Alea lalu menaiki angped untuk sampai ke rumah. Beruntung rumahnya juga berada di pinggir jalan, sehingga tak perlu jauh lagi setelah turun dari angped nanti.
Setelah penumpang penuh, mobil pun berjalan menyusuri jalanan. Di desa itu jalanan tidak terlalu besar seperti jalan raya di kota, tapi sudah beraspal dan cukup lebar.
Angped melewati ladang-ladang yang berada di pinggir jalan. Ladang itu semua milik warga, meskipun ada sebagian yang dikontrak perusahaan besar seperti Indofood, kemudian beberapa rumah yang juga berjajar di pinggir jalan.
"Kiri, Mang," ucap Alea ketika sampai di depan rumahnya.
Ia lalu memberi uang receh lima ribuan kepada sopir angped tersebut. Untunglah tadi dia sempat membeli makanan di dalam minibus, sehingga memiliki uang receh untuk membayar ongkos angped. Karena jika diberi uang lebih kadang tak akan diberi kembalian.
Rumah orang tuanya telah berada di depannya. Dia tersenyum menatap rumahnya, akhirnya ia bisa kembali ke tempat itu. Meskipun sebenarnya ia masih terikat dengan Gavin dalam perkawinan.
"Lea!" ucap Arka seakan tak percaya melihat adiknya itu telah berada di depan rumah. Ia langsung menghampiri Alea.
"Kamu kenapa ada di sini sendiri? Gavin mana?!" tanya Arka bagaikan polisi yang sedang menyelidiki tersangka.
"Banyak tanya, kayak polisi aja," jawab Alea dengan ketus. Ia kemudian masuk ke dalam rumahnya tanpa mengucapkan salam. Di saat menjelang siang hari seperti itu ibu dan ayahnya tengah berada di ladang. Sementara adiknya masih sekolah.
Alea langsung menuju kamarnya dan menyimpan tas besar yang sejak tadi di bawanya. Kemudian membaringkan diri di kasur kapuk yang sejak dulu dipakainya.
"Rasanya kayak mimpi bisa berada di sini lagi," gumam Alea pelan sambil memerhatikan sekeliling kamarnya.
Ia melirik jam yang ada di kamarnya itu, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Cukup lama juga perjalanan dari Bandung ke Cikajang. Rasa lelah menghinggapi, ngantuk pun datang ke pelupuk matanya. Ia lalu memejamkan matanya untuk sekedar beristirahat siang itu.
Pukul satu siang, orang tuanya pulang dari ladang. Mereka tak tahu kalau Alea sudah berada di rumah. Seperti biasa Bu Ani dan Pak Asep membersihkan diri, kemudian melaksanakan kan salat dzuhur empat rakaat. Setelah itu menuju ke dapur untuk makan siang.
"Pak, ayo kita makan dulu," ajak Bu Ani kepada suaminya.
Rasa lelah setelah bekerja di ladang membuat perut terasa keroncongan. Padahal pukul jam setengah sembilan pagi tadi mereka telah makan karena membawa bekal dari rumah.
Pak Asep menghampiri istrinya yang sudah berada di dapur. Sudah ada karpet yang digelar di dapur tersebut untuk makan. Bu Ani dan Pak Asep masih hidup sederhana, meskipun begitu setidaknya mereka bisa bernafas lega karena hutang-hutang mereka telah dibayarkan semua.
"Alhamdulillah, ya Pak bisa makan nikmat kalaupun seadanya, enggak dikejar-kejar hutang lagi," ucap Bu Ani sambil menyendok nasi ke piringnya dan juga suaminya.
"Iya ya, bersyukur si Alea ada jodohnya yang mapan," sahut Pak Asep yang juga senang dengan nasib anaknya.
Mereka tengah menyukuri kehidupan Alea yang sekarang dirasa lebih baik dengan berlimpahnya harta yang diberikan oleh suaminya.
Sementara itu, di dalam kamar Alea masih terlelap dalam tidurnya. Tiba-tiba ia merasakan hasrat ingin buang air kecil. Ia pun bangkit dari tempat tidurnya kemudian berjalan menuju ke kamar mandi yang mana akan melewati dapur, di mana kedua orang tuanya berada.
"Alea!" ucap Bu Ani tak percaya ketika melihat Alea memasuki dapur.
Ia sampai mengucek-ngucek matanya, saking tak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya.
"Ini beneran kamu?" tanya Bu Ani meyakinkan dirinya, kalau yang ada di hadapannya itu adalah anak keduanya.
"Iya Bu, ini Alea, emangnya siapa lagi," jawab Alea sambil berlalu menuju ke kamar mandi, karena sudah tak tahan ingin buang air kecil.
Bu Ani sampai tidak melanjutkan makannya karena takut terjadi sesuatu pada Alea dan rumah tangganya.
Di kampung itu tanggapan masyarakat terhadap pernikahan yang bercerai masih sangat terkesan negatif. Apalagi jika yang bercerai adalah wanita muda dan menjadi janda. Sudah pasti banyak cap negatif yang akan dilontarkan oleh warga kepadanya.
Beberapa saat kemudian, Alea kembali dari kamar mandi. Perutnya juga terasa keroncongan karena sejak pagi belum diisi oleh apapun. Ia kemudian ikut duduk bersama kedua orangtuanya di karpet lusuh yang ada di dapur.
"Jawab dulu pertanyaan ibu, kenapa kamu pulang? Terus ke mana suamimu?" tanya Bu Ani dengan nada cemas.
Alea yang baru saja mengambil piring mendadak tak berselera makan, karena diintrogasi oleh ibunya sendiri. Ia lalu menyimpan piring itu kembali di rak seraya menatap ibunya.
"Aku kabur dari rumah itu, terlalu banyak aturan aneh di sana. Termasuk dalam berpakaian, masa aku mau pakai baju sendiri aja enggak boleh. Lagian aku juga enggak suka dengan baju-baju yang dibeliin Gavin, terlalu feminim!" jawab Alea dengan nada kesal.
"Kamu jadi sedang ada masalah dengan suamimu? Kalau begitu tenangkan dulu dirimu di sini, tapi kamu tetap harus kembali lagi ke sana," pungkas Bu Ani dengan tegas.
Sementara Pak Asep hanya terdiam menyimak obrolan antara istri dan anaknya tersebut. Ia merasa ucapan Bu Ani pun sudah cukup mewakili nasehatnya. Lagipula ia bisa meledak dan terbawa emosi jika bicara. Akhirnya, bisa-bisa penyakit asmanya kambuh.
"Tapi, aku enggak betah di sana, Ma," tegas Alea yang lebih nyaman dengan kehidupannya yang dulu.
Bekerja paruh waktu, kuliah, dan juga bisa bersama teman-temannya. Tidak seperti tawanan yang selalu harus dalam rumah. Pergi dan pulang kuliah diantar dan tak melakukan aktivitas apapun.
"Di manapun kamu berada, pasti ada masalah. Kamu harus bisa sabar, Alea," ucap Bu Ani dengan lembut ia mulai mengalah dengan emosi anaknya.
Api dibalas dengan api pasti akan semakin membesar. Oleh karena itu, Bu Ani mencoba untuk bersabar menghadapi Alea yang sedang panas itu. Ia sudah mengetahui duduk perkaranya, kalau Alea dan suaminya sedang bertengkar.
"Kurang sabar apa sih, Bu aku? Menikah dengannya saja bukan keinginanku, kan," ucap Alea yang ingin menyudutkan kedua orang tuanya yang dulu memang memaksanya untuk menikah.
Mendengar suara ribut dari dapur yang memang langsung terhubung dengan bengkel, Arka pun masuk ke dalam.
"Ada apa ini?" tanya Arka dengan suara baritonnya.
"Dia kabur dari rumah suaminya, katanya karena tak betah. Tapi, di mana-mana pasti akan ada masalah, kita saja di sini menghadapi banyak masalah," jawab Bu Ani menjelaskan tentang keberadaan Alea saat itu di rumahnya.
"Lea lagian kenapa sih kamu enggak bisa bicarakan secara baik-baik dengan suamimu, tentang apa yang buat kamu nggak betah. Kamu itu selalu saja keras kepala," ujar Arka yang terkadang geram dengan sifat keras kepala Alea.
"Kenapa sih, kalian semua nyalahin aku?! Kalian enggak tahu gimana hidupku sekarang, hancur. Apalagi harus menikah dengan orang yang enggak aku cintai, aku juga tahu kalian menikahkanku semata hanya untuk membayar hutang, kan?!" bentak Alea dengan suara yang keras, namun tertahan. Matanya juga terlihat berkaca-kaca.
Ia yang berharap mendapatkan ketenangan di rumah itu, malah disudutkan dan disalahkan. Ia sendiri sudah tak tahu harus ke mana lagi di saat seperti itu.
Alea langsung berjalan cepat ke kamarnya dengan sedikit menghentak-hentakkan kakinya. Ia benar-benar kesal dengan keluarganya sendiri yang tidak bisa mengerti dengan kehidupannya sekarang. Ia lalu menangis di kamarnya meratapi kehidupan yang seakan tidak bisa berpihak padanya.