Gavin Sakit

1541 Kata
"Hamil?! Hamil dari mana? Orang itu aja ...." Alea tak melanjutkan ucapannya. "Orang itu aja apa Non?" tanya Bi Ijah penasaran. "Orang itu aja Helen yang nikah lebih dulu belum punya anak." Alea mencoba mengelak. Ia hampir saja keceplosan bilang kalau belum pernah melakukan hubungan suami istri. "Kalau itu memang wajar, Non, namanya juga di KB dulu. Tapi, kayaknya malah keterusan kering rahimnya," sahut Bi Ijah yang mengetahui kalau memang Helen menggunakan KB suntik di awal pernikahannya. Namun, hingga kini masih belum dikaruniai keturunan. Orang-orang bilang, biasanya karena rahimnya kering efek obat dari KB, atau minimal akan lama memiliki keturunan. "Oh begitu ya, Bi. Terima kasih ya untuk jus alpukatnya," ujar Alea sambil mengangkat gelasnya. Ia berniat untuk mengakhiri pembicaraan tersebut. "Oh, iya sama-sama, Non. Kalau gitu Bibi ke dapur lagi ya," pamit Bi Ijah kepada Alea. Ia kemudian melenggang pergi menuruni tangga yang memang berada tak jauh dari kamar itu. Sementara itu, Alea segera menutup pintu dan kembali ke sofa yang ada di kamar tersebut. Ia duduk di sebelah Gavin yang masih sibuk dengan pekerjaannya. "Mau jus alpukat lagi?" tanya Alea sambil menyodorkan gelas berisi jus alpukat yang tadi dibuatkan Bi Ijah. "Enggak, nanti kamu marah lagi dan minta buatkan lagi sama Bi Ijah," sahut Gavin tanpa melirik sedikit pun ke arah Alea. Meskipun jika dilihat-lihat Gavin tampan juga dengan sikap dinginnya seperti itu. Alea lalu melanjutkan acara ngemilnya, sementara laptop di hadapannya masih dianggurkan. Ia masih memiliki stok makanan pedas, jus alpukat, juga setengah cup boba yang akan dinikmatinya saat itu juga. "Kamu enggak akan sakit perut makan pedas segitu banyak?" tanya Gavin heran. "Enggaklah. Eh iya, tadi kok Bi Ijah nyangka kalau aku hamil?" Alea berkata sambil kembali memasukkan makanan pedas itu ke mulutnya. "Entahlah, mungkin karena kamu minta jus," jawab Gavin yang tak ingin menceritakan kejadian tadi saat ia meminta jus alpukat pada Bi Ijah. "Hem, gitu ya. Kok, bisa sih, wajarlah orang minta jus, bukan cuma orang hamil aja," ungkap Alea sambil terlihat kepedasan karena makanan yang dimakannya. Gavin tergiur melihat Alea yang sepertinya begitu nikmat memakan cemilan pedas itu. Ia pun mengambil satu bungkus makanan pedas yang belum dibuka. Kemudian, mencobanya. Seketika rasa pedas dan gurih itu begitu terasa di lidahnya. Setelah semua makanannya habis, Alea kembali melanjutkan mengerjakan tugas kuliahnya. Mereka hanya menyelang untuk salat, kemudian lanjut berhadapan dengan laptop. Tak ada pembicaraan berarti di antara mereka, terlebih memang Gavin bersikap dingin pada Alea. Waktu makan malam pun tiba, Alea dan Gavin menuju ke ruang makan untuk mengisi perut. "Kalau kamu enggak suka dengan ibu dan adik tirimu, kenapa kita enggak makan di kamar aja? Kan, bisa diantar sama Bi Ijah," tanya Alea saat mereka menuruni tangga. "Tidak baik makan di kamar," sahut Gavin dengan dingin. Itu adalah pesan yang selalu dikatakan ibunya dahulu. Meskipun keadaannya berbeda, ia masih selalu mengingatmu nasehat-nasehat ibunya. Alea hanya mengangguk-ngangguk, kemudian mereka melanjutkan langkah menuju ke ruang makan. Ternyata di sana sudah ada Helen dan Herni yang sudah mulai makan. Suami Helen sudah beberapa hari ini tak terlihat di rumah. Entah ke mana perginya. Bertanya pada Helen pun akan percuma, lagipula tak penting juga bagi Alea dan Gavin. Mereka makan malam bersama di satu meja, tapi seolah disekat oleh dinding besar di antara mereka. "Makanlah, jangan cuma diaduk-aduk begitu!" bentak Herni yang kesal kepada anaknya. Helen sejak tadi hanya mengaduk-ngaduk makanan. Sepertinya ia ada dalam masalah besar yang sedang di hadapinya. Mendadak pekerjaan untuk mencari informasi itu jadi menarik bagi Alea. Ia penasaran dengan kehidupan Helen yang sepertinya penuh lika-liku. "Aku males, ah, Ma," ujar Helen sambil bangkit dari duduknya dan melenggang pergi dari ruang makan itu. "Helen!" panggil Herni dengan keras, "Mau ke mana kamu?! Nanti kamu sakit kalau enggak makan." Terdapat nada kekhawatiran dalam nada suara Herni. Tentu saja, Helen adalah anak satu-satunya. Baginya ia adalah harta yang paling berharga dalam hidupnya. Sekaligus partner untuk mendapatkan harta warisan yang dianggap bisa memberikan kebahagiaan baginya. Herni melanjutkan makannya dengan cepat. Bahkan hampir saja tersedak saking cepatnya. Alea memerhatikan drama gratis di hadapannya itu. Sementara Gavin memilih untuk bersikap tak peduli dengan mereka. Selesai makan malam dengan kecepatan ekstra Herni pergi dari ruang makan tanpa berkata apapun. Sepertinya ia akan menyusul Helen ke kamarnya. "Sepertinya Helen sedang ada dalam masalah berat ya?" tanya Alea yang sejak tadi memperhatikan ipar tirinya itu. "Makan dulu. Tak perlu menanyakan mereka untuk saat ini." Gavin tak suka membahas ibu dan adik tirinya itu di saat seperti itu. Meskipun di saat selain makan pun ia tak suka membahas soal mereka. Padahal ia juga butuh banyak informasi untuk kelengkapan data administrasi aset-aset warisan ibunya. Alea melanjutkan makannya dengan lahap. Rasanya tenang sekali setelah Helen dan Herni pergi dari tempat itu. Membuat nafsu makannya meningkat dengan drastis. Gavin menatap Alea yang masih menikmati makanannya. Ia lebih suka memerhatikan Alea makan daripada makan. "Kenapa kamu lihatin aku seperti itu?" tanya Alea yang merasa risih dirinya diperhatikan oleh Gavin. "Tidak apa-apa, kamu cantik kalau lagi makan lahap gitu," jawab Gavin dengan jujur. "Gombal, lelaki semua sama saja ternyata," sahut Alea sambil mengambil kembali ayam goreng yang ada di meja itu. "Aku tak pernah menggombali orang lain, selain ibu dan istriku," jawab Gavin sambil tersenyum simpul. Membuat debar jantung Alea tak beraturan. Ia tak menyangka Gavin bisa berkata-kata manis seperti itu. Padahal biasanya ia dingin dan menyebalkan. "Ciee ... Den Gavin jadi romantis. Apa jangan-jangan karena mau punya anak?" Bi Ijah tiba-tiba saja muncul di ruang makan itu tanpa diundang. "Bi, apaan sih, lagian aku enggak hamil kok, Bi," sahut Alea yang tak ingin gosip kehamilannya itu berlarut-larut. Lagipula perutnya juga tak akan membesar karena memang tak hamil. "Wah, jadi beneran Non Alea enggak hamil? Kirain tadi minta jus mau yang segar-segar karena hamil," tanya Bi Ijah tak percaya. "Tadi cuma buat temen ngerjain tugas kuliah aja, Bi," jawab Alea sambil menyuapkan kembali makanan ke mulutnya. Ia jadi teringat orang tuanya di desa. Biasanya kalau ibunya memasak ayam goreng, ia dan adik kakaknya akan berebut mengambil jatah potongan ayam paling besar. 'Kapan ya, aku pulang lagi ke kampung?' gumam Alea dalam hati. Selesai makan dan mencuci tangan, Gavin mengajaknya untuk kembali ke kamar. Jika ada Herni dan Helen, ia rasanya malas untuk sekadar duduk di ruang tengah. Saat melewati ruang tengah. "Dia selingkuh lagi, Ma. Ini pasti karena aku belum bisa kasih anak untuknya!" teriak Helen dari dalam kamarnya yang sedikit terbuka. "Kenapa mereka?" tanya Alea penasaran. Ia ingin mendekati kamar itu, tapi dicegah oleh Gavin. "Jangan, kita ke kamar saja. Itu masalah pribadi mereka," larang Gavin sambil menarik Alea menuju ke tangga untuk sampai ke kamar mereka. Alea terpaksa mengikuti langkah Gavin. Meskipun sebenarnya ia penasaran dengan apa yang terjadi di kamar Helen. "Siapa tahu aku dapat info tadi," ujar Alea sambil merenggut. "Info apa mereka teriak-teriak masalah keluarga. Lagipula suaminya kan memang tukang selingkuh," sahut Gavin yang tak ingin Alea mendekati kamar tadi. Alea tak menyahuti lagi ucapan Gavin. Ia langsung menuju ke tempat tidur dan membaringkan diri di sana. Tak terasa sebentar lagi libur semester. Ia sebenarnya ingin liburan ke mana gitu untuk refreshing. Tapi, mengingat kalau ada tugas yang harus dikerjakannya sudah pasti keinginannya itu tak akan tercapai. Gavin kembali ke sofa. Tapi, kepalanya terasa pusing. Mungkin karena terlalu sering berhadapan dengan laptop, karena pekerjaannya yang menumpuk. Ia akhirnya hanya berbaring di sofa sambil menonton televisi. Tak berapa lama terdengar dengkur halus dari bibirnya. "Tumben Mas Gavin tidur jam segini," ujar Alea pelan. Ia lalu bangkit dari tempat tidur dan melihat Gavin yang tertidur di sofa. Ia tak mengenakan selimut ataupun bantal. Ia kemudian menuju ke walk-in closet dan mengambilkan selimut dan bantal untuk suaminya itu. Alea kemudian memakaikan selimut yang dibawanya ke tubuh Gavin. Wajahnya terlihat begitu tenang dan tampan saat tidur. 'Ah, mana mungkin aku menyukainya. Lagipula pernikahan ini hanya sebatas untuk merebut harta warisan, jangan sampai aku punya hati padanya,' gumam Alea dalam hati sambil menatap pria yang menikahinya beberapa bulan lalu. Ia kemudian mematikan televisi dan kembali ke tempat tidurnya. Malam itu mereka tidur lebih awal, tidak seperti biasanya yang lewat tengah malam. Dini hari, Alea terbangun lebih awal dari biasanya. Mungkin karena semalam ia tidur lebih awal juga. Setelah selesai melaksanakan salat subuh, ia baru membangunkan Gavin. "Mas, bangun," ucap Alea sambil menepuk-nepuk tangan Gavin. "Hem," sahut Gavin tanpa membuka matanya. Ia terlihat menggigil, Alea kemudian memegang dahinya untuk memastikan keadaan Gavin. Rupanya suhu tubuhnya begitu panas,ia kemudian mencari termometer di kotak P3K yang ada di kamar itu. Benar saja, ternyata suhu Gavin diatas tiga puluh tujuh derajat. "Ya ampun, Mas kamu panas sekali!" Alea kemudian mencari obat untuk menurunkan panasnya. "Kamu mau langsung ke dokter, Mas?" tanya Alea yang sudah memegang obat di tangannya. Gavin menggeleng, ia sebenarnya anti pergi ke dokter. "Kalau begitu, kamu minum obat ini dulu saja ya," ucap Alea sambil mengeluarkan obat dari bungkusnya. Ia juga sudah menyediakan air minum. Gavin bangkit dengan lemas, ia memaksakan diri meminum obat tersebut. Kemudian, kembali memejamkan matanya. 'Duh, aku kuliah jangan ya?' ujar Alea dalam hati. Ia jadi bingung menghadapi situasi seperti itu. Rasanya tak tega juga meninggalkan Gavin sendiri di kamar itu. Apalagi keadaannya sedang tidak sehat seperti itu. Selama menikah baru kali itu Gavin sakit sampai sebegitunya. "Kamu kok bisa sakit gini sih, Mas ...," ucap Alea pelan, dalam ada suaranya ada kekhawatiran di sana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN