Disangka Hamil

1033 Kata
"Enggak mau ah, ribet. Lagian ada Bi Ijah juga kalau mau apa-apa," sahut Alea dengan santainya. Gavin tersenyum tipis sambil menggeleng. Terkadang ucapan Alea terdengar lucu dengan semua tingkahnya yang konyol dan berbeda dari wanita lain. Sepertinya ia mulai menemukan sisi baik Alea. Beberapa saat kemudian, Pak Rusdi —satpam rumah— menelepon. Ia mengabarkan kalau ada tukang ojek online mengantarkan pesanan makanan. Saking senangnya Alea langsung pergi keluar dengan berlari. "Memang seenak itu ya makanannya? Sampai harus berlari seperti itu," gumam Gavin pelan sambil menatap kepergian Alea. Alea telah sampai di bawah tangga. Herni dan Helen menatap langkahnya yang terus menuju ke luar. Heran dengan sikap Alea mereka pun mengikutinya. Rupanya Alea menuju ke pagar untung mengambil makanan yang tadi dipesannya. Ia memesan beberapa jajanan yang sudah dibayar via dompet online yang di top up. "Duh, lari-larian di rumah besar berasa lari maraton ya ternyata," ucap Alea yang seperti menggerutu. "Lagian kenapa mesti lari-lari, Non?" tanya Pak Rusdi yang sedang duduk di bangku yang ada di luar pos jaganya. "Enggak apa-apa sih, Pak," jawab Alea sambil terkekeh. Ia kemudian kembali berjalan untuk menuju ke rumah. Kali ini lebih santai, ia berjalan dengan tenang sembari mengatur napas yang tadi masih terengah-engah sehabis berlari. Sesampainya di rumah, Herni dan Helen sudah menunggunya di ruang tamu. Mereka penasaran dengan apa yang dibawa Alea. "Heh, bawa apa kamu? Kok, tadi sampai lari-lari begitu? Memangnya ngambil emas permata apa?" cerocos Herni sambil melihat kantong plastik besar yang dibawa Alea di tangannya. Ia tak mengenali isi dalam plastik putih tersebut. "Enggak tahu kan ini apa? Ya sudah, bye ...." Alea melenggang pergi tanpa memedulikan lagi ocehan Herni dan Helen. Membuat mereka kesal setengah mati padanya. Alea menaiki tangga dengan sumringah bahkan ia bersenandung pelan. Menggambarkan riangnya hatinya hanya karena jajanan sepele yang tak seberapa. Sesampainya di kamar, Alea lalu meletakkan kantong plastik yang dibawanya di atas meja. Gavin penasaran dengan isinya. Namun, tak mau bertanya. Ia hanya menatap Alea dan kantong plastiknya. "Mas harus coba. Ini enak-enak semua loh," ujar Alea sambil mengeluarkan satu persatu makanannya. Ada seblak, baso ikan kuah pedas, sampai cemilan dalam plastik mika tebal yang kelihatan begitu merah karena banyaknya cabai. Gavin hampir tak percaya Alea membeli makanan yang kebanyakan ekstra pedas itu. Tak ketinggalan jus alpukat dan boba drink untuk minumannya. "Kamu mau yang mana Mas?" tanya Alea pada suaminya itu. Gavin kebingungan, ia tak tahu rasa dari semua makanan itu. Hanya saja yang terbayang olehnya. Makanan itu pasti ekstra pedas. "Kok, lama sih jawabnya," ucap Alea sambil membuka wadah berisi seblak pedas. Alea lalu mencobanya sedikit. "Wah, ini pas banget rasanya. Enggak salah pilih level lima," ujarnya. "Mas, cobain ya." Alea menyodorkan sendok berisi seblak kepada Gavin tanpa canggung. Ia hanya ingin berbagi dengan suaminya sendiri. Entah karena dorongan apa, Gavin pun membuka mulutnya. Padahal ia paling anti makan sepiring berdua seperti itu. Menurutnya tidak higienis. Rasa pedas seblak itu langsung membakar lidah Gavin yang jarang makan pedas. "Air! Air!" ujar Gavin keras sambil menjulur-julurkan lidahnya karena kepedasan. Alea segera memberikan jus alpukat yang tadi dibelinya juga. Gavin yang sedang kepedasan meminumnya tanpa ampun. Ia bahkan telah menghabiskan setengahnya sekali sedot. Alea hanya termangu melihat kejadian tersebut. Gavin yang biasanya terlihat cool mendadak jadi begitu memalukan saat kepedasan. Setelah rasa pedas di lidahnya menghilang, Gavin pun kembali menatap laptopnya dengan sok cool. Padahal dalam hati ya malu karena tadi terlihat kepedasan setelah memakan seblak. "Mas, mau lagi enggak?" tanya Alea sambil menyodorkan makanan yang sedang dimakannya itu. "Enggak, kayaknya makanan seperti itu tidak cocok dengan lidahku," elak Gavin yang sebenarnya malu dengan kejadian tadi. Alea yang tahu kalau suaminya itu menahan malu, hanya meneruskan makannya. Sementara itu, Gavin meneruskan pekerjaannya dengan sisa jus alpukat yang tadi diminumnya. "Yah ... tuh kan, habis. Ganti jusnya tuh," ujar Alea sambil mengerucutkan bibirnya. Gavin menatapnya heran, kemudian melihat ke arah jus alpukat yang sudah tandas isinya olehnya. "Tinggal suruh Bi Ijah buatin lagi. Susah amat," ujar Gavin dengan santainya. "Aku males ke bawahnya," sahut Alea yang tadi juga diinterogasi oleh ibu tiri Gavin. "Tadi aja diinterogasi," lanjutnya. Gavin terkekeh mendengarnya, ia heran sekaligus lucu, ternyata ada orang yang penasaran sampai jajanan orang digeledah. Ia kemudian keluar dari kamarnya untuk meminta Bi Ijah membuatkan jus alpukat untuk Alea. Lagipula di rumahnya selalu tersedia buah-buahan. Sehingga tidak sulit untuk membuat jus yang diinginkannya. "Bi, tolong buatkan jus alpukat untuk Alea ya," pinta Gavin kepada asisten rumah tangga yang telah lama bekerja di rumahnya itu. "Wah, Non Alea sedang mau yang segar-segar ya. Apa lagi hamil?" tanya Bi Ijah yang langsung terlihat begitu antusias mendengar permintaan Gavin. "Siapa yang hamil?!" teriak Herni dari ruang tengah. Ia lalu menyusul Gavin ke ruang makan yang memang tidak jauh dari sana. "Istri kamu masih kecil begitu hamil. Harusnya dia mikir panjang dong, siapa coba yang mau ngurusnya," corocos Herni dengan begitu menyebalkan. "Emangnya kenapa?! Ada saya kok yang mau ngurusnya," sahut Bi Ijah dengan ketus. "Sudahlah, pokoknya nanti antarkan ke kamar ya, Bi, jusnya," ujar Gavin sambil melenggang pergi dari tempat itu. Dalam hati ia tertawa kecil karena disangka oleh mereka Alea sedang hamil. 'Apa mungkin ya nanti aku akan menjadi seorang ayah,' gumam Gavin dalam hati. Rasanya ia tidak percaya suatu saat akan memiliki anak, tetapi sebagai lelaki normal ia juga ingin memiliki keluarga yang utuh dan penuh cinta. Ia kembali memasuki kamarnya dengan senyum-senyum, karena memikirkan soal kehamilan dan juga anak. Alea menatapnya heran, tidak biasanya Gavin bersikap seperti itu. Biasanya wajah Gavin selalu datar tanpa ekspresi. "Kenapa senyum-senyum, Mas?" tanya Alea yang penasaran. "Enggak apa-apa," jawa Gavin singkat sambil duduk kembali di sofa dan menghadap laptopnya yang ada di meja. Sementara itu, Alea telah menghabiskan seblak dan setengah dari bobanya. Ia sekarang sedang melanjutkan dengan bakso ikan yang masih hangat dengan kepedasan yang juga extra. Beberapa saat kemudian, terdengar pintu diketuk. Dia bangkit untuk membukanya, rupanya Rupanya Bi Ijah yang berada di ambang pintu dengan segelas besar jus alpukat yang terlihat menggoda selera. Ditambah s**u cokelat di sisi-sisi gelasnya,menambah keindahan dan juga rasa dari jus tersebut. "Wah, ternyata Bibi pintar bikin jus," ucap Alea. sambil mengambil gelas tersebut. "Jadi benar Non Alea hamil?" tanya Bi Ijah dengan sumringah, sementara Alea langsung tersedak saat meminum sedikit jus alpukat tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN