Alea terdiam, memang benar yang dikatakan Gavin. Tapi, di sisi lain ia juga tak ingin pulang. Hati kecilnya masih berontak. Tak ingin berada di rumah itu.
Gavin hanya melihat Alea sekilas. Dalam hati ia kasihan, karena membuat anak gadis orang lain terjebak dalam hidupnya. Namun, mungkin memang ini adalah jalan yang telah ditakdirkan untuk mereka.
Mobil melaju membelah jalanan untuk menuju ke rumah Gavin. Rumah mewah itu seakan menjadi petaka untuk orang yang menyinggahinya. Sudah lama tak ada tamu datang ke rumahnya, terlebih sejak Pak Gilang menikah lagi dengan Herni.
Sesampainya di halaman rumah, Alea dan Gavin turun dari mobil. Mereka kemudian melangkah menuju ke teras untuk masuk ke dalam rumah.
Saat Gavin hendak membukanya pintu depan utama dikunci. Ia lalu memencet bel, tak lama kemudian Bi Ijah membukakan pintu.
"Den, Non baru pulang?" tanya Bi Ijah ramah, hampir dua hari kedua majikannya itu tidak berada di rumah.
"Iya, Bi," jawab Alea singkat.
Mereka kemudian masuk dan langsung menuju ke kamar. Kebetulan Herni dan Helen sedang tidak ada di ruang tamu maupun ruang tengah. Sehingga tidak berpapasan dengan mereka, rasanya suatu keajaiban bagi Alea.
Mereka memasuki kamar dengan aman. Hari sudah mulai siang. Sebentar lagi waktunya makan siang. Biasanya di hari libur seperti ini Bi Ijah akan menyiapkannya untuk keluarga tersebut. Sementara di hari bekerja, biasanya Bi Ijah tidak membuat makanan untuk makan siang, hanya untuk makan pagi dan makan malam.
Alea dan Gavin duduk di sofa. Menyalakan televisi yang ada di hadapan mereka. Kebetulan pekerjaan dan juga tugas kampus bisa rehat sejenak.
"Lea, kamu sanggup menjalankan tugas yang tadi di ceritakan Pak Darma?" tanya Gavin, sepertinya ia tidak percaya dengan kesanggupan Alea tadi.
"Memangnya kenapa?" tanya Alea heran.
"Jika tidak sanggup kamu bisa mundur, aku tidak keberatan kalau kamu misalkan pulang ke rumahmu," sahut Gavin dengan suara datar.
Alea menarik napas dalam, kemudian mengembuskannya perlahan. Menikah dengan orang yang tidak dicintai memang bukanlah harapannya. Tapi, jika bercerai pun pasti akan lebih repot. Masalah akan berdatangan kepada keluarganya yang menganggap memiliki janda kembang. Apalagi usia yang masih muda pasti akan banyak yang menganggap sebagai pengganggu rumah tangga orang.
Meskipun begitu, bertahan juga begitu sulit baginya. Pernikahan yang tidak diharapkan bahkan tidak seperti yang lainnya, malah ditambah dengan tugas yang cukup berat.
"Aku tak ingin mengecewakan keluargaku, jadi biarkan aku di sini menjalankan tugas," jawab Alea setelah terdiam beberapa saat.
"Tapi, beda ceritanya kalau ...." Alea menggantung ucapannya, membuat Gavin menatapnya dengan penuh tanya.
Bibirnya terasa kelu untuk meneruskan ucapannya. Mungkin itu bukanlah hal yang baik, namun dia juga penasaran dengan jawaban Gavin.
"Kalau apa?" tanya Gavin penasaran kala melihat Alea hanya terdiam.
"Kalau dirimu kembali dengan Fia dan menikah dengannya. Aku tak masalah kok," jawab Alea, akhirnya perkataan itu lolos juga dari mulutnya.
Gavin mendengkus kesal. Benar saja ucapan Alea ternyata membuatnya jadi tak nyaman.
"Aku bukan anak kecil yang mempermainkan ikatan pernikahan. Meskipun memang pernikahan ini terjadi karena perebutan harta warisan, tapi aku tidak pernah bermaksud untuk bermain-main," tutur Gavin kemudian bangkit dari duduknya dan pergi dari kamar itu.
Alea hanya melongo. Ia juga tak tahu ke mana Gavin akan pergi. Selama menikah suaminya itu lebih banyak berdiam diri di kamar. Bahkan terkesan tidak mau untuk keluar, terlebih jika ada ibu dan adik tirinya.
"Aku salah ngomong ya, tapi aku mau melihat tanggapan Gavin tadi," ucap Alea pelan.
Ia sedikit menyesal, tapi ada rasa lega juga karena telah mengungkapkan hal yang membebani hatinya selama ini.
Ia sendiri tak menyangka kalau jawaban Gavin akan seperti itu. Ia pikir pernikahan itu hanyalah permainan, tapi ternyata Gavin menganggapnya lebih dari itu.
Sementara itu, Alea sendiri masih menganggap pernikahan itu hanya sebatas untuk merebut harta warisan. Ia termenung di kamar. Bingung hendak melakukan apa.
Waktu semakin beranjak siang, hingga akhirnya tiba waktu makan siang. Perutnya sudah mulai keroncongan, biasanya ia akan makan siang di kampus dengan tepat waktu. Keluar kelas dan langsung menuju kantin.
Padahal jarak antara kamar dan dapur di rumah ini lebih dekat daripada kelas dan kantin universitas. Tapi, rasanya begitu berat melangkahkan kaki untuk menuju ke ruang makan.
Tiba-tiba pintu diketuk dari luar.
'Apa itu Gavin ya, berarti dia tidak marah,' gumam Alea dalam hati dengan sumringah karena memang ia takut kalau Gavin marah.
Alea segera bangkit dari duduknya dan langsung menuju ke pintu. Ia segera membuka pintu tersebut, ternyata yang berada di baliknya adalah Bi Ijah, tidak seperti dugaannya.
"Eh, Bibi, ada apa?" tanya Alea.
"Sudah waktunya makan siang, Non. Makan siang dulu yuk," ajak Bi Ijah kepada Alea sebagai asisten rumah tangga di rumah itu. Ia hanya khawatir dengan kesehatan Alea terlebih memang Alea tidak memiliki siapa-siapa di rumah itu, selain Gavin dan dirinya.
"Oh iya, Bi, ayo," ucap Alea tanpa banyak bicara lagi. Ia pun mengikuti langkah Bi Ijah menuju ke ruang makan, tapi Herni dan juga Helen tidak ada di sana seperti biasanya.
"Mereka ke mana, Bi?" tanya Alea yang penasaran dengan keberadaan orang-orang menyebalkan itu.
"Jam segini enggak ada, Non, enggak tahu ke mana, sejak pagi memang sudah pergi," jawab Bi Ijah.
Alea kemudian duduk di meja makan tersebut, tapi rasanya sepi karena tak ada Gavin di sana.
"Mas Gavin ke mana ya?" tanya Alea penasaran. Ia tidak tahu ke mana perginya Gavin saat marah tadi.
"Wah, kurang tahu, Non. Kirain tadi sama Non di kamar, tapi nggak ada ya. Biasanya kalau lagi pusing Den Gavin kalau nggak ke ruang kerja Pak Gilang, ada di taman belakang. Tapi, kalau lagi ada Nyonya Herni sama si Helen biasanya nggak mau ke taman belakang," tutur Bi Ijah menjelaskan kebiasaan Gavin ketika memiliki masalah.
"Oh, kalau begitu coba aku cari dulu ya Bi," ucap Alea sambil bangkit dari duduknya dan menuju ke ruang kerja Pak Gilang.
Ia tahu ruang kerja tersebut, karena pernah melihat Gavin keluar dari sana. Tapi, ia belum pernah masuk ke dalamnya. Ia coba mengetuk pintu ruangan tersebut sambil melirik ke taman belakang yang ada di sampingnya. Tidak ada Gavin di sana, berarti kemungkinan besar berada di ruang kerja tersebut.
Beberapa saat mengetuk, tak ada sahutan juga. Tapi, tiba-tiba pintu terbuka dan menampilkan sosok Gavin di sana.
"M—Mas," ucap Alea dengan gugup, "kita makan dulu yuk," ajaknya.
"Baik," sahut Gavin singkat. Mereka lalu berjalan menuju ke ruang makan. Di sana ia duduk di sebelah Gavin, meskipun suaminya itu sedang marah tapi rasanya selalu ada yang kurang jika tidak ada dirinya di meja makan tersebut