapa harus sampai kabur segala?" tanya Alina pelan dan hati-hati. Takut kalau kakaknya itu salah paham dengan maksud yang disampaikannya.
Alina tidak bermaksud untuk menghakimi kakaknya, meskipun memang yang dilakukan oleh Alea itu salah. Tapi, memang untuk orang seperti Alea pasti menerima pernikahan tersebut sangatlah berat.
Berbeda dengan Alina yang memang sudah pasrah seandainya harus menikah. Ia tidak begitu mementingkan soal sekolah, meskipun begitu nilai sekolahnya selalu bagus.
"Kamu nggak perlu tahu, ini masalahku," ucap Alea dengan ketus.
Ia heran karena semua orang di rumahnya menyudutkan seolah dirinya sangat tidak berharga di mata mereka. Padahal dengan pernikahannya semua hutang kedua orang tuanya bisa dibayar. Meskipun ia juga belum tahu alasan sebenarnya ayahnya mau menikahkannya dengan Gavin.
"Ya, seenggaknya kalau kita berdiskusi, mungkin kakak juga bisa dapat solusi," ucap Alea dengan lembut.
"Dari awal kan, kalian tahu kalau aku itu enggak cinta sama Gavin. Ya akhirnya jadi begini!" ujar Alea dengan ketus. Ia merasa semua itu terjadi karena keluarganya yang memaksanya menikah dengan Gavin.
"Kak, kalau memang sudah jodoh ditolak ataupun tidak tetap aja jodoh kakak dengan Gavin. Hanya saja mungkin waktunya yang tidak tepat, disaat kalian belum saling mencintai, tapi cinta itu akan hadir dengan selalu bersama, saling pengertian," tutur Alina dengan lembut memberi nasehat kepada kakaknya sendiri.
"Kamu enggak akan pernah ngerti, apa yang kakak rasain!" ujar Alea sambil tersenyum miring.
Ia merasa kalau dunia begitu tidak adil pada dirinya. Ia yang mati-matian belajar dan berprestasi, malah mendapatkan takdir seperti itu. Sementara Alina walaupun cerdas tapi tidak memiliki cita-cita bisa meneruskan sekolahnya. Bahkan jika ingin kuliah pun akan dijamin oleh Gavin.
"Kenapa sih, enggak kamu aja yang nikah dengan Gavin?" tanya Alea dengan sorot mata tajam penuh kebencian.
"Sejak waktu itu, seandainya bisa aku yang menggantikan posisimu, Kak," sahut Alina dengan tegas.
Alea meneteskan air mata, kesal. Ia benar-benar tak nyaman berada di rumahnya sendiri. Tapi, ia juga tak tahu harus ke mana. Keluarga ibunya di kampung tersebut bukanlah orang-orang yang bisa diharapkan. Kebanyakan mereka julit dan nyinyir. Bahkan membantu sesama pun perhitungan, itulah sebabnya ibu tak pernah ingin berhutang dengan keluarganya sendiri.
Teman-teman Alea yang ia rasa baik ada di Bandung. Sedangkan dirinya sendiri ada di desa itu. Lari ke Bandung berarti akan lebih mudah ditemukan oleh Gavin. Walaupun tinggal di rumah orang tuanya sendiri, juga pasti Gavin akan dengan mudah menemukannya.
Ia hanya ingin beristirahat sejenak, menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Baru setelah itu siap menatap masa depan yang sudah memang terlihat kelam.
Tak terasa hari beranjak malam, Alea masih berada di kamar dan mengurung diri. Ia seolah tak punya keinginan untuk melakukan apapun. Sementara Alina telah keluar kamar sejak tadi dan melakukan pekerjaan rumah.
"Kak," ucap Alina yang kembali masuk ke kamar kakaknya yang juga merupakan kamarnya.
"Kata ibu, kakak disuruh makan dulu. Sejak tadi siang kakak belum makan kan," ujar Alina yang mengajak kakaknya untuk makan malam itu.
Alea hanya terdiam, tak menggubris ucapan adiknya. Lagipula dia makan ataupun tidak siapa yang peduli.
"Kasihan ibu mikirin kakak," ujar Alina mencoba kembali membujuk kakaknya tersebut.
"Siapa sih, yang peduli denganku!" hardik Alea dengan suara yang meninggi.