Ia kemudian menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Tak terasa, ternyata ia tidur siang sampai menjelang sore seperti itu. Mungkin karena terlena dengan nyamannya tidur siang, padahal biasanya ia tidak pernah. Atau bisa saja karena lelah berjalan kaki.
Selesai dari kamar mandi, ia menggunakan pakaian rumahan dan memoles wajahnya dengan pelembab wajah dan bibir. Ia tidak pernah berdandan berlebihan di rumah. Begitupun dengan ketika bepergian. Hanya menggunakan skincare dan sedikit polesan wajah. Itupun make up yang dulu dibelikan Gavin.
Saat melihat jam, ia lupa kalau tadi belum makan siang. Jika makan siang sekarang tentu nanti malam takkan lapar, tapi jika makan nanti malam, sekarang ia sudah kelaparan.
'Lebih baik aku cari ganjal perut sajalah,' gumam Alea dalam hati sambil keluar dari kamarnya menuju ke lantai bawah.
'Tumben rumah ini masih sepi, jam segini biasanya Helen dan Bu Herni sudah tiba di rumah. Sepertinya mereka sedang sibuk akhir-akhir ini,' gumam Alea dalam hati sambil celingak-celinguk di rumah itu.
"Lagi cari apa, Non?" tanya Bi Ijah yang mendapati Alea sedang celingak-celinguk seperti mencari sesuatu.
"Eh, enggak, Bi, cuma heran aja jam segini kok masih kosong di rumah ini, ya. Biasanya udah ramai kalau aku pulang kuliah," jawab Alea sembari menuju ke ruang makan.
Untunglah di meja makan selalu tersedia roti lengkap dengan selainnya. Alea pun mengambil dua lembar roti dan mengoleskannya dengan selai coklat. Setelah itu, ia memakannya untuk mengganjal perut.
"Kok, makannya cuma roti, Non?" tanya Bi Ijah heran, karena biasanya melihat Alea makan begitu lahap. Padahal Bi Ijah juga sudah menyediakan makanan di meja makan.
"Cuma buat ganjal aja, Bi, biar nanti bisa makan malam lagi sama Mas Gavin," jawab Alea dengan tersenyum ramah.
"Oh begitu ya, ya udah deh," sahut Bi Ijah.
"Bi, disini aja, mau ke mana?" tanya Alea kepada asisten rumah tangganya itu.
"Ada apa, Non? Bibi ikut duduk di sini ya," ujar Bi Ijah sambil duduk di kursi kosong yang ada di meja makan tersebut.
"Namanya juga kursi, buat didudukin lah," sahut Alea sambil sedikit terkekeh.
"Sebenarnya ibunya Mas Gavin itu meninggal kenapa sih, Bi?" tanya Alea penasaran.
"Ibunya Den Gavin itu meninggal karena kecelakaan. Cuma ya gitu, ternyata yang menabrak Nyonya itu adalah Bu Herni, makanya saya kesal sampai sekarang. Begitupun dengan Den Gavin," tutur Bi Ijah menjelaskan.
"Wah, memangnya bagaimana kejadiannya, Bi? Kok bisa sampai seperti itu dan anehnya kenapa Papa Gilang mau menikahi orang yang telah menyebabkan istrinya meninggal?" cerocos Alea penasaran.
"Bisa aja, Bu Herni kan asisten pribadinya Pak Gilang di kantor. Setahu Bibi sih gitu," jawab Bi Ijah, kemudian ia menceritakan kronologi kepergian Lina yang merupakan ibu Gavin.
***
Pagi itu, Pak Gilang berangkat pagi sekali, sehingga saat sarapan pagi ia sudah tidak ada.
"Kamu Mama antar ke sekolah ya, Vin," ucap Bu Lina kepada putra semata wayangnya itu dengan senyum manis.
"Ngapain dianter, Ma? Aku kan ada motor," tanya Gavin heran. Saat itu usianya memang sudah menginjak delapan belas tahun, sehingga sudah memiliki SIM dan juga motor.
"Enggak apa-apa, Mama cuma pingin nganter aja. Siapa tau ini terakhir kalinya, iya kan?" sahut Bu Lina membuat teka-teki di pagi hari itu.
Gavin tak menyahut lagi. Ia pikir itu hanya keinginan ibunya saja untuk hari itu. Ia juga tak pernah bisa menolak keinginan ibunya, sehingga ia akhirnya berangkat ke sekolah dengan diantar oleh ibunya hari itu. Meskipun ia ternyata tidak pernah sampai ke sekolah.
Selesai sarapan, mereka langsung menuju ke mobil yang sudah terparkir di halaman. Bu Lina memang tidak pernah memakai jasa sopir pribadi. Hanya suaminya yang memakai jasa sopir di rumah itu. Alasannya karena ia hanya pergi untuk jarak dekat saja, paling sebatas supermarket.
"Kamu duduk di belakang ya," titah Bu Lina kepada putranya itu.
"Loh, masa Mama di depan aku di belakang sih?" tanya Gavin heran.
Pagi itu sikap ibunya benar-benar aneh. Hatinya juga sedikit cemas dan tak enak. Tapi, ia berusaha menepis perasaan itu, berharap semuanya akan baik-baik saja.
"Enggak apa-apa, biar aman aja," ujar Bu Lina sambil membukakan pintu belakang mobil untuk Gavin. Kemudian, ia masuk ke dalam mobil lewat pintu depan dan duduk di belakang setir kemudi.
"Mama cuma ingin menikmati saat-saat terakhir sebelum kamu berangkat sekolah," ucap Bu Lina sambil memajukan mobilnya.
Dia melaju dengan kecepatan sedang seperti biasanya. Namun, baru beberapa ratus meter berjalan, tiba-tiba ada mobil dengan kecepatan tinggi.
Bu Lina yang memang mengendarai mobil dengan kecepatan sedang berusaha menginjak pedal rem. Namum, sayangnya tiba-tiba rem itu blong sehingga tidak bisa digunakan untuk menghentikan laju mobil.
Bu Lina panik begitu pun dengan Gavin. Namun, bukan dirinya yang ia khawatirkan, melainkan anak semata wayangnya. Gavin.
"Pokoknya kamu harus selamat ya, Nak!" pekik Bu Lina di saat-saat terakhir sebelum tabrakan maut itu.
Brak!!
Suara tabrakan itu begitu nyaring terdengar. Sehingga menimbulkan kerumunan yang begitu ramai sesaat setelahnya. Lina terbentur di bagian kepala, ia tak dapat ditolong dan meninggal saat itu juga.
Sementara Gavin tidak mengalami luka serius, hanya kepalanya yang terantuk jok depan mobil.
Mobil di depannya pun ringsek, hanya saja ternyata ia telah memiliki antisipasi seperti bantal besar yang disimpan di setir kemudi. Sehingga tidak sampai menderita luka parah.
Saat kejadian terjadi tidak ada saksi mata di tempat itu. CCTV pun belum seramai saat ini, sehingga Herni bisa bebas dan leluasa untuk membuat buat cerita tentang kejadian tabrakan yang baru saja terjadi.
Mereka semua dilarikan ke rumah sakit termasuk Gavin yang terluka di bagian kepala. Meskipun tidak begitu parah hanya saja mengeluarkan darah.
Beberapa saat setelah mereka di rumah sakit, Gavin melihat ayahnya sedang bersama dengan seorang wanita. Ia tahu wanita itu merupakan sekretarisnya yaitu Herni. Sekaligus orang yang membuat ibunya meninggal.
"Kenapa Papa malah dengan wanita ini?!" tanya Gavin dengan sengit, pasalnya ayahnya terlihat begitu akrab dengan Herni.
"Tidak apa-apa, hanya sekedar menanyakan kabar setelah kecelakaan," jawab Pak Gilang dengan santainya sambil melirik kearah Herni yang sehat walafiat setelah kecelakaan terjadi. Sementara istrinya meninggal dunia.
Semua prosesi pemakaman pun telah selesai, Gavin berubah jadi pemurung dan pendiam. Ia kehilangan sosok seorang ibu yang benar-benar menyayanginya tanpa syarat.
Seringkali ia mengunjungi makam ibunya yang berada di pemakaman kompleks daerah itu. Memang tidak jauh dari rumahnya.
Sesudah kepergian ibunya, Gavin selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi makamnya.
Sepulang dari makam ia berjalan kaki menuju ke rumah. Namun, suatu hari ia heran Di siang hari seperti itu, ayahnya sudah pulang. Padahal biasanya baru akan pulang setelah malam.
Gavin memasuki rumah, rupanya Pak Gilang dan Herni tengah duduk bersama di sofa ruang tengah sambil berangkulan dan menonton televisi.
"Apa maksudnya ini?!" bentak Gavin dengan suara keras. Makam ibunya pun masih basah, tapi ayahnya sudah berani membawa wanita lain dan bermesraan dengannya.
"Kamu hanya anak kecil dan tidak akan mengerti dengan kebutuhan orang dewasa seperti Papa. Papa akan menikah lagi dengan Bu Herni," ujar Pak Gilang dengan santainya. Matanya telah buta dengan cinta kepada Herni yang memang sering bersama dengannya di kantor.
Herni hanya tersenyum licik melihat Pak Gilang yang lebih membelanya daripada anaknya sendiri.
Ia tak menyangka kalau akan dibela hingga seperti itu. Padahal iya pikir Pak Gilang mencintai Gavin sebagai anak semata wayangnya. Tapi, ternyata tidak, dirinya bisa lebih berharga daripada anak tersebut.
Gavin tak habis pikir dengan pemikiran ayahnya. Padahal jelas-jelas ibunya sangat baik dan makamnya pun belum kering saat itu. Tapi, tega-teganya ayahnya mengkhianati cinta ibunya di saat baru empat puluh hari kepergiannya.
Gavin kemudian pergi dari sana dan langsung menuju ke kamarnya yang berada di lantai dua.
Dulu, ia memang menginginkan kamar tersebut untuk menyepi. Sekarang kamar itu menjadi tempat ternyamannya untuk sendiri di balik sulitnya kehidupan. Ditambah dengan ayahnya yang malah hendak menikah lagi.
Ternyata benar ucapan Pak Gilang. Seminggu kemudian, ia memboyong Herni sebagai istri keduanya di rumah itu. Menjadi ratu yang dipercaya untuk mengurus rumah tersebut.
***
"Wah, ternyata kasihan juga ya hidup Mas Gavin. Aku tak menyangka kalau ia mengalami hal seperti itu, pantas aja sampai sekarang sifatnya pendiam," tutur Alea yang mengambil kesimpulan dari kisah yang diceritakan oleh BI Ijah tadi.
Ia sendiri tak dapat membayangkan kalau itu terjadi padanya. Mungkin ia pun akan drop dan tidak akan bisa lagi bangkit.
Gavin saja pasti memerlukan waktu yang lama untuk bisa bangkit dan pulih kembali dari lukanya. Sampai memutuskan untuk mengambil seluruh harta warisan yang memang menjadi miliknya.
"Tapi, Mas Gavin masih mau mengunjungi Pak Gilang di rumah sakit ya?" ujar Alea yang salut dengan sifat Gavin yang itu.
"Ya namanya juga anak ke orangtua. Den Gavin itu memang baik aslinya, cuma ya begitulah dingin sifatnya," sahut Bi Ijah.
Tak terasa ternyata mereka mengobrol hingga sore hari. Terdengar suara mobil berhenti di halaman, tidak hanya satu tapi terdengar tiga mobil yang berhenti hampir bersamaan.
"Sepertinya mereka semua sudah pulang," ujar Alea sambil bangkit dari duduknya. Ia berniat untuk menyambut kedatangan Gavin, terlebih di hadapan Herni dan Helen.
Dia akan berpura-pura menjadi istri yang baik dan romantis dengan Gavin.
"Selamat datang, Mas," ujar Alea dengan manis sambil membukakan pintu. Ia melihat ada empat orang di teras tersebut.
Alea langsung mengambil alih tas yang dibawa Gavin, kemudian mereka berjalan bersama menuju ke kamar. Dengan adanya orang-orang itu, pasti Gavin tidak mau untuk duduk di ruang tengah.
Mereka lalu menuju ke kamar, setelah memasukinya, Alea langsung menyimpan tas Gavin di tempatnya.
Entah mengapa, Alea jadi mulai terbiasa dengan kehadiran Gavin. Mulai nyaman dengan keberadaannya di sisinya, dan mulai kesepian ketika Gavin tak ada di sampingnya.
'Apa mungkin ini yang dinamakan cinta ya?' gumam Alea dalam hati. Ia masih belum percaya kalau seandainya hatinya benar-benar terikat dalam ikatan pernikahan kontrak tersebut.