Herni Tak Pulang

1201 Kata
"Sudahlah, mending kamu istirahat dulu sana," titah Gavin kepada istrinya itu. Dia juga sudah mengantuk, karena siang tadi mengikuti Helen dan Herni. Walaupun biasanya beraktivitas di luar dengan kuliah mengikuti orang lain rasanya tetap saja berbeda. Lebih melelahkan. Alea lalu menuju ke tempat tidur dan membaringkan tubuhnya di sana. Ia lalu menutupkan selimut ke tubuhnya. Sudah beberapa bulan ia bersama Gavin, tapi suaminya itu seperti tidak pernah berniat untuk menyentuhnya sama sekali. "Gavin perfect, tapi apa ia tidak tertarik dengan wanita sepertiku ya," gumam Alea dalam hati. Ia jadi bertanya-tanya soal Gavin yang sepertinya tidak tertarik sama sekali dengannya. "Jangan-jangan ...." Alea jadi menduga hal yang tidak-tidak. Mendadak ia jadi takut kalau sekamar dengan seorang penyuka sesama jenis. Di kota besar seperti itu tidak menutup kemungkinan, kalau Gavin adalah salah satu dari lelaki bertulang lunak. Lagipula di bawah pun Helen dan suaminya berani pulang dalam keadaan mabuk. Tidak seperti di kampung yang masih menjaga etika. Alea mendadak bergidik ngeri mengingat itu semua. Ia kemudian menutupkan selimut ke kepalanya. Malam telah larut, bahkan sudah lewat tengah malam. Gavin masih sibuk dengan laptopnya, ia tiba-tiba teringat ada berkas yang tertinggal di kantor dan itu adalah berkas penting. Gavin mencari ponselnya untuk menghubungi satpam di kantor. "Loh, ke mana ponselku ya?" ucap Gavin dengan suara lirih sambil celingak-celinguk mengedarkan pandangannya ke seluruh area penjuru kamar, tapi ia tak juga menemukannya. Gavin mencoba mengingatnya, terakhir di mana ia menyimpan ponselnya. Keluar dari kamar mandi menuju walk in closet, iamelemparkan ponselnya ke tempat tidur. "Oh, berarti di kasur," ucap Gavin sambil bangkit dari sofa. Ia kemudian menuju ke tempat tidur dan mencari ponsel miliknya. Setelah menemukannya, Gavin duduk di kasur tersebut sambil menghubungi satpam kantornya yang sedang berjaga malam. Setelah selesai menelpon, Gavin kemudian bersender di tempat tidur tersebut sambil memainkan ponselnya. Tiba-tiba rasa kantuk menyerang, terlebih ia sudah lama tidak tidur di tempat tidurnya sendiri. Kasur yang empuk dan nyaman. Tanpa sadar, Gavin pun terlelap di samping Alea. Mereka yang kelelahan sama-sama nyenyak dalam tidurnya dan tak menyadari kalau mereka sedang tidur satu kasur. Pagi hari, Alea terbangun untuk menyongsong hari yang akan ia jalani. Rasanya perutnya seperti ada yang mengganjal dan berat. Alea melihat ke bawah, ternyata ada tangan besar yang melingkari perutnya. "Loh, ini kan tangan ...." Alea melirik ke samping. Dugaannya tepat. "Kenapa kamu tidur sini!" teriak Alea di pagi hari, memecah kesunyian yang sejak malam tercipta di antara mereka dalam kamar tersebut. "Eh, maaf aku enggak sengaja, semalam ngambil HP terus ketiduran," jawab Gavin dengan polosnya karena ia memang tidak merasa bersalah. "Beneran kamu enggak ngapa-ngapain aku, kan?" tanya Alea dengan tatapan mata menyelidik. "Ngapain juga ngapa-ngapain anak kecil," ucap Gavin yang memang menganggap Alea masih gadis remaja, sementara dirinya sudah berumur. "Kamu mau mandi duluan atau aku duluan?" tanya Gavin mengalihkan pembicaraan. "Aku," jawab Alea cepat. Allea bergegas ke kamar mandi. Meskipun sebenarnya ia libur kuliah, tapi tetap saja ia akan ke kamar mandi. Hanya saja bedanya tidak akan keramas. "Jangan lupa keramas, Sayang," ucap Gavin sedikit. Alea yang sudah di kamar mandi dan mendengar itu mendadak merasa gelisah. "Beneran enggak ya, Mas Gavin enggak ngapa-ngapain aku. Tapi, kok nyuruh keramas," gumam Alea dengan suara lirih. Ia ragu dan takut kalau Gavin melakukan sesuatu padanya. Tapi, seingatnya ia tidak merasakan apapun sejak semalam. Tapi, tadi Gavin sendiri yang bilang suruh keramas. "Apa jangan-jangan aku diapa-apain ya?" Alea masih gelisah. Entah ia harus senang atau sedih. Di satu sisi berarti Gavin lelaki normal, tapi di sisi lain berarti ia melanggar perjanjian dan keperawanannya hilang. Akhirnya Alea pun yakin kalau Gavin melakukan sesuatu terhadapnya. Selesai dari kamar mandi, Gavin pun langsung masuk ke dalam kamar mandi tersebut. Gavin langsung bersiap untuk pergi ke kantor. Ia selalu terlihat perlente dan juga tampan. "Aku ngapain ya? Bosen kalau cuma diam di rumah," tanya Alea yang duduk di tempat tidur sambil melihat Gavin yang sudah siap untuk pergi ke kantor. "Carilah kegiatan kalau mau," ucap Gavin yang berarti mengizinkan Alea untuk pergi ke luar mencari kegiatan di waktu libur kuliahnya saat ini. "Beneran kamu izinin aku?" tanya Alea tak percaya dengan pendengarannya sendiri. "Untuk apa aku bohong?" sahut Gavin dengan dingin. "Dasar manusia es," gerutu Alea dengan suara lirih sambil memalingkan wajah. Gavin sebenarnya mendengar ucapan tersebut, tapi ia memilih diam, lalu mengajak untuk sarapan hari itu. "Mas, beneran semalam kamu enggak ngapa-ngapain aku?" tanya Alea yang masih bertanya-tanya tentang statusnya. "Beneran, emang kenapa? Mau coba diapa-apain?" tanya Gavin sambil mendekati Alea dengan cepat. Alea yang tak siap tak dapat menghindar. Gavin mendekatinya dan mendorong tubuh Alea hingga tertidur di kasur yang tadi didudukinya. "M—Mas," ucap Alea gugup dengan suara lirih. Gavin langsung menindihnya. Mereka masih dengan pakaian lengkap. Cup! Satu kecupan mendarat di pipi mulus Alea. Sebenarnya hasrat kelelakian Gavin naik. Tapi, ia masih ingat tak akan mengambil haknya. Terlebih Alea juga belum siap. "Sekarang kamu mengerti? Kalau aku apa-apain kamu, maka kamu juga bakal merasakannya," ucap Gavin tepat di depan wajah Alea. Mereka masih dalam posisi itu. Gavin lalu bangkit dan berjalan keluar kamar. Alea masih shock dengan apa yang baru saja terjadi. Ia tak menyangka Gavin berbuat seperti itu. Ia meraba pipinya, merasakan sesuatu yang aneh di sana. Alea lalu mengikuti Gavin menuju ke ruang makan. Rupanya di sana masih kosong, hanya ada Bi Ijah yang tengah menata sarapan di meja makan. Juga Gavin yang duduk di kursi biasanya. "Tumben gak ada siapa-siapa," ucap Alea yang heran melihat ruang makan itu sepi. Biasanya Herni dan Helen telah terlebih dahulu berada di sana, karena tidak mau makan makanan yang bekas di sendok oleh Gavin dan Alea. Aneh memang. "Herninya belum pulang, Non, makannya Helen juga nggak sarapan. Dia kan mesti dibangunin terus setiap pagi," ujar Bi Ijah yang sudah tahu kebiasaan di rumah tersebut. "Oh begitu ya, Bi. Memang Bu Herni semalem enggak pulang?" tanya Alea penasaran, meskipun sebenarnya ia tahu dengan apa yang sedang dilakukan Herni sejak kemarin. "Kayaknya enggak, Bibi juga enggak tahu soalnya nggak pernah tanya-tanya juga, tapi Bibi sering denger sih Bu Herni teleponan sama orang, janjian ketemuan di hotel. Apalagi kalau teleponan nya udah jam dua belas malam, jelas banget itu," tutur Bi Ijah menceritakan hal yang sering didengarnya. "Memangnya, Bibi ngapain tengah malam dengerin orang teleponan?" tanya Alea dengan nada bercanda. "Eh, bukan begitu, Non. Bibi kan tiap malam salat tahajud, makanya sering denger, tapi kok kayak orang kasmaran gitu ya. Sering bilang bilang sayang, cinta, sama yang lain-lain," ujar Bi Ijah yang heran dengan sikap Herni. Alea dan Gavin hanya terdiam tak menyahut lagi ucapan Bi Ijah. Meskipun begitu ia tetap tersenyum simpul menanggapi ucapan tersebut. Mereka kemudian makan pagi bersama dengan nasi dan lauk yang sudah disediakan. "Silakan dinikmati, Non, Den," ujar Bi Ijah yang kemudian berlalu menuju ke dapur. Ia masih harus membereskan dapur dan juga mencuci peralatan bekas memasak. Selesai sarapan, Gavin langsung pamit menuju ke kantor. Sementara Alea keluar berjalan-jalan, siapa tahu ada hal yang bisa dilakukannya untuk mengisi hari libur yang membosankan itu. Alea melewati sebuah rumah yang begitu asri dan juga sederhana. Tapi, di dalamnya banyak orang. Penasaran dengan rumah tersebut, Alea pun memasukinya. "Mau ke mana Kak?" tanya salah seorang gadis muda. Mungkin mereka seumuran. "Mau ke sini, ada apa ya? Kok, rame banget?" tanya Alea penasaran.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN