Hampir Jatuh

1037 Kata
Alea jadi bingung antara berangkat dan juga tidak ke kampusnya. Tapi, ia memang benar-benar tak sanggup meninggalkan Gavin dalam keadaan seperti itu. Terlebih memang Gavin jarang sekali sakit. Gavin sepertinya tak mendengarkan ucapannya, ia terlelap dalam tidurnya. Alea kemudian keluar dari kamar dan menuju ke dapur. Ia akan mengambilkan sarapan untuk Gavin. Sesampainya di dapur, rupanya Bi Ijah tengah menyiapkan makanan untuk sarapan. "Bi, bisa buatkan bubur untuk Mas Gavin?" tanya Alea dengan sopan pada Bi Ijah. "Loh, memangnya Den Gavin kenapa, Non?" tanya Bi Ijah heran. "Mas Gavin sakit, Bi. Badannya meriang dan panas," jawab Alea. "Oh, kalau begitu, baiklah, Non. Tapi, bukannya Den Gavin enggak suka bubur, Non?" tanya Bi Ijah memastikan. Seingatnya Gavin memang tak menyukai bubur ayam. "Masa sih, Bi? Tapi, dia lagi sakit. Enggak apa-apa, bikinin aja, Bi, nanti biar aku yang kasih," jawab Alea dengan begitu yakin. Ia lalu menunggu bubur jadi sambil sarapan di meja makan. Mumpung Herni dan Helen belum ke sana. Di pagi buta seperti itu, mereka pasti masih tertidur. Alea malas jika harus sarapan bersama mereka. Jadi, lebih baik duluan saja. Setelah selesai sarapan, ia menuju ke dapur dan melihat Bi Ijah yang masih mengaduk-ngaduk bubur di panci. "Hem ... wanginya enak, Bi. Pakai daun salam ya?" tanya Alea. "Iya, Non, tahu aja," jawab Bi Ijah. Tak lama kemudian, bubur pun telah siap, lengkap dengan toping ayam suwir ,kerupuk, dan kecap. Alea lantas membawanya dalam nampan. Tak lupa juga minumannya. Ia melangkah keluar dari dapur dan melewati ruang makan. Sialnya malah bertemu dengan Herni dan Helen yang hendak sarapan. "Siapa yang sakit pakai makan bubur segala?" tanya Herni yang selalu ingin tahu dengan semua yang Alea lakukan. "Memangnya kalau makan bubur mesti orang sakit," jawab Alea ketus. Ia tak bisa beramah-tamah dengan mereka. Ia langsung melenggang pergi tanpa mendengar lagi ocehan mereka. Menaiki tangga untuk menuju ke kamarnya yang ada di lantai dua. Sesampainya di depan pintu, Alea langsung memasukinya. Lagipula pintu juga tak dikunci. Alea mendekati suaminya yang terbaring di sofa. Gavin masih terlelap dengan tenang. Ia membiarkannya sejenak, lagipula bubur yang dibawanya juga masih sangat panas dan mengepulkan asap. Alea lalu mengirim pesan chat kepada Tias untuk izin hari itu. Sebenarnya ia sudah terlalu banyak mengambil jatah cuti. Hanya saja karena Gavin orang yang berpengaruh di kampus itu, sehingga ia tak kena sanksi. Alea hanya memainkan ponsel di sebelah bawah kaki Gavin. Ia duduk di sofa yang ditempati suaminya tidur sejak semalam. "Ma ... mama ...," gumam Gavin lirih. Matanya masih terpejam. Sepertinya ia mengigau. Alea menatapnya iba. Rindu yang paling menyakitkan adalah merindukan orang yang sudah meninggal. Kita tak dapat lagi bersua dengannya, meskipun rindu sudah begitu menghujam d**a. Gavin kembali tenang. Bubur di mangkuk sudah mulai hangat, Alea mencoba membangunkan suaminya itu untuk sarapan. "Mas, Mas," panggil Alea sambil menepuk-nepuk tangan Gavin. Gavin tersadar dari tidurnya. Ia melihat Alea tanpa bertanya. "Sarapan dulu, ya, kamu sakit," ucap Alea sambil memperlihatkan mangkuk yang dipegangnya. "Apa itu?" tanya Gavin pelan. Melihat mangkuk yang dibawa Alea, ia curiga kalau isinya adalah bibir ayam.. "Bubur, Mas. Makan ya," jawab Alea dengan santainya. "Aku tidak suka," sahut Gavin singkat sambil memejamkan matanya kembali. "Coba dulu," titah Alea sambil mendudukkan Gavin di sofa itu. Ia lalu menyuapinya makan bubur, Gavin tak menolak. Ia malah menikmatinya dengan lahap. Sudah lama sekali sejak ia membenci bubur itu. Ada trauma masa lalu yang membuatnya tak menyukai bubur ayam. "Ye ... habis. Katanya enggak suka, tapi habis juga," cibir Alea yang melihat Gavin lahap makan bubur. Gavin sebenarnya malu. Tapi, ia memilih tak menanggapinya. Ia bahkan sudah lupa dengan rasa bubur ayam dan baru mencobanya lagi tadi saat Alea menyuapinya. Alea berlalu ke dapur untuk menyimpan mangkuk bekas makan Gavin. Sekaligus ia ingin membuat cemilan seperti sosis goreng. Untungnya di rumah itu selalu sedia makanan cepat saji seperti sosis dan lainnya. Di dapur, Bi Ijah tengah sibuk membereskan peralatan masak. Ia memang begitu rajin dan gesit. Itulah sebabnya pekerjaannya terpakai oleh ibunya Gavin dulu. Bahkan hingga kini. Padahal sudah ada dua asisten rumah tangga lain yang membantu, tapi ia tetap gesit. "Bibi," sapa Alea sambil membuka lemari es dua empat pintu itu. "Eh, Non Alea, mau bikin apa? Mau bini buatkan?" tanya Bi Ijah ramah. Alea mengambil beberapa sosis dan nuget ayam dari lemari es. "Mau buat cemilan aja, biar Mas Gavin banyak makan," jawab Alea dengan senyum simpul. Ia kemudian mengambil wajan dan menggoreng makanan yang tadi diambilnya dari lemari es. Dengan cekatan ia menggoreng makanan itu. "Bi, Mas Gavin sukanya apa?" tanya Alea yang mulai penasaran dengan apa yang disukai Gavin. Ia ingin menyajikan makanan kesukaannya di saat dia sakit seperti itu. "Sukanya ... banyak sih, Non. Cake keju, kupat tahu, asalkan makanan kampung kayaknya Den Gavin suka. Makanya dulu Nyonya sering banget buat cemilan apa aja buat Den Gavin, minimal ubi rebus," tutur Bi Ijah menjelaskan. "Oh, baiklah kalau begitu, makasih ya Bi," ucap Alea. Ia telah selesai menggoreng dan mengangkat sosis dan nuget dari wajan. Setelah makanan yang tadi digorengnya ditata di piring, Alea pun membawanya ke kamar. Gavin masih tiduran di sofa, namun kali ini sudah bisa sembari menonton televisi. Alea mendekati sofa dengan nampan berisi piring dan gelas yang dibawanya. 'Duh, Mas Gavin bakal suka enggak ya sama masakanku,' gumam Alea dalam hati. Ia jadi takut kalau Gavin tak menyukai makanannya. "Mas, dimakan dulu, biar tambah tenaga," ucap Alea sembari menyimpan nampan di meja. "Makasih," ucap Gavin singkat sambil berusaha bangkit dari tidurnya. Tapi, ternyata rasa pusing malah semakin terasa dan ia oleng. Hampir saja Gavin terjatuh kembali kalau saja Alea tak menahannya. Wajah mereka begitu dekat bahkan hembusan napas Alea yang tadi kaget karena Gavin hampir terjatuh, bisa dirasakan dengan jelas. Mata mereka beradu pandang. Selama beberapa detik tak ada yang mengganggu mereka. "Ma—maaf," ucap Alea dengan gugup. Ia kemudian, melepaskan Gavin yang juga bangkit dan duduk di sofa. Suasana mendadak canggung, padahal apa yang dilakukan bukanlah kesalahan fatal. Malah terkesan romantis. Gavin tak menjawab. Lagipula tak ada yang perlu dimaafkan, Alea tadi hanya berusaha membantunya yang memang terasa pusing. "Coba dulu, siapa tahu suka," ucap Alea sambil menyodorkan satu piring berisi makanan yang tadi digorengnya. 'Duh, kenapa jadi salah tingkah gini, sih. Kayak anak ABG aja, ya ampun ...." Alea bergumam dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN