Baru beberapa detik membaringkan tubuhnya di tempat tidur, ia sudah terbuai dengan mimpinya. Sepertinya dia kelelahan dibawa belanja tadi. Padahal hanya memutari dua toko, bagaimana kalau jadi ajak belanja oleh saudara Gavin yang lain yang memutari dua mall mungkin bisa pingsan.
Gavin menatap laptop Alea yang masih berada di atas meja. Charger-nya tadi belum full. Karena sudah malam, ia lalu mencabut charger laptop yang terhubung dengan colokan listrik.
Sebenarnya ia kagum juga dengan sosok Alea yang sederhana, apa adanya, dan pekerja keras. Hanya saja tidak suka dengan sifat jeleknya yaitu keras kepala.
Kemungkinan besok ibu tirinya akan datang dari liburannya di luar negeri. Gavin sebenarnya ingin menjelaskan tentang sifat ibu tirinya tersebut, tapi rasanya sulit. Bibirnya seakan kelu untuk menceritakan orang yang telah menyakitinya tersebut. Jadi biarlah Alea yang tahu dengan sendirinya soalnya ibu tirinya itu.
Lewat tengah malam, barulah Gavin merasa ngantuk. Dia pun mengambil selimut yang ada di atas tempat tidur yang ditempati Alea. Di sana ada dua selimut bertumpuk, yang satunya adalah yang kemarin Gavin pakai tidur di sofa, sementara yang satunya memang pasangan dari bed cover yang terpasang di kasur tersebut.
Gavin menyelimutkan selimut satunya kepada Alea. Sementara yang satunya ia bawa ke sofa untuk dipakainya. Udara malam cukup dingin di tempat itu, meskipun Gavin tak suka menggunakan AC ketika tidur.
Dini hari, seperti biasa ia terbangun dan tidurnya. Dia langsung ke kamar mandi untuk berwudhu, kemudian melaksanakan dua rakaatnya. Setelah itu ia bersiap untuk kuliah hari itu. Tiba-tiba ia teringat tugasnya yang semalam belum di-save, itulah salah satu keteledoran.
"Ya ... hilangkan!" teriak Alea dengan begitu panik. Ia mencari kemana-mana filenya, tapi tak kunjung ditemukan. Apalagi tadi laptopnya sudah dalam keadaan mati, karena chargernya dilepas oleh Gavin semalam.
"Kamu kenapa pagi-pagi udah teriak-teriak?" tanya Gavin yang kesal kepada Alea
"Kenapa chargernya dilepas? Jadikan laptopnya mati, file aku semalam belum di-save dan akhirnya sekarang hilang!" cerocos Alea dengan kecepatan cahaya.
"Oh, aku enggak tahu kalau itu belum di-save," jawab Gavin dengan entengnya.
Ia kemudian menuju ke kamar mandi untuk selanjutnya bersiap ke kantor. Masih banyak tugas yang harus dikerjakan. Meskipun untuk saat ini tugas sampingannya adalah mengumpulkan semua berkas-berkas aset milik ibunya.
Alea hanya bisa meratapi kehilangannya. Ia tak bisa berbuat apa-apa lagi dan harus memulai mengerjakan tugasnya dari awal. Dalam hati ia menyesal kemarin ingin diberi tugas oleh Dosen Alfi sampai akhirnya terjadi seperti itu.
'Ya Allah, semoga aja segera ganti laptop,' gumam Alea dalam hati. Ia ingin segera mengganti laptopnya dengan yang lebih baik, setidaknya yang bisa mendukungnya dalam belajar.
Beberapa saat kemudian, Gavin telah siap dengan pakaian ke kantornya. Ia terlihat begitu tampan dengan setelan jas hitam dan kemeja berwarna abu.
Gavin menatap Alea dengan heran. Pasalnya istrinya itu masih menggunakan salah satu bajunya yang terlihat lusuh.
"Kamu kenapa enggak pakai baju yang kemarin di beli?" tanya Gavin penasaran sekaligus heran.
"Iya ya, lupa," ujar Alea dengan santainya, kemudian kembali ke lemari ganti yang ada di kamar tersebut.
Ia kemudian memilih salah satu baju yang sekiranya cocok di tubuhnya. Meskipun sebenarnya tubuhnya berbentuk ideal, sehingga cocok dengan baju mana pun.
Setelah mendapatkan baju yang ia rasa cocok, Alea lalu mengenakannya. Baju berwarna krem dengan tangan sampai siku dan celana jeans berwarna hitam.
'Kok, rasanya aneh ya pakai baju kayak gini. Kayaknya aku belum siap deh. Biar nanti ajalah pakainya kalau sudah siap,' gumam Alea dalam hati.
Ia tak biasa mengenakan baju-baju feminim seperti itu merasa tak nyaman dengan baju yang dipakainya. Lalu, ia kembali melepasnya dan memakai bajunya yang semula.
Alea keluar dengan baju yang dipakainya tadi. Dengan santainya ia berjalan keluar dari kamar tersebut. Gavin tengah menunggunya di kursi yang ada di lantai dua itu.
"Kenapa kamu masih mengenakan baju lamamu?" tanya Gavin heran sekaligus kesal, ia merasa pemberiannya tidak dihargai.
"Aku tidak nyaman dengan baju itu," jawab Alea singkat. Kemudian, turun ke bawah untuk menuju ke ruang makan. Seperti biasa sebelum pergi beraktivitas pasti Bi Ijah telah menyiapkan sarapan terlebih dahulu.
"Hei, kamu harusnya sadar sekarang berada di mana! Belajarlah hargai pemberian orang lain!" bentak Gavin yang paling tak suka jika pemberiannya tidak dihargai.
Padahal ia harus merogoh kocek cukup tebal untuk membelikan baju-baju itu. Meskipun sebenarnya itu tidak seberapa dari gajinya sebagai CEO di suatu perusahaan yang ia pimpin.
"Sadar! Bukankah kamu yang minta aku ke sini?! Aku enggak pernah mau jadi istrimu!" ujar Alea dengan sangit. Hanya perkara baju saja menjadi pertengkaran besar di rumah itu.
Gavin terdiam, ia memang merasa kalau dirinya yang telah membawa Alea ke dalam kehidupannya. Bahkan dengan janji manis untuk membiayai kuliahnya, tapi dengan satu hal. Ia ingin Alea menurut dengan semua aturan di rumah itu, termasuk dalam cara berpakaian.
"Apa kata orang kalau istriku berpakaian lusuh seperti itu!" tukas Gavin dengan begitu sengit, membuat amarah Alea seketika memuncak.
"Kalau kamu enggak suka aku ada di sini, oke, aku akan pergi!" teriak Alea dengan lantang.
Ia lalu kembali menaiki tangga dan memasuki kamar Gavin. Mengambil tas miliknya tanpa mengambil paper bag berisi baju-baju baru yang kemarin diberikan oleh Gavin.
Alea lalu membawa tas itu keluar dan pergi begitu saja dari rumah itu. Gavin hanya bisa menatapnya pergi tanpa mencegah. Amarah masih menguasai dirinya, ia belum bisa menahan Alea untuk tidak pergi.
'Orang kaya semuanya sama, mengatur dan sombong,' gumam Alea dalam hati sambil terus berjalan menyusuri halaman rumah Gavin yang begitu luas.
Ia lalu memesan ojek online untuk mengantarnya ke terminal bus.
Tak lama kemudian, ojek yang dipesan oleh Alea datang ia lalu segera menaikinya.
"Bang, cepetan ya!" ucap Alea sambil menepuk pundak tukang ojek tersebut. Rupanya amarahnya masih tersisa.
"Siap, Mbak," jawab tukang ojek sambil melajukan motornya ke arah terminal bus.
***
Sementara Alea dalam perjalanan menuju ke terminal bus, Gavin hanya bisa termenung. Ia masih berusaha meredakan emosi yang tadi menguasainya.
Ia memang paling tidak suka jika pemberiannya tidak dihargai. Apalagi untuk saat ini, Gavin mencari uang dengan susah payah. Di satu perusahaan yang dipimpinnya. Semua anak perusahaan ayahnya dan juga aset-aset lainnya dipegang oleh ibu tirinya,.sehingga membuat Gavin kelimpungan.
Dia lalu meneruskan langkahnya untuk pergi ke kantor. Masih ada hal yang harus dikerjakan hari itu. Beberapa file yang terakhir diambil dari beberapa tempat, ternyata tidak valid. Apalagi yang sudah dijual oleh ibu tirinya.
Tanpa sarapan terlebih dahulu, Gavin lalu keluar dari rumah mewah tersebut dan menaiki mobilnya. Ia lalu menyetir mobil tersebut menuju ke arah kantornya untuk hari itu. Ia tidak perlu mengantar seorang ke kampusnya seperti biasa.
'Dasar wanita tak tahu diuntung,' gerutu Gavin dalam hati. Ia masih kesal dengan sikap Alea tadi. Selain tidak menghargai pemberiannya, ia juga berani membentaknya.
"Andaikan saja bisa ditukar, mungkin aku akan lebih memilih Alina daripada Alea," ucap Gavin pelan. Ia masih teringat dengan adik Alea yang begitu lembut dan mau menjadi istrinya itu.
Pernikahan itu hanyalah kawin kontrak, tapi tetap saja Gavin mempertaruhkan harga dirinya di hadapan orang-orang yang mengenalnya. Tidak munhkin ia membiarkan Alea dengan keadaan lusuh dan tidak terawat. Setidaknya ia harus membuat Alea tampil lebih berkelas.
Sesampainya di kantor, Gavin memarkirkan mobilnya di parkiran kantor sendiri. Ia lalu keluar dari mobil tersebut dan menuju ke ruangannya yang ada di lantai empat kantor tersebut.
Kantor yang dipegangnya berjalan di bidang furniture yang harganya bukan main. Produk-produk sofanya juga sudah dibeli oleh kalangan papan atas. Kisaran harga mulai dari lima belas juta sampai ratusan juta.
"Selamat pagi, Pak," ucap beberapa karyawan yang berpapasan dengannya.
Gavin hanya mengangguk pelan dan meneruskan langkah kakinya untuk menuju ke ruangan. Ia memasuki lift untuk membawanya naik ke lantai empat.
Sesampainya di lantai empat, Gavin keluar dari lift dengan beberapa staf lainnya. Kemudian berjalan menuju ke ruangannya.
Sesampainya di dalam ruangan, Gavin langsung duduk di kursi kerjanya. Ia merasa kesal tapi seperti ada sesuatu yang kurang jika tidak ada Alea.
'Ah, sudahlah untuk apa terus dipikirkan. Biarkan dia tenang dulu di rumahnya,' gumam Gavin dalam hati. Ia kemudian memusatkan pikirannya untuk bekerja hari itu. Beberapa file berkas dan juga email telah ada di hadapannya.