Gavin Kecelakaan

1212 Kata
"Ternyata manis juga Alea, jika bersikap baik," gumam Gavin dalam hati, sambil melirik istrinya itu sekilas. Seandainya pernikahannya seperti yang lain, mungkin mereka sudah saling mencintai. Sayangnya, ia terlanjur berjanji untuk tidak mengambil kegadisan Alea sebelum kontrak berakhir. Itupun masih ada kemungkinan kalau mereka akan bercerai. Alea kemudian duduk di sofa tak jauh dari tempat Gavin duduk. Ia ingin menceritakan tentang penemuannya dan juga keterkaitannya dengan sakitnya Pak Gilang. Tapi, sepertinya Gavin masih terlihat sangat lelah, bisa-bisa dirinya dicuekin seperti kemarin. Beberapa saat duduk di sofa, Gavin bangkit menuju ke kamar mandi. Memang sepertinya belum saatnya untuk Alea bicara. Pulang dari kantor pasti suaminya itu sangat lelah dan juga lapar. 'Mungkin enaknya nanti malam saja ya ngobrolnya,' gumam Alea dalam hati. Ia akhirnya memutuskan untuk bicara pada Gavin malam nanti saat selesai makan malam. Sore ini ia tak punya kegiatan apa-apa, jadi hanya sebatas menyalakan televisi dan menontonnya. Gavin keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar. Kalau lelaki pulang bekerja sepertinya bukanlah hal yang saat yang tepat untuk bicara soal apapun. Itu yang baru saja Alea pelajar dari kebiasaan suaminya. Gavin duduk di sofa dengan tenang, ia memejamkan matanya. Tubuhnya masih terasa lelah setelah seharian bekerja. Belum lagi tadi sedang ada masalah di kantor. Alea hanya diam dan memperhatikan Gavin, sepertinya ia sedang berada dalam masalah berat. Terlihat dari sikapnya yang melamun dan sesekali memijat kening. 'Kira-kira Gavin mau enggak cerita sama aku?' gumam Alea dalam hati. Menjelang malam tak ada obrolan berarti di antara mereka. Alea dan Gavin kemudian turun ke lantai bawah untuk makan malam. Dari jarak beberapa meter terdengar di ruang makan sudah riuh. Seperti biasa Bi Ijah telah menyiapkan makan malam untuk semua anggota keluarga di rumah itu. Di ruang makan, Herni, Helen, dan juga suaminya sudah lebih dulu berada di sana. Saat Gavin datang, mereka berhenti bicara dan makan dengan tenang. Entah apa yang tadi mereka bicarakan, mungkin bisa Alea tanyakan nanti kepada Bi Ijah. Gavin dan Alea duduk di tempat biasa, mereka kemudian makan dengan tenang. Gavin selesai makan lebih dulu dari Alea, dia kemudian menatap istrinya karena ingin segera ke kamar. Tak betah rasanya berada satu meja dengan mereka, namun jadwal makan mereka memang sama. Andaikan bisa dimundurkan atau dimajukan, mungkin Gavin lebih memilih untuk tidak makan satu meja dengan mereka. Dulu, sebelum menikah dengan Alea, Gavin jarang makan di rumah. Tapi, setelah menikah ia kasihan kalau istrinya harus makan sendiri dengan ibu dan adik tirinya yang menyebalkan. Ketika melihat Alea baru selesai makan, Gavin langsung mengajaknya untuk ke kamar. "Sudah? Ayo, cepat," ajak Gavin sambil bangkit dari duduknya. "Sebentar, minum dulu," ujar Alea sambil minum air yang ada di gelas di sampingnya. Setelah itu, Alea pun bangkit dan mengikuti langkah Gavin untuk menuju ke kamar. Tidak seperti biasanya, Helen dan Herni terdiam tanpa ada ocehan menyebalkan dari mulut mereka. Hanya saja tatapannya tetap sinis dan menyebalkan. Sepertinya mereka merencanakan hal lain. Sesampainya di kamar, Gavin duduk di sofa dan menyalakan televisi yang tadi dimatikan. Alea pun ikut duduk, ia ingin bercerita tentang penemuannya dan juga korelasinya dengan sakitnya Pak Gilang. "Aku sudah menduga kalau sakitnya Pak Gilang itu dimanipulasi. Tadi siang aku menemukan bukti yang cukup kuat," ujar Alea dengan tenang. Gavin meliriknya heran dan penasaran dengan maksud yang dikatakan oleh Alea. Alea bangkit dari duduknya dan mengambil map yang tadi diamankannya. "Apa itu? tanya Gavin penasaran saat Alea baru saja duduk di sofa kembali. Alea membuka map itu. "Aku menemukannya di ruang kerja papa. Ternyata ini adalah berkas-berkas milik Helen, dia bukan orang sembarangan. Dia cerdas sejak kecil dan merupakan lulusan kedokteran Singapura dengan predikat cumlaude. Itulah mengapa aku rasa sakitnya Pak Gilang ada hubungannya dengan ini," tutur Alea menjelaskan dugaannya. Gavin mengangguk-angguk, ada benarnya yang diucapkan oleh Alea. Mungkin ia harus segera bertindak. "Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk menyadarkan papa?" tanya Gavin, rasanya ia sudah buntu untuk memikirkan ayahnya yang sudah lama terbaring di rumah sakit. "Kita tidak tahu dengan cara apa Helen membuat Pak Gilang tidak sadarkan diri. Entah dengan obat atau reaksi kimia yang lainnya. Setelah kita menemukan itu, mungkin kita bisa mencegahnya. Aku juga pernah melihat Helen bersama dengan Dokter Ferdinand, sepertinya mereka ada main," tutur Alea panjang lebar. "Memang benar, dulu dokter keluargaku bukan orang itu, namanya Dokter Hakam," sahut Gavin yang masih mengingat jelas soal dokter keluarganya itu. "Kalau begitu ganti saja lagi dan jangan biarkan Helen masuk ke ruangannya," pungkas Alea, tak ada jalan lain selain dengan cara itu. Gavin mengangguk-angguk. "Mungkin besok akan aku urus," ucap Gavin. Malam semakin larut, Gavin menyuruh Alea untuk tidur duluan, karena ia belum ngantuk. "Tapi, aku takut kalau tiba-tiba bangun dengan satu kasur bersamamu," ujar Alea dengan cemberut. Gavin terkekeh. "Tidak mungkin lagi, saat itu hanya ketidaksengajaan, lagipula aku juga tidak ngapa-ngapain kamu kok." "Beneran?" tanya Alea seolah tidak percaya. "Mau diapa-apain lagi? Sekarang aja," tanya Gavin dengan kedipan nakal. Alea langsung menuju ke tempat tidur dan menutup dirinya dengan selimut. Sementara Gavin hanya terkekeh dibuatnya. *** Pagi hari, Gavin sudah bersiap untuk pergi ke kantor. "Kamu kapan liburnya sih, Mas? Aku bosen di rumah," tanya Alea saat Gavin sudah siap untuk pergi ke kantor. "Belum bisa untuk saat ini, mungkin beberapa waktu kedepan," sahut Gavin, pekerjaannya masih banyak di kantor. Belum lagi dengan masalah yang mesti dibereskan. Tapi ia tak mau bicara soal masalah kantornya kepada Alea, ia tak ingin membebani Alea lebih berat lagi. "Begitu ya," sahut Alea, entah mengapa perasaannya kali ini begitu tidak enak. Ia takut terjadi apa-apa dengan Gavin, tapi ia juga tak ingin mengungkapkan kekhawatirannya tersebut. "Untuk kali ini, aku minta kamu hati-hati ya," ungkap Alea yang sebenarnya menghawatirkan keadaan Gavin. Ia juga tak mengerti dengan perasaannya. "Baik," ujar Gavin singkat. Mereka kemudian turun ke lantai bawah untuk sarapan pagi. Gavin memang berangkat lebih pagi hari itu. Di meja makan, belum ada siapapun, Mereka makan dengan tenang, rasanya begitu merdeka jika bisa makan tanpa ibu dan adik tiri Gavin. "Hati-hati ya, Mas," ujar Alea sebelum Gavin berangkat. "Tentu, makasih ya sudah menghawatirkanku," ujar Gavin sambil berjalan menuju mobilnya. Sementara Alea hanya menatapnya dari teras rumah yang dua meter lebih tinggi dari halaman. Mobil Gavin melaju dengan kecepatan sedang ketika masih di halaman. Setelah berada di jalanan, Gavin melajukan mobilnya lebih cepat. Ia harus segera sampai di kantor, ada ada hal yang harus dibereskan dengan segera. Gavin berusaha fokus untuk menyetir, tapi sayang dari arah berlawanan ada mobil yang menyalip mobil di depannya tanpa melihat situasi. Padahal ada mobil Gavin yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi. Kecelakaan pun tidak dapat dihindarkan. Mobil Gavin ringsek parah, begitupun dengan mobil yang bertabrakan dengannya. Orang-orang berkerumun untuk melihat kecelakaan yang terjadi. Beberapa orang berusaha membantu mengevakuasi korban terlebih dahulu. Tak lama kemudian, datanglah mobil ambulans dan juga polisi. Mereka langsung membawa korban ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, polisi langsung menghubungi keluarga korban. Nomor yang tertera di ponsel Gavin diantaranya adalah 'istriku' itu juga panggilan terakhir yang keluar dari ponselnya. Polisi segera menelepon Alea. "Halo, kami dari kepolisian. Apa benar ini dengan istri dari saudara Gavin?" tanya polisi tersebut ketika panggilan terhubung. Seketika jantung Alea terasa berhenti berdegup. Ia kaget karena yang menelponnya adalah seorang polisi. Ia langsung teringat dengan Gavin, takut terjadi sesuatu dengannya, tidak salah perasaannya sejak pagi. "I—iya, saya istrinya, ada apa, Pak?" tanya Alea dengan gugup.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN