Ikut Komunitas

1656 Kata
"Kakak mau gabung dengan kami?" tanya gadis itu sambil tersenyum. Ia terlihat begitu ramah. "Memangnya boleh ya? Memang ini perkumpulan apa?" tanya Alea penasaran. Sejak tadi gadis itu belum menjelaskan untuk apa mereka berkumpul di tempat tersebut. "Ini kita lagi mau pembagian kelompok untuk relawan kesehatan di daerah-daerah terpencil. Mumpung lagi libur kuliah kan," jawab gadis tersebut. Ternyata mereka adalah perkumpulan yang bergerak di bidang kesehatan. "Wah, tapi pasti memakan banyak waktu ya?" Alea bertanya untuk memastikan, "Karena untuk saat ini saya tidak bisa ke mana-mana." "Enggak langsung ke tempat jauh apalagi terpencil, Kak. Untuk pertama-tama ya, hanya sekitar sini aja. Nanti kalau misalkan udah berpengalaman, baru diutus ke tempat-tempat lain yang lebih jauh atau malah terpencil," tutur gadis tersebut. Sampai saat itu, mereka belum berkenalan dan bertanya nama. "Oh ya, nama kakak siapa?" tanya gadis itu yang baru ingat mereka belum berkenalan. "Saya Alea, kamu siapa?" Alea balik bertanya kepada gadis itu. "Saya Vina, ayo, kita masuk," jawab Vina sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman. Mereka kemudian bersalaman, setelah itu Vina mengajak Alea masuk. Di dalam ruangan yang terlihat seperti rumah itu, ternyata di dalamnya cukup luas. Belum lagi bisa terhubung dengan halaman belakang yang ditumbuhi berbagai tanaman. Menurut Vina itu adalah tanaman obat atau apotek hidup. Alea tercengang saat melihat pemateri yang berada di depan para pemuda pemudi tersebut. Ia adalah dokter yang menangani Pak Gilang. 'Siapa ya, namanya,' gumam Alea dalam hati. Ia lupa dengan nama dokter muda yang menangani ayah mertuanya itu. "Vin, namanya siapa?" tanya Alea sambil menunjuk dokter yang sedang memberi materi itu dengan sorot matanya. "Oh, itu namanya Dokter Ferdinand, dia dokter muda yang sedang naik daun. Banyak operasi yang ditanganinya dan selalu berhasil. Pokoknya keren deh," jawab Vina sambil memuji-muji Dokter Ferdinand. 'Kenapa yang dikatakan Vina berbanding terbalik dengan keadaan Ayah Gavin ya?' gumam Alea dalam hati. Ia jadi curiga dengan dokter muda tersebut. Tidak menutup kemungkinan di balik ketampanan dan kecerdasannya terdapat hati yang busuk. Buktinya sampai sekarang Ayah Gavin belum juga sadar dari komanya. Padahal sudah bertahun-tahun tak ada perubahan sama sekali. Ferdinand menyampaikan materi di depan para pemuda pemudi tersebut. Ia terlihat begitu gagah dan lantang. Penjelasannya lugas dan mudah dipahami, membuat Alea semakin curiga dengan kejanggalan yang terjadi dengan sakitnya Pak Gilang. Seusai acara, Alea diajak Vina untuk bertemu dengan ketua kelompok tersebut, namanya Ardiansyah. Biasa dipanggil Kak Ardi oleh anak-anak di sana. "Kak Ardi ini ada yang mau gabung," ucap Vina sambil menggandeng Alea masuk ke dalam sebuah ruangan seperti kantor. Mereka menuju ke hadapan seorang pemuda yang kelihatannya sudah matang, mungkin sekitar usia dua puluh enam tahunan. "Oh iya, perkenalkan saya Ardi yang mengurus anak-anak di sini," ucap Ardi dengan ramah dan sopan. "Kalau boleh saya bergabung di sini, tapi mungkin tidak akan bisa keluar kota seperti yang lain." Alea mengungkapkan keinginannya untuk bergabung dengan kelompok tersebut. Meskipun begitu ia tidak bisa ikut keluar kota dan yang lainnya, karena memang sedang terikat dengan pernikahan kontrak bersama Gavin. "Tidak masalah, lagipula kegiatannya juga hanya dilakukan jika liburan sekolah. Jika sedang biasa kami juga hanya di sekitaran sini saja." Ardi menjelaskan kegiatan mereka di kelompok tersebut. Alea mengangguk-angguk, Alea lalu diminta untuk mengisi formulir data diri untuk data di kelompok tersebut. Alea mengikutinya dan mengisi formulir tersebut. "Ardi mungkin saya pergi sekarang ya," pamit sebuah suara yang berada di belakang Alea, karena memang ia dan Ardi sedang berhadapan. "Oh iya, silakan, Dok. Terima kasih banyak sudah mau mengisi materi di sini," ujar Ardi dengan ramah. Alea tahu pasti kalau itu adalah suara Dokter Ferdinand. Tiba-tiba ia merasakan hasrat ingin buang air kecil, ia pun pamit ke belakang untuk buang air kecil. Vina mengantarnya ke kamar mandi. Setelah itu ia kembali ke ruangan Ardi. Ketika ia keluar dari kamar mandi, Alea melihat ke jendela. Dokter Ferdinand sedang bersama dengan Helen. Mereka terlihat mengobrol santai, kemudia mereka menaiki mobil Dokter Ferdinand. 'Mereka kelihatannya begitu akrab,' gumam Alea dalam hati. Ia belum bisa percaya kepada orang-orang yang berada di sana. Harus berhati-hati sehingga tidak dapat bicara blak-blakan, jadi Alea lebih banyak bermonolog dalam hati daripada bicara kepada orang yang berada di sana, termasuk Vina. Alea kemudian kembali memasuki ruangan Ardi. Di sana Vina masih duduk dengan Ardi sambil melihat tabel kegiatan mereka. Alea ikut duduk di samping Vina. Ia juga memperhatikan apa yang sedang dijelaskan Ardi. Tanpa disadarinya Ardi curi-curi pandang terhadap Alea. Secara sekilas Alea memang mirip gadis lainnya. Belum ada yang tahu kalau ia adalah istri dari Pak Gavin yang merupakan warga daerah situ. Hanya berbeda blok kompleks saja. "Ini acaranya sudah selesai, ya? Sudah ada beberapa orang pulang," tanya Alea kepada Vina setelah Ardi selesai menjelaskan tentang kegiatan mereka ke depannya. "Sudah, kok. Kakak mau pulang juga? Mau aku antar?" tawar Vina dengan ramah dan tulus. "Enggak perlu diantar, lagipula rumahku dekat kok dari sini," ucap Alea sambil pamit kepada gadis itu. Ia kemudian melenggang pergi dari rumah itu. Sepertinya basecamp mereka itu merupakan bekas rumah yang memang dikosongkan oleh penghuninya. Atau mungkin memang sengaja dibuat seperti itu. Alea berjalan menuju ke rumah Gavin yang tidak jauh dari sana. Hanya beberapa ratus meter dan berbeda blok perumahan. Sesampainya di depan rumah Gavin, satpam segera membukakan pagar. Alea pun masuk dan kembali menyusuri halaman untuk sampai di rumah mewah itu. "Mereka tadi mau ke mana ya?" ucap Alea dengan suara lirih. Ia bertanya-tanya hendak ke mana Gavin dan Helen, tapi untuk hari itu ia tak ingin mengikuti Helen. Meskipun sebenarnya ia menduga kalau Helen akan menuju ke rumah sakit dan menjenguk Pak Gilang. Hanya saja apa benar tujuannya hanya menjenguk atau punya tujuan lain. Alea memasuki rumah mewah tersebut. Di dalam Bi Ijah sedang mengelap lemari kaca yang begitu besar di ruang tengah. "Wah, rajin sekali, Bi," ucap Alea yang baru saja tiba di ruang tengah tersebut. Ia kemudian duduk di sofa sembari melepas lelah karena telah berjalan kaki. "Biasa ini, Non. Oh ya Non Alea dari mana? Dari tadi nggak kelihatan," tanya Bi Ijah yang masih sibuk mengelap lemari kaca besar di hadapannya. "Saya dari blok sebelah, Bi. Ternyata di sana ada perkumpulan pemuda yang aktif di kesehatan," jawab Alea dengan jujur. "Oh iya, Bibi juga sering liat, tapi enggak pernah nanya-nanya. Soalnya malu Bibi kan udah tua," jawab Bi Ijah dengan nada bercanda. "Ah, Bubi bisa aja, tapi kalau mau ikutan boleh kok, Bu," ucap Alea sembari tersenyum. Walaupun dia tahu tidak mungkin Bi Ijah akan ikut ke perkumpulan seperti itu. Lagipula lebih penting pekerjaannya agar bisa mendapat penghasilan dari pada ikut perkumpulan seperti tadi. "Bu Herni belum pulang juga, Bi?" tanya Alea penasaran kepada asisten rumah tangganya itu. "Belum, Non, tapi jarang-jarang sih, Bu Herni sampai dua hari kayak gini belum pulang. Biasanya paling sehari semalam," jawab Bi Ijah yang sudah tahu kebiasaan Bu Herni. "Oh begitu ya, Helen juga tadi aku lihat pergi ya?" tanya Alea lagi memastikan. Tapi, ia yakin kalau matanya belum rabun dalam melihat seseorang. Jelas-jelas tadi yang ia lihat adalah Helen bersama Dokter Ferdinand. Alea melihat pintu ruangan kerja Pak Gilang terbuka. Penasaran, ia pun memasukinya. Terlihat lemari besar berisi buku-buku yang sedikit berantakan. Alea pun berinisiatif untuk membereskannya satu-persatu. Buku-buku itu ia susun dengan rapi, terutama buku-buku yang berada di luar menuju ke dalam rak. "Non, lagi apa?" tanya Bi Ijah yang tiba-tiba muncul di ambang pintu ruang kerja tersebut. "Cuma lagi beresin buku aja, Bi. Kelihatan berantakan banget soalnya," jawab Alea sambil sibuk memisahkan buku-buku yang tadi berantakan. "Ya begitulah, Non, soalnya Den Gavin enggak bolehin Bibi pegang buku-buku itu, entah ada apa," jawab Bi Ijah. "Ya sudah nggak apa-apa, biar sama aku aja. Mas Gavin kayaknya enggak akan marah ke aku," ucap Alea dengan tulus. Ia melanjutkan membereskan buku-buku itu ke dalam rak. Tiba-tiba ia menemukan sebuah map berwarna pink dan juga buku diary berwarna hitam dengan penutup kulit sintetis. "Aneh, padahal ini adalah ruang kerja laki-laki, kenapa ada map berwarna pink seperti ini ya," gumam Alea dengan suara lirih sambil membolak-balik map pink yang transparan tersebut. Rasa penasaran membuat Alea ingin membukanya. Rupanya isinya adalah beberapa berkas penting atas nama Helen. Penasaran dengan latar belakang pendidikan Helen, Alea pun membaca-baca berkas tersebut. Ia tercengang kala mendapati Helen ternyata lulusan kedokteran dari Singapura. Bahkan bukan main nilainya pun hampir mendekati sempurna, ia lulus dengan predikat cumlaude. Mumpung sedang tidak ada siapapun di rumah itu kecuali Bi Ijah, Alea segera mengamankan map tersebut. Ternyata dugaannya benar kalau sakit yang diderita oleh Pak Gilang kemungkinan besar dimanipulasi. Tak lupa juga tadi ia memasukkan buku diary hitam kedalam map tersebut. Alea segera keluar dari ruang kerja tersebut. Padahal pekerjaannya belum selesai, tapi ada yang lebih penting dari itu. Alea membawa map tersebut menuju ke kamarnya. Kebetulan Bi Ijah juga sepertinya sedang di dapur. Sehingga tak ada yang bertanya tentang apa yang dilakukannya. Sesampainya di kamar Alea segera mengunci pintunya. Ia menuju ke sofa untuk kembali melihat berkas tersebut. Tadi ia baru melihat satu lembar ijazah yang berada di paling atas, sehingga penasaran dengan latar pendidikan Helen yang lain. Rupanya Helen adalah anak yang cerdas sejak kecil. Bahkan semua nilai sekolahnya tidak ada yang buruk. Namun, memang sekarang ia tidak memilih bekerja. "Aneh, padahal biasanya orang cerdas seperti ini akan banyak yang membutuhkan. Mungkin jika di dunia kedokteran akan banyak rumah sakit yang meminangnya," ucap Alea dengan suara lirih. Ia belum mengerti dengan jalan pikiran Helen yang lebih mendukung ibunya untuk mengincar harta Ayah tirinya daripada bekerja. Padahal nilainya sangat bagus bahkan lebih di atas rata-rata anak biasa. Siang itu, Alea benar-benar tidak ada kerjaan. Ia menutup mapnya yang sejak tadi di analisanya. Kemudian, berbaring sambil menonton televisi siang itu. Tak ada siaran yang seru dan menarik perhatiannya sehingga terpaksa ia menonton berita. Rasa kantuk tiba-tiba membuat Alea tak berdaya. Ia pun tertidur di sofa tersebut, menjelang sore Alea terbangun dengan tubuh yang lebih segar. Padahal biasanya ia jarang sekali tidur siang, tapi karena tak ada kerjaan membuatnya terlena untuk tidur siang. "Wah, ternyata aku tidur cukup lama juga," ucap Alea lirih sambil melihat jam yang menempel di dindingnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN