Sesampainya di rumah, Alea langsung menuju kamar. Perutnya masih kenyang karena diisi gorengan di warung pinggir jalan.
"Non Alea," panggil Bi Ijah ketika ia sedang menaiki tangga menuju kamarnya. Sepertinya Herni dan Helem juga belum pulang.
"Iya, Bi, ada apa?" tanya Alea sambil berbalik badan menatap Bi Ijah yang berada di bawah.
"Baru pulang, Non? Makan siang dulu," ucap Bi Ijah dengan penuh perhatian.
"Aku ke kamar mandi dulu aja, Bi, gerah. Oh ya, Helen belum pulang?" tanya Alea penasaran karena Herni pasti belum pulang. Ibu tiri Gavin itu masih berada di hotel bersama pacar gelapnya.
Teringat hal itu, Alea muak sendiri. Ia tak menyangka ada perempuan gila harta dan juga lelaki seperti Herni. Apalagi usianya sudah tak lagi muda.
"Belum, Non. Enggak tahu ke mana," jawab Bi Ijah dengan jujur.
"Ya udah deh, aku ke kamar dulu ya," pamit Alea sambil melanjutkan menaiki tangga.
Hari ini ia mendapat begitu banyak pelajaran dari kehidupan Herni dan Helen. Mereka hidup tanpa aturan, haus dengan harta, dan juga tahta. Sayang, semua itu tak akan lama.
Alea yakin kalau Gavin akan bertindak cepat dan mengambil semua haknya. Pada akhirnya mereka akan merasakan akibat dari perbuatannya.
Sesampainya di kamar, Alea langsung menuju kamar mandi. Menyegarkan diri dengan mandi adalah pilihan yang paling tepat untuk saat itu.
Selesai mandi, Alea lalu duduk di balkon. Ia tak merasa lapar sama sekali. Tak sabar menunggu kepulangan suaminya, ia ingin menceritakan semua hal yang dilihatnya hari itu.
Untuk saat itu memang hanya Gavin yang bisa diandalkan untuk menjadi tempat curhatnya. Bahkan ia juga tidak bisa percaya kepada teman-temannya di kampus.
Hal yang sedang dihadapinya saat ini begitu sensitif. Maka, bocor sedikit saja mungkin akan membuat kegagalan yang parah. Begitu yang sering Gavin katakan dan ingatkan.
Sore hari terlihat mobil Gavin memasuki halaman. Ia pulang lebih cepat dari biasanya, Alea melihat jam. Ternyata baru jam empat sore, padahal biasanya Gavin pulang jam lima.
Alea tersenyum sumringah melihatnya. Ia ingin segera menceritakan kejadian yang tadi dialaminya.
Alea lalu turun ke lantai bawah untuk menyambut kedatangan Gavin. Ia membukakan pintu utama untuk suaminya dengan senyum sumringah.
Gavin tidak tersenyum sama sekali saat dibukakan pintu oleh Alea. Malah mengernyit bingung dengan sikap istrinya yang tidak seperti biasanya. Ia senyum-senyum saat menyambut kedatangannya, padahal biasanya ia bahkan tak pernah menyambut kedatangannha seperti itu.
Mereka berjalan beriringan memasuki rumah. Lalu, menaiki tangga untuk menuju ke kamar. Gavin tidak tahu kalau Herni dan Helen belum pulang ke rumah. Ia malas untuk bertemu dengan mereka, sehingga memilih untuk langsung menuju ke kamar.
Sesampainya di kamar Gavin duduk di sofa yang berada di hadapan televisi. Ia melepaskan jas dan juga dasinya. Rasanya panas sekali setelah seharian berada di kantor.
"Mas, ada yang ingin aku ceritakan," ucap Alea memulai pembicaraan di antara mereka.
Gavin melirik Alea sekilas. "Bicarakan saja," ucapnya.
"Tadi aku mengikuti Bu Herni dan Helen. Banyak hal yang kutemukan terjadi pada mereka," ucap Alea membuka ceritanya tentang penelusuran yang tadi pagi hingga siang.
"Kamu mengikuti mereka untuk apa, sih, sampai lakukan sejauh itu? Kan, aku sudah suruh orang untuk mengikuti mereka," tanya Gavin dengan kesal. Ia takut terjadi apa-apa pada Alea.
Sebagai suami ia ingin melindungi istrinya dengan baik.
"Lagian bosen aja di rumah, ya udah aku ikutin mereka. Tapi, sekarang aku tahu kalau Bu Herni dan Helen hidup dari hasil menjual saham-saham milik keluargamu. Bahkan tadi kebetulan aku lihat Bu Herni sedang transaksi," ujar Alea sambil memperlihatkan foto-foto yang ada di ponselnya.
Gavin melihatnya dengan seksama.
"Aneh, surat-surat tanah dan juga kebun teh ini sudah ada padaku. Tapi, kenapa ia bisa menjualnya," ucap Gavin dengan suara lirih.
"Mungkin yang dijual oleh bu Herni palsu," celetuk Alea dengan santainya.
"Ada dua kemungkinan, milikku yang palsu atau milik Herni yang palsu. Tapi, jika surat itu palsu biasanya orang-orang mapan seperti ini akan bisa membedakan," tutur Gavin memberi alibi keanehan yang ia temukan.
"Iya, tadi juga Bu Herni bilang kalau surat itu asli dan bisa dicek ke pemerintahan dan juga dicek barcode-nya. Ia bicara dengan begitu yakin," sahut Alea dengan antusias.
"Nah, berarti ada kemungkinan milikku palsu," ucap Gavin sedikit kesal karena dengan begitu berarti menambah daftar pekerjaan dalam hal merebut harta warisan.
"Bisa jadi," ujar Alea singkat.
Gavin lalu bangkit dari duduknya untuk ke kamar mandi. Daripada memikirkan hal berat soal perebutan harta warisan, ia lebih baik mendinginkan diri dulu.
Alea hanya menarik napas panjang. Tanggapan Gavin ternyata tidak seperti yang diharapkan. Dia pikir Gavin akan sangat senang dan antusias dengan apa yang dilakukan olehnya hari itu. Tapi, memang dasarnya dingin dan cuek, jadi tanggapannya sangat biasa saja.
Beberapa saat kemudian, Gavin keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar. Ia kemudian menuju ke walk in closet untuk mengenakan baju.
Setelah itu, ia menuju ke sofa dan duduk kembali bersama Alea.
"Jadi, apa saja yang kau temukan di penelusuran tadi?" tanya Gavin dengan lebih antusias.
Sepertinya tadi ia masih lelah dengan pekerjaannya. Lalu, ditodong dengan cerita Alea. Sekarang ia terlihat lebih segar dan bisa diajak untuk mengobrol.
Alea memandang tak percaya pada Gavin yang bertanya tentang apa yang dilakukannya tadi. Dia pikir Gavin sudah tidak peduli dengan penelusurannya tadi.
Alea kemudian menceritakan hasil penelusurannya dengan antusias.
"Aku enggak menyangka kalau Bu Herni punya simpanan brondong seperti itu. Aku pikir perempuan tidak mungkin selingkuh, soalnya teman-temanku rata-rata laki-laki yang selingkuh," tutur Alea dengan polos.
Gavin terkekeh mendengarnya.
"Zaman sekarang mau laki-laki mau perempuan kalau anaknya b***t ya tetep aja. Kalau baik ya baik, itulah kenapa aku memilihmu," ucap Gavin dengan sorot mata tajam memandang Alea menandakan ia serius dengan ucapannya.
Alea seketika tersipu malu, meskipun dalam hati ia bertanya-tanya apakah Gavin bermaksud menyebutnya sebagai orang baik. Jantungnya pun berdetak lebih kencang.
Mereka akhirnya mengobrol bersama soal langkah-langkah selanjutnya dengan santai. Setelah malam tiba, Gavin dan Alea turun ke bawah untuk makan malam.
Bi Ijah telah menyiapkan makan malam untuk mereka.
"Bi, ayo, makan bareng," ajak Alea kepada Bi Ijah.
Ia mulai akrab dengan Bi Ijah, lagipula asisten rumah tangga itu sudah bekerja lama kepada keluarga Gavin. Jadi, tidak perlu dicurigai menjadi salah satu mata-mata Herni dan Helen. Malah Bi Ijah juga tidak menyukai dua orang itu.
"Iya, silakan, Non, nikmati saja makan berduanya dengan tenang. Mumpung enggak ada si Herni sama Helen," ucap Bi Ijah dengan nada bercanda.
"Siap, Bi, siap," ujar Alea sumringah.
Alea dan Gavin lalu menikmati makan malam tersebut dengan tenang. Tidak seperti biasanya, yang dengan suasana tidak nyaman.
Selesai makan, Gavin mengajak Alea untuk duduk di ruang tengah. Seperti biasanya ruang tengah itu seakan menjadi milik mereka setiap Herni dan Helen tak ada. Tapi, menjadi milik orang lain ketika Herni dan Helen ada di rumah.
Alea duduk bersebelahan dengan Gavin, tapi masih ada jarak di antara mereka sekitar satu meter. Alea masih merasa risih jika harus berdekatan dengan Gavin. Padahal mereka sudah beberapa bulan tinggal bersama.
Selama itu pula keperawanan Alea masih utuh. Padahal Gavin merupakan lelaki normal yang sedang bisa juga naik hasratnya. Hanya saja ia masih menghormati perjanjian mereka dulu.
Baru beberapa menit Alea dan Gavin duduk di ruang tengah tersebut, tiba-tiba pintu utama digedor dari luar. Penasaran dengan siapa yang berani menggedor pintu, Gavin pun bangkit dari duduknya untuk membuka pintu.
"Mas, mau ke mana? Hati-hati!" ujar Alea, "Saya takut kalau itu adalah orang jahat."
"Jangan khawatir, lebih jahat Herni dan Helen daripada preman sekalipun," ucap Gavin sambil berlalu menuju ke pintu utama.
Rasa penasaran Alea membuatnya mengikuti Gavin dari belakang. Dia juga ingin tahu siapa yang datang malam-malam begitu dengan menggedor pintu.
Rupanya pintu depan memang sudah dikunci oleh Bi Ijah. Saat dibuka yang datang adalah Helen dan suaminya dalam keadaan mabuk.
Baru kali itu Alea melihat orang mabuk secara jelas. Di kampungnya ia tak pernah melihat secara jelas, meskipun sering mendengar kasak-kusuk kalau ada beberapa tempat yang digunakan untuk seorang pemabuk.
Alea mundur beberapa langkah ke belakang. Di kampung, kabar pemabuk itu menakutkan dan barbar, sehingga Alea takut mereka berbuat kasar di sana.
Helen dan suaminya masuk sambil menggerutu dan marah soal pintu yang tadi dikunci.
"Berasa rumah sendiri! Makanya pintu aja dikunci, lagian aku juga anaknya Papa Gilang kok!" cerocos Helen sambil berlalu dan di rangkul oleh suaminya.
Gavin hanya menggeleng pelan, lagipula percuma meladeni orang-orang yang sedang mabuk seperti itu. Nanti saat sadar mereka belum tentu ingat kejadian yang terjadi saat mabuk seperti itu.
Gavin kemudian menutup dan mengunci pintunya kembali. Kasihan bila Bi Ijah harus beberapa kali mengunci pintu. Lagipula rumah itu sungguh luas, memerlukan waktu untuk bolak-balik dari belakang ke pintu utama.
"Lebih baik kita ke kamar saja," ajak Gavin sambil berlalu dari tempat tersebut. Alea mengikutinya dari belakang. Di ruang tengah ia melihat pasangan tadi tengah terbaring di sofa.
Gavin benar-benar muak melihat pemandangan tersebut. Andai bisa memilih, ia lebih baik tidak memedulikan mereka. Sayangnya, harta ibunya yang jadi taruhan, jika saja itu adalah harta ayahnya semata ia juga takkan mempertahankannya.
Sesampainya di kamar, Gavin langsung menuju ke sofa dan membaringkan dirinya di sana. Sementara Alea mengunci pintu terlebih dahulu kemudian ikut duduk di sofa.
"Wajahmu kenapa ketakutan begitu?" tanya Gavin heran melihat Alea yang seperti ketakutan, padahal menurutnya tak ada hal yang menakutkan sejak tadi.
"Baru kali ini aku lihat orang mabuk secara jelas," jawab Alea.
"Takut aja kalau mereka berbuat nekat dan brutal seperti yang dikabarkan orang," lanjutnya.
"Memang sih, orang mabuk itu kehilangan akalnya. Tapi, tentu saja berbeda-beda, ada yang rese dan yang enggak," tutur Gavin menjelaskan, tapi sayangnya Alea yang tidak mengenal dunia seperti itu jadi tak mengerti maksud pembicaraan Gavin.