Menguntit

1615 Kata
Gavin mencoba menusuk salah satu sosis yang digoreng dengan garpu. Ia kemudian memakannya. "Enak," ucap Gavin singkat yang berarti memuji makanan Alea. Alea tersenyum mendengarnya. Tidak menyangka kalau Gavin yang dingin bisa memuji hasil masakannya, meskipun hanya sosis goreng. Setelah memakan satu potong, Gavin meletakkan kembali garpunya. Lidahnya masih terasa pahit untuk memakan makanan. Alea teringat sebentar lagi akan menjelang libur semester. "Mas, sebentar lagi libur semester. Apa aku boleh pulang?" tanya Alea dengan sedikit gugup. "Kalau boleh aku kasih saran, sebaiknya di sini saja. Kita bereskan rencana, mungkin hanya untuk liburan semester ini saja," tutur Gavin memberi pendapatnya. Alea mengangguk-ngangguk mengerti. Ia ingat kalau dirinya teringat kontrak dengan Gavin. Mau tidak mau ia harus menurutinya. "Baiklah, aku setuju," sahut Alea dengan lesu. "Kamu yakin?" tanya Gavin seolah tak percaya. Padahal tadi dia sendiri yang mengusulkan seperti itu. "Yakin," jawab Alea singkat. *** Liburan semester tiba. Alea yang tadinya ingin pulang ke rumahnya harus mengurungkan niat mengalah demi rencana Gavin. Pagi hari pertama di hari liburnya Alea masih bersantai di kamar. Sementara itu, Gavin tetap akan pergi ke kantor. Ia sudah bersiap dengan pakaian formalnya. "Sarapan dulu, ya," ucap Alea yang melihat Gavin keluar dari walk in closet dengan pakaian rapi. Dia terlihat begitu tampan. Sayangnya, belum ada rasa cinta yang tumbuh di antara mereka. Gavin mengangguk, kemudian mereka keluar dari kamar tersebut. Menuju ke ruang makan yang ada di lantai satu. Di ruang makan itu, sudah ada Helen, Herni, dan Yudi. Mereka tengah menikmati sarapan dengan lahap. Tak ada obrolan di antara mereka. Padahal tempo hari suami Helen sudah jarang pulang. Bahkan, Helen pun sering mengamuk dan menangis. Tapi, sekarang mereka terlihat bersama lagi. Juga terlihat biasa saja, tidak seperti pasangan yang memiliki masalah. Entah apa yang terjadi saat itu. Alea dan Gavin duduk di sisi kanan meja tersebut. Kemudian, Alea yang mengambilkan makanan untuk dirinya dan suaminya. "Ada yang libur semester nih, kok enggak kemana-mana?" tanya Helen dengan begitu menyebalkan. Setiap suara yang keluar dari mulutnya terdengar seperti mencibir Alea. Meskipun sekarang ia sudah kebal dengan semua ucapan-ucapan itu. "Aku mau di sini saja," ucap Alea singkat sambil meneruskan makannya. Setelah selesai sarapan, Gavin langsung pamit menuju ke kantornya. "Ngapain coba kamu di sini? Bukannya pulang aja sana, kalau nggak ada kegiatan keluar," ucap Herni yang mengusir Alea dari rumah itu. 'Sepertinya ada yang mereka sembunyikan,' gumam Alea dalam hati. Jelas Herni dan Helen begitu ketakutan ia berada di rumah. "Sebagai istri Tuan Gavin maka ini juga merupakan rumahku bukan?" tanya Alea dengan elegan dan menyombongkan diri pada mereka. "Jangan sok deh, cuma jadi istrinya Gavin doang," cibir Helen kesal melihat tingkah Alea. "Harus dong, secara Gavin itu adalah anak tunggal dan pewaris harta warisan." Alea semakin bertingkah. Entah mengapa ia memang tidak bisa bersikap baik kepada orang-orang seperti itu. Alea kemudian berlalu dari ruang makan tersebut menuju ke kamarnya. Beberapa saat kemudian, ia melihat mobil merah keluar dari halaman. Itu adalah mobil Helen. Rupanya meski tidak punya kegiatan, Helen sering pergi keluar. Ia ia kemudian menelpon orang yang ditugaskan untuk mengikuti keseharian Helen. Sementara itu, dirinya sendiri bertugas untuk mencari tahu kegiatan Herni. Ia keluar dari kamar dan berjalan menuju halaman belakang rumah. BI Ijah sedang membereskan ruang tengah. "Mau ke mana, Non?" tanya Bi Ijah dengan ramah. "Ke sini aja, Bi," jawab Alea singkat dengan senyum simpul. Baru saja ia sampai di halaman belakang, terlihat Herni yang sudah rapi dengan pakaiannya. Sepertinya ia akan pergi juga. 'Mau ke mana mereka? Punya kegiatan apa sehingga harus pergi setiap hari?' gumam Alea dalam hati. Seingatnya, Helen dan Herni tidak memiliki pekerjaan apapun. Tapi, memang kata Bi Ijah mereka selalu bepergian setiap harinya. Sayang Alea tidak bisa menyetir mobil di saat Gavin tidak ada. Ia juga tidak bisa ke mana-mana, tapi penasaran dengan apa yang mereka lakukan. Akhirnya, Alea memesan ojek online untuk mengikuti Herni. Jalanan macet, sepertinya di hari pertama libur semester ini banyak orang yang keluar untuk liburan. Menguntungkan Alea untuk mengikuti Herni. Rupanya pemberhentian pertama Herni adalah memasuki sebuah restoran bintang lima. Ia mengadakan arisan dengan teman-teman sosialitanya. Alea mengikutinya hingga ke dalam. Ia menutupi wajahnya dan duduk tidak jauh dari tempat Herni. Ia hanya memesan minuman kepada pramusaji. "Jeng Herni udah lama nih, suaminya sakit. Kenapa enggak segera nikah lagi, Jeng? Sudah jadi janda kaya ini," kata salah satu temannya dengan nada bercanda. "Semua kekayaannya belum resmi jadi milikku. Tunggu tanggal mainnya saja, lagian si Doni juga masih ada dan sering menemaniku," sahut Herni dengan bangganya. 'Berarti Bu Herni selingkuh dong,' gumam Alea dalam hati. Ia seakan tidam percaya, ada perempuan yang berani selingkuh. Tapi, nyatanya itu ada di hadapannya. "Sudah dipelet sama Doni, enggak bisa lepas. Padahal dia itu masih muda loh," sahut yang lainnya. "Ah, enggak usah munafik deh, lagian kalian juga kan punya simpenan. Meskipun suaminya masih sehat dan bugar," ucap Herni tanpa merasa bersalah. Alea heran dengan apa yang ia ketahui. Ternyata ibu-ibu tersebut memiliki simpanan di belakang suaminya. Mungkin karena suami mereka memang kaya raya dan sibuk dengan pekerjaan. Mereka lalu mengadakan arisan yang tak main-main. Mengorbankan harta dengan begitu banyak. 'Dari mana Bu Herni mendapatkan uang itu, ya?' gumam Alea dalam hati. Ia jadi heran melihat Herni yang mengeluarkan uang banyak. Padahal dia tidak bekerja sama sekali dan Gilang ayah Gavin masih berada di rumah sakit. Tapi, sepertinya Herni tak pernah kekurangan uang. Jika didengar lagi juga, bahan Herni memelihara seorang pria muda. Sepertinya pria muda tidak mungkin bisa memberi uang sebanyak itu. Malah bisa jadi Herni yang memberi biaya pada lelaki itu. Alea kemudian berlalu dari restoran tersebut, ketika Herni juga akan keluar. Ia terus mengikutinya. Ternyata ia menuju ke salon. 'Begini rupanya keseharian mereka, enak sekali hanya berfoya-foya tanpa memikirkan apapun,' gumam Alea dalam hati. "Ini kita mau kemana lagi? Sudah dari tadi muter-muter," tanya Abang Ojol yang tidak mengerti dengan sikap Alea yang memang sedang mengikuti seseorang. "Kita ikuti dia seharian, Bang. Tenang nanti biar saya ganti deh ongkos bensinnya," ujar Alea yang memang memiliki uang di ATM Gavin. "Beneran ini?" tanya Abang Ojol itu seolah tak percaya "Beneran lah, segini dulu," ucap Alea sambil membuka tasnya. Ia mengeluarkan uang seratus ribuan tiga lembar. "Wah, makasih banyak ya, Neng," ucap si Abang Ojol tersebut dengan sumringah. Apalagi itu baru DP. "Sama-sama," sahut Alea singkat, sambil kembali memerhatikan salon mewah yang ada di hadapannya. Mereka duduk di warung tepi jalan sambil menunggu Herni keluar dari salon tersebut. Satu jam kemudian, Herni keluar dengan seorang pria yang tadi masuk belakangan. Ia terlihat lebih muda dan tampan, tapi sepertinya hanya pemuda biasa. "Ayo, Bang, ikuti lagi," ujar Alea sambil menepuk-nepuk pundak Bang Ojol. Mereka kemudian mengikuti mobil yang dibawa oleh Herni di dalamnya. Juga ada sopir pribadi keluarga mereka. 'Sopir itu tahu dong keseharian Herni,' gumam Alea dalam hati. Ia harus bisa mendekati sopir pribadi Herni bagaimanapun caranya. Mobil terus berjalan sampai akhirnya berhenti di sebuah restoran bintang lima. 'Herni mau makan lagi?' gumam Alea dalam hati sambil melihat restoran mewah yang ada di depannya. Untung saja saat di restoran pertama, Alea hanya memesan minuman. Ternyata selera makan Herni banyak juga. Alea mengikutinya dan masuk ke dalam. Ternyata kali ini Herni bertemu dengan pria gendut berkepala botak yang sepertinya memang kaya raya. "Bagaimana, Bos? Jadikan beli kebun teh saya ini? Surat-suratnya lengkap loh, lagian saya udah enggak sempet ngurusnya," tutur Herni sambil memperlihatkan surat-surat yang dikeluarkannya dari tas. "Jadi dong, ini asli kan surat-suratnya?" tanya pria yang dipanggil bos tersebut. "Asli dong, Bos, bisa cek aja ke kantor atau ini ada barcode-nya buat dicek," ucap Herni dengan begitu meyakinkan. Beberapa saat kemudian, transaksi pun terjadi. Herni menjual salah satu saham kepada bos tersebut. 'Berarti begitulah cara bertahan hidup dengan menjual saham-saham milik keluarga Gavin,' tutur Alea dalam hati. Ia yang baru mengetahui hal tersebut sangat heran. Ternyata ada orang yang memang ingin hidup dengan mudah seperti itu, hanya mengandalkan harta orang lain. Alea tak habis pikir. Padahal dirinya selalu ingin bisa kaya raya dengan hasil jerih payah sendiri dan menikmatinya sendiri. Tidak menjadi benalu untuk orang lain. Setelah saham terjual, Herni pun berterima kasih kepada bos gendut tersebut dan pergi bersama Doni, kekasih mudanya. Mereka melanjutkan perjalanan menuju ke hotel. "Sepertinya akan lama mereka berada di sini," ucap Alea, ia lalu memutuskan untuk pulang. Namun saat dalam perjalanan pulang, kebetulan ia melewati rumah sakit yang ditempati oleh Pak Gilang, Ayah Gavin. Ia melihat mobil Helen masuk ke dalam parkiran. "Pak, kita ikutin mobil itu ya." Tunjuk Alea kepada mobil berwarna merah menyala itu. "Enggak jadi pulangnya, Neng?" tanya Abang Ojol yang tidak mengerti dengan apa yang Alea lakukan. "Nanti ajalah pulangnya," sahut Alea sambil turun dari motor untuk mengikuti langkah Helen. Alea melihat jam tangannya. Ternyata itu adalah jam jenguk, pukul setengah satu siang. Rupanya Helen memasuki ruangan rawat Pak Gilang. 'Apa mungkin Helen hanya bermaksud untuk menjenguk Pak Gilang saja?' gumam Alea dalam hati, tetapi ia sendiri tak percaya dengan hal itu. Alea terus mengikutinya, tak lama kemudian masuk seorang dokter ke dalam ruangan tersebut. Ia tak bisa terlalu dekat dengan ruangan itu, karena jika ada yang keluar maka ia tidak bisa melarikan diri. Tapi, ia juga penasaran dengan apa yang dilakukan Helen di sana. Hanya lima menit, Helen dan dokter tadi keluar. Mereka berjalan bersama seperti yang sudah lama kenal, bahkan sambil ngobrol-ngobrol. "Kamu tahu kan kalau itu berbahaya?" tanya dokter itu kepada Helen. "Tahu, tapi tenang saja semuanya aman," sahut Helen dengan percaya diri. Mereka kemudian pergi dari tempat itu. Alea tak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan. Tapi, sepertinya ada yang tidak beres dengan penyakit Pak Gilang. Alea kemudian keluar dari rumah sakit tersebut dan mengajak abang ojol tadi untuk pulang. Hampir setengah hari lebih dia memutar-mutar kota itu. Hanya untuk mengikuti dua orang wanita yang haus dengan harta kekayaan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN