Bawa Kembali Istrimu

1100 Kata
Gavin lalu sibuk menandatangani beberapa berkas yang membutuhkan tanda tangannya. Baru satu jam bekerja, tiba-tiba pintu ruangan yang diketuk dari luar. Ia menghentikan sejenak pekerjaannya. "Masuk!" ucap Gavin setengah berteriak dari dalam. Ia mempersilakan tamunya untuk masuk. Tak lama kemudian, Pak Darma memasuki ruangan itu. Ia kemudian duduk di kursi yang ada di hadapan meja kerja Gavin. Kini, mereka saling berhadapan. Pak Darma menatap Gavin lekat, kemudian menggeleng pelan. "Ke mana istrimu?" tanya Pak Darma seolah tahu kalau Gavin sedang ada dalam masalah dengan Alea. "Maksud Bapak?" tanya Gavin seolah tak mengerti dengan pertanyaan Pak Darma. Ia juga heran kenapa orang itu tiba-tiba bertanya seperti itu padanya. "Gavin, dalam yang namanya pernikahan itu pasti akan ada rintangan, tapi masalahnya sekarang kamu harus bisa mempertahankan pernikahan itu. Untuk apa? Tentu, untuk mendapatkan apa yang menjadi hakmu," tutur Pak Darma seakan tahu kalau Alea sedang kabur dari rumah Gavin. "Dari mana kau tahu semua ini?" tanya Gavin yang penasaran kenapa Pak Darma bisa tahu hal itu. Masalah dalam rumah tangganya. "Tak perlu tahu, aku tahu dari mana, yang pasti susul wanita itu dan buat dia bertahan di sini. Minimal sampai misi ini beres," ucap Pak Darma dengan penuh penekanan. Matanya tajam menatap Gavin, sepertinya ia tengah kesal dengan apa yang dilakukan orang di hadapannya pada Alea. Gavin tak menjawab lagi, ia masih tak habis pikir dari mana Pak Darma tahu kalau dirinya sedang ada masalah dengan istrinya. "Sebenarnya tadinya aku akan memberikan arahan demi arahan kepadamu. Tapi, sepertinya kau belum pantas untuk menjalankannya," tutur Pak Darma dengan nada suara yang begitu tenang. "Katakan saja, toh aku sudah berstatus menikah," ujar Gavin yang tak sabar dengan apa yang akan diarahkan oleh Pak Darma untuk bisa mendapatkan harta warisan ibunya. Ia sendiri sudah lelah bekerja di satu perusahaan, tapi hasilnya tidak seberapa menurutnya. "Bawa dulu kembali istrimu, nanti suatu saat aku akan memberi langkah-langkah tersebut," ujar Pak Darma sambil bangkit dari duduknya. Ia kemudian pergi dari ruangan tersebut, menyisakan pertanyaan di benak Gavin. 'Sebenarnya apa yang akan direncanakannya? Lalu, kenapa ia bisa tahu kalau istriku tidak berada di sampingku?' Pertanyaan-pertanyaan tersebut muncul di benak Gavin dengan sendirinya. Tak ingin terlarut dalam masalahnya, Gavin lalu kembali memfokuskan pikirannya kepada pekerjaan. Tiba-tiba pintu diketuk kembali. 'Siapa lagi sih!' gerutu Gavin dalam hati. Ia jadi kesal menerima tamu. Apalagi jangan-jangan Pak Darma balik lagi ke ruangannya. "Masuk!" ucap Gavin setengah berteriak dari dalam. Ia masih duduk di kursi kerjanya. Seorang wanita berparas cantik masuk ke dalam ruangan Gavin. Ia membawa beberapa berkas di tangannya. Tentu saja berkas itu memerlukan tanda tangan Gavin sebagai CEO perusahaan yang dipimpinnya itu. "Aku membawa beberapa berkas yang harus ditandatangani, Pak," ujar Lusi sambil menyimpan tiga berkas yang sedikit tebal di meja kerja Gavin. "Oke, terima kasih, Lus. Oh ya, bagaimana keadaan Ich" tanya Gavin teringat dengan anak Lusi yang baru berusia tiga setengah tahun itu. "Dia baik, alhamdulillah," jawab Lusi sambil tersenyum. Di usianya yang sudah masuk kepala tiga, ia masih terlihat cantik dan muda. Apalagi ditambah dengan dirinya yang selalu menjaga penampilan dan juga memakai make up natural. Membuat siapa saja yang melihatnya akan terpana. "Syukurlah, kangen juga sama dia," ucap Gavin yang memang kadang bertemu dengan anak Lusi, jika sedang mengantarkannya ke kontrakan atau sesekali berpapasan. "Main aja ke rumah. Pasti Icha senang deh," sahut Lusi sambil menunggui berkas yang tiga tadi ditandatangani. *** Sementara itu, Alea yang sedang berada dalam perjalanan pulang menuju ke rumahnya, telah sampai di terminal bus. Ia lupa kalau dirinya sudah tidak punya uang tunai lagi. "Bang, kita berhenti di ATM sana aja, ya," ucap Alea sambil menunjuk salah satu cabang bank yang ada di sana. Tukang ojek itu menurut dan menghentikan motornya di depan mesin ATM sebuah bank ternama. Setelah sampai, ia lalu turun dari motor tersebut. "Bang, tunggu ya saya mau tarik tunai dulu," ucap Alea sembari berbalik badan dan memasuki tempat dimana mesin ATM berada. "Waktu itu apa ya kodenya, aku lupa lagi," gumam Alea pelan. Ia benar-benar tidak ingat dengan password kartu debit tersebut. Alea terus berusaha mengingatnya, tapi tiba-tiba ia teringat dengan tanggal pernikahannya. Akhirnya ia memasukkan password yang merupakan gabungan dari tanggal pernikahannya itu. Ternyata benar. S "Oh beruntung sekali aku," ucapan Alea pelan. Untung saja hanya ada dirinya sendiri di sana. Ia lalu menarik uang sejumlah yang diperlukan untuk sampai ke desanya. Namun, saat di akhir setelah transaksi tarik tunai selesai. Alea kaget melihat isi dari tabungan tersebut hampir seratus juta. Alea segera menarik kartu debit tersebut, kemudian keluar dan memberikan satu lembar uang lima puluhan ribuan kepada Abang tukang ojek yang tadi telah mengantarnya. "Yah, Neng belum ada kembalian ini. Kan, penglaris pagi ini," ucap tukang ojek tersebut sambil menatap berhenti direnganji yang ada di hadapannya. "Ya sudah, enggak usah dikembalikan, Pak," ujar Alea sambil berlalu dari tempat itu. Ia menuju ke terminal yang tidak jauh dari sana. Deretan minibus dan juga bis besar telah berjajar di sana menunggu penumpang. Alea lalu segera menaiki minibus jurusan Cikajang, karena bus besar tidak sampai ke desanya. Jadi hanya setengah perjalanan, sehingga harus dua kali dengan naik turun mobil dan Alea tidak mau melakukannya. Sudah ada beberapa orang dalam minibus. Mereka memiliki tujuan yang sama. Meskipun tak semua sampai ke tujuan akhir. Alea memilih tempat duduk yang berada di samping jendela. Matanya lalu memandang keluar jendela dengan tatapan kosong ia lupa membawa charger-an ponsel 'Ya ... kenapa harus lupa sih,' gumam Alea dalam hati. Mengingat charger ponselnya dan laptopnya yang tertinggal di meja kamar Gavin. Terpaksa mungkin untuk charger-an nanti ja bisa beli yang baru dengan harga hemat di kantong. Setelah hampir setengah jam menunggu penumpang, sopir lalu mulai melajukan mobil ke arah tujuan. Sepanjang perjalanan tidak ada hambatan yang begitu berarti. Paling sesekali berhenti untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Sampai akhirnya minibus jtu menembus memasuki tol untuk bisa segera sampai di tempat tujuan. Sopir minibus yang telah lama menyetir itu terlihat begitu lihai membawa para penumpangnya. Bagaimanapun ia tetap harus memikirkan setoran untuk bisa kembali narik minibus hari esok. Di tengah perjalanan kenek yang mendampingi sopir minibus itu minta bayaran ongkos terlebih dulu, sebelum sampai di terminal terakhir. Alea tak ingin banyak berdebat, ia menyerahkan selembar uang biru kepada kenek tersebut. Tanpa banyak bicara kenek tersebut menerimanya dan berbalik badan. Ia tak berniat memberi Alea kembalian. Padahal ongkos minibus hanya empat puluh lima ribu. Mobil memasuki kawasan terminal Cikajang. Alea tersenyum tipis karena bisa tiba di desanya dengan selamat. Setelah mobil benar-benar terparkir rapi, Alea pun turun dari mobil. Ia menghidu udara pedesaan yang lebih bersih. "Ini, Neng." Kenek mobil menyerahkan tas besar berisi semua pakaian Alea. Alea hanya mengangguk. Kemudian, ia membawanya untuk menuju ke pangkalan angped.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN