Jajan

1017 Kata
"Kamu masih marah padaku?" tanya Alea setelah mereka selesai makan siang itu. "Tidak. Apa yang membuatku marah?" Gavin balik bertanya. Alea menarik napas panjang, tidak etis rasanya menceritakan hal tadi di situ. Gavin lalu mengajak Alea untuk duduk di ruang tengah. Mumpung ibu tiri dan adik tirinya sedang pergi entah ke mana. Alea mengikuti langkah Gavin dan duduk di sofa ruang tengah yang mewah itu. "Jangan pernah coba untuk berpikir kalau pernikahan ini adalah main-main. Aku tidak pernah berniat seperti itu sejak awal datang ke rumahmu," tutur Gavin dengan datar, sepertinya ia serius dengan ucapannya. "Sayangnya, dari awal menikah aku hanya berpikir kalau ini main-main. Bukankah kau sendiri yang bilang waktu itu kalau tidak peduli dengan penampilanku dan hanya butuh status," tutur Alea mengingat kejadian ketika di rumahnya tempo hari. Saat itu, ia sengaja tampil kucel dihadapan Gavin. Tapi, itu tak mempengaruhinya, karena Gavin memang sedang butuh status pernikahan untuk merebut harta warisan ibunya. "Tentu saja aku tidak peduli penampilan. Jika pernikahan didasarkan karena fisik, tentu ketika pasangannya menua ia tidak akan mencintainya lagi. Meskipun belum ada cinta yang yang tumbuh di antara kita. Aku masih berharap ada kesempatan untuk itu," tutur Gavin dengan datar, tapi matanya menyorotkan keseriusan. Membuat Alea luluh dengan semua perkataannya. 'Benarkah yang dikatakan itu?' gumam Alea dalam hati. Ia sepertinya tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Gavin tadi. Gavin adalah lelaki yang hampir sempurna. Bahkan sampai saat itu, ia belum menemukan cela di dirinya. Pasti banyak yang menyukainya bahkan tergila-gila padanya, tapi anehnya Gavin malah memilih dirinya yang bahkan sebelumnya tidak pernah kenal. "Lalu, kenapa kamu memilihku?" tanya Alea yang benar-benar penasaran dengan alasan Gavin. Meskipun ia pernah mendengar kalau Gavin bicara pada ayahnya bahwa Alea adalah orang yang disebut ayahnya berhati tulus. Terdengar derap langkah memasuki ruangan itu. Rupanya Herni dan Helen baru saja pulang dari tempat yang tidak diketahui. Mereka terlihat begitu angkuh dan sok bergaya. "Tumben kalian ada di sini?" tanya Herni dengan begitu ketus. Alea mendengkus kesal, kenapa juga harus ada mereka di saat seperti itu. Padahal baru saja Alea ingin tahu keseriusan Gavin menikahinya. "Pasti lagi ngomongin kita ya, atau soal harta warisan itu. Sudahlah kita bagi dua saja bagiannya," ucap Helen dengan begitu menyebalkan. "Helen, ke mana suamimu? Sepertinya aku sudah lama enggak melihatnya," tanya Alea hanya sekedar berbasa-basi. Pasalnya tempo hari ia melihat suami Helen sedang berada di restoran hotel bintang lima. "Kerjalah, dia kan, sayang sama aku jadi nyari duit buat nafkahin istri," sahut Helen dengan begitu bangganya, seolah Alea tak tahu dengan apa yang sedang terjadi. "Oh begitu, ya," pungkas Alea singkat. "Ngapain sih, tanya-tanya suamiku. Kamu suka ya sama suamiku atau jangan-jangan mau jadi perebut laki orang?!" ucap Helen semakin tak karuan. Alea bergidik ngeri melihat respon Helen seperti itu. Sepertinya ia sangat mencintai suaminya sampai-sampai bucin. Gavin bangkit dari duduknya, ia tak ingin lebih lama lagi mendengarkan ocehan ibu dan adik tirinya itu. Ia kemudian melangkah pergi dengan begitu santainya. Alea mengikutinya dari belakang, namun tiba-tiba pergelangan tangannya dicekal oleh Helen. "Kau jangan pernah mendekati suamiku dan jangan harap kau dan Gavin akan mendapatkan sedikit saja dari semua harta kekayaan milik papa. Mengerti?" tanya Helen dengan suara pelan tapi penuh penekanan. Alea hanya terkekeh geli dengan sikap Helen yang sepertinya memang bucin kepada suaminya. Ia lalu menghempaskan tangan Helen yang mencekal pergelangan tangannya, kemudian melenggang pergi dengan gaya mencibir. Sepertinya ia sudah mendapatkan kartu Helen. Memasuki kamar, rupanya Gavin tengah duduk di sofa sambil menonton televisi. Ia sedang menenangkan pikirannya yang baru saja panas dengan kehadiran ibu dan adik tirinya. Mereka memang seperti api yang tidak dapat dingin dan malah memanaskan suasana. Alea mendekatinya dan duduk di samping Gavin. "Aku tidak bisa mendekati mereka dan aku selalu mendidih ketika dekat dengan mereka," ucap Alea, ia sadar tak bisa bersikap pura-pura baik dihadapan orang yang dibenci. "Tidak masalah," jawab Gavin singkat, meskipun ia juga bingung bagaimana caranya mengarahkan Alea untuk bisa mendapatkan informasi-informasi dari mereka. Weekend itu terasa begitu lama dan juga tidak menyenangkan bagi mereka. Rasanya memang pernikahan itu tidak seperti pernikahan pada umumnya yang biasanya akan berbulan madu di awal-awal pernikahan. Menikmati cinta yang sedang merekah di hatinya. Sayangnya semua itu hanyalah impian belaka bagi mereka. Toh, rasa cinta pun belum muncul di hati mereka. Alea kemudian mengambil laptopnya, sepertinya menyibukkan diri dengan tugas kuliah lebih baik daripada terus membicarakan hal yang belum ada jalan keluarnya. Ia hanya menyelang dengan salat, kemudian kembali sibuk dengan laptopnya. Menjelang sore rasanya makan siang yang tadi dinikmatinya mendadak lenyap. Menjadi bahan bakar untuk Alea yang sibuk sedari tadi mengerjakan tugas. "Mas, boleh nggak aku pesan makanan online gitu?" tanya Alea dengan ragu, selama menikah dengan Gavin ia tak pernah melihatnya jajan sembarangan. "Memangnya kamu mau beli apa?" tanya Gavin heran. "Ya makanan cemilan saja, seblak gitu," jawab Alea dengan sumringah. "Terserah," jawab Gavin singkat. Sebenarnya ia tidak tahu dengan makanan yang diucapkan Alea. Selama ini memang sering melihat bannernya di warung-warung pinggir jalan tapi tidak pernah tertarik untuk mencobanya. "Aku tahu kamu pasti tidak pernah memakannya, kan?" ujar Alea sambil memainkan smartphonenya untuk membeli beberapa jajanan secara online. Di sore hari seperti itu pasti rasanya sangat enak. Gavin tak menjawabnya. Ia tak ingin mengakui kalau tidak pernah memakan jajanan seperti itu. Hanya saja memang menurutnya sangat tidak higienis makanan di pinggir jalan. Setelah memesan makanan, Alea pun menyimpan kembali ponselnya. Tinggal menunggu pesanan diantar oleh pengemudi ojek online. "Kenapa kamu tidak pesan pizza atau burger saja sekalian untuk cemilan?" tanya Gavin heran karena biasanya itulah yang menjadi cemilan makanan yang biasa dikonsumsi oleh Helen dan Herni di ruang tengah. Ia pikir semua wanita menyukainya, meskipun dulu ibunya lebih sering menyediakan cemilan buatan rumahan untuknya dan ayahnya. "Emang kamu nggak pernah ngemil ya?" tanya Alea penasaran. "Mungkin terakhir ketika ibuku masih hidup. Ia sering menyediakan cemilan rumahan seperti cake dan lainnya," jawab Gavin dengan jujur. "Astaga! sepertinya terlalu sehat untukku," ujar Alea yang menyadari kesukaannya jauh dari kata sehat. Tidak seperti Gavin yang semuanya serba teratur "Seharusnya kamu juga belajar untuk buat cemilan sendiri agar lebih higienis," saran Gavin kepada Alea, tapi sepertinya tidak akan mempan untuk Alea yang lebih suka jajan diluar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN